Friday, April 22, 2016

Penangkaran Buaya Asam Kumbang Medan


Weww ternyata banyak buaya di Kota Medan. Buaya beneran lhoo, puluhan bahkan kabarnya ribuan dengan berbagai ukuran. Hahay, jalan-jalan kali ini memang agak beda nih. Maklum partnernya pecinta reptil dan pemilik buaya pulak. Yusuf Sihite yang biasa saya panggil Ucup ini memang "mantan anak Medan" pecinta buaya. Elo sejenis buaya juga gak sih? :P Rupanya rasa kangennya yang mendorongnya mengajak kami ikut melihat makhluk-makhluk berdarah dingin yang dia bilang cantik-cantik itu. Baiklah mungkin agak ekstrim, unik, dan tidak biasa tapi buat kamu yang akan atau pernah ke Medan mungkin belum tahu ada wisata unik yang satu ini di Medan.


Yuuuk kita nikmati cantiknya binatang dari famili Crocodylidae, termasuk dalam ordo Crocodilia, kelas Reptilia, filum Chordata, dan berada di kerajaan / kindom Animalia ini.  Kami harus nyasar dulu ke sebuah komplek perumahan mewah sampai akhirnya petunjuk waze mengarahkan kami ke jalan buntu. Ups..gak mungkin deh ada penangkaran buaya di dalam komplek perumahan. Setelah agak berputar-putar karena rupanya Ucup sudah lupa dengan arah jalan menuju ke sana, kami memutuskan bertanya. Jadi terkadang bertanya pada orang lebih solutif dari pada pada aplikasi canggih sekalipun.

Mengikuti arahan dari orang yang kami tanya, sampailah kami ke sebuah gang dengan gerbang yang dihiasi patung buaya. Jadi alamat Penangkaran Buaya ini lengkapnya adalah Jl.Bunga Raya II No. 59  Sunggal , Kecamatan Medan Selayang  Kota Medan, Sumatera Utara. Ternyata lokasinya cukup strategis dan mudah dicapai. Dari gerbang di depan gang kita masuk sekitar 200 meter. 

Kembali akan kita temukan tanda "buaya"untuk memastikan kita tidak salah alamat. Gerbang Taman Penangkaran Buaya di lokasi sendiri tampak tidak terawat. Saya merasa tidak yakin. Terlebih ketika teman saya membeli tiket masuk seharga Rp10,000 per orang di bagian depan rumah yang lebih mirip dengan warung. Lalu kami harus masuk melalui pintu samping dari warung tersebut menuju ke dalam.


Jujur saya agak bingung. Mendapati adanya prasasati di bagian depan tempat membeli tiket tadi. Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa Penangkaran Buaya Asam Kumbang ini dimulai sejak tahun 1959 dan didirikan oleh Lo Than Mok dengan luas sekitar 2 hektar. Pada bagian bawah prasasti ini tertulis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan. Tapi kenapa tempat ini lebih mirip seperti rumah pribadi daripada layaknya  tempat wisata. 

Kebingungan saya mendapat setitik pencerahan. Ucup menuturkan bahwa dulu sejarahnya, Lo Than Mok yang merupakan Chinese Hokian ini menemukan sepasang buaya kecil di sungai Deli Serdang. Saat itu sungainya masih bening, tak seperti sekarang. Nah kemudain sepasang buaya itu dibawa ke rumah dan dipelihara hingga akhirnya berkembang ribuan. Tidak ada pernah pemerintah daerah atau dinas secara khusus. Tampaknya pengelolaan tempat penangkaran buaya ini dikelola secara swadaya oleh keluarga Lo Than Mok. Padahal tentu tidaklah murah dan mudah mengelola tempat seluas ini dengan ribuan buaya yang nota bene makhluk hidup yang harus dirawat dan diberi makan. 


Memasuki lokasi tepat di samping rumah, saya agak kaget karena beberapa kotak serupa kolam dengan air yang dangkal tampak dipenuhi belasan mungkin puluhan buaya berbagai ukuran. Mereka tampak tengah tertidur, menumpuk satu sama lain beberapa terlihat terluka dan menyisakan darah. Rupanya mereka suka "bercanda"dengan sesama mereka. Kolam-kolam dengantembok setinggi kurang dari satu meter itu diberi pagar ebsi pada bagian atasnya. Hahay kebayang seramnya kalau tidak diberi pagar besi, sang buaya bisa melompat saat melihat kita dan dia kelaparan.


Yang menarik ada satu kolam yang hanya berisi satu ekor buaya. Ukurannya sangat besar, rasanya sekitar 3 meter. Usianya sekitar 45 tahun. Waaw, mungkin dia yang paling tua. Sayangnya tidak ada guide dari pengelola. Untung Ucup yang menjadi guide pengganti bagi kami. Dulu kabarnya bahkan ada yang sampai berumur 60 tahun. Luar biasa yaa.

