Friday, January 17, 2014

Lelakiku 2

Tuhan hanya memberi kami waktu 23 tahun untuk bersama2…
Mungkin agak terlambat bagiku menyadari dan mengakui bahwa dibalik sosoknya ada cinta untukku…(untuk kami…semua anak2nya)

Masa kanak2 hingga remajaku…kami bagai “Tom n Jerry”, begitu dekat namun selalu mudah tersulut emosi…

Saat itu, sulit memahami kedisplinan yang dia terapkan, sulit menerima kenyataan bahwa dia tak pernah memuji apalagi memberi reward atas prestasi2ku, dari yang kecil hingga yang besar. sulit menerima dengan lapang mengapa aku harus memilih sekolah atau jurusan sesuai kehendaknya. Saat itu aku tak bisa terima kenapa kami yang perempuan harus lebih tegar dibanding saudara yg laki2, mengapa serasa yang laki2 punya “special privileges”…

Saat itu, iya adalah iya, dan tidak adalah tidak…
Saat itu, menangis dan merajuk di kamar, satu2nya cara menunjukkan padanya bahwa ia salah dan aku tak bisa terima…

Di pikiran kanak2 dan remajaku…Ia tak pernah mencintaiku…terlebih tak pernah ada kata2 sayang dan cinta terucap darinya…


Lalu,
Saat pertama kali harus berpisah dengannya, karena harus kuliah n hidup merantau…
For the first time, I found him cried for me…dia menangis, memelukku erat dan menitipkan aku pada kakak temanku yang mengantarkan kami pergi, mencari serpihan2 nasib yang mungkin tercecer di Jakarta…Kota yang tak pernah jadi impianku untuk melewati masa kuliah, kerja apalagi hidup…Kota yang dipilihkannya untukku melanjutkan study…”dengan pertimbangan2”nya. (ternyata di kota inilah nasib ku kemudian berlabuh: kuliah dengan segala dinamikanya, bekerja, bertemu pasangan hidup, membangun keluarga dan InsyaAllah membesarkan anak2ku…)

Saat itu aku tak menangis, bukan karena tak sedih…tapi masih gamang antara menerima dan berkeras menolak untuk sesuatu yang tak ku ingini…
Belum satu semester kuliah ku jalani, aku merasa tak betah dengan berbagai alasan, tp aku tak pernah memutuskan untuk pulang, mengadu padanya atau sekedar memberitahu padanya semua kondisiku…

Sampai suatu hari kami berkesempatan bertemu di Jakarta, saat ada gathering keluarga besar…kembali dia menangis dan memelukku..kali ini aku tak dapat berpura2 lagi, sambil berpelukan erat, kami berdua bertangis2an …
Ternyata dia mencintaiku, sebagaimana aku sangat mencintai dan menghormatinya..
Meski kami sama2 sekeras batu, hingga sukar mengucap kata2 manis untuk mengungkapkan betapa perasaan kasih dan sayang itu kadang2 perlu dinyatakan…

Selama masa kuliah aku jarang pulang paling sering satu semester sekali, kadang2 hanya lebaran aku bs dipastikan pulang… setiap kali pulang, dia selalu menangisiku, memelukku…mengadukan perasaan2nya…

Saat itu kusadari Ia telah semakin tua…Saat itu baru kusadari pula betapa jarak usia 45 tahun antara kami membuat “jarak” dalam komunikasi kami, kami dua jiwa dari generasi yang jauh terpaut waktu, tapi dengan caranya ia mendekatkan perbedaan..baru kusadari itu sungguh tak mudah, meski kadang ia membandingkan bagaimana Ia di masa mudanya berinteraksi dengan Kakek-ku (yang tak pernah kukenal…).

Saat itu kusadari Ia tak pernah berhenti mencintaiku, bahkan dengan do’a2 terbaiknya..
Saat itu aku terkenang dengan semua “pelajaran” hidup yang telah diberikannya padaku, ,-dengan caranya,- cara yang dulu sulit diterima hati dan pikiran kanak2 dan remajaku…

Terputar kembali rekaman2 kisah bahagia tentang bagaimana kedekatan kami…rekaman tentang kebiasaannya mengajakku jalan “subuh” menemaninya, kebiasaannya memintaku mengecat rambutnya yang memutih termakan usia, kebiasaannya memintaku membuat mie rebus ala dia, kebiasaan kami berdebat tentang banyak hal…Teringat kata2nya padaku..kamu harus mencari ilmu seluas mungkin, karena perempuan adalah “sekolah” bagi anak2nya…

Semua rekaman indah itu serasa baru terpentas kembali di benakku, yang dulu mungkin terkubur oleh kerasnya ego-ku…

Ternyata kami begitu dekat.
Meski harus jarak dan waktu yang membantuku menemukan jawaban ini, aku tak menyesal, karena tak ada kata terlambat…menyadarinya.

Sampai saat terakhir hidupnya, aku berbahagia bisa berada disampingnya, menemani hari-hari terakhir dalam hidupnya, menyaksikannya pergi dengan begitu tenang, dengan kebanggaan dan kecintaan pada kami, anak2nya…Saat itu aku telah sangat yakin,betapa semua hal yang terbaik telah dilakukannya, wujud cintanya pada kami, kecuali mengucapkannya…(meski tak pernah terungkap di depan kami…toh Ia sering menunjukkan kecintaan dan kebanggaannya terhadap kami pd orang lain)

Kepergiannya menyisakan kepedihan, amat dalam..bahkan aku belum berbuat banyak untukknya, untuk menunjukkan bahwa cintanya tak tersia-sia…Ia yang selalu jd motivatorku untuk menunjukkan yang terbaik…pergi saat aku masih membutuhkannya
Namun lagi2 diberikannya aku sebuah pelajaran akan cinta yang tulus…yang mengendap dan selalu memenuhi ruang hatiku bahkan hingga kini…

Tak terbantahkan, semuanya wujud cintanya..pada kami, pada ku…
Meski kadang perlu waktu menyadarinya…
Saat Ia benar2 telah jauh, aku smakin yakin bahwa dlm diamnya,dlm marahnya, dlm kerasnya, dlm debat kami, Ia selalu mencintaiku…
Mungkin cinta seorang laki2 yang paling tulus padaku…
Tak tergantikan…

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.