Tuesday, December 1, 2015

So Sweet... Are You? Is it?


Suatu kali saya memposting gambar segelas air putih dengan caption yang saya copy paste di bawah ini. Panjaang captionnya :P
Saya dan suami (yang sama2 Perancang UU) dan beberapa teman sejawat hari ini dapat tugas menghadiri Rakor pembinaan jabatan fungsional perancang peraturan perundang-undangan.
Sy memang sudah lama tidak ngopi dan ngeteh (sejak FC) jd saat ditawari kopi teh sy minta air putih. Sayangnya cuma segelas. Sekali minum langsung blass.

Tak lama suami keluar ruangan dan mengambilkan segelas air putih ini.
Teman di sebelah saya nyeletuk. "Ih mas ricko so sweet..."
Saya nyengir aja. "Emang kayak gitu so sweet ya?"
"Iya lah...klo menurut aku itu so sweet."
Hmm mungkin saya (kami) harus sering mendengar komentar semacam ini. Apa yang mungkin biasa2 saja bagi sebagian orang, ternyata istimewa bg sebagian lain. Sangat tergantung pada cara pandang kita. Lalu saya jadi berfikir. Mungkin benar juga ya? That's such sweet attention. Thanks Ayah it is so sweet 😍😍😍.
Alhamdulillah syukuri yang sederhana...insyaAllah ditambah olehNya.
Kalau aku tiap pagi nyiapin sarapan buah satu porsi yg sama utk si ayah, so sweet gak ya?
Iya itu tadi caption yang saya sertakan di gambar segelas air putih dengan background suasana rakor. Saya post di instagram dan otomatis nge-link ke FB. Komentar justru banyak muncul dari timeline di FB. Hampir semua sepakat yang dilakukan ayahnya krucils itu "so sweet". Tapi tentang pertanyaan saya apakah kalau saya tiap pagi menyiapkan sarapan buah buat si ayah itu, tindakan yang so sweet atau tidak? ternyata banyak yang bilang itu hal biasa. Gak sweet lah, karena memang sepatutnya isteri melakukan hal tersebut. Hmm kok gitu?

Ada dua hal yang menjadi catatan saya dari kejadian dan postingan saya tersebut. Yang kemudian membuat saya tergerak untuk menuliskannya di blog ini. Eh gak ada yang nanya yaa?

Pertama, Sudut Pandang.

Suatu tindakan, ucapan, atau sikap yang dianggap atau dinilai "so sweet" atau mungkin bahasa kita-nya romatis, manis, perhatian, dan sejenisnya ternyata bisa memiliki perwujudan dan dinilai secara berbeda oleh setiap orang.

Saat teman saya comment: "Ih Mas Ricko (suami saya), So sweet...". Jujur saya langsung nyengir dan melirik wajah suami hahaha. Wew, itu so sweet ya? *disiram pake air. Bukan karena saya gak menghargai suami. Tapi ternyata tindakan sederhana wujud perhatian dan (mungkin) kasih sayang ini memang menyentuh bagi sebagian orang. Terutama wanita. Lalu ada tanda tanya besar, apakah aku wanita?? Mengapa aku tak tersentuh? *haduuuuh

Sekejap kemudian saya seperti tersadar. Mungkin ada yang kurang beres dengan kaca mata saya. Maksudnya sudut pandang saya. Kenapa tindakan yang bagi teman saya sangat manis dan perhatian. Saat itu terasa biasa-biasa saja bagi saya? padahal kemudian setelah saya pikir-pikir dalam diam memang hal sederhana ini merupakan bentuk perhatian yang manis.

What's wrong with me? Iyes, ada yang salah dengan diri saya. Mungkin saya menjadi kurang sensitif dan tak "sehalus" dulu lagi? Mungkin bukan salah atau benar, tapi yang pasti ada yang berubah. Saya dulu terhitung sangat sensitif dan perasa, pada pasanganpun cenderung manja. Sekarang kok kayaknya ada yang berbeda ya? Hmm kenapa ya? Tugas menjadi Ibu dari 3 krucils yang sangat demanding? saya mulai lelah dan tak lagi sehalus dulu? Atau...karena setiap hari menghadapi panggung politik yang ngeri ngeri syedaaap dan kadang bikin mual? Eh... apalah ini kok malah curcol.

