Thursday, January 7, 2016

Menggapai Keberkahan, Menggapai Keridhoan



Dulu, Saat saya masih berseragam merah putih. Saya sering protes pada Bapak (Alhmarhum). Saat musim masuk sekolah tiba. Rasanya sayalah anak paling ngenes. Hampir semua teman-teman, terutama teman dekat saya, selalu punya koleksi buku tulis baru yang bagus dan unik. Buku tulis (dan beberapa kelengkapan sekolah) itu berlogo perusahaan jamu. Sebutlah Jamu Jago, Air Mancur, Nyonya Meneer dan banyak lagi. Mungkin hanya buku saya yang tidak punya logo perusahaan-perusahaan jamu tersebut.

Lalu mulailah saya kecil melancarkan protes. "Bapak tuh kerja di Jakarta aja kayak Bapaknya temen-temenku. Supaya kalau musim sekolah masuk aku bisa punya buku tulis bagus kayak teman-temanku." Kurang lebih seperti itulah yang sering aku sampaikan terutama saat musim masuk sekolah dan hampir semua teman-teman punya buku berlogo.

Mereka memang mendapatkannya dari ayah mereka atau kakak atau saudara yang kebanyakan berusaha di Jakarta sebagai tukang jamu. Hmm bukan jamu gendong. Tapi Jamu mangkal. Yang sekarang jumlahnya makin berkurang. Sekarang saya jarang melihat pedagang jamu seperti ini. Dulu pada masa jayanya, mereka ada yang berjualan sebagai kaki lima namun ada pula yang sudha punya kios. Menawarkan seduhan berbagai jenis jamu produksi pabrik ternama, lengkap dengan telor, madu atau anggur. Sebagian besar pemuda dan para pria di kampung saya hijrah ke Jakarta untuk mencari rezeki di usaha ini.

Bapak saya hanya tersenyum. "Bener kamu pingin Bapak dagang jamu?" "Iya, supaya bisa dapet buku, tas, pulpen, banyak deh." Trus kalau bapaknya si A atau si B pulang dari Jakarta mereka membawa banyak oleh-oleh. Kerja di Jakarta kelihatannya keren di mata saya. Pulang ke kampung membawa ini itu seperti sebuah prestise. Teman-teman (kecil) saya kelihatannya bangga. Pasti uang mereka banyak, begitu pikir saya.

Uang Bapak tidak banyak. Bapak mengajar pelajaran agama di sekolah swasta milik sebuah yayasan dan pesantren, tak jauh dari kampung kami. Bapak masih bagian dari keluarga besar yayasan dan pesantren tersebut dan pada masanya cukup dituakan. Sepulang mengajar, seharian penuh bahkan sampai malam (bisa sampai jam 9- 10 malam) mengajar mengaji di rumah. Selain penduduk setempat, yang biasa disebut santri kalong. Karena meski mengaji di lingkungan pesantren kami namun tidak tinggal di asrama yang disediakan.  Ada banyak santri dari berbagai kota yang tinggal di Asrama dan mengaji pada Bapak.Selain pesantren, yayasan pendidikan di rumah yang dipelopori Bapak dan para teman seperjuangannya ini juga menyediakan pendidikan Madrasah ibtidaiyah, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Menengah Atas.

Yayasan pendidikan di kampung yang menyelenggarakan pendidikan dengan dana dari swadaya donatur dan masyarakat merupakan tempat berjihad Bapak dan para rekan seperjuangannya membangun pendidikan di masyarakat. Gaji atau lebih tepatnya honor yang diterima Bapak dari sekolah di desa sebelah, sangat kecil. Saat itu saya meyakininya sebagai sangat kecil. Lebih sering Bapak kasbon. Sehingga tanda terima gajinya hampir tak pernah utuh, sejumlah gaji yang harus diterimanya. Mengajar di rumah? tentu tak ada yang menggaji. Sependek pengetahuan saya, bahkan semua santri tidak dipungut bayaran kecuali uang listrik dan makan yang mereka kelola sendiri.

