Friday, December 28, 2012

Ibu, Aku dan panggilan Ibu padaku #Renungan hari IBU

Hari Ibu, 22 Desember kemarin...
Bangun tidur ada ucapan selamat hari Ibu dan kecupan dari ayah..
pelukan hangat dari krucilsku

Saya sampaikan kepada mereka bahwa hari ini hari Ibu, (bukan untuk pertama kalinya mereka mendengar karena tahun sebelumnya sudah kami sampaikan soal "hari ibu" ini)


Dan setelah sarapan, Kaka Alinga menghilang keluar rumah..
kembali dengan seplastik bunga-bunga dan dedaunan... pasti hasil petikan di sekitar rumah kami, mudah2an bukan memetik bunga tetangga yaa :D

Seperti yang sering dilakukannya untuk membuat kejutan, disembunyikannya di balik punggungnya..
" Ibu, tebak aku bawa apaaa,...." , "apa yaaa??? Ibu memasang wajah penasaran dan surprise..
" Kejutaaan...:) bunga untuk Ibu..."  "Selamat hari Ibuuu...Aku sayang Ibu..."

"Terimakasih sayang, Ibu juga sayang  Kakak, Yuuk kita rangkai bunganya supaya cantik" .



Hari Ibu, aku sendiri tidak mengucapkan selamat hari Ibu atau merangkaikan bunga untuk Ibuku, Mimi. Karena bliau mungkin akan terheran-heran...apa sih maksutnya??

Mimi, perempuan "kuat"itu, adalah perempuan sederhana, perempuan zaman lalu yang tidak pernah paham adanya celebrasi hari Ibu. Dan dalam kesederhanaanya, ucapan-ucapan ini mungkin tidak penting. Saya sendiri (mungkin kami semua anak-anaknya), tidak pernah mendengar langsung ucapan semacam " aku (ibu) sayang kamu..." Namun sikap nyata Bliau, membesarkan sekaligus menopang kami melewati masa-masa sulit, jauh lebih real dari ucapan apapun...Menjadi seorang Ibu dari 9 orang anak yang pasti saat-saat itu luar biasa "demanding" sekaligus manager dan penopang ekonomi keluarga.

Selain doá setiap selesai shalat, maka khusus hari ini saya sampaikan permohonan untuk Mimi, smoga Kesehatan, kebahagiaan, keberkahan dunia akhirat...Allah limpahkan untuknya.

Ibu sederhana namun kuat ini telah mengantarkan kami 9 orang anaknya (saya anak ke 6) sampai hari ini. dengan kesederhanaan dan keuletannya yang luar biasa, SUKSES mendampingi almarhum Bapak saya yang seorang guru ngaji (tidak pernah punya slip gaji, selain dari yang Maha Menggaji...), mengantarkan semua anaknya merasakan bangku kuliah...(tak terkecuali si bungsu, yang tidak mau menamatkan pendidikan di bangku kuliahnya, karena satu dan lain hal). SubhanaAllah

Sangat membekas di ingatan saya, bagaimana kuat dan tabahnya Ibu saya, saat harus mendampingi Bapak saya...menyikapi kebutuhan pendidikan anak-anaknya yang luar biasa, di luar sikap sederhananya. Saat musim tahun ajaran baru, dan kakak2 saya pulang kampung...saatnya kembali ke bangku kuliah dan melunasi SPP serta kebutuhan pendidikan, Ibu lah yang berjibaku dengan berbagai cara mencoba mencari tambahan keuangan.

Mimi saya sangat detail soal keuangan, pedagang yang ulet..jiwa bisnisnya luar biasa...tapi yang menjadi catatan terpenting untuk saya, keuletannya dan kekuatannya sebagai pebisnis inilah, yang walaupun tidak menghasilkan materi yang secara kasat mata bisa dilihat, tapi telah mengantarkan kami semua menyelsaikan studi di bangku universitas...(dengan catatan: kamipun harus berjibaku untuk mencoba mencari tambahan dari yang bisa sekedaranya Bapak dan Mimi berikan).

Keuletan dan kesabarannya menghadapi kesulitan ekonomi, selalu memecut saya untuk terus bersyukur bahwa apa yang saya usahakan saat ini jauh lebih mudah daripada apa yang Bliau harus lakukan dahulu.

Karena terbiasa mandiri secara ekonomi (bahkan sangat besar perannya dalam mensupport Bapak menjaga roda keuangan keluarga), sampai sepuh seperti saat ini, Mimi belum mau berhenti, tidak pernah mau "meminta" jika membutuhkan apapun dari anak-anaknya. Semua ingin dipenuhinya sendiri, mungkin kecuali jika terpaksa...



Justru sikap inilah yang memberi catatan bagiku untuk berusaha memberikan yang terbaik untuknya, tanpa diminta. Saya tahu saya tidak akan pernah bisa membayar semua yang Mimi lakukan untuk kami, saya hanya ingin Mimi tahu saya berusaha sekedar mengurangi gundah dan beban di hari tuanya..dengan menawarkan kebahagiaan yang mungkin bisa saya berikan.

Saya punya beberapa impian untuk kebahagiaan Mimi, ada yang sudah terlaksana (alhamdulillah), tapi masih banyak yang masih dalam proses untuk mewujudkannya, semoga Allah memberi kami kesempatan untuk bisa mewujudkannya.

Semoga Allah memberi saya waktu untuk bisa mencontreng impian kebahagiaan lainnya untuk Mimi, Amiin InsyaAllah...

Mimi yang tidak tahu ada hari Ibu, yang tidak mengerti ucapan selamat hari Ibu, Mimi seorang Ibu...yang lelah dan letihnya harus ku bayar dengan senyuman kebahagiaan di wajahnya , keceriaan di harinya dan kebanggaan di hatinya...

Selamat hari Ibu Mi...semoga Allah memberkahi Mimi, meridhoi setiap langkah Mimi...Syurga Allah untuk Mimi...Syurga Allah untuk Mimi, Syurga Allah untuk Mimi..InsyaAllah Amiin :)


No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.