Monday, March 24, 2014

Nyetatus: To Express How Grateful I am, instead of Narcissisme



Nyetatus buat saya? iya salah satunya buat menyampaikan apa yang dirasa dan dipikir... sekaligus mengajari diri atas peristiwa yang kita alami.. .Mereka yang sering membagi status yang sifatnya agak pribadi, dianggap sebagai bentuk Narsisme... to some extent, saya setujuuh apalagi klo rada-rada lebay geituuh.. tapi yaaah manusiawilah yaaa...#akurapopo hahaha... gak nyambung. Terkadang sebetulnya dibalik narsisme itu ada "sesuatu" yang ingin dibagikan kepada orang lain, seperti kebahagiaan atau rasa syukur... yang secara tidak langsung kemudian menjadi pengingat bagi yang lain, bahwa dalam banyak hal yang kita anggap sebagai hal sederhana dan lumrah, ada nikmat Tuhan yang tak ternilai, sesuatu itu yang kadang kita sebut sebagai bahagia dan harus kita bayar dengan sesuatu yang kita sebut rasa syukur. Jadi yaah, ada ungkapan rasa suka cita dibalik narsisme hahaha....*pasang kacamata positive

Hmm saya (kalo menurut kacamata saya sendiri :P) kayaknya termasuk yang amat sangat jarang menggunakan media social untuk mencurahkan atau mengungkapkan sesuatu kepada orang tertentu yang sifatnya pribadi, halah maksute opo toh??? maksudnya menggunakan status di Facebook atau kicauan di twitter untuk menyatakan maksud tertentu pada seseorang, kayak bilang "I miss U" atau "aku sebel sama kamu/dia" sama pasangan  atau menyindir seseorang dengan "Ih bete deh sama yang satu ini, bukannya bilang makasih malah bla-bla-bla" yaah yang begitu dan sejenisnya ... Karena jujur saya sih tidak terlalu suka dengan efek sampingnya, misalnya kemungkinan ada yang "comment" di luar dugaan kita, entah nyenengin atau ngeselin hahaha... iya mungkin saya relativelly lebih suka mencari aman sajah. 

Tapi ternyata Nyetatus is working to express how graetefull I am, at least dari dua contoh status saya berikut ini...


Status 1:  ( I think)  It works for things I won't say it,  due to my odor :D

Nah suatu ketika saya pernah nyetatus nih yang pada dasarnya menyimpang dari penyataan saya di paragraf kedua tadi, hiks... (tetep sih masih tidak melewati ambang batas "amat sangat jarang" tadi). Saat itu nyetatus karena sebenernya waktu itu lagi agak sebel gitu sama suami tapi tetiba pengen bilang terimakasih untuk hal yang lain Hiks... Tapi lupa deh sebabnya apa,  -ini karena saya mudah melupakan dan lebih suka memaafkan :P *timpukin pake rujak cireng :D... eits balik ke lapotop, kalau gak salah karena selama hampir satu bulan,  Doi selalu ada rapat bahkan di akhir pekan. Rapat yang saya tahu memang bukan maunya Doi, tapi memang karena ada target yang mendesak yang harus diselesaikan. Saya tahu persis resiko seperti ini, karena terkadang posisi inipun yang saya alami. Kami bekerja di bidang yang sama, di satu institusi yang sama, saya hafal dan (sebetulnya) paham sekali resiko seperti ini. Cuma tetep aja bawaanya bete, masak sampai hari Sabtu dan Minggupun  tetep meeting. Saya protes, mbok ya hari Minggu-nya jangan... kan punya keluarga tuh. 


