Friday, January 10, 2014

Surat Cinta Buat Si Ayah :)

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dear Ayah sayang...

Hmmm gini yah, ada lomba blog yang temanya menulis surat cinta untuk pasangannya nih. Untuk yang sudah menikah ya buat suaminya kalau yang belum menikah suratnya buat calon jodohnya... Naaah ini jadi teringat kebiasaan aku dulu nulis surat macam begini nih hihihi... It was couple years ago, before I finally met you in the name of JODOH. Yups kita berjodoh Inshaa Allah sesaat setelah  IJAB dan QABUL  di 14 April 2006 itu.


Hampir delapan tahun ya yah, SubhanaAllah seperti roller coaster, ada saat naik, turun, excitment, melambat lalu melaju cepat memacu adrenalin, ada saat terasa lega berhasil melewati satu tahap menegangkan... Halaaah Ayah pasti nyengir kuda, kalo aku yang naik roller coaster, pastinya penuh teriakan dan jeritan sambil menyebut nama-nama Allah, pengen buru-buru turun yaaks :P #ndesso. Baiklaaah, yang naik roller coaster kan bukan cuma aku, tapi Ayah juga naaah sekarang malah nambah tiga personil... jadi berlima kita ya.

Hari demi hari bak naik roller coaster, serasa cepat waktu berlalu melihat tiga buah hati tercinta kita yang membesar, bertumbuh, subhanaAllah.. memberi warna warni di kehidupan kita berdua. SubhanaAllah betapa banyak pelajaran yang aku dapatkan dari pengalaman ini, dari pengalaman delapan tahun menjadi JODOHmu yah...inshaa Allah masih akan ada sekian banyak pelajaran dan pengalaman yang akan kita lalui ke depan.


Setiap do’a di akhir shalatku, selalu inshaa Allah ku panjatkan do’a untuk kita berlima. “Ya Allah anugrahi kami,  pasangan dan anak keturunan cahaya penyejuk mata hati, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”.  Semoga do’a yang sama Ayah panjatkan  pula di akhir setiap shalat Ayah. Tidak ketinggalan do’a yang satu ini Ayah..”Ya Allah Rabbku karuniakan kami dan anak keturunan kami, orang-orang yang mendirikan shalat”. amiin




Seperti dulu kita sadari berdua, bahwa saat aku akhirnya memilihmu bukan karena engkau yang terbaik di antara yang lainnya. Seperti itu pula kuyakini saat akhirnya engkau meminangku yah.  Baiklah setidaknya keyakinanku saat itu adalah bahwa Ayah adalah sosok yang siap dan mau bergandengan tangan denganku untuk belajar dan belajar menjadi lebih baik dalam banyak hal. Iya kita belajar bersama, di satu sisi mungkin aku lebih dahulu tahu dan “pandai” atas satu hal, maka tidaklah aku bermaksud sombong atau menghinakanmu dengan mengulurkan tangan mengajakmu bersama bertumbuh dan berkembang. Jangan merasa sakit hati jika saat menuntunmu aku “galak”... yaaah memang begitu lah pembimbing yang baik harus tegas dan disiplin. Dan jangan merasa gengsi karena itu tidak berarti posisimu sebagai Nahkoda kuambil alih, tidak sama sekali yaah. Bukankah itu sesuai dengan janji awal kita untuk bergandengan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya?? Sebagaimana Ayah dengan sabar hati menuntunku tanpa lelah untuk lebih sabar dan positive thinking dalam segala hal. 

Eitss mungkin ada baiknya yaa, kita ambilkan contoh sedikit dari kalimatku di atas tadi,  supaya tidak timbul salah pengertian. Iya,  kau, aku dan semua yang mengenal dekat kita pasti tahu, bahwa dari sisi pengetahuan (aku tekankan lagi ya yah, pengetahuan) agama, secara garis besar aku lebih sedikit tahu dari Ayah...yaa karena latar belakang keluarga dan pendidikan serta lingkungan kita. Again pengetahuan yaaa, soal pemahaman,penghayatan, dan pengamalan... itu biarlah antara masing-masing kita dan Tuhan yang tahu.  Untuk ketiga hal ini harusnya kita saling berlomba yaa, menjadi yang terbaik di hadapan Allah.

