Friday, October 20, 2017

Merasa Begitu Lelah? Kamu Tak Sendiri Mom!

Kalau ada cerita tragis tentang perempuan, utamanya seorang Ibu - yang depresi, maka sesungguhnya itu bukan drama yang mengada-ada. Mereka, para Ibu baik yang bekerja maupun yang mengabdikan seluruh waktunya untuk keluarga di rumah merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami depresi, yang salah satunya bisa jadi berawal dari rasa lelah berkepanjangan.




Kelelahan dan berujung pada depresi, banyak macamnya. Tingkatannya pun beragam mulai dari tahapan masih "wajar" hingga level serius yang harus mendapatkan bantuan dan pertolongan dari pihak yang berkompeten.

Pada usia-usia tertentu atau pada kondisi-kondisi tertentu wanita mengalami masa di mana kondisi depresi terlihat seperti terus ingin memeluk erat. Peristiwa hamil dan melahirkan sering mengantarkan wanita pada kondisi depresi. Di luar peristiwa ini, tekanan hidup dalam secara ekonomi, sosial, psikologis, maupun emosional baik di lingkungan intim seperti dengan pasangan dan keluarga, lingkungan pertemanan, atau lingkungan pekerjaan bagi wanita bekerja juga sangat berpotensi menimbulkan gangguan dan kelelahan kejiwaan.


Dalam konteks sebagai Ibu, saya sangat setuju bahwa hanya Ibu yang berbahagia yang bisa merawat anak-anak menjadi anak yang bahagia. Hanya Ibu yang berbahagia yang mampu menciptakan kebahagiaan keluarga.

Bohong besar kalau tanpa kebahagiaan dalam dirinya, sang Ibu bisa membahagiakan anak-anaknya. Hmm wahai para suami, bahagiakan isterimu agar Ia mampu membahagiakan anak-anakmu. Eh ini pesan sponsor atau pesan terselubung ya? Kalau sang Ibu tak bahagia, anak-anaklah yang menjadi korbannya. Bukan karena sebuah kesengajaan, tapi efek dari aura lelah dan depresi akan sangat mempengaruhi sikap dan pola asuh sang Ibu terhadap anak-anak.

Kebahagiaan dalam sebuah hubungan atau ikatan keluarga, pada akhirnya memang tidak lagi berangkat hanya dari kemauan masing-masing individu untuk berbahagia namun ada banyak faktor yang menjadi tantangan agar bahagia bisa terus ada di dalam keluarga. Bahagia yang ternyata juga memiliki pemaknaan yang berbeda-beda bagi setiap orang.

Hmm mungkin bahagia versi saya bisa berbeda dengan yang lain. Kamu boleh kok punya versi yang beda, yang pasti kita semua berhak bahagia, kita semua butuh berbahagia, kita semua harus berusaha untuk berbahagia, Yes!

Lelah... saat rasa lelah berkepanjangan tanpa upaya bangkit, resiko gangguan kejiwaan bukanlah hal yang mustahil. Sehat jiwa merupakan paket yang tak bisa dipisahkan dari sehat raga. Sebelum sampai ke titik di mana kita betul-betul tidak bisa bangkit sendiri dan harus ditangani oleh ahli, alangkah baiknya menjaga agar kita tidak terlalu terjerembab jauh ke dalam lorong gelap "depresi".


Jujur dan Berbagilah!


Sebagai Ibu bekerja, terkadang tuntutan dari anak-anak juga menjadi bagian dari penyebab saya mudah merasa tertekan. Anak-anak yang sebetulnya hingga hari ini lebih memilih saya di rumah atau bekerja di rumah dari pada menjadi pegawai yang harus pergi pagi pulang petang (kadang hingga malam) dari Senin hingga Jumat (Kadang lembur di akhir pekan).

