Friday, October 31, 2014

Menyiapkan Payung, Sebelum Hujan.


Hidup...sebagian besarnya merupakan misteri. Ketentuan mengenai Rezeki, jodoh dan kematian bagian dari misteri hidup yang tak pernah bisa dihindari atau ditawar setiap orang. Telah dipersiapkan sebuah skenario lengkap tentang kisah hidup seorang anak adam sejak ditiupkan ruhnya ke dalam janin saat ia dikandung sang bunda di usia 4 bulan.

Apakah kemudian karenanya kita hanya cukup mengikuti alur dari skenario yang telah ditentukan? Aihhh apakah setiap dari kita punya hak untuk merasa tahu akan skenario itu, padahal lagi-lagi itu adalah misteri dan rahasiaNya. Ketentuannya memang telah dipastikan, apa yang kita sebut sebagai takdir. Namun siapa yang paling tahu akan takdir itu sampai ia benar-benar terjadi. Lalu bagaimana mensikapi misteri hidup? Berpangku tangan menunggu kejadian demi kejadian terpentas dalam alur kehidupan kita? Membiarkan apa yang kita sebut sebagai nasib menelikung gerak langkah kita? Lalu untuk apa Sang kuasa menganugrahkan dua kekuatan besar dalam hidup kita? Segumpal darah yang jika baik ia, maka baiklah seluruh tindak laku kita, kita menyebutnya hati. Demikian sebaliknya. Lalu seperangkat CPU (central processor unit) dalam kepala kita yang menggerakkan anggota tubuh kita merespon petunjuk yang diberikannya, yang ini kita sebut akal, otak, atau pikiran.
Dokumen Pribadi

Hmm... Segala misteri kehidupan tak akan pernah kita sanggup kuak jika memang belum waktunya. Namun setidaknya salah satu kepastian yang pasti menimpa manusia adalah bertambahnya usia, menua dan kembali kepada asal kehidupan bermula. Saat itu kemungkinan besar kita tak lagi seorang diri. Saya, misalnya, mungkin saat itu selain ditemani seorang suami dan tiga orang anak-anak saya (mungkin pula bertambah), pasangan hidup anak-anak saya, (mungkin) cucu-cucu saya. Ahhh semoga saat itu saya telah memberikan yang terbaik bagi mereka. 

Pun, tanpa jauh berandai-andai, misteri kehidupan kadang bahkan bukan lagi misteri ketika ia menjadi kenyataan yang terpentas di depan mata kita. Belum lama ini salah seorang kerabat saya yang terbilang sangat mapan dari sisi ekonomi, divonis menderita suatu penyakit yang singkat cerita membuatnya harus keluar masuk rumah sakit. Suaminya yang masih terbilang produktif dengan kedudukan cukup strategis, warisan bisnis burung walet yang nilainya pasti di atas jutaan rupiah. Anak-anak yang sudah mulai mandiri dan juga mapan. Namun karena sakit yang dideritanya ternyata membutuhkan biaya yang luar biasa. Saya tak terbayang jika mereka kemudian menghadapi kesulitan finansial karenanya. Ahhh kok bisa??? tapi demikianlah faktanya.

Dokumen Pribadi

Sebuah pelajaran berharga buat saya yang secara finansial masih harus berjuang dan memiliki banyak PR. Kesehatan ternyata mahal, justru saat ia direnggut dari kita. Sakit, siapa yang menghendaki. Usaha untuk menjaga agar si sakit tidak datang menyapa, seharusnyalah kita lakukan. Namun terkadang tak selalu sesuai dengan yang kita usahakan. Kita tak pernah benar-benar sadar bahwa  si sakit yang selalu mengintai.Saat itulah kita membutuhkan sebuah pelindungan, proteksi. Saya kemudian teringat dengan pepatah yang mungkin kita semua tahu, pepatah sederhana yang luar biasa maknanya, "sedia payung sebelum hujan".

