Wednesday, December 3, 2014

Tiga Kali Sectio, Bukan Ku Memilih


Saya menjadi Ibu bagi ketiga krucils saya secara sectio tanpa pernah merasakan kontraksi dan bukaan.  Ada stigma negatif terhadap wanita yang bersalin dengan proses section, seolah tak sempurna menjadi wanita dan bergelar Ibu. Terlebih,  jika proses sectio dipilih karena alasan vaginal birth konon lebih sakit.  Alhmadulillah saya tak pernah berpikir negatif sedemikian.  Kalaupun ada yang memilih dengan alasan tersebut, bagi saya manusiawi saja.

Saat hamil anak pertama, tak terpikir akan melahirkan melalui sectio. Kebetulan saya pertama kali hamil dan melahirkan di Melbourne.  Tenaga kesehatan sangat mendukung proses melahirkan secara natural. Terlebih untuk kehamilan tanpa masalah berat, dipastikan diarahkan untuk menjalani vaginal birth, kecuali untuk kasus khusus. Jadi sectio itu last option...just in emergency case.


Kehamilan pertama alhamdulillah terhitung tak ada kendala serius. Hanya pada usia 37 minggu harus melakukan ECV (Eternal Chepalic Version) karena posisi masih sungsang. Tenaga medis memutar arah kepala baby secara manual. prosesnya hanya beberapa detik. Meskipun mayoritas ECV  selalu sukses namun tetap ada kasus gagal. Untuk kasus gagal ini biasanya, baby harus langsung dikeluarkan melalui emergency cesarean. Alhamdulillah sukses, Baby Al mau berputar dan menetap dalam posisi tersebut sampai waktu kelahirannya.

Namun terkadang kita tak bisa memilih dan Tuhanlah sang sutradara utama. Saya harus melahirkan secara sectio. Untuk pertama kalinya, saya menginap di rumah sakit dengan tindakan medis serius"No dilatation, semoga dalam minggu ini kamu sudah kembali untuk bersalin. Jika tidak, kamu harus kembali ke rumah sakit 2 minggu lagi untuk induksi"  begitu kira-kira saran dokter pada kunjungan ke minggu 40.  Saya dan suami mencoba berbagai cara yang disarankan dari berbagai literatur agar saya bisa konstraksi. Tak ada konstraksi, mulas, dan pembukaan sampai minggu ke 42.


Tepat 42 minggu,  Senin, 24 September 2007 saya diantar suami ke rumah sakit sekitar pukul 09.00. Kami tak membawa perlengkapan karena hanya cek persiapan induksi. Saya akan diminta kembali esok harinya saat mulai kontraksi atau mulas. Saat dilakukan CTG (Cardiotocography), ternyata Baby Al mengalami gawat janin, detak jantungnya tak karuan. No option, saya harus segera masuk ruang operasi. Tidak ada perasaan takut. Meski ada rasa hampa namun pikiran saya hanya satu: Tuhan, selamatkan bayi saya, bagaimanapun jalannya. Kisahnya di sini.

Sembilan bulan usia Baby Al dan masih menggunakan kontrasepsi, saya hamil Baby Zaha. Tepat 1,5 Tahun dari operasi pertama saya harus ikhlas melakukan sectio kedua. Dokter tak memberi pilihan dan tak mau mengambil resiko. Alhamdulillah Baby Za lahir sehat. Ceritanya di sini. Saya kembali agak terkaget-kaget ketika usia Zaha baru  1 tahun 9 bulan, saya mendapati diri positif hamil yang ketiga. Kehamilan Baby Paksi juga alhamdulillah tak ada kendala serius. Dengan catatan dua kali sectio dan dalam jangka waktu yang berdekatan, kembali saya tak bisa memilih. 2,5 tahun setelah sectio kedua, saya kembali berada di meja operasi untuk sectio ketiga. Alhamdulillah Baby Paksi lahir dengan selamat.

Bagi saya, vaginal birth atau cesarean birth bukan pilihan. Apapun saya jalani asalkan bayi-bayi saya terlahir selamat. Entahlah jika proses ini mengurangi “keibuan” saya, tapi bagi saya Ibu adalah Ibu, bagaimanapun mereka melahirkanmu ke dunia. Sungguh itu tak mengurangi cintanya padamu, tak sedikitpun.




18 comments:

  1. Hallo mak, saya juga yg melahirkan dengan SC dan sepertinya anak kedua juga akan SC lagi karena itu, pinggang saya sempit, udah morfologi dari sananya jadi mau normal syusah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa kadang kita memang gak bisa memilih...tapi apapun insyaAllah itu yg terbaik ya maak

      Delete
  2. Jujur ya Bi... aku sampai sekarang gagal paham kalau ada stigma demikian. Suwer. Yang penting anak-anak kita lahir dengan selamat kan yaaaa ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa...tugas ibu masih panjang dan perjuangan pertaruhan nyawa tak beda antara sc n vaginal birth

      Delete
  3. Setujuuu... Melahirkan normal atau operasi itu bukan pilihan, pilihannya adalah bagaimana agar bayi terlahir selamat, begitupun ibunya. Aku melahirkan 2 x alhamdulillah normal, berharap yg ketiga normal jg. Tp selalu siap utk segala kemungkinan. Sukses maak... :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup bersyukur bs melahirkan scr natural ya mak...wah mau nambah lagi yaa smoga lancar yaa

      Delete
  4. Iya mbak, daripada kita memaksa untuk melahirkan normal ternyata berdampak negatif untuk si anak. Ada kasus teman yang bidannya berkeras untuk si ibu melahirkan normal akhirnya si anak menderita keterbelakangan mental karena terlalu lama di jalan lahir sebab tidak ada kontraksi/rasa sakit sama sekali... Wal'iyadzubillah..
    Kalau saya tetap berharap bisa melahirkan normal mak... :)
    Semoga sukses GA nya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mostly sy yakin semua berharap bs natural birth yaa krn memang sebetulnya menurut saya lebih sedikit resikonya. Tp mmh kadang tak bs milih mak...sukses utk lahirannya ya mak

      Delete
  5. mba.. salam kenal ya..
    aku juga dua kali sc dan tidak merasakan kontraksi..tapi ya bagi aku itu yg terbaik yg di berikan oleh Allah.. yg penting gmn caranya kita merawat anak kita bukan masalah proses kelahirannya saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup setuju...itu yg terbaik kita jalani n tugas ibu masih panjang yaa

      Delete
  6. saya juga dua anak sectio mak. sebenarnya 3x hamil, yg kedua keguguran,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah sama ya mak...kemungkinan klo nambah lg 3 dan berhasil harus sectio lagi yaa...tp gpp sing pentings elamat dan sehat

      Delete
  7. Yang penting anak dan emak sehat...:*

    ReplyDelete
  8. yang juga SC semua. Yang penting ibu dan anak sehat dan selamat, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak keke....sing penting sehat dan selamat semua...ibu dan anak.

      Delete
  9. saya melahirkan normal, tapi tetap salut sama yang SC karena perjuangannya ga bisa dibilang mudah juga terutama pasca operasi..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.