Lalu dari mana Bapak bisa menyekolahkan semua anaknya sampai ke bangku perguruan tinggi? Mimi (Ibu saya) adalah sosok penggerak dan penopang ekonomi keluarga. Mimi berdagang, mengelola sawah, balong (kolam), kebon. Cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga Sarjana, Magister, Bahkan Doktor? Secara hitungan matematika rasanya tidak cukup. Saya yakin tidak cukup. Saya anak ke 6. Saat musim libur kuliah selesai dan kakak-kakak saya harus kembali ke Jakarta dan Bandung di mana mereka kuliah. Selalu terjadi "keributan" kecil.

Biasanya kakak-kakak saya, rusuh soal uang bekal dan uang semesteran mereka kembali ke kampus. Lalu biasanya, balong (kolam ikan) bakal dibedah. Mimi segera menjual ikan di kolam. Gabah di pojokan dapur segera keluar dari dapur. Tentu dijual. Plus pastinya tabungan dari hasil Mimi berdagang. Cukup? entahlah tapi kami semua selesai kuliah, setidaknya sampai sarjana. Kalau mau kuliah lagi S2- S3 atau apapun, silahkan saja. bapak tidak menghalangi, hanya mendoakan. Tapi cari biaya sendiri. Bapak cuma sanggup menyekolahkan sampai S-1.

Sering melihat kondisi dan drama seperti itu tidak menyurutkan langkah saya untuk bisa kuliah. Sejak S-1 sudah rajin berburu beasiswa, mengajar privat, berjualan, apa saja yang penting halal. Gengsi, capek? Ahh saya malu semalu-malunya membesarkan gengsi jika mengingat perjuangan Mimi dan Bapak.  Saya dan adik saya yang sempat merantau beraama di Jakarta sebagai mahasiswa memiliki pandangan yang serupa. Tak mau menyusahkan Bapak dan Mimi. Kiriman seadanya dan semampunya mereka. Ada alhamdulillah, gak ada, kami terbiasa untuk berjuang. Ada banyak cara bertahan sambil kuliah. Meski dulu tawaran beasiswa di kampus tidak sebanyak saat ini. Kami juga memilih berprestasi supaya bisa tinggal di Asrama Putri karena gratis selain mengejar beasiswa. 

Setelah waktu berjalan, saya kemudian menyadari. Mengapa jika dalam hitungan matematika uang gaji bapak yang sering minus karena kasbon dan uang hasil jerih payah Mimi tidak akan mencukupi kehidupan dan pendidikan kami, namun ternyata kami bisa melaluinya. Jawabannya ternyata BERKAH. Keberkahan dari apa yang sudah Bapak berikan kepada orang lain, kepada masyarakat, kepada anak didik, yang tak berwujud rupiah atau materi.

Banyak murid dan santri yang dulu diajarnya sudah menjadi orang berguna. Ada yang menjadi guru, dosen, hakim, pengusaha, wiraswastawan sukses atau bahkan menjadi penggagas perubahan di lingkungannya masing-masing. Itu suatu keberkahan kata Bapak. Keberkahan lainnya, dengan membukakan pintu ilmu bagi orang lain semoga anak-anak Bapak dimudahkan mendapatkan ilmu. InsyaAllah Allah yang bantu bukakan jalannya meski Bapak gak punya cukup materi untuk menopang kalian. Kurang lebih seperti itulah yang Bapak ajarkan pada kami.

Sekarang... Sudah 14 tahun Bapak pergi meninggalkan kami. Allahumaghfirlahu warhamhu waáfihi wa'fu anhu. Saya masih berjuang menjalani kuliah S-2 saya saat itu. Kakak-kakak sayapun baru memulai kehidupan rumah tangganya masing-masing. Mereka masih merangkak. Kami belum banyak memberikan kebanggaan dan kesenangan pada Bapak. Bapak pergi di saat yang paling indah baginya. Sepertinya Bapak sudah merasa tenang meninggalkan kami. Kami harus melanjutkan perjuangan dan cita-cita. Plus kami ketitipan adik saya yang paling bungsu. Amanah terbesar buat kami.

