Tuesday, February 23, 2016

Toapekong Hotel Billiton: Jejak Naga di Pulau Timah


Negeri Laskar Pelangi, selain pantai-pantai berbatu yang indah dan island hopping yang menantang kita juga bakal disuguhi beberapa obyek wisata sejarah dan budaya. Pulau Belitung sebetulnya terdiri dari dua kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, dengan ibu kota Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar. Hmm tapi kali ini saya tidak akan mengajak berwisata sejarah ke seluruh Belitung. Saya mau mengajak mengintip salah satu obyek cagar budaya yang di terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Kompleks Hotel Billiton.


Lhoo kok di hotel? Iya, Hotel Billiton merupakan hotel bintang empat. Salah satu hotel tertua di Pulau Belitung. Bangunannya yang sangat khas terinspirasi dari gaya bangunan Belanda. Merupakan bangunan lama yang menjadi simbol sejarah perpaduan tiga budaya sekaligus. Jejak budaya China dan Belanda berbaur dengan budaya Melayu setempat. Belitung memang mengalami tiga era sejarah dan budaya sebagai pulau penghasil emas hitam yang sekaligus kaya dengan hasil alam merica/lada putih yang dikenal sebagai sahang. 


Posisi di mana hotel ini dibangun merupakan wilayah strategis yang jika kita kembali ke abad 18 merupakan pusat kota di mana para keturunan China melakukan ibadahnya di komplek tempat ibadah mereka. Toapekong merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Toapekong sebagai gambar (patung) dewa yang dipuja dalam kelenteng dan kelenteng itu sendiri.

Kabarnya pedagang-pedagang China masuk ke Pulau Belitung sekitar tahun 1293.  Jejak pecinan atau para keturunan Tionghoa ini kemudian tetap dilestarikan dan dijaga meskipun kemudian kompleks ini berubah fungsi dan peruntukan. Nampaknya itukah mengapa ketika di kawasan pusat kota ini dibangun Hotel Billiton, warisan sejarah dan budaya para keturunan China ini tetap dijaga dan menjadi aset nasional sebagai benda dan bangunan cagar budaya. Pun menjadi salah satu ciri khas dan daya tarik tersendiri bagi pengunjung hotel.


Siang itu selepas mendarat mulus di Bandar Udara H.A.S Hanadjdjoedin Tanjung Pandan. Kami langsung meluncur menuju Hotel Billiton. Mengingat belum waktunya check in, selepas mengurus administrasi kami diajak berkeliling hotel. Suasana khas dengan arsitektur dan berbagai ornamen vintage akan menyambut kita begitu masuk lobby hotel.

Kami kemudian diajak ke sebuah ruang lebar tinggi serupa hall atau ruang pertemuan yang ada di sisi kanan lobby. Yang menarik di bagian tengah hall tersebut tampak sebuah ruang yang mencolok dengan ornamen khas Tiongkok dan dominasi warna merah. 

Kami kemudian mengeksplore sebuah ruang yang berada di tengah depan hall tersebut. Pintu kayu dengan ornamen khas dan simetris di kanan dan kiri dengan hiasan berbentuk gambar binatang. Pintu kayu sendiri tidak berdaun sehingga membingkai ruangan yang sangat kental dengan nuansa Tionghoa tersebut.

"Nah ini bu, ruangan ini dulunya merupakan bagian dari rumah ibadah masyarakat Tionghoa. Toapekong ini tidak dibongkar dan bahkan dikonservasi sebagai objek cagar budaya." Toapekong yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini kabarnya dahulu merupakan bagian dari rumah yang seorang Kapten China. Semula merupakan rumah abu atau tempat untuk memuja para leluhur keluarga Ho. 

Kapten Ho A Jun adalah Kapten China pertama dan terlama di Belitung (1852-1895). Ia mendirikan rumah di wilayah kampung Cina dengan pilar-pilar kokoh dan Toapekong besar di dalamnya. Setelah tak menjabat rumah tersebut kemudian menjadi gedung societiet, hmmm mungkin semacam rumah gaul yaa. Rumah tempat para pejabat Belanda dan elit Cina bergaul dan bersenang-senang. Rumah Kapten Ho ini kemudian tinggal tersisa pilar-pilarnya dan disisakan ruang Toapekong yang kemudian dikenal sebagai Toapekong Kapten Cina. 

Aroma dupa masih bisa kami cium ketika mencoba menjejak kaki ke bagian dalam ruangan. Bagian tengah ruangan terdapat sebuah altar dengan sebuah patung di atasnya. Namun sempat saya melihat ada juga patung di bawahnya. Ada lilin yang bersinar redup dan hiolo yang masih menyisakan aroma dupa. Di dinding bagian tengah altar dihiasi foto dan lukisan serta patung yang disemarakkan ornemen khas lainnya. Sebelah kanan altar terdapat tambur kecil dan lonceng ibadah. Ada juga lemari kayu antik dan kursi merah yang dipasang berjejer. Di bagian tengah altar ada meja besar dengan hiolo dan lilin-lilin. 


