Tuesday, December 16, 2014

Terimakasih untuk Saling Menjaga #illridewithyou


Jujur saya terharu sekali. Solidaritas #Illridewithyou dan #Wellridewithyou langsung menyebar secara global di media sosial seluruh dunia. Kampanye solidaritas anti Islamophobia ini muncul setelah peristiwa penyanderaan di salah satu cafe di Sydney yang mengakibatkan tewasnya Tori Johnson dan Katrina Dawson. Pelaku penyanderaan mengibarkan bendera hitam dengan tulisan kalimat tauhid. Peristiwa ini kemudian memang menimbulkan reaksi keras. Beberapa reaksi yang bersifat rasis juga tak pelak muncul terutama saat berada di kendaraan umum dan public area lainnya. Bahkan kabarnya muslimah yang berhijab dihimbau untuk tidak keluar rumah. 
sumber dari twitter Peter Gould
Namun yang melegakan adalah munculnya gerakan atau kampanye di media sosial Australia sebagai bentuk anti Islamophobia yang diawali dari sebuah kicauan di twitter. Munculnya hashtag #illridewithyou dimulai oleh sebuah akun @sirtessa milik seorang editor TV dan penulis, Tessa Kum. Bunyi lengkapnya "If you reg take #373 bus b/w Cogee/Martin Pl, wear religious attire, & don't feel safe alone: I'll ride with you. @ me for schedule". 

Kicauan tersebut merupakan reaksi dari kicauan rekannya Rachael Jacobs yang melihat aksi rasis terhadap seorang perempuan berjilbab hingga ia melepas jilbabnya. Jacobs melihat perempuan tersebut melepas jilbabnya di stasiun. Jacobs kemudian menghampirinya dan meminta perempuan tersebut tetap memakainya. Jacobs menemani perempuan tersebut berjalan. Kejadian inilah yang membuat Kum merasa perlu menyebarkan semangat toleransi #illridewithyou. Sebuah aksi yang mungkin tampak sederhana, namun sangat berarti bagi kemanusiaan dan perdamaian. Kampanye #illridewithyou ini kemudian menyebar sangat cepat secara global tidak hanya di Australia tapi ke seluruh dunia.


penyebaran #illridewithyou secara global sumber aljazeera.com

Menjadi minoritas dengan pandangan negatif yang tertuju pada kita bukan hal yang menyenangkan terlebih jika pandangan negatif itu sesungguhnya bukan gambaran dari kita atau dari apapun identitas kita, namun hanya oknum tertentu yang tidak bertanggungjawab seperti Man Haron Monis si penyandera. Saya kemudian ingin menekankan bahwa ini bukan karena saya muslim yang pernah mengalami menjadi minoritas di negeri kanguru tersebut beberapa tahun lalu dan juga bukan karena saat itu sayapun sempat mengalami tindakan rasis karena jilbab saya. 

Bukan...tapi karena saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya sebaik-baik kita adalah yang memberi rasa aman pada orang di sekitar kita, apapun agamanya. Menjadi mayoritas di negeri ini, semoga kita bisa merasakan empati saudara-saudara kita yang harus menjadi minoritas di negeri lain. Karena sesungguhnya kita seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada rahmat, kasih sayang dan kedamaian jika masih ada rasa benci di hatimu. Dengan alasan apapun.

Ketakutan menjadi korban tindakan rasisme karena kesalahan sedikit oknum yang biasa disebut terorist dan sejenisnya bukanlah hal baru. Sejak sejak peristiwa 11 September, kondisi Islamophobia mengalami fluktuasi naik turun. Ada masa di mana tensi islamophobia ini menurun namun kemudian meninggi dan seterusnya. Ahh kenapa harus mengatas namakan perbedaan untuk menyebarkan kebencian??? 

