Tuesday, October 13, 2015

Uang Saku atau Uang Jajan?


Diskusi di salah satu WA Group Mommies yang saya ikuti (saya ikut dua grup, kelas Ka Alinga 3A dan ka Zaha 1E) agak memanas karena ada salah satu mommies yang curhat dan complain kalau uang saku anaknya hilang di tas. Hmm beberapa mommies menyarankan untuk memastikan terlebih dahulu apakah benar hilang, terjatuh, atau lupa tidak terbawa. Hari itu di sekolah sedang ada Market Day, salah satu event anak-anak setelah selesai mid test, sehingga sang Mommie membawakan uang saku lebih banyak dari biasanya. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada gurunya. Diskusi berkembang seputar uang saku dan uang jajan.


Saya lebih banyak menjadi pendengar yang baik, mengingat pengalaman tentang memberi uang saku masih minim. Para mommies ternyata punya cara dan sikap yang berbeda tentang uang saku. Sebetulnya saya punya pendapat sendiri seputar uang saku. Yang pasti uang saku sebetulnya tidak sama dengan uang jajan. Uang jajan bisa diartikan hanya uang yang diberikan kepada anak-anak kita yang sekolah (SD - SMA) untuk kebutuhan membeli makanan atau minuman selama di sekolah. Uang Saku memiliki cakupan yang lebih luas. Selain uang jajan yang merupakan komponen paling umum, sebagai uang bekal membeli makanan dan minuman. Uang saku dapat juga terdiri dari komponen uang transport/ongkos ke atau pulang dari sekolah, uang untuk kegiatan menabung atau sedekah, dan uang untuk membayar kegiatan sekolah baik yang sifatnya sudah direncanakan maupun mendadak.

Masalah yang sering menjadi perhatian adalah sejak kapan anak-anak bisa diberi uang saku? seberapa besar layaknya uang saku? selain itu juga tentang cara pemberian uang saku, apakah harian, mingguan atau bulanan?

Saya dan ayahnya Trio krucils dalam hal ini memiliki pandangan yang kurang lebih sama. Kami sepakat setidaknya sampai kelas 5 SD anak-anak tidak saya bekali uang saku harian. Wuihh terdengar sadis kah?? Kami memiliki beberapa alasan untuk tidak memberi uang saku harian kepada anak-anak yang sifatnya rutin.

Anak-anak telah kami biasakan sedemikian untuk tidak jajan di sekolah. Bukan hanya soal rasa percaya pada jenis makanan yang dijual di kantin sekolah. Membiasakan mereka jajan, memegang uang dan membebaskan pola konsumsi mereka menurut kami kurang pas. Asalkan dipastikan kebutuhan makanan dan minuman selama belajar di sekolah terpenuhi. Kami sepakat tidak mengenalkan kata jajan atau uang jajan pada anak-anak.

Pagi sebelum berangkat sekolah mereka sudah sarapan lengkap. Mereka dibawakan bekal dan air minum untuk break istirahat pertama jam 9 pagi. Jam makan siang break istirahat siang dan sholat mereka sudah disiapkan makan siang dari catering di sekolah. Kami sengaja tidak memberikan pilihan jajan. Makan dan sebisa mungkin habiskan yang disiapkan dari rumah dan yang disiapkan di sekolah. Kalau ada yang kurang suka atau tidak cocok, kasih tahu Ibu. Untuk bekal biasanya disesuaikan juga dengan kegemaran mereka. Untuk makan siang jika ada yang kurang sreg nanti bisa dikomunikasikan dengan catering sekolah. So far untuk urusan makanan dan minuman selama di sekolah aman tanpa uang jajan.

Hal ini sebetulnya berlaku juga di rumah. Alhamdulillah di komplek perumahan kami jarang ada pedagang keliling lewat, kecuali beberapa pedangang yang sudah punya langganan seperti tukang roti, siomay dan bakso di sore hari, dan tukang tahu putih. Pun jika mereka ingin jajanan tersebut baru kami belikan. Bukan tidak boleh membeli sesuatu, boleh tentu saja selama memang mereka menginginkan. Tapi sekali lagi, mereka tidak memegang uang untuk jajan tersebut. Bilang Ibu, ayah, mbah uti, atau akung, nanti kita panggil abang tukangnya dan baru beli. Jadi keinginan membeli bukan semata-mata karena memegang uang, merasa punya uang lalu sesuka-suka jajan. Padahal kadang-kadang tidak perlu atau bahkan tidak terlalu pingin.

Menurut kami, anak-anak di usia tersebut belum bisa diberi tanggung jawab untuk memanage uang saku yang diberikan. Kami memang tidak memberi uang harian. Namun tidak berarti mereka tidak pernah kami bawakan uang ke sekolah. Kami memperhatikan kapan anak-anak boleh membawa uang dari rumah. Misalnya saat ada kegiatan sekolah seperti market day kemarin, saat ada kegiatan menabung,  saatnya harus melakukan sedekah harian/mingguan, atau saat sekolah melakukan kunjungan atau filed trip keluar.