Itu saja kah? tentu tidak rasa kaget bercampur kagum menyergap ketika di bagian kanan kolam-kolam tadi terbentang semacam danau atau rawa yang sedemikian luas. Tampak permukaannya berwarna hijau penuh dengan tamanam mengambang semacam lumut. Danau atau rawa tersebut terlihat tenang. Namun dipagari cukup tinggi. Banyak pengunjung yang menatap dengan seksama ke arah danau. Upss...rupaya di dalam danau itulauh puluhan atau ribuan buaya dengan ukuran-ukuran super besar tengah berendam dengan tenang.

Perlu diamati secara cermat karena pekatnya tanaman air yang memenuhi rawa membuat kita tak bisa melihat buaya dengan jelas. "Awww...!" tiba-tiba terdengar suara perempuan menjerit. Rupaya dia kaget karena dari dalam danau yang tenang tiba-tiba muncul buaya besar. Hahahaha... saya pun mulai mengamati rupanya mereka si reptil yang "malas bergerak" ini memang hanya bergerak di saat-saat tertentu. Para pengunjung yang tampak serius kiranya menunggu gerakan para buaya yang biasanya sangat cepat dan tak terduga. 

Ada banyak burung kuntul putih yang hinggap dan bermain di dekat danau di antara tangkai pepohonan yang menjulur rendah ke arah danau. Ya ampun mereka menggoda buaya ya?. Kok mereka berani? Saya jujur deg-deg an melihat mereka asik membersihkan sayap atau bercengkarama padahal ada sepasang atau beberapa pasang mata tajam tengah mengintai dari dalam air yang berwana hijau tadi. Karena pemandangan eksotis yang ditunggu pengunjung antara lain ternyata saat ada buaya yang tiba-tiba muncul dari dalam danau dan menyergap burung tersebut. Selain itu ketika tiba-tiba sepasang buaya berbadan panjang dan lebar itu saling menyerang memecah kesunyian dan sesaat kemudian tenang kembali.

Selain buaya ada beberapa binatang lain seperti ular, kura-kura, dan monyet. Kabarnya dulu ada atraksi dan berfoto bersama buaya juga di tempat ini. Kita juga boleh membeli itik untuk dijadikan santapan buaya di tempat tersebut. Woow saya membayangkan suasana riuh sekaligus ngeri saat itik-itik tersebut dilemparkan ke dalam danau. 

Saya melihat potensi yang luar biasa di tempat ini. Sayangnya semua dikelola apa adanya. Padahal ada ribuan buaya dan mereka bisa jadi jenis buaya yang jika tidak dilestarikan mungkin akan punah. Mengelola tempat semacam ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan mengandalkan tiket masuk pengunjung saja rasanya sulit mengembangkan tempat ini menjadi lebih baik. "Ïya mba, mereka kesulitan dari sisi biaya. Buaya-buaya ini kan harus dikasih makan mbak.." kabarnya bahkan saat ada buaya yang mati entah karena apa, dagingnya justru diumpankan untuk teman-temannya. 

Mungkin perlu ada perhatian khusus dari pihak yang berwenang untuk membantu pengelolaan tempat ini. sayang sekali kalau sampai harus tutup atau bangkrut.

65 comments:

  1. Di daerah kebumen juga ada penangkaran ular yang dikelola secara swadaya. Berharap pemerintah setempat turut andil mengelola. Sama seperti penangkaran buaya di Medan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..klo dicuekin sayang aja klo smp bubar jalan

      Delete
  2. uwooo...jadi deg degan mbak itu lihat pada tumpuk-tumpukan. berasa nonton nat geo tv haha..

    sayang ya kalo sampe tutup. semoga ah semoga tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga enggak..klo smp tutup gimana nasib ribuan buaya ituu? ga kebayang

      Delete
  3. Di tempatku ada juga penangkaran buaya tetapi dikelola secara pribadi dan gak tau tuh ada ijinnya apa enggak..

    ReplyDelete
  4. Waaaah jadi penasaran tapi ngeri juga liat buaya segitu banyak..sayang juga ya klo ga di kelola dengan baik..

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. iya mba...diam2 mengahnyutkan danaunnya

      Delete
  6. melihat begitu banyaknya buaya di penagkaran asam kumbang ini , kota Medan menjadi semakin mendunia dan disukai khususnya oleh para pencinta binatang buaya...serem ih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...seram tp membuat medan jd tenar ya mas

      Delete
  7. Dulu sempat ada buaya sinyulong (tomistoma shcalgelli) berusia 60 tahunan. Buaya jenis ini tergolong langka, dengan karakteristik moncong mencuat panjang seperti galah mirip seperti sepupunya dri ordo gavial (gavialis gangeticus) di india. Sayang penangkarannya kurang maksimal,jdi mngkin hanya tinggal bbrp ekor di bak khusus brhubung mrk tak bisa digabung dgn buaya lainnya yg ada dikolam maupun penangkaran krn dri jenis ordo berbeda (buaya terganas dan terbesar) atau buaya muara (crocodylus porosus). Perlu perhatian khusus semua pihak utk buaya jenis sinyulong yg langka dan tak berbahaya ini krn statusnya yg apendix 1. Ckckck

