Sunday, June 5, 2016

Keajaiban Teknologi dalam Kehidupan Sehari-hari



Gak perlu jauh-jauh sih ya kalau mau melihat apa dampak teknologi bagi kehidupan sehari-hari. Sebagai generasi tahun 80-90-an, banyak "keajaiban" yang saya saksikan akibat perkembangan teknologi bagi kehidupan sehari-hari. Sebelumnya kita pastikan dulu nih, apa sih teknologi?

Ternyata menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Teknologi adalah:
  1. metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan;
  2. keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia;
Nah dari kata teknologi ini ada banyak frasa yang berkembang dan digunakan dan kemudian kita kenal seperti teknologi medis yakni ilmu kedokteran yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk membantu menemukan penyebab penyakit serta membantu pengobatannya. Ada teknologi pendidikan merupakan metode bersistem untuk merencanakan, menggunakan, dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan, baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi antara keduanya, sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif. 

Kalau teknologi tinggi diartikan sebagai teknologi yang dianggap bertaraf tinggi dan belum ada teknologi yang menandingi kelebihannya. Ada yang mau menambahkan? teknologi informasi, teknologi infastruktur, teknologi titik titik. Banyak yaa.

Kembali ke dampak dari kemajuan teknologi nih. Saya mencoba membuat daftar benda yang merupakan hasil "keajaiban" perkembangan teknologi yang sehari-hari saya temukan. Dampak dari perkembangannya beragam dan keterlibatan jenis teknologi terhadap benda tersebut bisa beragam juga. Jadi bukan semata-mata satu jenis bidang teknologi. Riweh ya penjelasannya, cuss aja yuuk ke tiga benda "hasil keajaiban teknologi" berikut ini:

Televisi/TV

TV merupakan hasil kemajuan di beberapa bidang teknologi. Teknologi informatika, komunikasi bahkan teknik mesinnya sendiri. Hmm coba perhatikan, tidak hanya fisik TV yang mengalami "metamorphose" , materi yang disuguhkan oleh media informasi yang satu inipun luar biasa perkembangannya.

Dulu, tiga puluhan tahun lalu. Orang yang memiliki televisi di kampung saya sangat bisa dihitung. Rasanya hampir semua daerah juga seperti ini. Alhamdulillah keluarga kami termasuk yang sedikit memiliki TV di kampung. Jangan tanya bentuknya. Tentu saja belum layar datar dan bisa nemplok di dinding seperti sekarang.  Pesawat televisi ini dimasukkan ke dalam "lemarinya". Lemari televisi dengan empat kaki, yang bagian depannya bisa ditutup buka. Keren kan ya? Kalau yang belum pernah tahu bisa lihat di Museum Angkut di Malang deh *hahaha jauh amat* Jujur, saya tetap suka dan kangen dengan bentuk vintage TV kami dulu.


Serunya dulu acara menonton TV merupakan ajang "gaul". Karena masih jarang yang punya TV, maka anak-anak seumuran tetangga se-RT bahkan sedusun ngumpul bareng menonton TV. Saat tayangan "dunia dalam berita" jam 9 malam hari ajang kumpul tidak hanya para bocah, seluruh anggota keluarga dan tetangga yang berusia dewasa ngumpul sambil ngeteh di rumah. Hmm seru ya.  

Kalau hari Minggu, acara musik yang hanya ada satu di TVRI. Tayangan "album minggu" jadi ajang para remaja desa menghibur diri dan mengkuti trend musik. Oh iya Boneka Si Unyil juga tayang di hari Minggu. Hmm atau acara telenovela dan drama keluarga Little House on the Prairie, merupakan tontonan yang ditunggu rame-rame sepulang sekolah. Kalau film lokalnya ada film-film kocaknya Ateng, Iskak, Mak Wok CS.. Ah siapa yang punya kenangan manis kayak saya?  Meski sederhana ceritanya penuh makna dan tetap terkenang hingga kini.

Sekarang? Bentuk dan tampilan TV makin kece. Saya bahkan tidak paham karena perkembangan sngat pesat dan kekinian. Bentuk, audio, visual, bla bla bla. TV sekarang bukan barang langka. Coba saya absen, ada berapa TV di rumah teman-teman? Jangan-jangan tiap kamar tersedia TV termasuk di kamar ART. TV sekarang tak berkaki, bisa nemplok di dinding. Ada yang lebarnya "sak alaihim", ada yang imut bisa disesuaikan dengan besar ruangan. Bahkan TV bisa dipasang di kendaraan. Gak perlu diputer atau dipencet tombolnya, apalagi diganjel tutup odol saat sudah rusak. Cukup pake remote control, malah bisa pake smartphone lho remote controlnya.

