Friday, May 2, 2014

Desentralisasi Pendidikan di Swedia: Best Practice di Taby Municipal #Oleh2Swedia

Satu lagi yang belum saya bagi dari #Oleh2Swedia adalah "bagaimana praktik desentralisasi di bidang pendidikan di Swedia. Kewenangan di bidang pendidikan khusus untuk primay dan secondary education merupakan salah satu dari sekian kewenangan yang didesentralisasikan Pemerintah (Pusat) Swedia kepada Daerah (Municipal),  seperti yang pernah saya kupas di sini. Salah satu yang membuat saya terpesona dari suksesnya sistem desentralisasi mereka adalah bagaimana desentralisasi pendidikan di sana dikelola dengan baik dan berhasil. Kita masih harus banyak belajar, banyak belajar dan punya komitmen yang kuat untuk mewujudkan apa tujuan awal dari sistem desentralisasi yang kita laksanakan. Sikap mental mereka yang sangat profesional dan mengedepankan good governance dalam setiap level pemerintahan menurut saya menjadi salah satu kunci keberhasilan.



Dalam satu hari penuh sesi studi visit dengan tema desentralisasi pendidikan, kami mengunjungi salah satu municipal (Kabupaten/kota) yang letaknya tak jauh dari kota Stockholm. Sekitar 45 menit dengan bus, sudah termasuk sedikit antrian kemacetan di beberapa titik akibat pembangunan jalan dan rush hour. Sesi pertama kami berkumpul di  City Councilnya Taby Municipal (semacam DPRD-nya mereka). Menyimak penjelasan tentang bagaimana kebijakan pendidikan di Taby. Pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat menjadi perhatian di Taby. 30% APBD mereka dialokasikan untuk sektor penddikan. dari 30% itu pembagiannya 26% untuk Preschool, 3% Preschool Class, 44% Compulsory school, 19% Uper secondary education, 7% After School centre dan 1% adult education.

Penyelenggara  atau pengelola pendidikan terdiri dari pemerintah daerah biasa disebut public school dan swasta disebut private school. Perlu diketahu pendidikan di Swedia Gratis. Alokasi dana pendidikan dari APBD diserahkan langsung kepada masing-masing penyelenggara pendidikan per kepala jumlah siswa yang belajar di sekolah tersebut, jumlah sama per siswa pertingkat pendidikan meliputi item-item kebutuhan yang sama. Selain itu ada dana tambahan bagi siswa dengan kebutuhan khusus.

Bagi siswa berkebutuhan khusus diberikan dana tambahan sesuai kebutuhannya, dana ini juga diserahkan kepada penyelenggara pendidikan bukan kepada siswanya. Sehing sekolah wajib memenuhi kebutuhan tambahan bagi siswa tersebut. Jumlah yang diberikan tergantung pada jumlah siswa berkebutuhan khusus. Perbandingan penyelenggara pendidikan di tingkat preschool dan compulsory school terlihat sangat berbeda. di tingkat preschool, hanya 2% yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sisanya 98% dikelola swata, sementara di tingkat compulsory school, 60% dikelola pemerintah daerah, 40% swasta.


Meskipun sekolah dikelola oleh pemerintah dan swasta atau ada public school dan private school tetapi tetap tidak ada biaya yang dipungut kepada siswa (orang tua siswa) sepeserpun di kedua lembaga ini. Karena sumber pendanaan sepenuhnya dari negara melalui pemerintah daerah. Besarnya dana seperti dijelaskan sebelumnya ditetapkan berdasarkan jumlah siswa per kepala. Lalu apa yang membedakan sekolah publik dan sekolah swasta. Bedanya di penyelenggaranya. Sekolah publik dikelola oleh pemerintah daerah sedangkan sekolah swasta dikelola oleh pihak swasta. Saya sempat bertanya-tanya, jika jumlah dana yang diterima sama bagi kedua jenis sekolah tersebut lalu dari mana pihak swasta memperoleh "keuntungan'?.

Saya membandingkan dengan sistem pendidikan kita bahkan pendidikan gratis sekalipun ternyata masih harus membayar ini dan itu. Terlebih sekolah swasta, untuk sekolah swasta yang bagus (kelas menengah ke atas) kita harus membayar jauh lebih banyak. semakin tinggi kelas semakin mahal. Biaya terutama terkait dengan fasilitas.Ternyata, masalah ini sepenuhnya menjadi kreatifitas lembaga swasta yang menjalankan sekolah tersebut. bagaimana mereka mengelola pendidikan dengan sumber dana yang sama. 

Kami mengunjungi langsung, berdiskusi dan melihat proses belajar di kedua jenis sekolah tersebut. pertama kami mengunjungi Ava Upper Secondary School merupakan sekolah lanjutan atas yang dikelola oleh pemerintah daerah. Program  studi di tingkat ini terdiri dari 18 pelajaran yang merupakan program nasional, 5 program pengenalan/dasar, dan beberapa program tambahan yang bervariasi sesuai dengan pilihan siswa meliputi program olahraga atau ketrampilan dan keahlian tertentu, semacam jurusan-jurusan di sekolah menengah kejuruan di tempat kita.