Kejadian kecurian uang saku atau pemalakan uang saku oleh teman atau kakak kelas sangat mungkin terjadi jika anak diketahui sering dibawakan uang saku (apalagi berlebih). Satu sisi hal ini juga kurang aman bagi anak dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak.

Mengingat anak-anak diantar-jemput ke/dari sekolah, saat ini mereka belum membutuhkan uang transport. Bagi mereka yang menggunakan transportasi umum, tentu uang transport penting untuk diperhatikan. Sebaiknya uang transport sudah diperhitungkan sedemikian. Tidak harus pas, sebaiknya justru dilebihkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga. Jika menggunakan ojek, alangkan lebih baik jika sudah berlangganan. Apalgi untuk anak usia SD. Untuk yang menggunakan kendaraan umum, sebaiknya titipkan pada supir agar anak diturunkan di tempat yang aman dan pastikan bahwa si anak sudah disiapkan uang transportnya.

Sebetulnya untuk besarnya uang saku tentu saja sangat tergantung pada komponen apa yang harus dipenuhi. Jika memang anak tidak dibawakan bekal atau tidak disediakan makan siang di sekolah, tentu uang saku dari komponen uang jajan menjadi lebih besar ketimbang mereka yang dibawakan bekal. Sebagian orang tua berasalan meskipun anaknya dibawakan bekal tapi mereka tetap memberikan uang jajan, bisa jadi karena khawatir anaknya masih merasa kurang cukup dengan bekal yang dibawakan atau bekalnya tidak dimakan.

Ini sebetulnya pilihan bagi orang tua, tentu saja setiap orang mempunya preferensi sendiri. Kami memilih mencukupkan anak-anak untuk makanan dan minuman, dengan sarapan lengkap, camilan yang cukup, dan makan siang yang memadai. Demikian juga dengan uang tansport., uang tabungan dan sedekah. Semua akan sangat tergantung pada kebutuhan dan gaya hidup.

Harian, mingguan atau bulanan? Bagi mereka yang memilih memberi uang saku dengan alasan dan pertimbangan masing-masing, waktu dan cara pemberian uang saku juga harus menjadi perhatian. Tentu masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, sebaiknya tanggung jawab anak menjadi pertimbangan penting dalam memberikan uang saku. Jika anak sudah bisa bertanggung jawab mengelola uang sakunya tidak masalah memberikan secara mingguan atau bulanan. Artinya mereka juga belajar mengelola keuangan dan kebutuhannya sendiri.

Namun bagi anak-anak yang belum bisa diberi tanggung jawab pengelolaan uang sebaiknya berikan uang saku secara harian dengan peruntukan yang jelas. Misalnya sekian untuk kebutuhan a, sekian untuk kebutuhan b dan seterusnya. Saat mereka sudah paham dan terbiasa, uang saku dapat diberikan mingguan atau bulanan dengan tetap menyepakati peruntukkannya.

Jadi ayah dan bunda memilih yang mana?

33 comments:

  1. Karena masih SD ya hariàn aja lah itu juga aku cuma kasih 2000 aja biar ga kebanyakan jajan toh dari rumah bawa bekal ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya klo kebanyakan nti cenderung jd konsumtif kan mba

      Delete
  2. Dengan demikian, anak sudah mulai dididik untuk membelanjakan uang pada sesuatu yang "butuh", bukan sekadar "ingin".

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mas... klo sekedar ngikutin pingin kadang ga ada puasnya...kadang juga sekedar ikut2an aja

      Delete
  3. aku biasanya dikasih uang jajan, mak. untuk pengaturan penggunaannya buat apa terserah. nanti sisa tinggal ditabung di celengan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau memang sudah bis amemanage uanga endiri mungkin gak masalah yaa...sebenarnya masalah waktu yg tepat aja

      Delete
  4. benar juga pendapatnya mak... tapi masih uang jajan harian utk Kayla...dia gak mau catering di sekolah, jadi bawa bekal aja dr rumah. tapi cuma nasi dkk nya, utk jajan masih beli di kantin sekolah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. klopun gak catering setidaknya dibawakan bekal makan siang yang cukup ya mak...jadi klopun bawa uang saku gak banyak2 yaa

      Delete
  5. Bagus juga sih dengan ikut andil dalam membagi-bagi uang agar si anak juga di hari dpan bisa mengelola uang dengan baik karena telah diberi contoh dulunya.
    kayanya baru pertama nih komen di ssini , salam kenal ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga yaa. iya belajar sedari dini mas..dengan praktik langsung. makasih sudah mampir

      Delete
  6. Kalo pas SD, aku dikasih uang saku harian, mak. Pas SMP mingguan, SMA dan kuliah bulanan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya biasanya masih SD blm bisa kelola uang banyak sendiri..jd bertahap dulu sperti itu