Sekarang, saya sudah bekerja, berkeluarga, punya tiga orang anak. Saat pulang ke kampung membawa kendaraan. Sebagian besar menyebut kami sukses hidup di Jakarta. Alhamdulillah...saya lalu teringat pada cara pandang saya tentang kesuksesan dari bapak teman-teman saya yang berdagang jamu di Jakarta saat saya kecil dulu. Hmm kesuksesan materiil?

Kakak saya yang pertama (perempuan) merantau, berkeluarga, dan berkarir di Bandung. Saya dan adik saya (perempuan) merantau, berkeluarga, dan berkarir di Jakarta. Keempat kakak laki-laki saya semua tinggal di kampung halaman. Berkeluarga, berkarya, berkarir dan membangun di kampung. Meneruskan perjuangan yang telah dijalankan sepenuh hati dan pengabdian oleh Bapak saya.

Beberapa waktu lalu, saya curhat pada Ayah Trio Krucils. "Ayah, inget gak cerita aku soal dulu waktu kecil aku protes sama almarhum Bapak dan meminta beliau jualan jamu di Jakarta." "Iya, masih ingat". Ayah Trio krucils tidak pernah menganal Bapak secara langsung, tapi saya sering banget menceritakan beliau padanya. "Hmm sekarang mungkin sebagian kerabat berpikir dan memandang aku seperti aku memandang bapak teman-temanku dulu. Sukses jadi orang Jakarta. Padahal mereka tidak tahu bagaiman perjuanganku yah. Setiap hari pulang pergi berdesakan di commuter line, rapat sampai malam-malam, ... dimarah-marahin sama para yang terhormat itu dan seterusnya..."(lebih banyak semacam daftar keluhan). "Lalu?" Ayah menjawab singkat dan datar.

"Padahal lebih enak mereka yah, jauh dari stress! Mungkin secara materi tampak tidak seberapa. Tapi lihat deh, mereka bisa membangun rumah dengan mudah di kampung, saya harus nyicil 15 tahun buat punya rumah. Besarnyapun tak seberapa. Merekahidup nyaman, santai, tidak grasa grusu." "Pun... mereka kan tengah mengumpulkan keberkahan yah. Aku yah, pergi pagi pulang malam. Bekerja! untuk apa coba??" Ada yang menggenang di sudut mata." Aku juga mau yah, Ngalah berkah (menggapai keberkahan) seperti Bapak dulu." Saya merasa memang nada bicara saya penuh emosi *pfuihhh

"Hmm, terus?" jawabnya singkat. "Iya, kemarin waktu liburan di Cirebon (kampung saya), Anak-anak bilang. Ibu kerjanya kayak Wawa aja (salah satu kakak ipar saya), ngajar TK. Pulangnya jam 11. Habis itu bisa main-main sama kita". "Tuh, apa aku balik kampung aja yah, ngajar gitu di sana." Di Jakarta, kerja capek, stress, rusuh, banyak kepentingan, kena marah,... (daftar keluhan berikutnya). "Mencari dunia gak ada cukupnya yah, mendingan menabung buat akhirat, mengabdi sama masyarakat, bla bla bla..."

"Hmm terus kamu kerja selama ini niatnya apa?". "Kerjanya buat apa?" Duuh, kok jadi makjleb! "Kerja di mana saja hakikatnya sama, selalu ada tantangannya. Tantangan dari luar, juga dari dalam diri." Kamu juga bukan tidak peduli dengan perkembangan pendidikan di kampung kan?, kamu kan juga berkontribusi dalam bentuk yang berbeda meski tidak secara langsung." Itu hanya soal pilihan. "Di sini atau di sana, tetapi semua tergantung niatnya bu!" 