Nah entah bagaimana, di tengah kemarahan eh kesebelan saya itu, kok tetiba sepertinya Yang di atas sana mau mengingatkan saya supaya jangan terlalu mudah marah dan kecewa. Sementara ada banyak hal lain yang seharusnya kita syukuri dari pasangan kita. Salah satunya, pagi itu dalam kondisi hujan suami saya mengantar saya ke Stasiun dengan motornya setelah sebelumnya mengantar anak kami yang sulung ke sekolah.  Hari ini dia masih dalam kondisi Dinas Luar karena mengikuti rapat konsinyering di salah satu hotel untuk menyelesaikan pembahasan suatu rancangan undang-undang. Suami saya bela-belain pulang selarut apapun, ketimbang tidur di hotel, supaya di pagi hari masih bisa ketemu anak-anak dan Ibu mereka, sekaligus mengantarkan kami ke tujuan masing-masing. Padahal jam 9.00 harus kembali ke hotel karena rapat/pembahasan biasanya dimulai pukul 10.00. Ini bukan hari tu saja terjadi, tanpa ada kesepakatan yang eksplisit, rutinitas ini sudah berjalan setidaknya sejak pagi hari kami makin sibuk dengan 3 putri-putra kami yang masih kecil-kecil.

Serasa disentil gitu, sama Yang Maha Pengasih Penyayang, kok gak ada rasa syukurnya??.. kerana masih malu untuk mengucapkan langsung hehehe (kan ceritanya saya masih marah bin sebelll), terpikirlah saya untuk mengungkapkannya lewat status Facebook, sama sekali tidak untuk pamer, mengundang simpati atau sejenisnya. Lebih karena ingin sekaligus mengajari diri untuk banyak bersyukur, untuk sesuatu yang mungkin karena sudah menjadi kebiasaan lalu kita anggap sebagai sesuatu yang wajar, lumrah atau seharusnya, padahal jika kita mau berpikir lebih jauh, betapa hal-hal sederhana ini merupakan bentuk nikmat yang kadang terlupakan.

Hmm penasaran kayak apa statusnya? (halah GEER, sapa yang penasaran :P), ini saya kutip di sini ya... status yang saya posting di 30 Januari 2014 lalu dan tak lupa saya tag Doi..
"Selarut apapun si Ayah berusaha pulang ke rumah saat lg tugas konsi di dalam Kota. Kalau sudah terlalu lelah dan mengantuk, biasanya pagi hari baru pulang. Walaupun jam 9 an harus kembali ke hotel karena biasanya rapat lanjut jam 10. Kok dibela2in pulang?? Iya karena pagi hari, ayah mau nyempetin nganter kaka2 ke School dan (terutama) nganter isterinya ini ke Stasiun. Justru pas cuaca tak menentu seperti ini dan pagi hari selalu jd sesi yang riweh, jd ayah selalu berusaha pulang ke rumah. Pun walaupun sebentar, katanya justru malah bisa tidur nyenyak di rumah, di hotel gak betah. ga bisa tidur nyenyak. Ya iyalah di hotelnya kerja siih bukan liburan . Makasih yaaa ayah ^-* smoga Allah membalas dengan kebaikan #homesweethome"

Selain mengundang lumayan banyak jempol-jempol, ada beberapa yang comment. Sejujurnya saya berharap sih tidak ada yang comment-lah... jujur agak risih dan tak mau berkomentar lebih lanjut :p, Iya menurut saya statusnya agak "pribadi" begitu. Iya comment  yang muncul mostly memang menyatakan kekaguman  pada si Ayah *ciyaaaah pasti Doi jadi GEER tuh... tapi ada juga niih comment ya agak-agak nakal dari salah satu rekan kami (senior pulak hihi).." Salut banget buat Ayah seperti itu..., tetapi juga jangan sampai kalau Ayah di rumah cuma bisa tiduuurrr saja...tapi kalau sdng diluar banguuunn terus...., nanti Bunda marahin lho???? Hmm agak-agak bingung kan balik ngomment sama yang kayak gini, kita nakalin aja lagi yaa...