Tayangan yang bisa ditonton di TV? Waah jangan tanya, stasiun TV sudah sedemikian banyak. Tayangannya pun macam-macam. Banyak pilihan, banyak acara, banyak genre. Satu saja sih catatan saya pribadi. Banyaknya jenis tayangan TV merupakan tantangan yang harus diwaspadai semua orang tua. Jangan sampai anak-anak dididik oleh acara TV yang belakangan makin tak karu-karuan. Tayangan TV tidak seluruhnya negatif kok, namun jam-jam siginifikan atau prime time justru banyak diisi tayangan kurang bermanfaat dan tidak sehat. Hati-hati ya Mommies & Dads!

Rating! Sejak tumbuh menjamurnya staisun TV, kata ini menjadi target yang dipuja-puja. Kadangkala digunakan berbagai cara mengejarnya, termasuk mengorbankan "moral, mental, kecerdasan" anak-anak kita yang menontonnya. Apakah kita masih membiarkan mereka menonton sendiri tanpa pendampingan kita atau orang dewasa lainnya. Hmm iya lah di kamar anak-anak disediakan TV sendiri sih. Padahal acara menonton TV masih bisa lho jadi ajang bonding antar anggota keluarga. Pilih tayangan yang sesuai untuk semua umur atau utamakan yang sesuai dengan anak-anak dan punya misi pendidikan. Jangan lupa dampingi mereka. Sambil diajak ngobrol dan curhat-curhatan.


Kompor gas

Nah, ini sih mungkin pandangan pribadi saya ya. Kompor (gas) atau alat memasak merupakan keajaiban teknologi. Dulu dapur di rumah orang tua saya yang biasa kami sebut pawon, menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Kami juga punya kompor minyak tanah. Tugas saya salah satunya menarik sumbu kompor saat mulai memendek. Belakangan baru dikenal kompor gas. Meskipun kompor gas sudah kami gunakan, namun Ibu saya di kampung masih menyisakan tungku pawon kayu bakar yang biasa kami gunakan untuk acara masak yang agak besar.

Saya masih ingat saat masih menggunakan kayu bakar. Setiap masak pasti cemong-cemong dan mata perih karena asap kayu bakar. Pantat alat masak juga tak ada yang bening, hampir dipastikan penuh jelaga. Tugas saya membersihkan alat-alat masak makin berat hiks. 

Makanya saat punya rumah dan dapur sendiri, serasa menikmati peradaban baru. Saya pastinya say No untuk pawon kayu bakar dan kompok minyak tanah. Selain tuntutan keadaan, faktor kepraktisan menjadi alasan utama. Saat kompor dinyalakan tinggal cetrak cetrek tanpa tiup meniup atau bau minyak tanah. Tak ada lagi cerita belepotan jelaga seperti dulu. Selain itu menghemat waktu memasak tentunya. Tapi jujur ada yang saya rindukan. Bau khas dari aroma masakan yang dimasak dengan kayu bakar. Aroma ini tidak bisa ditemukan saat memasak dengan kompor gas.

Telepon / Alat Komunikasi

Naah ini juga sebuah keajaiban teknologi. Duluuu, di kampung saya (bahkan sampai sekarang) jaringan telepon kabel tidak bisa masuk. Hanya beberapa orang yang punya telepon di rumahnya. Tapi untungnya wartel (alias warung telekomunikasi) sudah ada. Selain bisa menelpon keluar kami sering menggunakan nomor telepon wartel untuk menerima telepon dari luar. Terbayang kan? ngantri lagi.

Eh, tapi Bapak saya termasuk yang keren lho. Kami punya pesawat telepon (pribadi) tapi yang dipasang di Masjid dan kantor yayasan dan nyambung ke rumah. Sengaja dipasang karena antara yayasan, Masjid, dan rumah jaraknya tidak terlalu jauh namun tidak di dekat. Gunanya memang mempermudah komunikasi karena jarak yang "nanggung" tersebut.

