Monday, July 14, 2014

[Serba Serbi Pilpres Damai] Kok Ayah dan Ibu Pilihannya Beda???

Selesai mencoblos untuk pilpres kemarin yang dikawal penuh oleh para krucils yang ikut-ikutan masuk kè bilik suara dan mencelupkan jari ke tinta ungu, pertanyaan ala exit poll bertubi-tubi diajukan para krucils. Tadi siapa yang Ayah dan Ibu coblos? Jokowi atau Prabowo. Yang tampak paling penasaran rupanya Ka Alinga.

Saat didapatkan jawaban berbeda dari masing-masing kami, reaksi Ka Al dan Ka Zaha sangat berbeda. Ka Zaha langsung mengàjukan pertanyaan pada kakaknya "kalau sudah besar, kamu pilih yang mana Kak? Aku pilih yang sama kayak Ibu." Ka Al membisu sesaat, raut wajahnya berbuah serius. "Hmm rahasia...".


Rupanya Ka Alinga masih penasaran. "Bu.. Ayah bohong kali bu kalau Ayah milih X, becanda ya Ayah yaaa". "Hmmm coba Kakak tanya lagi, tapi kayaknya memang bener kok, Ayah pilih X" "Tapi kok Ayah sama Ibu pilihannya beda, Ayah pilih X, Ibu pilih XX...kok gitu???" Raut seriusnya kembali menghias wajahnya. "Lhoo...memang kenapa?? kan memang boleh-boleh aja beda. Nanti kalau Kakak sudah besar dan sudah boleh memilih, pilihannya terserah Kakak boleh pilih yang mana saja sesuai kemauan Kakak..., tidak ada yang boleh memaksa." "Hmmm tapi kenapa Ayah dan Ibu pilihannya beda???" Raut ragu tak juga hilang dari wajahnya. Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa kami berbeda pilihan karena kami punya pandangan yang berbeda, yang dalam hal ini tidak ada benar dan salah.

Kami bukan pemilih fanatik salah satu calon pasangan, mungkin termasuk swing voter yang sampai jelang hari H mencoba menimbang mana yang terbaik dari dua yang terbaik atau malah mana yang paling sedikit mudharatnya dari yang lain. Kami adem-adem saja meskipun kemudian pada hari H, kami memilih pasangan yang berbeda. Diskusi justru lebih intens setelah kami lega menunaikan kewajiban konstitutional tersebut. Kesimpulannya, siapapun yang terpilih semoga yang terbaik untuk bangsa ini dan Allah meridhoi.

Rasa penasaran Ka Alinga tak kunjung hilang. Bahkan kemarin dia masih memastikan apakah benar pilihan Ayah berbeda dengan Ibu. "Ibu, coba deh Ibu tanya lagi...Ayah mungkin bohong kalau pilih X...kayaknya sebenernya pilih XX deh bu" "Ah Kakak...bener kok Ayah nyoblos X..." Walaupun kita berbeda pilihan kita tetep harus saling menghormati, tak perlu berantem... harus damai." Krucils ini juga terkena imbas hebohnya pilpres ini, terlebih mereka sering mendengar kami orang dewasa berdiskusi soal ini. Sebelum waktu mencoblos sekalipun mereka bahkan sudah bertanya-tanya siapa pilihan Ayah dan Ibu...waktu itu kami masih galau, maklum swing voter..sehingga jawaban kami agak mengambang.  Rupanya kami berlabuh pada pilihan yang berbeda. Apakah kemudian menjadi masalah???

Rasanya tidak, suami saya mengakui saat saya memaparkan berbagai kampanye hitam dari kubu X, begitu juga saya tak mengelak bahwa dari kubu XX kadang agak lebay menghadapi berbagai isu. Toh meski kami berbeda pilihan kami secara dewasa mengakui bahwa tidak berarti pilihan masing-masing kami lebih benar dari yang lain. Kami meyakini bahwa kelak siapapun yang terpilih, ada konsekuensi logis, baik itu positive mungkin juga negatif. Jadi buat apa "ribut" ...bukankah damai lebih indah...so Pisss kue lupis...

Saya jujur merasa gerah dengan "perang" di media sosial dan media lainnya... bahkan ketika 9 Juli sudah berlalu... Pliss deh..., siapapun yang menang pada akhirnya kita akan memiliki satu saja pemimpin... pendukung yang manapun  toh akhirnya harus mengawal mereka agar kelak Indonesia menjadi lebih baik. Tidak baik, bersikap "taklid buta" dan meyakini pilihan kita sebagai pilihan paling benar. Bahkan jika sosok pilihan kita kelak melakukan "kesalahan", sebagai pendukungnya tentu kewajiban kita untuk mengingatkan dan meluruskan sesuai kemampuan kita. So Keep Calm..be professional voter ciyeeeee....

4 comments:

  1. iyo mak capek ngikutin orang saling serang. wes pokoknya nunggu tanggal 22 aja. siapaun yang jadi presiden kita dukung 1000% ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerrr...pusing ya mak nyimaknya... kebencian yang gak berdasar kayak gitu justru tidak baik secara psikologis buat kita sebagai bangsa yang satu ke depannya...mirisss deh

      Delete
  2. Ya Mak. Saya juga capek baca status teman-teman yang mendadak jadi politisi. Lelah!!! kirain setelah 9 Juli akan dah selesai dan berdamai lagi eh ternyata lanjut gegara semua capres klaim kemenangan. Ya sudahlah ya... mau ngotot kayak apa, The Indonesian next president dah tertulis lho di lauful mahfudz :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... kalah menang harus kesatria menerima ya mak...ngotot apalagi gak pake "logika rasional" juga bikin orang lain bete kan yaaa

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.