    ReplyDelete
  8. Dulu sempat ada buaya sinyulong (tomistoma shcalgelli) berusia 60 tahunan. Buaya jenis ini tergolong langka, dengan karakteristik moncong mencuat panjang seperti galah mirip seperti sepupunya dri ordo gavial (gavialis gangeticus) di india. Sayang penangkarannya kurang maksimal,jdi mngkin hanya tinggal bbrp ekor di bak khusus brhubung mrk tak bisa digabung dgn buaya lainnya yg ada dikolam maupun penangkaran krn dri jenis ordo berbeda (buaya terganas dan terbesar) atau buaya muara (crocodylus porosus). Perlu perhatian khusus semua pihak utk buaya jenis sinyulong yg langka dan tak berbahaya ini krn statusnya yg apendix 1. Ckckck

    ReplyDelete
  9. Oia mbak oph dan kawan2nya, kalau ada yg mau memberikan dwarf croc (osteolomus tetrapis) kpd saya dgn senang hati lho akan merawat hewan cantik nan menggemaskan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wew sy punya kenalan buaya darat mau cup???

      Delete
  10. Wah itu permukaan airnya ketutupan, kebayang kalo tiba tiba "HWAAAH" dari dalemnya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. that happened mba... itu pemandnagan yg ditunggu2 pengunjung

      Delete
  11. sering banget liat ini di tv ... nonton aja deg-degan ya apalagi kalau kesana ya

    ReplyDelete
  12. sungainya penuh misteri...tenang mematikan...sereem...tp penasaran ingin lihat kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini danau atau rawa gitu mba..bukan sungai

      Delete
  13. Dulu aku pernah lihat yang lebih mengenaskan lagi, buaya sudah tidak diurus di taman alam ribang kemambang Kabupaten Lahat dan hidup dia didalam sampah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah kok gitu yaa...padahal di taman alam kan ada pengelolanya

      Delete
  14. harusnya bisa dikelola lebih baik lagi dengan bantuan pemda setempat ya. :|

    ReplyDelete
  15. makk horor kali...
    aku liat buaya wktu di kalimantan aja merinding. padahal jauh n ga jelas. ini mah jelas banget ya. hiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget maak...kalau mau ngitung juga bisa..
      yg lebih horor yg di dalam danau tuuh

      Delete
  16. Horor banget mbak jalan2 ke tempat buaya, apalagi buaya yg di danau, kebayang kalo nggak ada pagar

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo ga ada pagar...kita bs dicaplok mba

      Delete
  17. walopun aku org medan (yg sedang merantau ke jkt tapi ;p), tapi aku baru sekali doang ke penangkaran buaya ini, pas study tour kls 3 smp dahulu kala :D aku sih takut mbak liatnya, krn buaya nya gede2 gitu, dan memang bukan pecinta reptil.. serem ngebayangin kalo sampe itu buaya2 lepas -__- . Tapi memang aku juga bingung ini perawatan semua buayanya gmn yaa... bnyk bener gitu... dan tiket masuk murahnya kebangetan -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget murahnya..sekarang jadi kayak kurang terurus say

      Delete
  18. Ngeri ih, buaya....awas, jangan sampe deket deket....

    ReplyDelete
  19. Banyak banget buaya-buaya nya. Di kebun binatang saja tidak sebanyak ini. Mungkinkah buaya-buaya ini diternakkan untuk keperluan industri kulit, Mbak. Tas atau dompet kulit buaya kan mahal banget:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya enggak mba...mereka ditangkar dan dipelihara gitu aja sih bukan utk industri

      Delete
  20. Nice, pingin rasanya melihat langsung

    ReplyDelete
  21. penangkaran buaya itu biasanya buat diambil kulitnya bukan sih? kalo dagingnya suka dimasak juga kah?

    ReplyDelete
  22. wuiih, rupanya spt ini penangkaran buaya, aku kira penangkaran hanya di kebun2 binatang dan di kampus tertentu

    ReplyDelete
  23. asli keren, tapi gak kebayang kalo ada yang lolos satu :)

    ReplyDelete
  24. gokil serem amat yaa aligatornya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...asli iniiih bukan di pelem

      Delete
  25. dulu saya pernah mau miara buaya, harganya 300rebuan yang msh kecil, namanya buaya muara :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wewww...sekarang masih hidup buayanya?

      Delete
  26. wah tempatnya ngeri banget yah, gak kebayang mungkin anak saya bisa jerit-jerit tuh kalo main kesana, hahaha

    ReplyDelete
  27. airnya jadi hijau gitu ya mbak. Di daerah cikarangjuga ada mbak penangkaran buaya

    ReplyDelete
  28. banyak banget buayanya, serem

    ReplyDelete
  29. Wah serem airnya hijau, kira2 buayanya ada berapa ya mbak tahu ngak mbak ?

    ReplyDelete
  30. serem amat buayanya, kayak di tipi-tipi..

    ReplyDelete
  31. sama di kampunku jga ada dulu yg peliara buaya.. bikin ngeri aja

    ReplyDelete
  32. gokil, itu kalo lepas satu kampung bisa heboh :D

    ReplyDelete
  33. budidaya buaya asam kumbang, budidaya buaya darat ga yaa
    #ehh

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.