Masih teringat bagaimana proses awal kedekatan kita dulu, kamu belajar memperlancar membaca al-Qur’an bersamaku?? Saat kamu menyanggupi dan mau menjalani itu dengan sabar, aku percaya bahwa jika kita berjodoh kita akan siap berbagi, belajar dan berproses menjadi lebih baik.  Selain itu tentang pentingnya shalat  dan bagaimana aku berusaha menguatkan diri untuk menggiring kita sekeluarga menjadi keluarga cinta shalat dan al-Qur’an. Menuntutmu untuk terus memperbaiki bacaan shalat, menambah koleksi hafalan surat pendek, dan hal-hal sejenis itu. Karena aku ingin imam shalatku sekaligus imam keluargaku bisa betul-betul memimpin keluarga ini menujuNya. Tidak sekedar memenuhi nafkah, memiliki rumah, kendaraan atau menyekolahkan anak-anak kita. Karena yang dibutuhkan anak-anak kita tidak hanya hal-hal yang kusebutkan tadi kan yah??? Kita berdua belajar dari masa lalu kita masing-masing kan? J

Jujur, ini menjadi keraguan terbesar bagi muslimah dewasa seperti aku saat itu, untuk memilih lelaki seperti mu. Yang mungkin dari banyak aspek cukup memadai tapi belum dari aspek pengetahuan agama. Terlebih pesan Mimi (Ibu), “Mimi gak cari yang macem-macem, yang penting rajin shalat”... Naaah itu dia...*mesammesem sendiri.  Ingat juga saat aku bilang dengan sedikit bercanda “... Kalau Almarhum Bapak masih ada, mungkin kamu gak bakal lulus jadi menantunya yaah, bacaan shalatmu belum lancar dan fasih...” Di antara keraguan itu, di  delapan tahunan yang lalu, selalu ku pasrahkan pada Nya...”akankah dia menjadi JODOHku ya Rabb..., mudahkan jika memang demikian, mudahkan pula aku melepaskannya jika memang itu yang terbaik”.

Teringat jelas perkataan salah seorang dosenku saat itu (beliau yang merasa baru “hijrah” di masa tuanya), yang juga pernah berusaha mencarikan jodoh untukku, bahwa di lingkungan tempatku bekerja saat ini (di mana kita bertemu yah J ) mungkin aku akan menemukan nuansa dan pribadi-pribadi dengan kualitas dan pengetahuan yang berbeda dengan lingkunganku semula, namun itulah tantangan dan arena dakwah bagiku.  Alangkah baiknya jika aku bisa membawa kebaikan dengan menularkan nilai-nilai kepada calon pasanganku kelak. “Jangan menutup diri, siapa tahu kamu bisa memberikan kebaikan dan warna baru bagi orang yang menjadi jodohmu kelak...tidak semua orang berangkat dari latarbelakang keagamaan yang sama, Jika kamu lebih baik dalam hal ini, bimbinglah pasanganmu... itu nilai ibadah dan perjuanganmu.”

KuasaNyalah pada akhirnya, sehingga Ayah berani dan lantang mengucapkan “Saya terima nikah dan kawinya dengan mas kawin sebagaimana disebut tunai” . Sesaat saja setelah Amak (kakak laki-laki ku) menyelesaikan kalimat IJAB.  KuasaNyalah pada akhirnya, Ayah siap belajar dan berubah lebih baik bersamaku. Sebuah “IJAB dan QABUL” yang tak kan terlupakan dalam hidupku.  Inshaa Allah aku tidak salah memilih Ayah kaan??? Ayah masih selalu dan siap untuk bersama-samaku bergandengan tangan membangun keluarga ini menjadi keluarga yang menenangkan, penuh cinta dan penuh kasih, iya yang sakinah, mawaddah wa rahmah.




Semoga Allah selalu memberi kekuatan pada kita berdua, untuk  konsisten dalam ikatan atas nama Allah ini. Dan seperti apapun warna kehidupan dan kebersamaan kita dalam delapan tahun ini. Alhamdulillah Ayah selalu jadi suami yang baik, mau belajar dan tak ada rasa gengsi sedikitpun untuk mau belajar bersama memperbaiki pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman beragama kita. Tidak tersinggung saat harus aku ingatkan bahwa akan ada hari di mana kita dibangkitkan dan kita butuh bekal untuk hari itu, bukan semata-mata materi dan harta benda duniawi. Amalan-amalan baik dan ketaatan kita padaNya, yang akan membantu kita di kehidupan yang sesungguhnya itu. Maaf kalau aku agak galak, hmmm galak banget malah yaaa :D,... Iya, adalah beban dan tanggung jawabku juga untuk mengingatkan nahkodaku agar kapal ini tidak karam atau tidak berlayar ke arah yang tak seharusnya. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..” begitu titahNya.

