Wednesday, October 28, 2015

Airku, Airmu, Air Kita Semua



Kemarau menjelang dan hingga hari ini belum berkesudahan. Kran di kamar mandi bawah yang biasanya mengalir deras mulai terasa jauh berkurang beberapa bulan terakhir. Aktifitas mencuci baju dengan mesin cucipun agak terhambat. Mesin sering mati di tengah aktivitas mencuci. Usut punya usut, ternyata karena air yang mengalir ke dalam tabung mesin cuci yang biasanya cukup rupanya jauh berkurang. Tanpa debit air yang memadai mesin terganggu dan tak mau bergerak. Hmm terpaksa, kami harus menambahkan beberapa ember air yang dimasukkan secara manual ke dalam tabung agar proses mencuci bisa berjalan normal.


Kemarau terasa begitu panjang. Rerumputan dan ilalang di sekitar rumah mengering. Pohon Durian Lay yang saya tanam dari bijinya yang saya bawa dari Kalimantan tampak antara hidup dan mati. Meski selalu rajin disirami setidaknya setiap pagi, kemarau kali ini tampak sangat menyiksa batangnya yang tak juga menggemuk. Debu jalanan terasa makin tebal menghiasi pemandangan sepanjang jalan.

Tak seberapa dibandingkan beberapa berita duka akibat kekeringan yang melanda di beberapa daerah. Belum lagi kemarau panjang menyulut kebakaran hutan di banyak hutan di luar Jawa. Duh asap itu tak kunjung sirna. Semoga saudara-saudara kita diberi kekuatan bertahan dalam asap. Pemerintah diberi kekuatan menegakkan kebijakan menjawab persoalan. Penegakan hukum menjerakan penjahat lingkungan. Semoga hujan menjawab sebagian persoalan ini. Amiin. 

Lalu, haruskah berkeluh kesah setiap kemarau tiba? Bukankah demikian siklus musimnya. Setelah curah hujan selesai menjalankan tugas membasahi bumi akan tiba musim kemarau. Hujan! kita mengeluhkan banjir dan longsor. Kemarau! kita mengeluhkan kekeringan dan kebakaran hutan. It's enough, mari kita berhenti berkeluh kesah. Putuskan "lingkaran setan"nya.

Ada yang harus kita lakukan untuk menghadapi siklus alam ini. Iya, kita, bukan hanya Pemerintah, bukan hanya para politisi, bukan hanya para pengambil keputusan tingkat tinggi, bukan hanya para pemangku kepentingan. Saatnya kita, semua mulai bergerak. Iya, saya dan kamu, mereka, kita semua. Karena ini bukan hanya tentang airmu atau airku, ini tentang air kita semua.

Duh, saya sedang miris dan jujur tak senang hati. Meski di belakang komplek saya ada danau atau situ yang selama ini menjadi habitat makhluk hidup dan sumber air namun kehadiran beberapa apartemen baru, baik yang sedang dibangun atau direncanakan dibangun di sekitar tempat tinggal saya sungguh membuat hati tak nyaman.

Sumber air dan jumlah air tidak akan bertambah, namun penggunanya akan terus bertambah. Pembangunan perumahan seperti apartemen menjadi semacam ancaman bagi penduduk sekitar mengingat kelak kami akan "berebut" air dengan mereka. Tidak ada yang perlu ditutupi soal ini. Hanya saja sebagai bukan siapa-siapa, apakah yang bisa saya lakukan?

Memulai dari Diri Sendiri

Mendisiplinkan diri dan keluarga kecil saya untuk belajar menghargai air. Menggunakan dengan lebih bijak. Mematikan kran dan memastikannya tertutup rapat setelah digunakan. Mengganti kran-kran yang rusak. Menggunakan shower bath ketimbang bak mandi. Menggunakan air cucian beras misalnya untuk menyiram tanaman. Menanam tanaman di sekitar rumah untuk menyimpan air. Membuat resapan air juga sangat disarankan. Hal-hal kecil yang sederhana yang bisa saya lakukan. Jika setiap orang memulai dari hal yang kecil dan sederhana seperti itu, berapa banyak air yang bisa kita "amankan".

