Friday, May 16, 2014

1/102 Moreland Road

Sebuah flat sederhana, di lantai pertama.  letaknya paling depan, satu di antara tujuh bangunan sejenis yang berderet memanjang ke belakang. Berhadapan dengan delapan bangunan yang sama persis di hadapannya. Morelad Road 102 & 102A, Brunswick. Tepat di depan balcon 1/102 itu ada sebuah tram stop. Setiap orang yang hendak menyebrang akan memencet bel dan terdengarlah bunyi "ding ding ding ding..." berulang kali sampai mereka sampai ke sebrang jalan.


Dari luar, bangunan sederahana itu berwarna coklat bata dengan motif bata-bata kecil khas rumah-rumah di Australia.  Di bagian dalam flat berukuran sekitar 2,5 m x 3 m ini terdiri dari empat ruangan terbagi sesuai fungsinya. Kamar tidur dengan tempat tidur besi yang cukup tua dan agak mengkhawatirkan, sebuah lemari pakaian yang juga tak terlalu meyakinkan. Yang cukup meyakinakan adalah sebuah tempat tidur bayi dari kayu yang tampak kuat dan cantik. Sebuah meja dengan lap top 14 inchi yang selalu terpasang dengan modemnya dan sebuah kursi dari besi berjok merah. Ada pemanas ruangan/heater yang sudah tak terlalu panas. Di samping kamar tidur, terhubung pintu menuju kamar mandi dengan bath tube sekaligus tolilet yang sudah cukup tua. Kamar mandi sekaligus laundry room ini dilengkapi dengan mesin cuci yang juga sudah tua.

Di pintu kamar tidur yang lain terhubung dengan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Karpet abu-abu, sofa tunggal besar/coach berwarna abu-abu, rak tempat menyimpan radio tape yang tak pernah kami putar, dan rak penyimpan boneka-boneka besar. Tepat di samping ruang tamu sejajar dengan kamar mandi, ada dapur. Semua furniture bawaan flat memang sudah tua, termasuk berbagai perlengakapn dasar yang ada di dapur. Selain furniture bawaan dari flat, furniture lainnya merupakan take over dari penyewa sebelumnya yang kebetulan juga mahasiswa Indonesia yang sudah back for good. Banyak peralatan yang kemudian sebetulnya tak terpakai. Tapi karena syarat men-take over flat ini sekaligus dengan furniture milik mereka. Ya sudahlah, kami tak punya pilihan. 

Meskipun banyak yang tak terpakai, namun ada dua benda yang sangat saya suka, baby box yang saya sebutkan tadi dan sebuah cobek dan ulekan dari batu. Saya tak tahu bagaimana mereka bisa membawa cobek dan ulekan kecil itu, tapi sungguh bermanfaat untuk sekedar membuat sambal tomat atau terasi saat saya kangen rumah. baby box dari kayu dengan warna coklat itu ternyata kemudian sangat jarang saya pakai untuk menidurkan Baby Al, karena terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Pun saya tak tega membiarkannya tidur sendiri di box dan memilih menidurkan di samping saya. Jujur baby box ini lebih untuk memenuhi syarat saja. Semua rumah dengan baby harus memiliki tempat tidur khusus untuk sang baby. Yang kemudian menjadi favorit adalah sofa abu-abu di ruang tamu... hmm the only sofa, tempat Ibu bersandar sejenak sepulang dari kampus, sambil menggendong baby Al dalam pelukan atau menyusuinya hingga tertidur.

Semua tampak biasa saja dan sangat sederhana. Ahh tapi kenapa Flat 1/102 Moreland Road ini begitu berkesan buat saya?? karena selama hampir satu tahun, di sanalah saya dan suami (yang kemudian pada tiga bulan terakhir sebelum pulang ke Indonesia, ditambah baby cantik Alinga) berteduh dari hujan, berlindung dari dinginnya winter, dan berlindung dari panasnya summer.  Di sanalah malam-malam penuh perjuangan menyusun sepuluh ribu kata dalam bahasa inggris untuk satu tugas research paper dari masing-masing subject yang saya ambil, dikalikan 8 subject terselesaikan. Sambil mengelus-elus perut yang kian hari kian membesar ditemani pisang dan  mary regal biscuit. Iya saya sulit makan hampir selama 7 bulan mengandung. Asupan si kecil yang rutin ya pisang dan mary regal biscuit.hiks, maafkan Ibu nak..:)

