Monday, February 9, 2015

Ikhlash itu ...

Bagi saya seorang PNS atau yang sekarang disebut sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) yang fungsional (bukan struktural), kenaikan jengjang karir agak-agak susah-suah gampang. Jadi karir kepegawaian saya tidak dalam jenjang struktur artinya tidak akan menduduki suatu jabatan struktur seperti kepala sub bagian (eselon IV), kepala bagian (eselon (III), kepala biro (eselon II) dan seterusnya, yang kenaikannya terjadi secara reguler berdasarkan suatu masa kerja. Pejabat struktural dipastikan memiliki "anak buah" di bawah struktur mereka. Sedangkan fungsional merupakan jabatan mandiri dan selain kerja individual, kami bekerja dalam tim namun secara struktur tidak membawahi siapapun meski tentu saja ada penjenjangan jabatan atau karir juga.

Jenjang karir saya di fungsional ini ditentukan oleh kinerja di mana kenaikannya dapat diperoleh dengan pengumpulan suatu angka kredit yang disebut angka kum. Jadi untuk bisa baik tingkat atau naik kualifikasi dari satu ke kualifikasi berikutnya saya harus mengumpulkan sejumlah angka kredit yang diperoleh dari pekerjaan yang saya lakukan dan disertai dengan bukti fisik hasil pekerjaan saya tersebut. Hmm dibandingkan dengan beberapa jenis fungsional lainnya, ada kekurangan dan kelebihannya jenis fungsional ini, dan pastinya belum banyak orang yang tahu dan paham jenis fungsional ini. Tidak seperti fungsional peneliti, dosen, guru, dokter, hakim, jaksa, auditor yang cukup populer, hanya sedikit saja yang mengenal perancang peraturan perundang-undangan atau disebut juga legislative/legal drafter sebagai salah satu jenis fungsional di ASN.


Ehh kok pagi-pagi ngomongin karir, jenjang karir... iya saya mau curhat aja sih sekaligus ajang menguatkan diri untuk belajar, lagi dan lagi dengan apa yang disebut sebagai IKHLASH. Sebuah kata yang mungkin mudah diucapkan, namun salah satu ilmu tingkat tinggi yang tidak banyak orang yang mampu mencapainya. Ikhlash, dalam perjalanan kehidupan telah banyak peristiwa hidup yang membuat saya belajar keras akan Ikhlash. Sebagian berhasil dan subhanaAllah saya menyaksikan keajaibannya, sebagian lagi masih belum mampu saya capai, karena sekian alasan yang pada intinya nafsu, amarah dan aura negatif sejenis. Saat saya tidak mampu meraihnya saya mengaku kalah. Namun memang Ikhlash bukan hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, apalagi untuk hal-hal yang secara logika seharusnya tidak terjadi.


Iya buat fungsional seperti saya yang kisaran angka kredit untuk satu jenis kegiatan  mostly di kisaran nol koma (0, ...), angka kredit 11 itu susaaaah lho ngumpulinnya. Apalagi di bidang saya (ekonomi dan keuangan) yang tugas penyusunan RUU (rancangan undang-undang)nya tidak sebanyak bidang lain seperti bidang politik hukum atau kesejahteraan sosial. Ketika pengajuan angka kredit saya kepada tim penilai (di lingkungan kerja) kemudian tidak dinilai saya tentu saja heran dan kecewa. Pekerjaan yang saya ajukan untuk dinilai telah lengkap dengan bukti fisiknya. Saya yakin seyakin-yakinnya jikapun dinilai oleh instansi pembina pasti bisa dinilai (saya punya pengalaman serupa ketika penilaian di awal jenjang dilakukan oleh instansi pembina). Kecewa???? bingiiits... Saya lalu mengajukan keberatan karena memang ada mekanisme pengajuan keberatan. Saya melakukan klarifikasi dan menyampaikan keberatan saya dengan alasan-alasan yang menurut saya sangat logis. Tapi kewenangan memang tetap di tangan tim penilai, apalah saya ini *garuktembok*. 


Hmm Kecewa.... Ya iyaaaalah... manusiawi tooh, merasa diperlakukan tidak adil atau dizolimi??? sejujurnya begitulah rasanya. Truss sakit hati?? ada siih...tapi entah mengapa kemudian saya merasa toh saya sudah melakukan yang terbaik yang saya mampu lakukan, termasuk melakukan semacam pembelaan. Tapi sejak awal memang kemudian saya telah berusaha menjaga hati saya agar tidak terlalu jauh meresapi hal tersebut. Kecewanya, sakit hatinya, tak perlu lah membuat saya menutup mata dan hati dari adanya kebenaran bahwa tangan Tuhan bekerja meski saat kita tertidur. Jadi memang mungkin begitulah rencana Tuhan. Kita tak pernah tahu apa yang terbaik menurut Tuhan atas diri kita. Jadi saya merasa, saya benar-benar harus bisa Ikhlash, sussah pastinya...tapi belajar deh...toh bukan sekali ini saya diajari Tuhan untuk Ikhlash dan selama saya kemudian mampu,  Tuhan tunjukan betapa indahnya keajaiban Ikhlash...ah dan saya percaya rencana Tuhan lebih indah dan selalu ada keajaiban dari keikhlasan yang kita perjuangkan.