Iya sesaat kemudian saya segera menyadari. Kehilangan "kehalusan rasa" membuat kita tak mudah menghargai sesuatu yang sebetulnya patut disyukuri. Sesuatu yang sebetulnya wujud nikmat dan berkah yang maha kuasa. Saya lalai bersyukur bahwa suami saya demikian perhatian. Tanpa gengsi menunjukkan perhatiannya meski hal ini bukan seperti dia sesuai karakter aselinya. Pribadinya yang introvert cenderung tidak suka membuka hal-hal pribadi di depan orang lain. Biasanya cenderung sangat "jaim". Tapi mungkin bukan itu yang ada di kepalanya. Dia hanya ingin isterinya tidak kehausan. That's it, that's simple...lalu kemudian kaca mata seorang wanita dengan kehalusan perasaannya menilainya sebagai sesuatu yang manis dan romantis. Tsaaah.

Tapi sejujurnya kemudian saya berjanji untuk mengasah lagi sisi "halus" dalam diri saya. Sisi halus yang ternyata penting untuk tetap merasa syukur, merasa bahagia, merasa terberkahi, meski hanya oleh dan karena hal-hal sederhana. Saya harus memperbaiki kaca mata saya. Karena ternyata banyak hal yang sebetulnya sangat tergantung dari sudut pandang kita. Bahagia, sulit, senang, sedih, menyebalkan, lucu, ternyata sangat tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Bagaimana kita memikirkannya dan lalu bagaimana kita menyikapinya.

Kedua, Kepribadian Pelaku.

Ternyata selain sudut pandang, subyek pelaku juga menjadi pertimbangan suatu tindakan dinilai romantis dan amnis atau tidak. Naah jawaban teman-teman saya yang menganggap kalau tindakan sejenis saya yang melakukan itu tidak so sweet, biasa ajah. Lhaa kan memang "tugas" isteri meladeni suami. Hikss... that's not fair, eh enggak juga sih ini lagi-lagi soal sudut pandang. Naah berarti aku kerja bantuin suami menggerakkan roda keluarga juga so sweet dung ya??? kan mencari rezeki untuk keluarga itu tugas suami. Huhuyyy *peace bukan ngajak war-waran yaa.

Hmm tapi bukan itu kok yang mau saya tekankan. Kalau menurut saya ketika kondisi pengkotakan peran dan tugas suami dan isteri sudah tidak sekaku dulu dan kenyataannya mengarah pada semakin baurnya peran dan tugas masing-masing. Dasar penilaian kita tentang kelumrahan dan kebiasaan tidak lagi bisa selamanya kita pegang. Saat Ibu Budi tidak hanya memasak di rumah, karena juga pergi bekerja selain Ayah Budi yang pergi ke kantor.

Apakah Ibu Budi dianggap kurang manis saat minta tolong ayah budi menyiapkan sendiri keperluan kerjanya?  selain menyiapkan diri untuk juga pergi ke kantor, Ibu Budi juga menyiapkan keperluan Budi dan Wati pergi sekolah. Mengapa tidak ayah Budi melakukan untuk dirinya sendiri? Tapi saat Ayah Budi membantu Ibu Budi menyiapkan keperluan Budi dan Wati, pasti Ayah Budi dianggap sangat "sweet".

Weleh  ngapain juga ngomongin Budi dan keluarganya ya?

Sebenernya sih mau curhat sekaligus cari pendukung aja kayaknya. Iya, karena double peran "Ibu dan bekerja" kita sering dianggap lalai mengerjakan hal-hal yang sifatnya pelayanan terhadap suami. Padahal saya rasa tidak ada maksud seperti itu. Dulu saat anak baru satu, atau dua. Masih sempetlah bantu suami packing saat hendak tugas keluar kota. Memilihkan dan menata baju. Saat anak sudah tiga, waktu di rumah full untuk memperhatikan dan melayani anak-anak yang masih kecil. Ayahnya saya minta pengertiannya aja kalau agak tersisih. 

Apalagi untuk tugas keluar kota yang suami harus sudah di bandara subuh atau bahkan sebelum subuh. Jam 3 dini hari suami harus sudah siap-siap. Saya paling hanya mengingatkan, membangunkan, itupun sambil merem karena kok rasanya mata baru saja terpejam. "Yaah, jangan kesiangan..." "Iya sudah pasang alarm"  Tahu-tahu ada kecupan di kening dan pipi. "Aku berangkat yaa, doain lancar. Kamu jangan kesiangan nanti kan upacara." Naah seperti itu jadinya, Senin dini hari lalu saat suami harus ke Surabaya. Saya kemudian tergugah, yup meski saya agak kurang perhatian hahayyy...si Ayah tetap memberi perhatian. Pemakluman terhadap rasa lelah yang harus saya rasakan sebetulnya bentuk sikap yang sangat "so sweet", sangat plus so..ya sudah manis banget lah gitu.

