Tuesday, May 13, 2014

Menjenguk Mimi ke Cirebon (Naik Kereta Api... Tuuut)

Saat menerima bbm dari adik bungsu saya bahwa Mimi (Ibu saya) sakit panas, demam dan badan nyeri. Saya langsung menghubungi Kakak nomor dua yang memang rumahnya hanya berjarak 10 meter saja dari rumah Mimi. Rupanya, Kakak saya sedang tugas ke Semarang.Gerilya berlanjut, saya menghubungi Kakak saya yang lain, si nomor lima. Rumahnya memang tak sedekat rumah Kakak saya nomor dua tadi. Minta tolong dicek di rumah dan bila perlu dibawa ke dokter. Rupanya Mimi terjangkit penyakit Chikungunya, yang ternyata sedang mewabah di sana. Hampir setiap rumah di kampung terjangkit penyakit yang disebabkan oleh Virus Chikungunya yang disebarkan oleh nyamuk yang sama dengan penyebar virus demam berdarah, Aedes Aegypti. Gejala demam, panas tinggi, mual-mual serta badan dan sendi kaku. bahkan sampai tak bisa berjalan.
Mimi & Her Daughters plus de Paksi

Saya langsung merencanakan untuk pulang kampung menjenguk Mimi di akhir pekan kemarin. Awalnya terpikir membawa anak-anak serta. Mereka selalu antusias pulang kampung ke rumah Mide (panggilan nenek umtuk Ibu saya). Pulang ke kampung Mide, artinya bisa seseruan main bareng sepupu-sepupunya. Ke sawah, ke balong, ke Masjid dan ngebolang bareng kakak-kakak sepupunya. Empat orang Kakak laki-laki saya memang tinggal di Cirebon. Masing-masing memiliki anak-anak seusia main anak-anak saya. Hmm kalau lebaran dan kumpul semua ada sekitar 25 orang cucu Mide, plus satu orang cicit. Belum termasuk sepupu-sepupu saya yang sedari kecil hingga remaja tinggal di rumah beserta anak-anak mereka. Ehh kok jadi ngelantur. Iya tapi mengingat kondisi anak-anak yang kurang fit (just like their mom) dan virus Chikungunya yang tengah mewabah. Saya memutuskan tak jadi membawa serta mereka pulang kampung. Mbah Uti (Ibu mertua) yang biasanya "off" di akhir pekan, tak keberatan menjaga mereka selama saya dan ayah mereka ke Cirebon.
Mimi & The Ziayudi Fam

Sepakat tak perlu membawa kendaraan, mengingat jalan pantura yang dikabarkan tengah rusak parah akan menjadi kombinasi yang sangat indah dengan akhir pekan, kami memutuskan pulang dengan kereta. Sejak hari rabu hunting tiket kereta, ternyata sudah banyak yang habis, tersedia beberapa kursi saja dimkelas eksekutif. Akhirnya karena sabtu pagi ada jadwal kondangan, hihihi.. iya yang nikah cleaning service dan office boy di kantor. Duo krucils itu lumayan dekat dengan keseharian di kantor, belum lagi rumah mereka juga masih di wilayah Ciputat, rasanya tak elok jika tak datang. So ambil jadwal kereta siang Jam 13.30 dengan Cirebon Express, dijadwalkan tiba di Stasiun Cirebon pukul 16.30. Untuk kembali ke Jakarta dengan Argojati pukul 11.30 dijadwalkan tiba di Stasiun 14.30. Kami book tiket melalui internet, lalu membayar di Alfamart dekat rumah.

Wah ternyata sesi kondangan molor dari rencana, gegara krucils pengen ikut serta. Yaah sudah mengingat mereka akan saya tinggal sampai besoknya, akhirnya mereka ikut kondangan. Dengan bergegas, selepas kembali dari kondangan kami segera berangkat. Tetep harus berkompromi dulu dengan dek Paksi yang tetep minta ikut. Dengan motor, saya dan suami menuju stasiun Sudimara. Commuter Line menuju tanah abang tiba sekitar 15 menit setelah kami menunggu. Setiba di Stasiun Tanah Abang, kami memilih sarana tercepat ke stasiun Gambir, Ojek. Wussss para bang ojek membelah jalanan Jakarta Pusat dengan kecepatan yang luar biasa buat saya, tak lebih dari 15 menit kami sudah sampai di Stasiun Gambir. Alhamdulillah masih ada waktu sebelum kereta berangkat.