Saya bicara banyak (seperti biasanya). Suami saya menimpali tak banyak (seperti biasanya). Tapi kemudian saya langsung terdiam. Duuh benar sekali, ternyata kuncinya Niat. Berada di ladang yang terlihat penuh keberkahan, mungkin saja tak melahirkan keberkahan ketika niatnya sudah tidak lurus lagi. Di ladang amal dan ladang kerja (sebagai bentuk ibadah) manapun, tentu dapat mendatangkan keberkahan ketika niat ibadah terjaga, karena Allah. Semua karena Allah saja, keridhoan Allah yang paling utama. Apalagi kalau hasilnya juga disalurkan untuk ibadah sosial.

Menjaga niat, seperti sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar Al-Ghiffari ra. :

“Wahai Abu Dzar, Perbaruilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;

Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi dan;
Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Zat Yang Maha Melihat.”

Lalu saya terkenang pada sebuah percakapan saya dengan almarhum Bapak yang hingga hari ini jelas terekam di ingatan. Saat sedang tadarus atau saat membacakan ayat terakhir surat Al Bayyinah, Bapak selalu berhenti sesaat. Tercenung, seperti ada yang tersekat di tenggorokannya, seperti sesak yang ingin dikeluarkan lalu matanya berkaca-kaca. 

Surat Al-Bayyinah Ayat 8

"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya."

Suatu kali akhirnya beliau bercerita: "Doa Bapak siang dan malam satu aja, semoga Allah meridhoi Bapak. Keridhoan Allah saja yang mampu menyelamatkan hidup Bapak di alam kekal. Bapak selalu merasa takut dan khawatir jikalau Allah tidak ridho." lalu setitik air menetes dari sudut matanya. Betapa Bapak sangat berharap akan keridhoan Allah. "Ya Allah semoga Engkau meridhoinya... " keberkahan yang kami rasakan bahkan meski beliau sudah tidak ada, pastinya atas keridhoanNya semata.



Setiap hari atau bahkan setiap hendak melakukan kegiatan apapun, saya berusaha untuk mengembalikan diri dalam kondisi sadar penuh dan hadir utuh dengan niat yang lurus. Sebagian beban dan tantangan rasanya teratasi dengan meluruskan niat di awal berkegiatan. Bismillahi tawakkaltu ala Allah. Laa Haula wa laa Quwwata Illa Billah. 


34 comments:

  1. Smoga allah lapangkan kubur mba opi, apapun yg kita kerjakan kmbali membenshi niat ya, keberkahan setiap yg kita kerjakan jg membawa bhagia jika terus melihat daftar keluhan tak ada hbisnya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya rabb
      iya mba daftar keluhan membuat hati kita tertutup rasa syukur

      Delete
  2. merinding bacanya mbak...
    jadi ingat waktu saya kecil, ga sama sih tapi hampir mirip
    ya gitu deh

    intinya, apa pun yang kita dapat harus disyukuri
    kadang suka ngenes kalo liat anak zaman sekarang -ga semua- yang suka ngeremehin pemberian Orangtua, terus dipake buat foya2 *aiiih, kurang asem banget yang begini nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mas...
      bagaimanapun sy bersyukur mengalami mas berjuang
      kadang gemes klo ada remaja yang mentalnya memble
      PR banget buat didik anak2 niih

      Delete
  3. keren dikau mbak pas kuliah sudah mencari pendapatan sendiri, aku dulu cuma berburu beasiswa aja gak sampe berdagang or ngajar, alhamdulillah selalu ada jalan yg baik untuk orang2 dengan niat yg baik pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaAllah selalu ada jalan selam kita percaya

      Delete
  4. Semua karena berkah. :) Aku selalu berdoa agar dimudahkan rezeki dan dibikin berkah. Apa pun itu.

    Terlihat kecil memang ketika suami memberi 1-1,5 juta per bulan untuk semua biaya dan kebutuhan hidup. Bahkan tak jarang menganggur sampai berbulan-bulan. Tapi rezeki lain diberikan Allah lewat saya. Job review dan penerbitan, tanpa meninggalkan anak dan keluarga.