Tanggung Jawab Bersama

Dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara mungkinkah tanggungjawab menjaga air dan lingkungan dilakukan bersama. Tentu saja mungkin, setiap kita punya peran. peran yang tampak kecil menjadi besar saat diakumulasi. Iya, akan menjadi besar dan signifikan ketika dilakukan dalam irama yang sama. Demi apa? demi kita semua...demi tanah, demi air yang katanya kita cintai.

Mungkinkah para stakeholders bisa saling menggenggam tangan bersatu dalam langkah dengan sebuah komitmen untuk tanah, air, dan lingkungan? Ah siapalah saya untuk mengatakan bisa atau tidak. Namun saya hanya ingin membagi cerita yang semoga menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa kebersamaan, rasa tanggung jawab bersama antar para stakeholder sangat dimungkinkan merubah wajah lingkungan kita.

Jika masyarakat, pemerintah dan pengusaha mau bekerja sama mewujudkan tanah, air, dan lingkungan yang nyaman. Bahkan jika harus dilakukan atas nama sebuah kontrak perjanjian pembayaran jasa lingkungan yang berbentuk naskah kesepahaman yang dilandasi azas kesukarelaan (voluntary agreement).
                       Imbal Jasa Lingkungan
Secara sederhana Imbal Jasa Lingkungan dapat diartikan pembayaran yang dilakukan oleh penerima manfaat dari lingkungan yang terjaga dan lestari kepada para penyedia jasa yakni sekelompok orang yang melakukan konsernasi dan menjaga lingkungan alam di lahan milik mereka.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air mengatur tentang imbal jasa lingkungan. Namun jauh sebelum undang-undang ini lahir, konsep imbal jasa lingkungan sudah dipraktikkan di beberapa daerah. Salah satunya, di daerah Serang Banten. Salah satu fakta empiris yang memperkaya Naskah Akademik yang melatarbelakangi undang-undang tersebut. Salah satu landasan sosiologis hadirnya norma pengaturan mengenai imbal jasa lingkungan adalah praktik yang berjalan di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) Cidanau.

DAS Cidanau merupakan daerah aliran sungai yang bersumber dari Cagar Alam Rawa Danau meliputi 38 desa pada 5 kecamatan di Kabupaten Serang dan 4 desa di Kecamatan Mandalawangi di Kabupaten Pandeglang. Sungai Cidanau sendiri merupakan sungai utama DAS Cidanau yang menampung aliran air sungai besar dan kecil yang berasal dari sekitar 18 sub DAS, yang berhulu di kawasan seluas 20.120 hektar (catchment area) dan bermuara di Selat Sunda.



Prinsip Dasar Imbal Jasa Lingkungan

Best Practice: DAS Cidanau 

Dalam implementasi imbal jasa lingkungan DAS Cidanau Serang Banten, kita bisa melihat sebuah bentuk kerjasama dan kesepahaman antar para stakeholders, para pemangku kepentingan.

Pertama, pihak paling berkepentingan terhadap lestarinya DAS Cidanau guna hidup dan berjalannya industri mereka, yakni para pengusaha tepatnya perusahaan yang merupakan pengguna air DAS Cidanau, sebutlah PT Krakatau Tirta Industri (PT KIT), PT Indonesia Power, dan PT  Chandra Asri. Perusahaan ini merupakan penerima manfaat dari lestarinya DAS Cidanau.

Pihak yang kedua adalah sekelompok masyarakat usaha tani hutan. Mereka adalah warga masyarakat yang mempertahankan lahannya untuk konservasi lahan dengan tidak menebang tanaman dalam kurun waktu tertentu untuk menjaga dan tidak terjadinya kerusakan DAS Cidanau. Kelompok tani ini merupakan penyedia jasa lingkungan.

Rumah Aki Bachrani Desa Citaman

Pihak ketiga sebagai fasilitator yang menghubungkan dua pihak (penerima manfaat dan penyedia jasa). Pihak yang berperan sebagai fasilitator merupakan sebuah forum yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat di daerah tersebut. Forum ini disebut sebagai FKDC, Forum Komunikasi DAS Cidanau. 