Kalau bentuknya puisi cinta atau sekuntum bunga malah jadi aneh rasanya. Mungkin saya bakal bertanya dan agak curiga. "Ayah kesambet di mana kok tiba-tiba ngirim puisi cinta?". Bener deh, karena saya tahu banget. Si Ayah ini type-nya jauh dari cowok romantis setype itu. Yaa gitu aja sih lurus-lurus aja, gak suka film drama, gak suka baca novel, ga suka lelebayan gituuu. Jadi romantisme ternyata gak selalu bisa didefinisikan dengan hal yang sama bagi subyek yang berbeda.  Meski jujur saat ada suami (orang lain) yang bikin sebaris dua baris kata-kata yang manis macam para penulis novel itu, langsung deh aku bilang ihh "so sweet". Lhaa iya memang sang suami itu demikian jenis kepribadiannya. Jadi pas, begitu!

Pernah saya ngambek dan pingiiiin banget dikasih bunga. *manjanya lagi kumat atau entah kena virus apaan waktu itu. Naah tidak lama, si Ayah pulang membawa bouquet bunga. Beeeh besarnya... pake kartu dengan kata-kata yang gak romantis deh. Standar! Wal hasil, bukannya seneng, saya malah tambah ngambek. Saya pingin dikasih bunga tapi bukan yang kayak gitu... *maksudnya bunga bank?, enggaklah*, Ya sekuntum atau dua kuntum gitu lhoo. Mosok segambreng dengan bentuk kurang pas di hati. Itu bouquet, Ahhh, gak sukaaa! Romantisme yang gagal. Gak sweet ah! Jadi ya memang harus pas sama orang dan kepribadiannya.

Beberapa hari lalu, salah satu teman memasang screen shoot pembicaraanya dengan suaminya di profile picture bbm-nya dengan status so sweet. Saya gak screen shoot ulang di sini ya profile picnya. Tapi kurang lebih percakapannya sebagai berikut:

Isteri: Paaah..
Suami: Iya isteriku...
Isteri: aku lagi di XXX (Mall megah yang lagi happening di wilayah selatan sana) nih . Paah aku mau minta izin niih. Ada sesuatu yang aku pingin beli. Boleh gaak?
Suami: Boleh dung sayaang, apa sih yang gak boleh buat isteriku.
Isteri: Makasih Papah sayang... *muaah

Naah yang ini dikategorikan "so sweet" sama sang isteri. Kayaknya bakalan banyak yang setuju nih para isteri kalau yang kayak tadi tuh manis, pake bangeet :P  Siapa yang setujuuu? 

Yang paling penting ternyata memperbaiki sudut pandang, memperhalus rasa, mempertajam pikir. Akan sangat relatif memang sebuah tindakan dinilai manis atau biasa saja atau malah lebay, karena sangat tergantung pada kepribadian masing-masing. Saya harus juga sedikit mengubah takaran sifat manis dan romantisme dan menyesuaikannya dengan kepribadian suami. Agar saya tetap bisa berbahagia dengan dia seperti adanya. Bukan dia yang tiba-tiba menjadi aneh, yang kemudian justru bikin saya uring-uringan. 

Respect your partner, and be grateful. Believe me... The grass is not always greener on other side as you see.  
The grass is always greener
In the other fellow’s yard.
The little row
We have to hoe,
Oh boy that’s hard.
But if we all could wear
Green glasses now,
It wouldn’t be so hard
To see how green the grass is
In our own back yard.
“The Grass is always Greener in the other Fellow’s Yard” by Raymond B. Egan and Richard A. Whiting (published in 1924). 






33 comments:

  1. Setuju mak. So sweet ato ga tergantung sudut pandang dan kepribadian. Kalo dpt suami yg tukang obral pujian, pas muji y aga sweet lagi xixixi. Tp kalo punya suami yg pendiam, sekalinya ngasih surprise jd berasa sweet bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi emang siiih beneran sejujurnya mah kita perempuan maunya di-sweet-in terus *aleman.
      Yaa sama siapa lg klo bukan sm suami meski mmg ya itu tadi tergantung prinadinya si suami dlm mewujudkan so sweet-nya hahaha

      Delete
    2. apakah aku wanitaa? wkwkwkwkwkwkwkw hati nya terbuat dari besi dan bajaaa

      Delete
  2. Kalo aku mak, suamiku termasuk yang seneng2 aja jaga anak, makanya saya kadang bisa ikutan event sendirian. Pun pas ada acara keluarga Dan saya EO nya, anak saya dipegang full sama suami saya.
    Sodaranya yang lain pada nanya, kok mau sih suami lo jagain anak, sementara lu kesana kemari?!

