Monday, October 6, 2014

Belitung Trip: Daun Simpor

Sepenggal cerita unik dari perjalanan keluarga kecil kami ke Belitung kemarin adalah saya menemukan daun yang unik khas Belitung yang ternyata menggantikan fungsi daun pisang di Jawa. Daun yang tinggi pohonnya tidak lebih dari dua sampai tiga meter ini sebetulnya ada di hotel tempat saya menginap. Hotel Billiton, salah satunya di pojok dekat kolam renang menuju tempat makan. Saya belum memberi perhatian khusus pada tanaman yang didominasi oleh dedauan yang tampak kuat dan lebar itu sampai akhirnya....



Malam itu, malam pertama kami di Belitung. Awalnya hendak makan malam di salah satu rumah makan yang recommended atau must vitised di Belitung, namanya Rumah Makan Timpo Dulu. Om Wawan Driver sekaligus guide yang mengantar kami hari itu, menelpon ke rumah makan. Malam minggu dipastikan sangat ramai, dan benar tidak tersedia tempat duduk di rumah makan. Full booked. Jika harus menunggu lebih malam tanpa kepastian ketersediaan seat rasanya terlalu berlebihan. 

Lalu saya menawarkan sekaligus bertanya, "Hmm kalau Mie Belitung Atep gimana Om Wawan?". "Oh boleh bu, tapi berarti makan Mie ya bu, tidak jauh kok dari hotel." kata Om Wawan. Seperti yang disampaikan rasanya baru berbelok dari bundaran dekat hotel kami, kami langsung berhenti. "Ini tempatnya." seru Om Wawan. Deretan toko dan warung makan. Mata saya langsung berkeliling, ups Mie Belitung ATEP...ah tapi sudah ditutup sebagian pintu gerbangnya. "Saya pastikan dulu ya, apakah masih ada atau sudah habis." Sayangnya kamipun terlambat, rumah makan ini sudah mau tutup karena sudah habis hidangan hari itu. Lalu kemana lagi niih kita??

Om Wawan menawarkan Mie Khas Belitung di tempat lain, yang menurutnya juga cukup ramai. Selain mie, di sana ada soto lontong khas Belitung yang disantap dengan sate ayam dan makanan lainnya. Kami melaju dan memasuki jalan lebih kecil, berbelok dan akhirnya sampai di sebuah tempat makan yang menempel dengan rumah pemiliknya. Masuk ke dalam gang. "Saya juga biasa bawa tamu ke tempat ini."

Lalu kami memilih mie belitung dan soto lontong, yang mirip dengan lontong sayung di Jakarta namun disantap dengan sate ayam. Selesai makan, sambil menyuapi anak-anak yang makan sambil bermain dengan Om Wawan dan anak pemilik warung makan, saya mulai mengamati sekitar *ala Dora de explorer*. Naah tak lama ada beberapa pengunjung yang datang dan memesan soto lontong. Saya memperhatikan Bapak penjualnya menyiapkan menu. Ternyata lontong yang dimaksudkan bukan seperti lontong yang biasa saya temui yang dibungkus dengan daun pisang, bukan juga dari daun kelapa yang biasa kita sebut ketupat. Lontong berbentuk trapesium itu dibungkus daun yang berwarna kuning. saya sempat izin untuk mengambil gambarnya. "lontongnya dibungkus dengan daun simpor bu," begitu kata penjualnya. Saya melihat setumpuk daun yang masih hijau yang dijadikan alas untuk menyajikan makanan, semacam alas daun pisang pada masyarakat Sunda atau Jawa. Rupanya itulah penampakan daun saat masih belum direbus.

Oooh... ternyata memang tradisi masyarakat Belitung menggunakan daun simpor ini sebagai pengganti daun pisang. Sudah tradisi dan ada aroma khas dari daun simpor ini terhadap makanan yang dibungkus atau dihidangkan di atasnya. Saya makin penasaran seperti apa kiranya penampakan pohonnya. "Banyak di tanam di halaman rumah bu, di kebun-kebun juga. Macam tanaman hias tidak tinggi besar seperti pohon berbatang." 


Esok harinya sepanjang perjalanan saya memperhatikan pepohonan dan tanaman yang saya lihat sepanjang jalan. Rasa penasaran belum juga hilang. Sampai akhirnya, saat tiba di lokasi wisata Batu Mentas, mobil kami di parkir tepat di depan rimbunan tanaman dengan dedaunan yang lebar. Naah saya menduga ini penampakan pohon daun simpor dan tepat dugaan saya. Hmmm jauh-jauh ke Batu Mentas ternyata pohonnya ada di Hotel kami menginap juga. Daunnya yang khas dan cantik. Saya tak tahu pasti apakah di Jawa dan di pulau lain ada tanaman atau pohon sejenis ini dan apakah memiliki nama yang sama.

Saat akhirnya kami makan di Rumah Makan Timpo Duluk keesokan malamnya, daun simpor juga menjadi alat pembungkus dominan dari menu-menu di sini. Semua pepes yang kami pesan dibungkus dengan daun simpor. Alas makanan yang kami pesanpun menggunakan daun simpor. 

Ternyata tiap daerah memiliki kebiasaan unik dalam hal penyajian kuliner mereka. Daun simpor di Belitung, saya teringat dengan nasi Jamblang Khas Cirebon yang dibungkus dengan daun jati. Yang menjadi kan nasi jamblang unik dan khas.

15 comments:

  1. Kayak nya tiap makanan yg pake Daun rasanya enak dan alami ya mak...di sunda ada leupeut, makanan dari Ketan ada kacang nya dibungkusnya pake Daun Bambu ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak kania...aroma dan rasanya jadi khas kan yaa. oh oya lepet mang dari daun bambu ya???setahu sy dari daun kelapa mak...jangan2 memang ada versi daun bambunya yaa

      Delete
    2. kalo ibu saya biasa bikin leupeut pakai daun pisang saja, mak... yang pake daun bambu ini bacang/kacang yang dibentuk segitiga :)

      Delete
    3. Oh iya ada juga bacang ya...yang bentuknya segi tiga. banyak dijual di daerah sunda juga niih si bacang...pake daun bambu yaa??? ada jg yang pake daun kelapa si bacang ini kan???

      Delete
    4. Subhanallah kekayaan alam Indonesia sungguh tidak terkira...

      Salam kenal dari Pulau Dollar

      Delete
  2. seperti di jawa ya mbak, kalau di jawa pakai daun jati kalau di blitung pakai daun simpor...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya... beda tempat beda adat...tp intinya khas dan memang bikin makanan lebih beraroma kayaknya

      Delete
  3. Jadi inget makan nasi pecel pake daun pisang dan jati. Rasanya lebih sedep sih menurut saya daripada pakai piring :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya...aroma dan rasanya jd lebih khas dan sugestinya jd lebih sedap gitu yaa

      Delete
  4. wow makanannya kelihatan enak2 banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. rasanya juga maknyuss kok di lidah ...:)

      Delete
  5. Waduh jadi kepengen maen ke belitong neh.......

    ReplyDelete
  6. Bagus tuh daunnya. Kalau di daerah saya penyajiannya kebanyakan memakai daun jati kapur yang memiliki permukaan lebih halus dari daun jati biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kayak di cirebon ya...nasi jamblang pakai daun jati juga

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.