Skema perjanjian pembayaran jasa lingkungan merupakan pembayaran secara langsung (tunai) kepada warga masyarakat yang dapat mempertahankan lahan mereka untuk konservasi dalam kurun waktu tertentu sehingga mencegah rusaknya DAS Cidanau. Sumber dana dalam pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau diperoleh dari perusahan para pengguna air DAS Cidanau. 

Buku Tamu, Ternyata sduah banyak tamu yang berkunjung ke tempat Aki
untuk belajar dan melihat praktik imbal jasa lingkungan bahkan banyak orang asing yang datang ke sini.

Mekanisme pembayaran jasa lingkungan pada DAS Cidanau dilakukan dengan perjanjian  antara pihak pertama yakni pemanfaat jasa lingkungan, perusahaan pengguna air DAS Cidanau dan pihak kedua yakni penyedia jasa lingkungan, masyarakat pemilik lahan yang ditanami pepohonan kayu dan buah-buahan.  Pihak ketiga, FKDC memfasilitasi terlaksana perjanjian dan menjadi supervisor sekaligus evaluator program dimaksud. 

Dalam perjanjian tersebut penyedia diwajibkan untuk memberikan jasa lingkungan dengan tidak menebang tanaman yang berada dalam lingkungan DAS Cidanau, sedangkan Pemanfaat di satu sisi diwajibkan membayar sejumlah uang dengan ketentuan jumlah tertentu untuk per hektar lahan yang direforestasi dan dijaga kelestariannya oleh penyedia jasa. 

Kelompok Tani Karya Muda Desa Citaman 
dan 
Aki Bachrani

Saya sempat berbincang dengan Aki Bachrani dan beberapa pengurus Kelompok Tani Karya Muda II di rumah Aki yang sederhana. Kami bahkan melihat langsung ke hutan lokasi di mana dilakukan konservasi dengan reforestasi hutan. Kelompok Tani Karya Muda II Desa Citaman yang dipimpin oleh Aki. Satu dari enam kelompok tani yang ada di wilayah Gunung Karang yang sudah menjalankan program imbal jasa lingkungan dengan PT. KTI yang merupakan anak perusahaan dari PT. Krakatau Steel. Mereka sudah menjalankan program ini sejak tahun 2005. Kontrak berlaku untuk 5 tahun.

Kelompok tani yang dipimpin Aki Bachrani telah berhasil melewati masa kontrak pertama dan sudah memasuki akhir masa kontrak lima tahun kedua. Aki juga mendorong masyarakat yang belum bergabung untuk turut berpartisipasi. Saat ini putra Aki membentuk Kelompok Tani Karya Muda III, sudah mulai melakukan kegiatan yang sama dan melakukan perjanjian serupa dengan PT. KTI memasuki tahun kelima.

Salah satu klausula dalam perjanjian, ini merupakan kontrak awal tahun 2005

Berapakah besarnya imbal jasa yang diterima Aki Bachrani dan kelompok taninya? Jangan kaget karena jumlah terlihat tidak signifikan. Nilai pembayaran jasa lingkungan pada awal tahun 2005 disepakati sebesar Rp. 1.200.000,-/hektar/tahun. Luas minimal lahan adalah 25 hektar. Pembayaran dilakukan secara bertahap. Dalam beberapa tahun memang kemudian dilakukan renegoisiasi sehingga ada kenaikan nilai pembayaran. Kelompok Tani  yang dipimpin Aki saja melakukan konservasi hutan seluas sekitar 50 hektar. 

Manfaat bagi Masayarakat Kelompok Tani

Mendengar nilai uang yang diberikan, saya sempat merasa sanksi. Sejumlah uang tersebut yang jika dibagi sekian ratus warga masayarakat secara keseluruhan, nilainya terasa sangat kecil.  "Bisa dipakai buat apa?". Hmm boleh jadi nilai yang didapat tidak mencerminkan nilai pembayaran yang sebenarnya diinginkan masyarakat sebagai imbal jasa upaya konservasi yang mereka lakukan terhadap lahan milik mereka. Namun, ternyata kita tidak bisa hanya menilai secara nominal. Ada manfaat lain baik dari sisi ekonomi, sosial, edukasi, terutama kelestarian lingkungan. 