    Saya jawab, ya maulah, kan anak dia juga.

    Dan yang nanya itu sodaranya saya cowo yg belom nikah.

    Well, saya bersyukur sih suami saya ga keberatan melakukan tugas yang notabene udah di cap sebagai tugas utama wanita.

    Nah, suami mak ophi itu juga menurut saya perhatian. Ya cuma kadang kita suka mikirnya, ah itu kan biasa aja, air putih gitu loh
    Atau, ah itu memang tugasnya. *kelewat nyinyir ya?!
    Ya gitu, kadang kitanya yang nganggap biasa ternyata luar biasa untuk orang lain.

    *berantakan banget ya komen saya? Saya juga bingung sih sebenernya nyusun katanya.

    Setuju sama dikau mak, please do respect your spouse, your lifetime partner

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha thanks sharingnya mak...beneran kita kadang2 perlu yaa ngobrol beginian sesama emak2...
      masing2 punya pengalaman dan sense yang beda2
      menambah sudut pandang juga

      Delete
  3. haha. kayaknya emang tergantung sudut pandang si istri ya, mak. tapi istri biasanya butuh dipahami untuk hal-hal tertentu yang dia suka, kalau soal dikasih air putih itu kayaknya mungkin karena udah biasa ya :D hihi. seru juga ngeliat sudut pandang orang lain terhadap apa yang kita lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan mungkin kita perlu sering2 memakai sudut pandang orang lain yaa
      ya tpi pilih sih sudut pandnagnya klo susut pandang nyinyirer yaa jauh2 deh :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. byuh...bingung mo komen apa takut baper hahaha...

    so sweet lah mbak. udah gitu ajah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw jangan bingung. ayoo pegangan...
      asiiik ada yang baper #eh dislepet

      Delete
  5. Eike mah cucok sama Mom Windi. If he doing unusual thing, and a bit rare. for me that is so sweet. Tapi kalu sudah rutin, mah ya jadi rutinitas. Kagak surprise lagi. Gitu aja!
    Doi juga gitu deh sama akuh, When I am doing unusual thing, he then said "so sweet!"
    Perfect!
    Hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. so lets do unusual things now..but remember! don't repeat it frequently...it seems to be usual things then.

      I think my husband can not say kinda words "so sweet" *huffth lalu nangis di pojokan

      Delete
    2. wakakkakakakakakak suami nyaaa tipe cool berartiii

      Delete
  6. Aku lebih suka suaminku becanda dari pada sok romantis, Mak

    Hahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. naaah becandanya itu kan romantiss, klo kata saya mah suami yg agak2 ngocol itu romantis deh qiqiqiqi

      Delete
  7. Ihhhh so sweet deh, biasanya itu kalo orang luar mak yang mungkin liatin sepasang sejoli di luar rumah. kalo di dalam ruamah biasa aja kayaknya. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...jadi ngeliat tempat juga yaa.
      harus dalam rumah makin romantis dung...*mau-nyaaa

      Delete
  8. sesekali di romantisin so sweet banget... tapi kalo tiap hari romantis juga tetep asik. hahhaha suami mana suami ....

    ReplyDelete
  9. iyup trgantung sudut pandang masing2 sih..
    kalau si ayah ken jg gk so sweet koq mak, yg sweet bgd malah akyu.. *sodorin mak ophi kresek buat muntah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...at leat adalah yang so sweet ya kan? aah aku dah gak mabokan kok, dijamin gak muntah

      Delete
  10. so sweet buat aku itu kalo si abang suami selalu menyebut namaku dalam setiap doanya.. *tsaahhhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. tsaaah prikitieww...
      tpi doanya macem mana dulu sayang?
      doa ikhlash diduakan ogah kan yaa *lalu di slepeet bagi
      just kidding

      Delete
  11. So sweet itu kan komentar orang, dan sebenarnya tidak terlalu penting komentar orang itu. Yg terpenting kita yang menjalaninya dg baik, adem ayem, rukun dan saling peduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap mas!... adem ayem, rukun dan saling peduli sesederhana itu ya, meski tak sederhana utk mewujudkannya. fokus

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.