Kasus kerabat saya bukan pelajaran pertama tentang pentingnya pelindungan dari aspek kesehatan. Beberapa tahun lalu saat melahirkan si bungsu, Dek Paksi. Alhamdulillah saya diberi amanah dengan sebuah kejadian yang membangunkan saya dari zona nyaman. Saya dan suami, merupakan pegawai negeri sipil yang memiliki fasilitas asuransi kesehatan. Selama ini kami pikir cukuplah untuk proteksi keluarga kami saat terbentur masalah kesehatan. Tooh selama ini kami sangat jarang menggunakannya karena prosedur dan birokrasi yang harus kami urus saat ingin memanfaatkan asuransi tersebut.

Saat ada kasus gangguan koagulasi pada Baby Paksi yang baru 12 jam saya lahirkan yang menyebabkannya memuntahkan darah. Kemudian disambung dengan kejang karena perdarahan di otaknya yang mengharuskannya segera masuk NICU (Newborn Incentive Care Unit) sebuah rumah sakit pemerintah yang cukup ternama menangani anak-anak. Kami seperti dibangunkan dari tidur bahwa dalam kehidupan nyata, anak saya tidak akan ditangani tanpa jaminan. Untuk bisa masuk rumah sakit dan dirawat di ruang perawatan intensif yang biaya perharinya saat itu Rp.3.000.000,-/hari, pertama kali kami diminta jaminan bahwa kami mampu membayar.

Ahhh ternyata asuransi kesehatan kami tidak berlaku karena dek Paksi merupakan anak ketiga. Asuransi tersebut hanya meng-cover dua anak saja. Padahal anak saya yang kedua, Ka Zaha saat itu belum masuk karena belum kami daftarkan. Kami bermaksud mengganti dengan dek Paksi. Sebagai informasi, saat ini sistem asuransi kesehatan tersebut dikonversi kepada sistem BPJS Kesehatan yang sepengetahuan saya ada kekurangan dan kelebihan dibanding sistem sebelumnya, kelebihannya tidak membatasi pada dua anak. Namun terjadi penurunan kelas atau grade bagi kami jika dibandingkan dengan sistem sebelumnya. Tentu saja dimungkinkan untuk meningkatkan kelas, namun dengan kewajiban yang berbeda.

Kembali ke kisah dek Paksi. Selain biaya harian semacam sewa incubator dan peralatan di NICU tersebut, kami harus membayar sendiri obat-obatan dan peralatan tambahan. Pihak rumah sakit memberikan pilihan membeli sendiri atau mereka membelikan dan biaya dimasukkan dalam tagihan. Saya teringat untuk pernak-pernik perlengkapan NICU bagi dek Paksi, dari satu kali resep yang kami tebus, kami harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 1.200.000,- . Saya dan suami terkaget-kaget. Ini pengalaman pertama kami menghadapi masalah kesehatan dan harus berurusan secara intensif dengan pihak rumah sakit. Seebelumnya, pengalaman kami dengan rumah sakit ya hanya seputar peristiwa melahirkan ketiga anak saya.

Sekitar hampir satu bulan berada di lingkungan rumah sakit menunggu proses pulihnya dek Paksi, saya belajar banyak. Amat banyak...berbagai peristiwa dan pelajaran dari sesama orang tua dengan bayi yang punya masalah kesehatan yang kami temui. Entah mereka dari golongan yang mampu, atau bahkan dari golongan kurang mampu. Satu pelajaran penting yang demikian membekas bagi saya adalah sehat itu mahal. Karena saat kita sakit dan harus menjalani pengobatan, kita tidak dapat menduga besarnya biaya yang harus kita keluarkan. Tak terbayangkan jika kita tak punya tabungan, tak punya sesuatu yang bisa kita jaminkan, kita jual atau kita gadaikan?? Apalagi kondisi keluarga muda seperti kami yang masih berjuang sendiri secara finansial.

Meminta bantuan orang tua apalagi kerabat, sama sekali bukan pilihan. Karena kami sadar, mungkin bukan mereka tidak mau, tapi mereka tidak mampu untuk membantu. Maka satu-satunya cara adalah mengandalkan apa yang saat itu kita miliki. Karena sehat (bahkan nyawa), bukan sesuatu yang bisa kita tawar-tawar, kita tunda-tunda, apalagi kita bandingkan dengan materi yang harus kita korbankan.