Kami belum bisa memastikan sampai akhirnya saya menginjakkan kaki langsung di  Kampung Aki Bacharani yang ternyata cukup jauh dari kota Serang. Dengan kendaraan harus menempuh jarak sekitar 1,5 - 2 jam. Pada satu titik di jalan raya, kami mengambil jalan belok ke kiri yang berbatu-batu terjal dan menanjak. Jalan yang kami lalui lebih mirip seperti sungai kering dengan batu-batuan yang cukup besar, menanjak, dan curam. Hanya ada beberapa rumah di sepanjang jalan yang kami lewati. Kalau tidak salah jarak dari jalan raya sekitar 12 km. Serasa sedang "off road" begitu... hanya jip tua milik petugas kehutanan yang mampu naik. Sebagian teman saya menggunakan ojek setempat.
"Uangnya memang tidak seberapa, tapi manfaatnya alhamdulillah tidak sedikit bagi kami..."
"Anak-anak bisa sekolah, ada musholla, sekarang kami hampir gak pernah kekeringan neng. Dulu daerah kami gersang. Wilayah kritis katanya. Kami dulu menanam padi gogo dan jagung di lahan, hasilnya sedikit sering gagal panen dan rusak dimakan hama tikus."
"Alhamdulillah berkah ya Ki..." begitu timpal saya 

Setiap pohon yang ditanam dan dijaga di lahan konservasi diberi nomor
untuk memudahkan pendataan dan evaluasi

Saat ini lahan warga yang masuk dalam area konservasi berdasarkan perjanjian imbal jasa ditanami dengan berbagai tanaman hutan dengan komposisi 70% tanaman buah-buah dan 30% tanaman kayu-kayuan. Warga merasakan manfaat ekonomis dari hasil tanaman yang ditanam. Jauh lebih menguntungkan dari pada ditanami padi gogo dan jagung.

Secara ekonomis, keuntungan dari hasil buah-buahan yang diperoleh membuat mereka bertahan dan akan tetap menjaga tanaman tersebut selama masih produktif. Dari sisi lingkungan, sejak dilakukan konservasi tidak pernah terjadi lagi erosi, warga tidak lagi mengalami kekurangan air, bahkan bisa menyalurkan airnya ke desa lainnya. 

Dana yang tampak tak seberapa itu ternyata bermanfaat untuk pendidikan, santunan anak yatim, janda-janda, serta untuk perawatan musholla. Aki Bachrani dengan bangga menyebutkan bahwa musholla yang kami lihat di jalan menuju rumahnya adalah hasil dari pembayaran jasa lingkungan. Selain itu, dari uang tersebut mereka juga membeli kambing untuk diternakkan secara bergulir. Kami sempat melewati kandang kambing dengan nama pemilik di kandangnya masing-masing.

Kambing Bergulir, salah satu manfaat ekonomi hasil dana imbal jasa lingkungan

Iseng, saya sempat bertanya pada Aki, "Bagaimana kalau suatu hari ternyata PT. KTI tidak mau lagi melanjutkan kontrak pembayaran jasa lingkungan?" apa yang mereka lakukan? Dengan lugas dan tegas Aki menjawab bahwa meskipun nanti misalnya tidak ada lagi yang membayar mereka untuk jasa lingkungan yang mereka sediakan. Mereka tetap akan menjaga lingkungan seperti yang sudah mereka lakukan. "Masyakakat sudah merasakan langsung manfaatnya, neng! tidak ada lagi lahan kritis, tidak pernah lagi kekurangan air, bahkan bisa mengalirkan air ke desa lain"

Secara ekonomis tumbuhan atau pohon buah-buahan juga akan tetap memberi manfaat ekonomi kepada mereka. Menurut Aki nilainya bahkan lebih besar dibandingkan jika mereka kembali menanami lahan tersebut dengan padi gogo dan jagung.