Yang tak kalah menarik adalah ornamen yang menghias bagian atas altar. Terdiri dari enam baris bertingkat dengan berbagai ukuran berbentuk persegi panjang baik vertikal maupun horizomntal. Ornamen yang tampaknya dari kayu ini bergambar relief berbagai binatang. Dibuat sangat detail dan halus. Jika kita ingin melihat lebih detail akan terlihat relief burung hong, naga, kijang, kura-kura, udang, kepiting, tikus, burung bangau dan banyak lagi. Unik sekali, namun sayangnya saya sendiri tidak bisa mengetahui apa makna dari setiap relief tersebut.

Beruntung kami memilih Hotel ini dan bisa menyaksikan jejak naga di pulau timah. Sebuah sumber menyebutkan bahwa di akhir kejayaan Kerajaan Sriwijaya, ada sebuah kapal rombongan tentara China yang terdampar di Belitung karena dihantam badai. Rombongan tersebut sebetulnya hendak menyerang Kerajaan Singasari di Jawa Timur. Namun pada abad ke - 18 dibawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho, tentara China juga pernah singgah di Belitung. 



China masuk ke kepualuan Bangka Belitung karena ada daya tarik timah. Mereka kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat dan juga pendatang dari Belanda. Akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat Melayu setempat ternyata berlangsung cukup baik.  Bahkan banyak kaum lelaki Tionghoa ini yang kemudian menikah dengan perempuan setempat. Kini, Tionghoa dan budayanya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan perkembangan Belitung. .

48 comments:

  1. ya ampun cantik :D makasih infonya :D

    ReplyDelete
  2. kerenlah ini, didoakan lolos mbak ophi, lengkap ceritanya sampe sejarahnya gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih jeng..sayangnya blom beruntung

      Delete
  3. keren! bahkan nginep di hotel pun bisa sekaligus wisata sejarah ya, patut untuk disinggahi.

    good luck untuk kompetisinya!

    http://petitecovered.blogspot.com/

    ReplyDelete
  4. hotelnya unik ya, nuansa chinanya kental :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo hotelnya sexara keseluruhan lbh bernuansa vintage n belanda sih...tp mmg taopekongnya yg bikin tiongkok bgt

      Delete
  5. ornamennya khas tiongkok banget ya, mba.

    ReplyDelete
  6. sukses mba ophi hihihi...
    ornamennya cantik, tapi aku gtw knp kl liat atau masuk ke gedung atau ruangan yg ornamennya gini agak mrinding disko gimanaaa gitu hahaha...

    ReplyDelete
  7. ornamen yg ruit dibuatnya kayanya ya mbak tapi bagus sebagai hiasan

    ReplyDelete
  8. Pengen ke BelitungBelitung jadinya Mak. Katanya indah banget yaaa...

    Good luck ya Mak dengan competition y...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget... Sy juga pingin balik lagi niih

      Delete
  9. Waaah, hotel bersejarah ... kalo malam , suasananya gimana, Mak? Merinding, nggak?

    Oya, utk tanggapan komen di blog saya ... ayo, nulis saja, DLnya besok, koq. Keburu. Nulis pengalaman kan gak lama ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha klo di kamar sih gak berasa. Tp pas di aula n taopekongnya mmg berasa spooky

      Delete
  10. Keren ya bisa ke tempat2 bersejarah gini. Bisa nambah imajinasi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo kmak leyla bisa dibikin novel nih kayaknya

      Delete
  11. Oohh.. tulisan tapekong itu gt ya.. aq knal tapekong dr kecil mak.. kirain bhs batak..eh trnyt bukan ya :)

    ReplyDelete
  12. Terima kasih sudah berpartisipasi, good luck yaaa

    ReplyDelete
  13. Wah hotelnya unik bener mak :) jarang2 ada hotel yang nuansanya kayak gitu.
    Hitung2 nginep sambil wisata sejarah yaa..

    ReplyDelete
  14. Dan baru tahu Mba kalau ada salah satu hotel dengan ornamen tiongkok yang kental :D

    ReplyDelete
  15. Aku belum pernah nyaksiin langsung isi rumah ibadat org china...jadi penasaran

    ReplyDelete
  16. Waah unik banget ya Mbak hotelnya. Beruntung banget ya pernah nginep di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang mba masuk cagar budaya lhoo

      Delete
  17. duh aku suka banget dg ornamen cina, meriah

    ReplyDelete
  18. keren banget
    ttg laskar pelangi, jadi inget tokoh Ling Ling yang ditaksir Ikal
    salam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini mungkin leluhurnya ling ling mas

      Delete
    2. Iya ini mungkin leluhurnya ling ling mas

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  19. keren ya tempatnya, jadi pengen ke sana juga :)

    ReplyDelete
  20. warnanya itu loh yang bikin cerah mata, tapi baunya itu loh hehe bikin pusing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya baunya khas dan agak berat di hidung mba

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.