Zaman awal kuliah, belum berkembang penggunaan telepon seluler atau mobile phone. Saat itu masih ngetrend "pager". "Dit dit - dit dit... pagerku berbunyi..." Sebagai mahasiswa yang hidup prihatin saya gak punya dung pager hahaha. Hanya para seleb kampus yang saat itu saya lihat ber-pager ria. Kalau ada keperluan keluarga, maka saya mencari wartel. Untuk menelpon tujuan dalam kota cukup ke telepon umum dan siapkan koin sebanyak-banyaknya. Jangan lupa siapkan betis karena bakal berdiri lama, mulai dari antri sampai ngobrol keasyikan di telepon.

Baru masa akhir kuliah kemudian booming telepon seluler. Setelah menabung sekian lama akhirnya saya punya no*ia second hahaha. Seneng dan bangganya minta ampun. Fungsinya? sms dan telepon aja.

Sekarang  telepon seluler atau mobile phone saya sudah cerdas (baca smartphone). Fungsinya sudah banyak dan lengkap. Bukan hanya sekedar alat komunikasi, yang dari sekedar sms, chat, telepon hingga video call. Saya bisa ngobrol dengan adek dan keponakan saya di Iowa Amerika sana sambil mereka memperlihatkan suasana musim salju di sana. Saya gak mau kalah dung ngasih lihat Nasi Lengko di rumah. Biasanya mereka jadi kangen pulang kampung, kalau saya jadi mimpi kapan bisa baw anak-anak main salju kayak mereka. Duuh canggihnya telepon zaman sekarang.

Dari handphone, saya juga bisa ngedraf postingan blog, dengerin musik, nonton film, video, youtube-an, main game, menggambar dan editing gambar atau photo, menunjukkan arah jalan, pesan ojek, pesan mobil rental, pesan makanan juga bisa. Bahkan kalau malas ke pasar atau ke mall, bisa banget belanja lewat telepon seluler. Sebuah kebutuhan harian mulai dari groceries sampai fashion bisa dijangkau di ujung jari. Oh iya si telepon pintar saya ini bakal tidak berguna kalau tidak ada jaringan internet. Jadi kecanggihannya di-support oleh kemajuan teknologi komunikasi juga nih. Iyes, Internet.

Internet meski tak berwujud fisik namun merupakan "benda" ajaib yang banyak mengubah kehidupan sehari-hari. Saya yakin kita semua sudah paham bagaimana internet mengubah dunia. Mulai dari hal-hal kecil di mana dengan internet jarak tak lagi menjadi pembatas. Dunia menjadi semakin sempit dan mudah terjangkau. Efisiensi dan efektifitas menjadi kata yang tepat ketika segala aktifitas pekerjaan terbantu oleh teknologi informasi dan komunikasi yang ditunjang dengan penggunaan internet.

Eits tapi tidak sedikit juga dampak negatifnya ketika kita tidak bisa mengelola inovasi teknologi internet ini. Iya bahkan karena keasikan bercengkrama dengan yang jauh di sana melalui ponsel, komunikasi kita dengan yang duduk di sebelah  *baca pasangan* jadi "anyep" Jadi semuanya ternyata berpulang kepada bagaimana kita bisa bijak dan mawas diri menggunakan berbagai benda hasil inovasi teknologi. Fokus pada manfaatnya dan tetap mawas diri dari efek negatifnya bagi kehidupan sehari-hari, terutama kehidupan sosial dengan lingkungan sekitar terutama keluarga. 

Ada yang mau nambahin daftar benda hasil keajaiban teknologi? Yuuk share di kolom komentar.


35 comments:

  1. Mak Oppieeee... Ih, dulu mbah ku punya tipi item putih yang ada kanan kiri gede itu speaker kanan kirinya.

    Sekarang dah jadi barang antik ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. barang antik yang keren yaa...sayangnya punya lam bapakku sekarang enathndi mana gak dirawat

      Delete
  2. Tivi? Saya gak punya, Mbak... hehe... anak gak bisa berhenti nonton kalo ada tivi soalnya..
    Btw, saya dulu juga suka nonton Album Minggu, Dunia Dalam Berita, sampai Si Unyil :D
    Suka ngantri di telpon umum juga... hahaha... ketauan deh kira2 generasi taun berapa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kayaknya kita satu gerenasi nih...*itung uban #Eh

      Delete
  3. Ke depannya akan tambaj keren lagi yak Mbak. Smart home living. Segala sesuatu tinggal pijit. Malah ada layar virtual segala. Duh, bakal gaptek ga yak saya kalo semua udah digital. Termasuk keseharian di rumah dari bangun tidur sampai tidur lagi. Touch screen semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak di film2 hollywood gt ya mba...semua serba virtual. Tp aku kok serem ya ngebayanginnya. Kek menjauh dr sisi human kita hihi