Sebuah bentuk kerjasama konservasi lingkungan yang tidak hanya bermanfaat bagi para pengguna air DAS Cidanau namun juga bagi para penyedia jasa lingkungan di hulu. Model yang mungkin bisa diterapkan dalam banyak hubungan masyarakat hulu-hilir lainnya.

Aki Bachrani mengantar kami ke hutan

Ini hanya merupakan salah satu model bentuk kerjasama dan kesepahaman antar para pihak dalam menjaga lingkungan alam untuk kelestarian tanah dan air. Tentu kita bisa mengembangkan dan mencoba mempraktikkannya dengan memperhatikan prinsip dasarnya. Bukan untuk mencari keuntungan sesaat, namun untuk manfaat yang lebih hakiki. Karena ini tentang airku, airmu, dan air kita semua.

26 comments:

  1. semoga programnya terus berlanjut ya mak biar manfaatnya terasa terus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, aki sih berjanji akan meneruskan program tsb meski tidak ada lagi kontrak

      Delete
  2. Syukur deh kalau warganya udah sadar semua akn dampak positif jasa lingkungan :)

    ReplyDelete
  3. Yup, setuju banget, Mak. Semua pihak harus turut andil dalam peran ini. Tak hanya pemerintah. Membudayakan sikap 'mulai dari kelompok terkecil (diri dan keluarga) adlh hal yg harus digalakkan.

    Inspiring post, Mak. TFS.

    ReplyDelete
  4. Waah lengkap banget Mak Ophie. Good luck ya..

    ReplyDelete
  5. lanjutkan program nya ....
    semoga semua org indonesia peduli seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuu
      amiin...semakin banyak yg peduli..semakin banyak yg memprakrikkan semakin baik

      Delete
  6. Programnya inspiratif.
    Semoga banyak warga yang ikut berperan dan peduli lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak...semoga yaa.
      efeknya luar biasa jika dilakukan bersama2 dan dalam skala yang lebih besar

      Delete
  7. Selama ini alam sudah memberi banyak pada kita. Tapi kebanyakan kita lupa "berterima kasih". Syukurlah ada orang2 seperti Aki ini. Semoga banyak yg meniru, aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin...iya semoga menjadi semacam gerakan bersama...gerakan nasional begituu jd lebih terasa efeknya

      Delete
  8. Air untuk generasi sekarang dan masa depan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup... Sekarang dan yang akan datang. Demi anak cucu kita

      Delete
  9. Baca berita tentang orang-orang kayak Aki ini emang berasa jadi ada harapan ya. Lebih bagus lagi kalo orang-orang kota juga mengikuti jejaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh waktu dan usaha yg cukup lama utk bs membangun komunikasi 3 pihak spt ini ulu. Mmg yg paling utama adalah kesadaran bersama yg menggerakkan kemauan bersama

      Delete
  10. program seperti ini harus terus berlanjut, karena manfaatna besar sekali untuk masyarakat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya..tahun ini akhir kontrak kedua. Smoga berlanjut ke kontrak berikutnya.

      Delete
  11. Kebetulan kemarin aku habis lihat 5 kota terbersih di dunia versi wideshoot, hmmm nggak cuman kotanya ajah yang bersih, sistem pengairannya juga bersih banget. Malahan aku pernah lihat gambar banjir di jepang, dan banjir tersebut airnya benar benar jernih, beda banget sama banjir di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita masih harus banyak belajar kayaknya ya.
      Smoga kita bisa

      Delete
  12. Sudah saatnya kita peduli terhadap lingkungan.
    Jika bukan Anda, siapa lagi yang dapat membuat bumi kita ini selamat.
    Bersama Greenpack, kami membuat http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete
  13. Setuju banget.. menjaga lingkungan itu emng harus dari diri kita sendiri. jangan bisanya cuman ngingetin orang aja. tapi buang sampah sembarang.. hehehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.