Saat itulah kita akan merasakan pentingnya proteksi, pelindungan yang seharusnya sudah kita siapkan jauh hari sebelum misteri kehidupan bernama si sakit itu datang menyapa. Berawal dari pengalaman tiga tahun lalu tersebut, saya dan suami kemudian menyepakati pentingnya jaring pengaman kesehatan bagi keluarga kecil kami. Tak terbayangkan jika kejadian yang dialami dek Paksi, menimpa salah satu di antara kami berlima lalu kami tak melakukan apa yang seharusnya karena alasan tak ada dana. Ahhh...betapa merasa berdosanya kami sebagai orangtua, jika tak dapat melakukan apapun saat kondisi ini datang menyapa.

Bukan tak percaya bahwa akan selalu ada Tangan Yang Maha Kuasa saat kita meminta. Namun adalah kewajiban kita untuk berusaha dan mempersiapkan diri, karena salah satu pintu rejeki yang datang adalah karena keadilanNya. Karena maha adilNya, rejeki ada datang karena kita berusaha, pasti datangnya karena Dia Maha adil. saya ingin mengutip apa yang disampaikan salah satu sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA. Beliau berkata:

"Rezeki itu ada 2 macam : Rezeki yang PASTI mendatangimu dan rezeki yang HARUS engkau datangi. Yang pertama akan sampai kepadamu walaupun engkau dalam kondisi lemah. Dan yang kedua tidak akan pernah sampai kepadamu kecuali dengan usahamu dan itu juga bagian dari rezekimu. Jenis rezeki yang pertama adalah karunia Allah, dan yang kedua adalah keadilan dari Allah."

Menyiapkan pelindungan atau proteksi merupakan usaha yang harus kita datangi agar didatangkan rezeki menghadapi kesulitan yang mungkin menimpa di masa datang. Kami kemudian berkomitmen untuk punya asuransi kesehatan bagi kami berlima. Kami tidak bisa memilikinya secara bersamaan karena ketersediaan dana yang kami miliki. Kami harus atur sedemikian, dengan memperhatikan kebutuhan dan ketersediaan dana. 

Adanya penyedia jasa asuransi semacam Allianz tentu membuat kita bisa memiliki banyak alternatif untuk memilih bentuk proteksi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial kita. Sebagai salah satu penyedia jasa asuransi di industri asuransi, perusahaan yang membuka kantor perwakilan di Indonesia pada tahun 1981 ini memiliki produk yang sangat beragam sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan konsumennya, antara lain asuransi kesehatan; asuransi jiwa; asuransi umum; termasuk asuransi perjalanan dan asuransi terhadap properti; dan asuransi kumpulan. Untuk konsumen yang ingin melakukan tansaksi secara syar'i, Allianz juga memiliki produk-produk berbasis sistem syariah. Selain itu untuk menjangkau lebih banyak konsumen, Allianz juga bekerja sama dengan berbagai bank-bank nasional menyediakan asuransi jiwa.

Armada Allianz saat ini cukup besar didukung oleh lebih dari 1,200 karyawan dan lebih dari 17,000 tenaga penjualan di 93 kantor pemasaran di 46 kota. Kekuatan yang juga ditunjang dengan jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya yang saat ini melayani lebih dari 4 juta tertanggung di Indonesia. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di sektor keuangan, Allianz terdaftar dan diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang merupakan lembaga pengawas di sektor jasa keuangan, demikian pula para agen atau tanaga penjualnya. Menjadi bagian dari pengawasan OJK menjadi penting bagi para nasabah atau konsumen sektor keuangan, setidaknya dapat memberikan rasa aman akan kegiatan transaksi yang dilaksanakan dengan perusahaan tersebut. Sekaligus merupakan bentuk proteksi dan pelindungan dari dana yang kita percayakan kepada perusahaan.