Teringat peristiwa 8 tahunan lalu. Saat hendak berangkat ke Australia untuk study, saya sempat terkaget-kaget karena di Bandara seorang rekan perempuan saya yang biasanya berjilbab tampak tak berjilbab. "Iya Phi, gw harus melakukannya..." Ahhh itu keputusan pribadinya dan saya tidak kemudian memandangnya sebagai hal yang salah atau konyol atau apapun. Teman saya ini punya alasan. Suaminya hanya mengijinkannya berangkat jika dia melepaskan jilbabnya. Suaminya punya alasan. Ia takut isterinya mengalami tindakan rasis karena jilbab yang dikenakannya. Sedemkian takutnya sehingga dia tak melihat alternatif lain selain meminta isterinya melepaskan jibabnya selama di Australia. Yuup sepulang dari Australia dan menyelesaikan studi, teman saya kembali berjilbab. 

Sayapun berjilbab saat berangkat ke sana. Saya tidak sendiri, banyak yang juga berjilbab. Alhamdulillah saya masih diberi keberanian untuk tetap mengenakannya. Meski memang saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri Australia sejujurnya agak mengkhawatirkan. Keyakinan saya bahwa saya insyaAllah aman adalah karena saya berada di lingkungan akademik yang lebih open-minded. Namun saat membaur kita tak bisa menghindari adanya gesekan. Perlakuan rasis juga pernah beberapa kali menimpa saya. saya terima, karena masih dalam tahap yang "aman" dan kenyataan bahwa masih banyak, jauh lebih banyak mereka yang tidak berpikir negatif dan rasis terhadap saya.

Iya tooh sayapun pernah mengalami perlakuan rasis semacam ini di tanah air. Belasan tahun lalu saat saya masih di madrasah tsanwiyah/SMP. Saat itu perempuan berjilbab belum menjamur seperti sekarang. Saat berangkat atau pulang dari/ke sekolah yang harus saya tempuh berjalan kaki ke desa sebelah, saya sering diteriaki dan disoraki, ninja...ninja. Tentu karena jilbab saya, saya merasa tidak nyaman tapi satu-satunya hal yang membuat saya merasa aman adalah karena saya tidak sendiri. Biasanya kami berkelompok beberapa orang di antaranya ada pula anak laki-laki. Merasa tidak sendiri sungguh menjadi faktor psikologis yang sangat bermakna. Jikapun kita berbeda alangkah bermaknanya jika kita tetap bisa berdampingan dengan mereka yang berbeda, apalagi bila saling menjaga dan mendukung.

Saya percaya bahwa saya tak boleh terbawa arus negatif, sebuah rasa benci yang tidak berdasar dan saya yang harus memulainya dari diri saya sendiri. Itulah kenapa saya begitu merasa terharu dengan gelombang #illridewithyou. Saya merasa sangat berterimakasih karena saudari-saudari saya di luar sana, terutama di tempat di mana mereka menjadi minoritas tetap merasa aman dan tak sendirian. Keep save and peace for all....for all, anywhere. Semoga kita juga bisa mengambil pelajaran bahywa rasa aman dan damai seharusnya tidak mengenal tempat. Entah kita menjadi minoritas apalagi menjadi mayoritas. Semoga perbedaan bukan kita jadikan alasan untuk saling membenci. Karena damai itu indah...




24 comments:

  1. seharusnya memang seperti ini, Mak. Yang melakukan kekerasan itu adalah oknum, bukan agama. Tapi, ulah oknum tersebut yang mencoreng salah satu pihak. Indah ya kalau kita semua bisa damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup oknum yg pada akhirnya merugikan orang banyak krn identitas oknum tersebut. Smoga kt jg bs saling menjaga rasa damai di manapun ya mak

      Delete
  2. Semoga kita semua dapat terus mendapat perlindungan dari Allah SWT. Dan tercipta kedamaian di muka bumi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin ya rabb...smoga kita jg menjadi bagian yg menciptakan kedamaian ya mak...

      Delete
  3. Ikut terharu juga mbak bacanya...
    Semoga saudara dan saudari muslim kita di belahan dunia manapun terutama yg posisinya minoritas selalu dilindungi Alloh melalui perlindungan dari warga lainnya.amin...