Di sana lah saya belajar menjadi Ibu dan suami belajar menjadi ayah, bagi Baby Alinga. Membesarkan bayi yang lahir tanpa bantuan orang tua atau keluarga.Berdebar-debar menunggu tali pusar Baby Al yang tak kunjung puput. Hampir dua minggu kemjudian , tali pusarnya baru puput. Entah kesalahan apa yang kami lakukan? mungkin kami terlalu sering memandikannya, selayaknya bayi-bayi yang lahir di Indonesia. Ternyata baby di sini tak perlu terlalu sering dimandikan, sebagaimana orang dewasapun jarang mandi. Yang juga mendebarkan adalah saat harus mencukur sendiri rambut Baby Al yang sangat tipis, agar tumbuh rambut baru untuk mempercantik wajah mungilnya.  


Di sanalah saya merasakan keanehan menjadi Ibu baru seperti badan dan payudara membengkak luar biasa. Nyeri karena Baby Al tak bisa menyusu sempurna. Awalnya saya kira hanya nipple rush, sudah diberi cream tetap luka. Rupanya karena Baby Al memiliki "tongue tie" yang membuatnya kesulitan menghisap nipple Ibunya. Sampai akhirnya, kami harus menyetujui untuk me-release tongue tie Baby Al. Beruntung dua hari sejak saya kembali dari rumah sakit, seorang modwaife dari City Council datang ke Flat. Memastikan saya bisa menghandel baby saya dan kondisi kesehatan saya pasca emergency cesarean...secara emergency karena prolonged pregnancy saya harus melahirkan Baby Al karena detak jantungnya yang ternyata sudah kritis. Terlalu lama di perut Ibu yang tak  juga kunjung konstraksi dan pembukaan, meski sudah menunggu hingga 43 minggu.

Di sanalah saya merasakan ikatan kekeluargaan sesama perantau. Meski biasanya hanya kumpul-kumpul kecil beberapa rekan. Sempat satu kali kami mengadakan syukuran dengan tamu yang lumayan banyak di flat kami bagi ulang tahun dua rekan kami yang masih single. Menu andalan saya, sop iga dan bakwan sayur. Dua menu ini juga yang jadi andalan saya jika ada acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia, selain juice dan buah tentunya.

Meski sangat sederhana namun posisi Flat kami sangat strategis. Tram No. 8  lewat tepat di depan rumah, bisa satu kali mengantarkan kami ke Kampus Parkville lewat jalur Lygoon Street.  Ke arah sebaliknya kami bisa bertemu dengan jalur Sydney road dan bisa mencapai kampus dengan pindah ke Tram lain di jalur ini. Jika tak mau naik tram, saya sering berjalan kaki mencapai Sydney road, salah satu tempat yang juga sangat saya suka. Iya, di sini terdapat pertokoan dan pusat pembelanjaan sayur dan buah segar yang murah, serta daging-daging halal (halal butcher). 

Di sepanjang Syndey road ini juga ada toko kebutuhan rumah tangga dengan harga miring. Yang paling populer tentunya "Saver", toko pakaian bekas yang selalu ramai pengunjung. Ada juga cafe-cafe milik orang-orang turkey yang juga menyediakan pertunjukan "belly dance". Salah satu yang juga pavorit adalah Big Sam Pizza, Restaurant Pizza dengan harga miring dan yang paling penting halal. Ada resturant Italy yang halal juga di salah satu  tram stop sepanjang jalan menuju brinswick ini, saya baru satu kali makan di sana. 

Saya sangat beruntung bisa menempati 1/102 Moreland Road yang strategis ini. Meski biaya sewa relatif lebih mahal mengingat posisi yang strategis tersebut.  Saat itu agak sulit mencari flat, kita harus cukup beruntung untuk mendapat tempat yang sesuai, harga yang sesuai dan agent perumahan yang baik. Menjelang kami back for good. Satu keluarga mahasiwa Indonesia dengan calon baby, langsung berminat untuk mentake over flat. Pasti karena baby box dan posisinya yang strategis. Saya percaya merekapun akan mengukir kenangan tak terlupakan di Flat sederhana itu.
A Place to Remember Give Away


6 comments:

  1. Flat cantik yg penuh kenangan ya mak ;)

    ReplyDelete
  2. Aih, baby Alinga yg menyemarakkan suasana flat ya mba :) Keren bisa mandiri gitu, jauh dari orang tua saat melahirkan.

    Terima kasih telah berpartisipasi dalam GA ini. Good luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mak, tanpa si mungil itu entahlah rasanya... mau gak mau harus mandiri hhihi.
      makasih mak jur

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.