Saya mencoba melihat dari perspektif yang agak lain, bergeser dari kursi di mana saya selama ini berada, mengganti "kaca mata". Mungkin memang di mata para tim penilai saya memang belum pantas mencapai kualifikasi yang saya ajukan.. atau memang begitu kenyataannya??? jangan-jangan memang begitu kenyataannya  atau??? ...  Iya mungkin bagi Tuhan kualifikasi tersebut tidak akan menjadi lebih baik bagi saya, istilahnya mungkin tidak berkah. Ya sudahlah,  tooh jika begitu bukankah saya selalu mintakan keberkahan dari apa yang saya lakukan dalam doa-doa saya???. Pastinya Tuhan yang Maha Baik itu tidak akan mengecewakan saya, karena Dia Maha Tahu dan Paling Tahu. Ini memang bukan sekedar angka atau kualifikasi jenjang jabatan atau karir, ke belakangnya tentu ada pengaruhnya dengan penghasilan saya. Karena kualifikasi dan kinerja saya akan menentukan berapa besar tunjangan yang saya dapatkan. Gagal naik, berarti ada yang tidak naik dari sisi pendapatan. Tapi setidaknya untuk mecapai hal itu saya melakukannya insyaAllah dengan jalan yang lurus dan baik. Pintu rejeki tidak hanya satu, InsyaAllah ada banyak pintu yang lain. 

*Hiksss sakitnya tuuh di sini.....* tapi alhamdulillah saya masih bisa menertawakan diri dan lebih santai ketimbang beberapa rekan yang senasib yang tampaknya jauh lebih down dan belum bisa mengatasi kekecewaannya. Jangan tanya lalu apa sih hikmahnya??? apa coba nilai positifnya dari apa yang saya alami... bukankah yang ada hanya rasa kecewa, marah dan sakit hati???. Hmm entahlah kadang kita tidak bisa merasakannya secara langsung. Sesuatu yang kita sebut sebagai hikmah memang tak selalu serta merta kita rasakan setelah sebuah kejadian yang kita sebut cobaan itu terjadi. Tapi saya kok tidak sangsi akan adanya hikmah itu, insyaAllah. Dalam beberapa peristiwa pahit kehidupan, menghadapi permasalahan yang lebih berat, lebih menyakitkan dan lebih mengguncangkan saya kemudian melihat betapa Tuhan Maha Adil, karena semua indah pada waktunya. Jadi untuk hal semacam ini, masa iya saya tak bisa belajar Ikhlash??? *tanya diri sendiri, sesulit apapu segetir apapun, aaah rasanya ketika saya memproklamirkan diri untuk Ikhlash sebagian rasa sakit dan kecewa itu seperti menghilang dari balik dada. 


Adalah hak saya untuk berbahagia, dan bahagia bukanlah pemberian bahagia harus diciptakan. Seperti apapun manusia mensikapi dan mengadili saya, Tuhan saya-lah sang pemilik hati saya. Ijinkan saya belajar merelakannya Rabb... Saya percaya rencanaMu jauh lebih Indah. Saya memilih belajar ikhlash *lagiii*


*Pagi yang mendung di 613*

19 comments:

  1. Bener banget mak, ikhlas memang kelihatannya mudah tapi sungguh amat sulit dilakukannya. Namun ketika kita benar2 merasa ikhlas atas sesuatu yang menimpa kita maka hati kita akan tenang...TFS ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih juga sduah mampir mak...iya niih masih harus terus belajar n belajar

      Delete
  2. Masalah PAK alias penilaian angka kredit memang kadang bikin pinter2 menata hati ya mak.. di kantor jg lagi rame. Kadang ada yg iri2an. Ada jugayg ngakal2in biar angkred-nya banyak n cepet naik pangkat :(. Semoga bs selalu ikhlas ya mak.. insyaallah adahikmahnya, aamiin.. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya maak...pdhal tim peniali anggotanya juga sesama tmn fungsional. Tp klo sdh soal kepentingan kadang2 lbh banyak memikirkan kepentingan sendiri. Sedih bgt krn kok menutup mata gt...tp ya sudah. Toh Allah maha adil hehehe.. amiin insyaAllah selalu ada hikmah...berusaha keras utk ikhlasin iniiih

      Delete
  3. Ikhlash emang susaaah harus latihan seumur hidup. Ga kerjaan, romansa, keluarga, harus ikhlash ngejalaninnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul...semestinya memang jd bagian tak terpisahkan dr aktifitas hidup yaa... supaya hidup jd lebih indah n ringan yaa

      Delete
  4. Pernah mak ngerasain gitu, ngerasa kayak terdzolimi.
    Berusaha ikhlas sekuat tenaga. Mencari frekuensi gelombang yg bikin perasaan jd enak. Setelh itu pasrahkan pada Allah Swt. InsyaAllahakan memetik buah keikhlasan yg sangat manis. Amin. Semngat mak ophi. Sukses yak. Amin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mak Inda...Amiiin iya niih lg keep finding frekuensi yang positif...smoga diberik kekuatan ngejalaninnya

      Delete
  5. "...bukanlah pemberian bahagia harus diciptakan" ustaz saya juga pernah bilang begitu. kalo tidak ada yang mau menciptakan kebahagiaan, lantas bagaimana mau membaginya? meski tidak mendatangkan tawa untuk suatu permasalahan, tapi ikhlas bisa memberikan kekuatan bertahan untuk menyongsong tawa yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya setuju mas... ini soal perjuangan juga yaa menata hati

      Delete
  6. Memang kadang untuk ikhlas berat banget, padahal secara teori telah hapal diluar kepala

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berat tapi harus ya..
      Harus harus.... move on *nyemangati diri sendiri*

      Delete
  7. Nyimak...gitu ya mak...jadi ga bisa jadi kepala ...semoga aja rejeki mak Ophi selalu lancar apapun pekerjaannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo fungsional gak bisa menduduki jabatan strutural yang punya ank buah mba..walopun tetep ada jenjang karirnya juga. tp bentuk kerjaa kita lbh koordinatif satu sm lain dan yg jelas lebih mandiri

      Delete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.