Meski mencoba memberikan pemahaman tanpa bosan dan mencoba menjalankan dua peran yang ternyata tidak ringan dengan sekuat tenaga, namun pada kondisi tertentu saya sering merasa demikian lelah. Mereka begitu demanding. Penjelasan saya bahwa semua akan ada konsekuensinya jikapun Ibu berhenti bekerja rasanya juga belum sampai pada nalar mereka. Sebetulnya mungkin saya hanya butuh stok sabar sebanyak-banyaknya menghadapi ini.Tapi tidak bisa dipungkiri rasa lelah itu datang mendorong kita terjerembab di sudut gelap.

Jujur pada diri sendiri dan tidak perlu mengingkari bahwa kita sedang lelah. Bahwa kita butuh jeda sejenak, bahwa kita memang harus rehat. Jujur pada diri sendiri bahwa kita sudah berada pada ambang batas kita.

"Enough is enough"

Tidak perlu malu dan mengingkari. Iya, kita harus jujur dulu pada diri sendiri. Setelah berani jujur pada diri sendiri, kita bisa berbagi rasa lelah ini pada mereka yang kita percaya.

Saya tidak malu untuk menyampaikan kepada anak-anak saat saya tengah sedemikian lelah dan memohon pengertian mereka agar Ibunya bisa lebih tenang menjalani hari. Kepada Ayahnya anak-anak saya juga memilih blak-blakan saat sedang drop semangat dan merasa sangat lelah. Iya, saya pikir jujur kepada orang-orang terdekat merupakan langkah pertama yang harus dilakukan agar kita tidak terbawa dalam arus kelelahan tanpa ujung, tanpa bantuan dan sokongan siapapun.

Jujur dan sampaikan pada mereka. Hmm mungkin terdengar seperti mengeluh dan mungkin akan tampak seperti tak juga berakhir. Tak mengapa, you are not a super woman. Just sit down, take a breath. If you need to cry, just do it!

Lakukan jika itu akan membantu kita tetap waras!

Jika tak ada siapa-siapa di rumah yang bisa dianggap mau dan mampu mendengarkan. Carilah di smartphonemu nomor teman dekatmu, kakak atau adikmu di seberang sana, orang tuamu. Siapapun!

Saat saya melihat status curhat panjang di wall teman-teman perempuan, saya memahaminya sebagai bentuk upayanya membagikan beban di dadanya kepada dunia. Iya, mungkin dia membutuhkan teman dunia maya-nya untuk mendengarkan. Selama tidak berlebihan dan melewati batas privacy, saya memakluminya.





Iya mungkin memang Ia tak punya suami atau pasangan untuk berbagi. Suami atau pasangannya bukan pendengar atau pemberi solusi bahkan mungkin sumber masalah? Mungkin tak ada keluarga atau sahabat yang bisa membuatnya mau membagikan cerita dan memilih membaginya ke seluruh dunia maya.

To some extent, sebagai perempuan saya memilih untuk memakluminya. Asalkan dia siap dengan segala resiko termasuk respon atau tanggapan yang mungkin tak selalu seperti harapannya. Tapi saya yakin di antara sekian respon pasti ada support positif dari mereka yang positif. Dan support sangat berarti dalam kondisi terpuruk.

Jujur dan membagikannya kepada orang lain merupakan hal yang harus berani dilakukan saat didera kelelahan psikis dan fisik. Iya, butuh keberanian tersendiri memang. Pada tahap ini berarti kita memang membutuhkan bantuan.

Jika rasa malu adalah alasan untuk menyimpannya sendiri maka belajar menepis malu akan membantumu berani berekspresi. Jangan sampai dipendam sendiri. Pada titik tertentu, kita tak bisa lagi menahannya lalu meledak dan menimbulkan efek di luar dugaan kita. Percayalah kita berhak berbahagia, semua masalah ada jalan keluarnya. Pilih salah satu solusinya dan berbesar hati untuk menjalani konsekuensinya. Percayalah kebahagiaan itu hak yang harus kita upayakan.


Turunkan Ekspektasi, Get Real!


Sebagian akar permasalahan yang membuat kita merasa sangat lelah dan cenderung depresi kadang berasal dari diri kita sendiri. Iya dari diri kita sendiri.