      Delete
  4. Telpon jadul yg buat rumah klo berdering sukak ngagetin hihi
    #jadi flashback

    ReplyDelete
  5. Iya mbaa.. Salah satu efek negatifnya adalah menjauhkan yang dekat ya..
    Tapi balik lagi yaa ke orangnya masing-masing. Yang penting bisa bijak dalam menggunakan teknologi.
    Sukses ya mba, lombanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sangat tergantung orangnya juga. Tp mostly jd ikut tergiring spt itu

      Delete
  6. Xixixu, saya masih serba jaduuul

    ReplyDelete
  7. salah satu barang jadul yang saya ingat setrika mbak.. dulu waktu kecil setrika terbuat dari besi yang berat, di dalamnya ada bara api dan kalau mau digunakan di ayun ayunkan dulu. sekarang dah cukup di colok ke listrik tunggu sebentar jadi dek pakai setrikanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya mbak..aku gak masukin ke sini. Aku juga ngalamin kok pake setrika arang kek gt...dialasi daun pisang..jd wangiiii

      Delete
  8. haha... saya jadi ingat tayangan2 TVRI jaman dulu. Aneka Ria Safari, Selecta Pop juga sering saya tunggu kehadirannya. Kayaknya kita seangkatan kali ya mba Ophi hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha angkatan yg ngalamin bahagianya main dan interaksi ya mba

      Delete
  9. Teknologi membuat wajah dunia berubah, saya sering berandai-andai seperti apa suasana dunia saat ini yaa..kalau tanpa internet...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm kayak filmw jadul gt kali ya mba hahaha

      Delete
  10. Teknologi membuat wajah dunia berubah, saya sering berandai-andai seperti apa suasana dunia saat ini yaa..kalau tanpa internet...

    ReplyDelete
  11. TVku sampe sekarang masih tabung segede gaban mbak, haha, jadi mikir, kalo anak jaman sekarang disuruh nyalain kompor minyak bisa gak ya?? Secara mereka hampir gak pernah liat caranya sekarang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya mrk dah gak bisa kali yaa...
      Seni juga itu nyalain kompor minyak

      Delete
  12. Hahahha.. kita ini memang generasi yang beruntung ya Mak. Kita kayaknya sempat menyaksikan semua teknologi berubah xD. Dulu jaman ngekos kuliah pgn dibeliin tv buat d kosan etapi papaku malah ngirimin tv tabung yg ga kepake. Tv dari jaman aku masih TK. Yng kalo gambarnya ilang kudu di gebuk atasnya baru gambarnya muncul lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kalau digebuk banyak semutnya ya mba...

      Delete
  13. dirumah ku juga masih ada mak radio tape jadul :D

    ReplyDelete
  14. Makin kesini teknologi makin canggih ya mbak, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan bijak...

    ReplyDelete
  15. Teknologi memang seperti mata pisau ya Mba.. Kalau ngga bijak bisa celaka.

    Saya juga penyuka makanan yg dimasak pake kayu bakar Mba.. Tp saya ngga bisa bikin apinya. Kalo masak nasi pake kayu bakar, pasti ada intipnya. Itu lezaaattt banget. Memang sih di Solo banyak intip goreng yg dijual, tp dia artifisial. Bukan asli intip. Haha..jd bahas intip. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia..dulu sering banget nyamil intip karwna klo masak nasi pasti ada intipmya

      Delete
  16. aku apa ya mak ophiiiii, emmmm telepon deh kayaknya. abg anak rantau dlu komunikasi sm ortu tu uh kyk kebutuhn primer, cm ya gt, klok pgn ngobrol hrus cari wartel dulu. skrg mah gampang bgd, kpnpun bs, asal ad ada pulsak or inet, dna gk hnya bs dgr suara aja, wujudnya langsung bs kelihatan. alhamdulillhnya yah, perkembangn elepon brdmpak positif nih bwt kita ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bener..soale desakku susah dijangkau telepon kabel

      Delete
  17. teknologi memang sebuah penemuan peradaban yang sangat spektakuler...

    makasih share ilmunya mbak..salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Terimakasih sdh mampir

      Delete
  18. Kyanga yg merubah dunia adalah penemuan internet dan www ya mbak.sejak ada internet wajah dunia berubah n kehidupan manusia pun jd tergantung sama internet n phonsell

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah rasanya gimanaaaa gt klo sehari gak ngenet yaa. Emmmm

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.