Ternyata, untuk  tiket yang sudah kita booking kita harus mencetak sendiri. Sudah setahun lebih tak bepergian dengan kereta jarak jauh, sudah ada kemajuan rupanya. Cara mencetak tiketpun terbilang simpel. Antrian tak terlalu panjang mengingat tersedia sekitar lima mesin pencetak. Petunjuk dipasang dengan jelas di depan komputer dan printer. Cukup masukan kode booking, lalu akan muncul data kita, lalu cetak. Masih ada waktu untuk sholat, kami langsung menuju Musholla yang terletak tak jauh dari tempat mencetak tiket dan loket. Tak lupa membeli buah tangan sekedarnya untuk yang di kampung :)

Kereta datang tepat waktu. Hmm sounds good.. sampai akhirnya terasa panas di dalam gerbong. Ahh rupanya saya harus siap-siap sauna ala commuter line. Entah AC rusak atau memang biasanya selalu panas seperti ini. Gerbong eksekutif yang kami naiki serasa pengap mengingat udara di luar cukup panas, Beruntung perjalanan lancar, kami bisa segera sampai ke Stasiun Cirebon tepat waktu. Dalam kereta kami segera memesan makan siang, seporsi nasi goreng yang lumayan yummy dan seporsi beef steak yang sayangnya kok sudah berubah penampilan dan rasa dari terakhir kali saya menikmati makanan yang sama setahunan yang lalu.

Mang Udin yang sedang menemani adik saya terapi ke kota Cirebon kemudian menjemput kami di Stasiun. Hari sudah sore, namun udara Cirebon terasa masih panas. Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke kampung halaman saya yang letaknya di barat selatan Cirebon. Mampir di pasar Kalitanjung membeli buah-buahan untuk buah tangan. Tepat waktu Maghrib kami sampai ke rumah. Rupanya siang tadi baru saja dilakukan pengasapan/fogging masal. Aroma obat bekas fogging yang terasa menyengat dan lantai yang licin menyambut kami. Mimi tampak sudah jauh membaik, walaupun masih terlihat lemah. 

Meskipun memiliki 8 orang anak dan hanya tiga orang anak perempuannya yang merantau. Mimi akhirnya hanya ditemani adik perempuan saya yang bungsu di rumah. Semua anak laki-laki dan keluargana tinggal di sekitar rumah Mimi. Tapi mungkin anak dan menantu serasa berbeda bagi Mimi. Apalagi Mimi memang sangat mandiri, sungkan dan tak mau merepotkan kami. Begitulah Mimi, tak berubah di usianya yang sudah mendekati 70 tahun. "Gak enak merepotkan kalian", begitu selalu alasanya. Saya bahkan bilang bahwa memang sudah waktunya. Dulu kami yang merepotkan Mimi terus, waktunya kami sekarang sekedar direpotkan, jikapun memang itu dianggap merepotkan.

Saya merasa lega karena kondisi Mimi semakin membaik. Mimi mau makan roti dan buah yang saya bawa. Selama sakit selera makannya hilang. Semua makanan terasa pahit katanya. Belum lagi memang Mimi punya maag. Dengan berat hati Minggu pagi saya pamit pulang. Saya kembali menegaskan proposal saya, agar Mimi mau tinggal di rumah saya. "Dua minggu lagi ya Mi, pas acara nikahan Anggi di Bandung, sekalian nanti Mimi pulangnya ke Jakarta. Sampe mau lebaran baru pulang ke Cirebon" begitu rayu saya. Dua minggu lagi salah satu keponakan saya di Bandung akan melangsungkan pernikahan yang artinya akan ada kumpul keluarga besar. 

Semoga Mimi mau mempertimbangkan proposal saya. Kami, anak-anak perempuannya sudah berulang kali merayu agar Mimi tinggal bersama kami, ya sebulan di rumah saya di Ciputat, sebulan di rumah adik saya di Cirendeu, sebulan lagi kami antar ke Bandung di rumah kakak saya. Hmmm tapi selalu ada seribu satu alasan untuk menolak. Rasanya rekor paling lama menginap di rumah saya adalah saat menunggu kelahiran dek Paksi dan menunggu de Paksi pulang dari rumah sakit sekitar satu bulan kemudian. Intinya, berada di habitat yang berbeda membuatnya tak betah dan selalu ingat pulang. Meskipun tinggal dengan kami artinya membuat Mimi lebih santai tak harus memikirkan ini dan itu. Ahhh tapi Mimi selalu punya pertimbangan sendiri, dan kami akhirnya tak bisa memaksa.Saat sedang berada di rumah kami, selalu sibuk ditelpon dan menelpon yang ada di kampung, mengontrol sawah, ikan di balong, ayam dan bebek, dan yang lainnya. Hmm begitulah... masih seperti dulu. Kabarnya smua urusan sawah, balong dan lainnya sekarang sudah didelegasikan pada salah satu Kakak laki-laki saya. Semoga tidak ada alasan untuk mau tinggal bersama kami. Supaya kami bisa mengontrol kesehatan Mimi.