Semoga Allah selalu menguatkan hatiku untuk bersabar menjalani ladang ibadahku di rumah tangga kita ini ya yah.. semoga Allah juga selalu memberi kita hidayah dan kekuatan menjalaninya, semoga Allah menjaga api semangat di hati kita untuk selalu belajar dan memperbaiki diri, karena saat ini telah ada tiga anggota keluarga yang harus kita bimbing bersama. Aku takkan mau menjalaninya sendiri, aku butuh kamu ... kamu tetap harus di depan ... aku akan siap mendampingimu menjaga mereka sampai pada kehidupan yang sesungguhnya bagi mereka di kemudian hari, inshaa Allah.  Ku mohonkan keikhlasanmu, atas apa yang aku lakukan yang tak lain kuniatkan untuk kebaikan kita semua.

Alhamdulillaah, rutinitas shalat berjamaah kita menjadi lebih indah dan berwarna dengan ketiga malaikat kecil kita. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya dalam proses belajar ini. Indahnya shalat berjamaah di rumah yang jadi cita-citaku yang ingin ku titipkan pada anak-anak kita sebagai kenang-kenangan indah masa kecil mereka yang kelak akan mereka wariskan pula pada anak-anak keturunan mereka. Hmmm indahnya J

Alhamdulillah bacaan surat pendek Ayah setelah al-Fatihah di setiap shalat berjamaah kita sudah lebih bervariasi sekarang, lebih baik lagi, tambah lagi koleksinya dan perbaiki tajwidnya ya Ayah sayang. Baca al-Qurannya juga harus lebih konsisten, harus lebih serius. Bukan untuk aku bukan atau karena aku, tapi karena Allah, untuk Allah. Yang pada hakikatnya untuk Ayah sendiri, untuk anak-anak Ayah.. Maaf kalau sekarang konsentrasiku beralih pada ketiga buah hati kita. Saatnya memang kita fokus pada mereka sekarang dan aku tak mau sendirian menuntun mereka, aku mau Ayah ada di sana. Seperti seharusnya, mengayomi kami. Sssst tahukah Ayah ketiga permata hati kita itu sesungguhnya adalah guru kita, merekalah yang mengajari kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik dan lebih baik ...Merekalah yang meneguhkan kita untuk selalu menguatkan diri di jalan ini.

Yuuk bareng-bareng kita yah, supaya semangat terus. Jalan masih panjang, anak-anak butuh pendamping yang kuat lahir dan bathin... mereka butuh kita berdua untuk menjaga dan mengawal kehidupan mereka sampai akhirnya bisa kita lepaskan. Tidak ada yang tidak mungkin, Ayah pasti bisa kalau Ayah mau...iniiih aku selalu siap mensupport ... as always *kedipinmata

Di atas semua itu aku mohon maaf jika dalam delapan tahun kebersamaan kita, banyaaak, banyaaak salah dan khilafku pada Ayah... mohon keridhoan dan keikhlashannya atas setiap tindakanku yang mungkin melukai hatimu... tidaklah aku bisa berbahagia dengan menyakiti hati Ayah...:)

With Love,

Bunda Alinga, Zaha dan Paksi


*Genggam tanganku dan mari kita menguatkan diri untuk konsisten memperbaiki diri dalam mengarungi bahtera ini menujuNya...


PS: Surat cinta ini telah dibaca sang penerima dan mendapat approval untuk di-publish; 
mamacihh Ayahhh *^-^

4 comments:

  1. Waah, senang me-review masjid y? keren.
    Mampir juga ke blog-blogku ya :)
    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah commentnya kayaknya salah kamar ya mak...
      btw sy sudah mampir lhoo ke b;og-b;ognya sekaligus ninggalin jejak.
      bagus mak blog2nyaa

      majasih maak

      Delete
  2. Aih, cantik dan cakep ya putra putrinya Mba. Pengin cubit pipi dedek Paksi :)
    Semoga bahtera keluarga Mba selalu dalam lindungan Allah SWT ya, sehingga terus berjalan sesuai arah yang telah ditetapkanNya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah, makasih mbak, klo kata ortunya yaa anak2nya yg paling cantik dan cakep ya mba...boleh tuuh dicubit sayang tapi yaaa
      Amiin untuk do'anya... Amiin ya Rabb

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.