Kita beruntung karena ada banyak alternatif yang bisa kita pilih untuk menjadi payung proteksi bagi keluarga kita. Dari sekian banyak perusahaan asuransi di industri asuransi, kita bisa pelajari dan cermati profil mereka. Kita bisa menggali informasi sebanyak mungkin, lalu kita memilih yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pendanaan yang kita miliki. Asuransi saat ini tidak sekedar proteksi, karena produk-produk investasi yang terintegrasi dalam produk-produk proteksi menjadi pilihan menarik berikutnya. Sehingga selain mendapatkan proteksi, kita bisa juga menjadikan kegiatan berasuransi ini sebagai bentuk solusi finansial dengan terintegrasinya dengan produk investasi. Pilihan ada di tangan kita, semakin banyak kita mendapat informasi, semakin kita mengenal perusahaan asuransi, semakin baik bagi kita untuk menentukan pilihan. 

Belum terlambat untuk menyiapkan payung, kita tidak tahu kapan hujan atau badai datang. Setidaknya ada payung yang sudah kita siapkan membuat kita lebih tenang. Kita tak pernah tahu apa yang akan kita dan keluarga kita hadapi esok hari. Jika kita memiliki kemampuan tentu kita bisa memproteksi semua aspek kehidupan kita. Namun setidaknya kebutuhan mendasar yang penting seperti kesehatan (dan pendidikan misalnya) menjadi prioritas bagi kita. Terlebih kondisi eksternal di luar diri kita, seperti lingkungan, polusi, kondisi air dan tanah serta interaksi sosial dewasa ini berkontribusi cukup signifikan terhadap peningkatan jenis penyakin dan penurunan daya tahan tubuh kita. 

Sedemikian pentingnya pendidikan bagi anak-anak kita, meskipun melulu tidak bisa kita artikan sebagai pendidikan di bangku sekolah, namun pendidikan formal sebetulnya hak minimal mereka mengenyam pendidikan. Harus diakui biaya pendidikan semakin mahal. Jika kita menghendaki kualitas, maka dana yang kita butuhkan juga tidak sedikit. Kita tidak bisa berpura-pura dengan mengatakan pendidikan dasar gratis. Iya betul, namun pendidikan yang gratis ini masih bisa dihitung dengan jari yang memberikan kualitas yang baik. Mungkin untuk wilayah ibukota Jakarta, kita masih bisa mencari sekolah negeri dengan kualitas bagus, namun bergeser sedikit saja misalnya ke Tangerang Selatan di mana kami tinggal. Serasa mencari jarum di jerami. Belum lagi ada gap yang besar antara ketersediaan kuota dengan jumlah peminat.

Dua tahun lalu, saat pertama kali menyekolahkan anak di jenjang pendidikan dasar. Kami sempat terkaget-kaget, melihat fantastisnya biaya yang harus dikeluarkan untuk seorang anak memasuki sekolah dasar. Setelah melakukan observasi ke beberapa sekolah mulai dari yang negeri, swasta menengah, sampai swasta bertaraf internasional, mengikuti trial class dan mempertimbangkan pendapat si Kakak Alinga. Akhirnya pilihan kami jatuh ke salah satu sekolah yang mungkin secara leveling ada di tengah-tengah. Sekolah ini milik swasta tentunya. Minim sekali sekolah dasar negeri yang bagus yang dekat dan mudah dijangkau dari rumah saya, belum lagi penggemarnya sudah sangat banyak.