Meninggalkan Mimi serasa jauh lebih berat dari biasanya. Saat akan berangkat, saya memeluknya lama. Mimi menangis, saya yang biasanya sok kuat dan tabah tak bisa menahan air mata. Saya merasakan bagaimana kesedihan dan rasa sepi di hatinya. Saat kami menelpon atau bertemu biasanya Mimi akan banyak curhat. Mungkin Mimi tak punya teman bercerita selayaknya Mimi bisa bercerita dan curhat dengan kami anak-anak perempuannya yang terpisah jarak. Saya kembali mengingatkan Mimi tentang proposal untuk tinggal bersama saya. 

Mang Udin dengan sedikit ngebut, akhirnya bisa mengantar kami hanya 15 menit saja sebelum jadwal Argojati yang akan mengantar kami ke Jakarta. Ahh ternyata kereta datang terlambat. Satu jam kemudian kereta baru bisa diberangkatkan. Meski agak kecewa karena terburu-buru. Kami akhirnya memilih makan siang terlebih dahulu. Di depan stasiun berjejer warung makan. Salah satunya Empal Gentong (Putra) Mang Darma. Semangkok Empal Gentong Isi Campur dengan potongan lontong dan kerupuk khas tandas masuk perut saya. Ah saya sampe lupa  memoto penampakan Empal Gentongnya, saking laperr hihihi. Melihat meja sebelah memesan dan menikmati Tahu Gejrot saya latah dan penasaran. Ahh kangen juga dengan penganan satu ini, seporsi tahu gejrot kami pesan dan kami habiskan berdua.

Empal gentong, sumber gambar dari sini, tapi penampakkan yang saya makan persis banget kok, sama :)
Kami juga sempat sholat sebelum akhirnya kereta Argojati tiba dari Jakarta. Saya berharap kejadian sauna di Cirebon Express tak terulang. Apalagi tiket eksekutif Argojati selisih 30 ribu dengan Cirebon Express, walaupun untuk kelas bisnis sama-sama dikenai Rp150.000,-. Eksekutif Argojati dibandrol Rp185.000,- sedangkan eksekutif Cirebon Express hanya 155.000,- Kami pikir perbedaan yang tipis antara bisnis dan eksekutif di Ciirebon Express yang menyebabkan tak ada perbedaan fasilitas yang mendasar dari dua kelas tersebut. Tapi ternyata kami lagi-lagi tak beruntung, gerbong yang kami naiki dan satu gerbong eksekutif lainnya bermasalah dengan AC. Ahhh kembali kami bersauna. Beruntung kami tak mengajak kruclis... bisa dibayangkan resah dan repotnya mereka berada di gerbong yang pengap ini.

Setiba di Stasiun Gambir, kami melanjutkan perjalanan pulang dengan bajaj ke Stasiun Tanah Abang. Hmm bahkan sudah tak ingat kapan terakhir naik bajaj, tapi yang pasti saat itu juga bersama ayahnya anak-anak :). Dari tanah abang, saya bisa mendapat kurs meskipun agak nyempil. Hmm lumayan banget dibandingkan hari-hari kerja di jam sibuk. Bisa terangkut saja sudah alhamdulillah. Sesampai di Sudimara, kami segera mengambil motor dan melaju pulang. Untuk penitipan motor lebih dari satu hari atau menginap dikenai biaya Rp.13 ribu dari biaya Rp.3000 per hari sampai pukul 21.00.  Ahh finally sampai rumah dan bertemu lagi dengan para krucils... mereka tengah main di luar rumah, bersepeda dan lari-lari. Ayook mandi... selepas maghrib kita main dan makan di luar nak... :)

4 comments:

  1. saya juga baru 2 minggu yg lalu ke Cirebon, ngunjungin keluarga yang nikahin. Semoga Mimi cepet sembuh dan pulih ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah, naik kereta juga kah mak??? amiin makasih doanya, alhamdulillah Mimi sudah sembuh tinggal pemulihan

      Delete
  2. Aku asli tegal tapi belum pernah main ke Cirebon, hehe :D Makasih sharingnya, mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah harus mampir kapan-kapan mak, aku wong cerbon dah beberapa kali lewat dan main ke tegal, terutama ke Guci sih mak, berendam air panasss :)

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.