      Delete
  7. Tergantung sikon sekolah dan anaknya Mak. Anak sulung saya sikon sekolahnya memungkinkan unt tidak memberikan uang jajan. Jadi waktu kls 1 SD sampe kls 2 ngga saya beri uang jajan. Pas pindah ke kalimantan baru saya kasih. Jmlnya max Rp 5000/hari. Krn disekolahnya kadang ada sokongan apaa gitu. Si sulung ini memang tipenya males jajan, jadi uangnya sama dia sering dimasukkan celengan. Nah kalo si bungsu krn awal sekolah di sana, lingkungan teman2nya pada jajan. Jadi saya kasih uang jajan rp 2000/ hari. Awalnya dia sll menghabiskan uang jajan unt beli mainan di dpn sekolah, lama2 bosan dia. Kalau ngga perlu jajan ya uangnya dimasukkin ke celengan. Saya berikan uang jajan pada anak2 agar mrk ngga mencuri uang milik temannya. Krn ada kejadian spt ini di sekolah. Anak2 saya sblm sekolah sarapan dulu, bawa bekal makan siang dari rmh dan saya mensyaratkan agar mrk habiskan dulu makan siangnya baru boleh jajan (makanya uang jajan sering mrk tabung). Skr anak2 udh gede, mrk bisa atur2 uang jajan. Kalo ada yg ingin mrk beli, mrk nabung uang jajan. Sampe pernah saya jemput anak2 lupaaa ga ada uang di dompet, pas mau beli sesuatu, akhirnya pinjem dulu sama anak2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf ya Mak, komen saya panjang bener

      Delete
    2. Gpp mak, makasih ya sudah sharing banyak mak. Iya memang dilihat sikon juga pastinya. Klo kondisi anak2 sy di sekolah alhamdulillah mendukung untuk tidak memberi jajan.

      Delete
  8. Kasih uang jajan 5000 sehari Karena mamanya suka lupa bawain minum hehe.. Buat jaga2 aja tp selalu habis uangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha..klo mamanya suka lupa gt bahaya klo gak dibawain jajan yaa

      Delete
  9. terdengar sadis sih mbak kalau nggak ngasih uang saku ke buah hati., tapi kalau tujuannya untuk mengenalkan anak lebih berhemat sih bagus2 aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sadis yaaks...tp tujuannya buka sekedar berhemat lhoo tp lebih ke mengajari mrk utk membedakan antara butuh dan ingin...gitu sih

      Delete
  10. Sekolah ponakan saya (TK) menerapkan 'no uang saku'. Ahamdulillah, meski di luar pagar sekolah ada jualan cilok dll dia ga pernah jajan. Dan kalo mau jajan di rumah aja, di warung dpn rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naah saya suka dgn sekolah yg seperti ini...banyak juga kok sekolah yg melarang anak dibawakan uang jajan. asalkan kebutuhan makanan n min4umannya tercukupi lhoo

      Delete
  11. Kalau saya dulu sekolah dari SD sampai SMA ga pernah dibawaain uang saku ataupun bekal makanan apalagi minuman. Berangkat juga tanpa sarapan, kalau pas hari olahraga kalau kehausan kepalanya diguyur air sumur....menyedihkan kan.....? Waktu SD jalan kaki 3 km, SMP naik sepeda 10 km trus SMA sambil kerja sama orang dg imbalan makan dan tempat tinggal. Dengan kondisi demikian lulus juga tuh..... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda ya mas dulu dan kini.
      Kurang lebih masa sekolah saya juga memprihatinkan. Tp sy masih dibekali uang jajan meski terhitung minim.
      Kadang pengalaman berjuang spt justru membuat kita lebih kuat yaa

      Delete
  12. wah kalo aku dulu SD kayaknya dapet uang saku euy. sehari seribu ajaaah hahaha tapi kayaknya masih bersisa-sisa terus. sampe kuliah juga gitu... cuma dikasih harian lebih "nyisa" daripada dikasih "bulanan" :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. hebat itu mah, masih nyisa meski harian, tapi kadang malah kita bs smpen2 karena sedikit yaa. klo bulanan gak bisa ngatur malah cepet habisnya

      Delete
  13. Saya dua2nya, Mbak. Eh nice banget, Mbakk, hahaha bingung juga bedain mana uang saku dan uang jajan :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. uang jajan khusu buat beli makan minum, klo uang saku kan ada komponen lainnya. In my opinion lhooo

      Delete
  14. anakku masih balita, blom kepikiran ngasih uang saku :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. akan tiba waktunya memikirkan soal ini juga nanti hehehe

      Delete
  15. Kalau aku biasanya ngasih uang jajan sih mbak, tapi untuk beberapa hari kedepan gitu, jadi sekalian ngajarin anak agar bisa memenej kebutuhannya,..

    ReplyDelete
  16. Usia anaknya brp bunda? Klo sdh bisa memegang uang dan belajar memenej uang dan kebutuhannya lbh bagus yaa

    ReplyDelete
  17. Karena blum punya anak, sharing pengalaman aja. Kalau dulu sih masih belum ada pemahaman orang tua saya ngebedain uang saku atau uang jajan. Saya diberinya harian - kalau hari Minggu ngga. Walaupun sebenarnya untuk jajan, tapi sayapun ke sekolah bawa bekal makanan juga, jadilah inisiatif nabung ataupun untuk beli keperluan lain selain makanpun datangnya dari saya sendiri, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karena dulu komponenya pun lebih sedehrana ya mba..sekarang anak2 kebutuhan di sekoalhnya makinn beragam

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.