Saya yakin Doi bukan satu-satunya Ayah yang juga memiliki kemauan untuk menjadikan rumah dan keluarga sebagai tempat segalanya berpulang... tapi setidaknya satu di antara ayah-ayah hebat (mengutip beberapa comment) itu adalah ayah anak-anak saya... We Luv U... Ayahhhh  (Nah lhooo, ini kok ungkapan khusus dan private lagi sik ..:P) ... setidaknya Doi tahu bahwa ngambek dan marahnya sayaah, karena saya sayang dan  bahwa saya bersyukur memilikinya sebagai teman sekaligus pasangan.

Status 2:  It works making me so proud of  my girl's love

Status kedua ini juga ungkapan rasa syukur saya atas perhatian dan kasih sayang Kaka Alin (Sulung saya, usia 6,5 tahun), aah saya tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana terharunya saya dengan polah lugu dan manisnya. Saking terharunya, saya postingkan poto uang sebesar RP.16.000... yang dikuwel-kuwel (apa yaa bahasa Indonesianya..) dalam tisu lalu dengan malu-malu diserahkannya pada saya, malam sebelum besoknya saya berangkat ke Swedia untuk International Training selama hampir 1 bulan... *mewek bombayy dakuuh
"Semalem di kasih ini sm Kaka Alin, dibungkus dlm Tisu, buat bekel Ibu ke Swedia, sambil tersipu2 malu. Tadinya 6 ribu rupiah sajah: lalu dipikir lagi akhirnya ditambah jd 16ribu. Atau Ibu mau semua aja uang simpananku? ah engga Ka, segini jg udah cukup, udah banyak . Makasih ya sayang  .."

Sumpah bukan mau pamer dan narsis kalau saya ternyata sangat disayang dan dicinta oleh si Kakak *hikss bangga rasanya yaa, dapet cinta dan sayang setulus ini. Rasa haru luar biasa yang memenuhi dada saya, sampai melelehkan bulir-bulir air di ujung mata. Inikah Tuhan rasa bahagia seorang Ibu saat anaknya mengekspresikan rasa sayang dan perhatiannya. Luv you dear Kakak...

Ini bukan salah satu saja bentuk perhatian dari anak (anak) saya. Dengan kepolosan dan kemurnian cintanya, mereka sering menyentuh hati Ibunya ini. Ibu yang sering merasa bukan "the best mom", terutama karena tak selalu berada di samping mereka, karena harus nguli di luar rumah. Ahhh... terbayar segala galau, saat menyadari cinta mereka tak mengenal logika. opo toh yooo ... iya gak pake itung-itungan gitu maksute.

Postingan itupun mengundang like-like dan comment yang juga membuat saya tak kalah terharu, dari sekedar "co cweet", "indahnya..", "ikut terharu" , sampai ungkapan yang membuat saya makin bangga menjadi seorang Ibu, seperti "Subhanallah...itu wujud bakti dan sayangnya anak sama ibu. Selamat jalan yaa..smoga sukses" (dari Budhe Yayuk, My ex Boss, sekarang dah mutasi), "alhamdulillah nikmatnyaaaaa menjadi ibu..."  (my old best friend, Cucu ....). 

Pada akhirnya, alhamdulillah... selain menyalurkan Narsisme, Nyetatus bisa jadi ajang pengingat untuk terus bersyukur, pun sedikit menghadirkan rasa bahagia ditengah galaunya kehidupan :P

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Sehari: Blogger Dalam Dua Status di BlogCamp.

8 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Segera didaftar
    Keep blogging
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. komentar tentang si ayah itu maksudnya apa ya mbak? hehehe... #nyentil sedikit tuh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha *tahan-tahan jangan terpancing :P hehehe
      makasih dah mampir

      Delete
  3. Replies
    1. hihi dipilih memang ya temanya touchy mak, makasih dah mmapir

      Delete
  4. ngomong2 tentang status 'ayah"..jd ingat suamiku yg aku suka pancing2 bikin status supaya membalas romantis..hehe tau2-nya nggak ngaruh juga..hehe dia tetap diam dan lempeng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk... itu ga beda kok sm si äyah"-nya sayah... makanya sy amat sangat jarang tuuh, nyetatus sejenis itu mak :P
      dilempengin muluk sih

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.