    Aahhh hidup ini penuh misteri jika ngomongin berkah. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin meski terlihat sedikit insyAllah jika berkah banyak hasilnya mba..cukup dan berkah

      Delete
  5. Soal kerja di kampung, pertimbangan saya sih karena ngerasa sendiri di jakarta. Kalau di kampung ada keluarga jadi aman aja rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu soal pilihan yang ternyata amsing2 ada konsekuensinya yaa..
      akembali lagi di manapuns emoga niat kita lurus dan mendatangkan keberkahan

      Delete
  6. betul mba, semuanya harus dengan niat biar gak sia2 apa yg kita lakukan *kata ustazah

    ReplyDelete
  7. Aku juga pernah gitu mbak. Sekolah di SD swasta itu makan hati! Ketika temen-temen tajir pada pamer barang-barangnya yang wow mahalnya, aku cuma bisa nelen ludah sambil berdoa semoga dilancarkan rejeki orangtua ku. Maklum, 5 bersodara, nggak bisa seenak udel minta-minta :DD

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin doa yang banyaka spy rzeki orang tua berkah. insyAllah klo berkah jadi cukup

      Delete
  8. Susah yang kita alami dahulu menjadi motivasi buat kita dan anak-anak kita sekarang,

    ReplyDelete
  9. Susah yang kita alami dahulu menjadi motivasi buat kita dan anak-anak kita sekarang,

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..
      sering jadi cerita dan motivasi buata nak2 nih
      krn yg mrk rasakan n alami beda kadang mentalitasnya juga beda

      Delete
  10. betul sekali, kalo kata ustad akmalu bin niat *bener gak nih*.

    ReplyDelete
  11. mak ophiiiiii..
    iyak itu namanya berkah, kedua org tua dikau mak berhasil memberikan bekal pendidikan kpd anak2nya mskipun dg pghsiln yg lbh sering minusnya..
    smoga almrhm bapak dilapangkan kuburnya dan diterima segala amal baiknya amin

    ReplyDelete
  12. Suami kamu kalem gitu ya, ini apa semua cowok tuh pasti kalem gitu ya :D

    Galau, Ophi? :D Sama saya juga suka ngalamin hal yang sama. Padahal saya gak kerja kantoran, tapi saya kerja di dua tempat (kantor) yg kerjaannya bisa dikirim dari rumah. Yang penting internet nyambung. Kerjanya gimana? sama kayak orang ngantor! Bedanya, saya gak terbatas ruang. Saya harus pinter bagi waktu biar masih bisa jalan2. Capek pisan cah! Rumput tetangga selalu lebih hijau tapi belon tentu kita nyaman pas dapetin rumput hijaunya sih yak.

    Bapak kamu pasti bangga sama kamu, Phi. Udah 14 tahun ya. Bapak saya meninggal setahun yg lalu, Ophi. Setahun atau 14 tahun rasa sedihnya masih sama aja... hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Ulu 14 tahun..
      apalagi yg baru 1 tahun yaa

      amiin...
      iya terkadang kaca mata kita yang salah jd selalu rumput tetangga yg lebih hijau
      kurang bersyukur..
      makanya belajar lurusin niat

      Delete
  13. Ups!!! Membaca judulnya saja keren, merinding membacanya mba,,, betul juga, Awali segala sesuatu dengan niat yang tulus inSyAllah semua lancar. Kalau saya ini saya jadikan pedoman di awal segala aktifitas. Semoga barokah!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya rabb...
      Berjuang terus agar niatnya tulus yaa

      Delete
  14. semoga kita sellau diberi keberkahan. aamiin. Terharu dengan perjuangan ayah dan ibu Mbak Ophi

    ReplyDelete
  15. Dalem banget tulisannya. Aku baca pelan2 karena banyak keluarga di kota yang seperti itu, keluar rumah dan menantang hidup dilihat sebagai keberhasilan. Semoga berkah apapun yang kita cari & dapatkan ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya rabb...
      Semoga kelurusan niat bisa kita jaga.
      Bismillah...

      Delete
  16. Jleb...kembali meluruskan niat, segala sesuatunya bukan dilihat dari materi tapi keberkahan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mbaak.
      Yuuk bismillah jalani dg terus meluruskan niat

      Delete
  17. jujur saya baper baca nya :(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.