Wednesday, August 20, 2014

Gili Trawangan: European Lost in Paradise

Selain perjalanan mencari senja di Kuta, di Lombok saya dan teman-teman menyempatkan diri menyebrang ke salah satu gili (pulau kecil). Pilihannya jatuh ke Gili Trawangan. Setelah mencari informasi akhirnya kami memutuskan untuk pergi dengan public boat yakni kapal kayu yang merupakan transportasi publik dari Lombok ke Tiga Gili. Kami disarankan berangkat pagi sekali, menghindari air laut pasang, dan kembali dari Gili sebelum sore hari. Lain cerita kalau kita ingin stay lebih lama di Gili. Jika ingin puas meng-eksplore Gili Trawangan akan jauh lebih baik menginap beberapa malam di sana. Kami yang memang hanya punya waktu kurang dari satu hari kemudian bersiap sedari gelap dari Hotel di Kota Mataram menuju Pelabuhan Bangsal.




Kapal kayu berpenumpang 20-25 orang akhirnya mengantarkan kami menyebrang ke sebrang pulau. Hanya sekitar 45 menit saja...dan alhamdulillah saya tidak mabuk, bagi yang mudah mabuk laut seperti saya, usahakan kondisi badan sedang fit dan bawa persiapan medis seperlunya. Kalau tidak salah untuk satu tiket keberangkatan dan kembali ke pelabuhan Bangsal, kami harus membayar 25 ribu per orang...hmm itu lima tahun lalu yaa...sekarang??? coba deh cek lebih lanjut. Jangan lupa siapkan pelindung dari teriknya matahari yaa...kecuali memang sengaja mau sun bathing hihihi.


Akhirnya sampailah kami ke Gili Trawangan, Welcome to Gili Trawangan, tulisan di sebuah papan menyambut kedatangan kami. kapal kayu mendarat di pasir nan putih yang menggida, di bingkai birunya air laut. Ahhh dan saya merasa seperti bukan di Indonesia hihihi. Pemandangan yang paling mencolok adalah bule-bule yang berseliweran, jauh lebih banyak dari warga kita tampaknya. Suasana di Gili yang sangat otentik, dengan cafe-cafe yang dibangun dengan penataan yang unik di sepanjang jalan di dekat pantai. Kami kemudian memutuskan keliling Gili dengan Andong, Hmm saya tak tahu apa sebutan lokal untuk kereta yang ditarik kuda ini. Oh iya jangan bayangkan ada kendaraan bermotor yaa, satu-satunya kendaraan umum ya andong ini. Selainnya tentu sepeda. Jadi udara bersih tanpa polusi dari kendaraan bermotor semakin melengkapi suasana otentik Gili Trawarngan. Hmm sampai sekarang masih seperti itu kah??





Sambil berkeliling, kami mengobrol dengan bapak penarik andong. Selain menikmati suasana khas "Syurga yang hilangnya para bule Eropa, European Lost in Paradise", ditemani aroma "polusi alami" yang dikeluarkan si Kuda. Jauh juga jarak tempuh yang harus dicapai si Kuda. Pantas dia agak ngambek dan sempat berhenti di beberapa titik. Memang kami sengaja diajak berhenti sejenak di beberapa titik, tapi si Kuda yang ngambek membuat perjalanan keliling kami menjadi lebih lama. Saya pikir dia kehausan atau kelelahan. Aah tidak bu, ini masih pagi dia belum banyak mengangkut orang. Begitu jawab penarik andong.












Selain laut nan biru yang memanjakan mata, pasir putih, villa-villa yang dibangun dengan bentuk yang unik dan khas - yang menurut si penarik andong, kebanyak dimiliki bule-bule eropa-, ada juga resto dan cafe-cafe di sepanjang pantai, dan kami kembali ke titik awal kami berangkat. Melewati jalan yang cukup ramai yang tampaknya pusat keramaian di Gili di mana cafe-cafe kecil, homestay, toko-toko souvenir, toko penyewa alat perlengkapan selam, dan sejenisnya berjajar rapi. Kami kemudian melihat penyu-penyu mungil di tempat konservasi penyu.




Selesai berkeliling dengan andong, kami kembali dengan berjalan kaki ke beberapa titik yang kami rasa cukup menarik. Berpoto dan bernarsis ria tentunya. Sayangnya kami tak punya waktu cukup untuk bisa sekedar bermain air. Padahal, jikapun tak membawa alat selat atau sekedar snorkling, banyak pemandu wisata yang menyewakan paket menyelam atau snorkling dan keliling pulau serta memandu menyelam. Memang butuh waktu lebih lama menikmati keotentikan Gili Trawangan. Apa daya kunjungan harus segera berakhir, karena kami tak punya banyak waktu. Semoga lain kali bisa menikmati syurga yang hilang ini lebih lama...bareng-bareng krucilss seru kayaknya. Ahhhh semoga..

15 comments:

  1. Nah kalo ini gak salah sebut saya hehe mbak Ophi hehe ^-^ keren loh jalan" dan foto"nya mantep tuh fotografernya ^-^ hehe waaaa ini juga pulau imoian di sambangi heheh ^-^ nice travel mbak Ophie ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...baiklah...jangan salah sebut lagi yaa...makasih ki, ini poto lama dan yang keren alam n editornya kayaknya hihihi...

      Delete
    2. hehehe mantep dah mbak Ophie pokoknya hehe...nikmat waktu itu Subhanallah banget yah ^-^

      Delete
  2. Seruuu ya mak jalan-jalannya ...... Gili juga salah satu tempat favorit keluarga kami, oya kereta kuda kalo di Gili namanya Cidomo ...... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. OOh iya mak Ferdias...namanya Cidomo yaa xixixi maklum faktor U..jadi mudah lupa hahaha

      Delete
  3. Wah bagus oemandangan lautnya ya
    Semoga kapan2 bisa kemari
    Terima kasih reportasenya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mantep pak de...iya mudah2an bisa kesana yaaa...suwun kunjungannya pak dhe

      Delete
  4. eksotis ya....mau banget kesana phi, semoga.........

    ReplyDelete
  5. Saya malah penasaran sama sisi barat Gili Trawangan mbak. Yang kawasan hingar-bingar itu kan adanya di sisi timur. Kira-kira kondisi di sana seperti apa ya? Penasaran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah gitu yaa...saya malah belum tahu tuh ada sisi lain Gili Trawangan... *aihhh jadi ikutan penasaran*... kasih contekannya dung, mang ada apa di sana???

      Delete
  6. fotonya keren-keren mbak, pengen kesana deh *_*

    ReplyDelete
  7. jadi pengen kesana lagi,,,
    snorklingnya bikin kangen :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah saya malah blm snorkling mbaa....short visit siiih...
      pasti nikin kangen yaaa

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.