    ReplyDelete
  4. Merinding bacanya Mak.. membayangkan masih ada orang yang berani mengambil resiko untuk orang lain.. sebuah aksi solidaritas yang sangat mengharukan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengharukan mak dan semoga kita bisa juga melakukan hal yang serupa, bertoleransi dan membangun solidaritas di antara kita semua yang jauh lebih beragam, sehingga memberikan rasa nyaman dan damai antar suku, agama dan identitas linnya

      Delete
  5. Kalau islam yang menjadi minoritas di suatu daerah atau negara, agama lain itu bisa hidup aman dan tentram

    Tapi ketika islam jadi minoritas... malah ditindas...
    Jadi yg jahat itu sebenarnya siapa?

    kita bisa liat kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm maksudnya gimana ya? Kalimat pertama maksudnya mayoritas kah?

      Waah klo saya tidak merasa berhak utk menghakimi tentang siapa yang jahat atas nama identitas yg melekat pdnya baik itu agama, suku bangsa atau apapun baik sbg minoritas maupun mayoritas. Rasanya tak ada agama yg mengajarkan kejahatan atau cara2 jahat. Ketika kita misalnya diperlakukan tdk adil krn identitas muslim kita, sy tdk yakin hal tsb ajaran agama lain. Bisa jd itu bentuk interpretasi org tsb terhadap ajaran/agamanya yg hal ini tdk bs kita jangkau.
      Smoga sbg muslim kita bs menjadi rahmat bg sekitar kita, entah kuta minoritas apalagi sbg mayoritas.
      CMIIW

      Delete
  6. Iya betul, mari saling memberi manfaat dan rasa aman bagi sesama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mariii....memberi manfaat dan rasa aman entah sbg minoritas maupun mayoritas

      Delete
  7. Yupe, semangat anti rasisme harus terus dikumandangkan. Jangan sampai ada tempat untuk rasisme di bumi ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlakukan org lain sbg mana kita ingin diperlakukan..
      Kira2 prinsipnya spt itu yaaa

      Delete
  8. Di luar sana masih banyak orang baik ya mak. Seneng banget saya juga walaupun non muslim baca berita dari Australia ini. Dari suatu tragedi yang menyedihkan terlahir suatu aksi yang luar biasa berkesan dan menginspirasi. Salam kenal ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak...selalu ada hikmah dr suatu peristiwa. Makasih sudah mampir mak. Salam kenal jg

      Delete
  9. Semangat mak Ophi luar biasa. Bismillah... Innallaha ma'ana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mak Ika... bismillah....Allah ma'ana...

      Delete
  10. Aah, Jacobs, that so sweet. Saya sempet sebel juga pernah dibecandain saya ini pentolan *S*S hanya karena ga mau tepuk tangan sama seorang komedian karena ga suka becanda yang nyerempet agama. Di sisi lain, saya sedih juga karena pemahamahan agama yang keliru bikin beberapa orang bertindak berlebihan atas nama agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo kita percaya bahwa kita harus menghormati keyakinan org lain spt kita jg mau keyakinan kita dihormati...mestinya "becanda" yg mengurangi respect kita sbaiknya dihindari ya mak. Krn itu prinsip bgt jan yaa. Tp bahwa ada pemahaman yg keliru...maka smg kita bs meluruskan setidaknya dr diri sendiri yaa. Thx dah mampir mak

      Delete
    2. Iya Mak. Si Komedian sampai heran lihat aku ga tepuk tangan. kebetulan audiensnya ga banya, jadi keliatan kayaknya ma dia reaksiku. Sempat diajak ngobrol dan aku bisa nanggepinnya dengan santai.Ujung2nya dia ngajak tukeran nomer . hehehe... ga aku kasih, sih. Tapi di akhir acara sempet foto bareng. Fiuh berdakwah dengan cara manis itu perjuangannya ekstra, ya. Menata hati biar ga terlihat emosi, meskipun dalam hati lumayan dongkol. Mudah2an ke depannya jadi renungan buat si komedian biar becanda dengan cara lain.

      Delete
    3. Sip...itu dia mak..sy suka tuh "berdakwah dg cara yg manis"...smoga hasilnya jg manis kan yaa

      Delete
  11. saya paling tidak suka ketika kekerasan, kejahatan dikaitkan dengan agama Mak :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mak, sejatinya tidak ada agama yg mengajarkan kekerasan dan kejahatan. Itu lbh kpd pemahaman masing2 pribadi kan yaa

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.