Kami berdiskusi di ruang guru dengan kepala sekolah dan beberapa guru. selanjutnya berkeliling sekolah, melihat ruangan belajar, aula, laboratorium, saran olahraga, perpustakaan dan lainnya. Kami bahkan makan siang di kantin sekolah. Makan siang gratis bagi anak-anak sekolah, karena termasuk dari satu item kebutuhan yang dibiayai oleh negara. Bahkan untuk anak-anak preschool termasuk sarapan dan cemilan makanan/minuman sehat selama berada di sekolah. Hmm berada di sekolah tersebut serasa di Universitas, suasana dan tata letak ruangan dan bangunan lebih mirip suasana kuliah di universitas. Tempat yang membuat saya paling terkesan adalah library-nya, wuiih keren dan sangat cozy... bahkan perpustakan kampus di negara kita belum senyaman ini saya rasa (sependek pengetahuan saya yaa..)

Dari Ava Upper-Secondary School, kami berkunjung ke salah satu sekolah swasta tingkat SD namanya Internationella Engelska. Dari namanya sekolah swasta ini memang semacam sekolah internasional di mana selain kurikulum atau program nasional dan lokal, mereka memiliki kurikulum atau program internasional. mereka menggunakan bahasa inggris secara aktif di sekolah, memiliki guru-guru internasional dan beberapa kegiatan ekstrakulikuler andalan mereka.

Meskipun terlihat lebih ekslusif dan dengan kekhususan bahasa asing serta latar belakang siswa yang umumnya merupakan siswa dengan latar belakang non swedia (pendatang/asing). Siswa SD ini sudah pandai berbicara bahasa inggris, berdebat dan bahkan publik speaking dalam bahasa Inggris. Kami juga menanyakan bagaimana sekolah bisa memanage dana pendidikan yang sama guna memaksimalkan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kembali saya mendengar jawaban yang sama, bagaimana kreatifitas management sekolah mengelola dana yang ada. Karena dana yang diberikan per kepala terhitung memadai. 

Menjelang sore hari kami dibagi dua group mengunjungi preschool (PAUD) semacam tempat penitipan anak usia dini ( >3 tahun). di Indonesia semacam tempat penitipan anak yang terintegrasi dengan pendidikan mungkin ya? karena PAUD di Indonesia biasanya tidak seharian penuh. Ini berbeda dengan preschool class atau semacam kindergarden/TK. Satu group mengunjungi public preschool sedang group yang lain mengunjungi private preschool. Saya berkesempatan mengunjungi public preschool, Enen Preschool.

Fasilitas sangat lengkap dan nyaman. Anak-anak datang di pagi hari biasanya diantar oleh orang tua mereka sebelum berangkat bekerja dan dijemput sore hari anytime orang tua menjemput mereka. Selain bermain, mereka disediakan tempat tidur siang dan makan. Beberapa orang guru menemani dan mengawasi mereka bermain. Adapula guru yang mengajak anak-anak dengan permainan melatih motorik kasar dan halus mereka. Meski cuaca dingin, namun anak-anak tak bisa dicegah untuk bermain di luar ruangan. Dengan kostum lengkap jaket dan boot mereka bermain di luar. Guru hanya mengawasi sambil memantau sekiranya ada hal yang harus dihindari.

Pendidikan Gratis, segratis-gratisnya dengan fasilitas, kualitas dan kurikulum yang sangat memadai.  Luar Biasa ya...Masih banyak PR dunia pendidikan kita. Tak sekedar fasilitas dan sarana fisik, aspek mental, moral dan religi menjadi PR kita di tanah air kita. Selamat hari pendidikan, mari bersama memperbaiki pendidikan di negei ini...

6 comments:

  1. Luar biasaaa yaaa..... semoga dihari pendidikan ini menjadi renungan bg kita semua untk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia...

    :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, sharing ini jg utk mengingatkan kita bahwa PR dunia pendidikan kt masih banyak. Makasih dah mampir mak

      Delete
  2. Wah.... keren ya di Swedia. Kapan coba di kita bisa seperti itu. Yang ada malah ribut kasus-kasus yang bikin miris. Ayo Indonesiaaaaa.... kasian generasi penerus. TFS, Mak. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komitmennya kayaknya ya mak yg kurang. Komitmen dari semua pihak yaa smoga kita bs terus bergerak memperbaiki diri ya

      Delete
  3. Waaah.. kerennya di Swedia…
    Salam kenal dari Adelays,
    Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah :
    saya share disini :
    http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga, makasih ya sdh mampir dan share info.. :)

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.