Ternyata pendidikan itu mahal, biaya SPP per bulan anak saya yang TK  dan SD kisarannya hampir sama dengan biaya SPP per semester saya saat kuliah belasan tahun lalu. Yang terpikir di kepala saya adalah bagaimana saya harus menyiapkan dana untuk pendidikian mereka ke jenjang perguruan tinggi. Jikapun InsyaAllah ada umur, maka kami harus mulai menabung dan menyengajakan diri bersiap untuk itu. Jika tak ada umur, maka kami harus mencari solusi agar pendidikan untuk mereka tidak terhenti begitu saja. Demikianlah pentinganya asuransi pendidikan atau asuransi jiwa, sebagai payung bagi hari depan anak-anak kami. Kita berusaha semampu kita, terbaik yang bisa kita usahakan, selagi mampu. InsyaAllah dengan keadilanNya, akan siap payung itu digunakan pada saat hujan datang.
Alangkah bijaknya kita menyimak sebuah Hadits dari Baginda Rasul SAW: Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Saat muda, sehat,  ada kemapuan finansial, memiliki waktu luang dan selagi masih bernyawa, mari berusaha sebaik mungkin guna mempersiapkan diri menghadapi hal yang pasti datangnya, menjadi tua, sakit, kondisi kekurangan, tak punya waktu dan kematian. Bersiap... kiranya itulah yang bisa kita lakukan menghadapi misteri kehidupan. Siapkan payungmu...sebelum hujan turun.





20 comments:

  1. Betul mak kita memang harus sedia payung sebelum hujan.Waah dulu.dedek.Paksi nya smpt bermasalah ya kesehatannya?Semoga sekarang sehat terus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin, iya alhamdulillah so far sehat mak Nung...makasih sudah mampir

      Delete
  2. Bener bgt mak kesehatan sangat mahal harganya, untuk itu jauh2 hari kita harus menyiapkan dana bila sewaktu2 anggota keluarga kita sakit dan butuh biaya banyak. Meski kita tdk pernah menginginkannya, namun alangkah baiknya tetap dipersiapkan. Salah satunya dg asuransi. Semoga kita semua diberi kesehatan ya mak, amien. Sukses bwt lombanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Sri...setuju banget...mahalll dan bagi yang tidak punya "pegangan" spt saya maka mau tidka mau harus mempersiapkannya. makasih maak

      Delete
  3. bener sekali sedia payung sebelum hujan bu, dan sebaiknya memang sebelum masa tua kita sudah "terjaga"

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mas...kita tak tahu umur kita tapi sedini mungkin kita berusaha dan berjaga

      Delete
  4. Hola Mak.... Memang asuransi itu pentiiiing bgt utk hidup kita yaaa... Btw,ini daku bukanbocahbiasa Mak. Sulit mau komentar pake wordpress hihihi, good luck Mak cantiiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya mak nurul...I know u..suwun wis mampir yoooo

      Delete
  5. setuju mak ophi, sedia payung sebelum hujan. Asuransi kerasa banget manfaatnya kalau ada anggota keluarga yang harus rawat inap. Selain juga yang namanya mati itu pasti dan kita nggak tau kapan itu akan terjadi.,Dengan punya asuransi jadi ada proteksi buat anak-anak tercinta ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, yang penting kta sudah berusaha dan menyiapkan diri ya mak...

      Delete
  6. semoga Alinga, Zaha, Paksi dan juga orang tuanya tetap sehat ya mak... tapi tetap saja, kita harus sedia payung sebelum hujan... kalau sudah sakit, yang harus dipikirkan bukan hanya biaya pengobatan, tapi juga biaya lain-lain yang bisa jadi lebih banyak jumlahnya... makanya asuransi seperti ini penting, biar saat hujan datang setidaknya badan kita tidak terlalu basah kuyup kena air hujan...

    sukses mak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin iya mak Orin, klo mau minjem payung tetangga kan gak enay yaa...makanya sedia payung sendiri

      Delete
  7. kalau saya cuma 1 yang menjadi misteri di dunia ini, wujud nya Allah. Alhamdulillah udah asuransi karena gak ada efek samping nya kaya obat hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya, mudah2n efek sampingnya yg baik2 ya mas

      Delete
  8. kesehatan emang mahal banget harganya. percuma punya harta banyak kalo badan ga sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. mahal..karenanya harus dijaga, pun kita punya back up saat si sakit datang tanpa diundang

      Delete
  9. Yoi mak... hari gini gitu loh yaaaa.... asuransi penting banged... :D

    ReplyDelete
  10. biaya pendidikan anak-anak sekarang memang mahal ya mak, jadi memiliki asuransi itu penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak semua serba mahal...jd harus siap sedia payung sblm hujan

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.