Kita terlalu berharap suami menjadi romeo yang romantis dengan kuntum bunga mawar dan ungkapan cinta setiap waktu. Hmm sudah sunnatullahnya yaa bahwa women are venus while men are mars. Jadi ya begitulah dari sananya. Bentuk perhatian dan romantisme bisa jadi berbeda dalam pandangan pasangan kita. Bolehlah kita sampaikan ingin dan maunya kita, tapi tentu mengubah si dia tidaklah seperti membalikkan telapak tangan atau bahkan sesuatu yang sia-sia.

Dia mau sejenak mendengarkan keluh kita saja sudah bagus. Dia mau berbagi sedikit peran dengan kita saja sudah harus disyukuri. Kalu dia memang susah bilang sayang dan bilang cinta, mungkin kita yang harus sering-sering bilang ke dia ya supaya tetap banyak cinta dan sayang di antara kita. :)

-----------------

Menengok pinterest dan IG, rumah yang rapi, cantik, elegan, bersih dan demikian nyaman. Hmm berdoalah akan tiba saatnya rumah kita bisa serapi itu. Karena coretan di dinding rumah, mainan yang selalu bak kapal pecah, cucian yang tak kunjung habis dirapikan... Itulah hidup yang nyata.

Rumah yang rapih, bersih, wangi setiap saat.
Masakan yang selalu dihabiskan anggota keluarga.
Anak-anak yang selalu anteng, dispilin dan teratur.

Hmm mungkin kita sedang bermimpi.

Rumah kotor dan ramai,  adalah hal-hal yang harus bisa kita nikmati. Get real moms! nikmati kerusuhan-kerusuhan kecil di rumah dan suasana macam kapal pecah. Karena semua kadang hanya masalah waktu. Ada saatnya mereka bahkan tidak sempat pulang ke rumah bertemu denganmu karena kesibukan aktivitasnya di kegiatan exschool atau kampus. Hanya soal waktu.

Menerima kekurangan dan kondisi juga membuat membantu meringankan dada.

"Duuh baju sekolah anak-anakmu kok dekil gitu ya bagian tangannya."

Tarik nafas...

Saya tidak sempat mencuci dengan tangan semua baju sekolah anak-anak, sungguh saya menggantungkan diri pada mesin cuci.

Biasanya rutinitas mencuci saya lakukan justru menjelang tidur malam. Pulang kantor, sholat maghrib, menemani mengaji, belajar, diselingi makan malam (yang kemalamam), bahkan kadang saya tak sempat mandi. Sholat Isya yang juga kadang saya lakukan setelah mereka tertidur.

Saat hendak merapikan cucian baju, sudah ada teriakan, "Ayoo Ibuuu cepetan bobo, aku mau bobo sebelah Ibu, jangan lama-lama buu, sekarang.

"Sebentar ya nak Ibu masukin cucian dulu yaa."

Semua dimasukkan ke mesin cuci kecuali tertentu seperti batik dan blazer. Walhasil lengan baju anak-anak yang kadang warnanya bukan putih lagi tidak sempat saya kucek pakai tangan. Hm meja belajar mereka dibersihkan gak ya di sekolah, rasanya lengan baju mereka seperti lap meja.

Pusiiing!

Ya sudahlah saya hanya bisa memaklumi kekurangan waktu saya. Kecuali benar-benar kotor luar biasa karena sisa hujan atau olahraga, saya paksakan diri menambah waktu untuk mencuci.

Mendapat asisten rumah tangga yang cocok dan mau stay di rumah, belakangan seperti mencari jarum dalam jerami. Bude As yang bisa membantu dari pukul 7 - 12 siang saja sudah rezeki buat saya. Sudahlaah, syukuri saja.

-----------

Potongan tunjangan kinerja setiap bulan?
Peringatan keterlambatan?
Lari-lari mengejar commuter line?
Desak-desakan dalam commuter line?

Ah sudahlah... nikmati saja masa-masa ini.

Bangun subuh, kadang tidak bisa berlama-lama khusyuk menghadap dan berzikir padaNya. Sudah ramai di otak menu sarapan apa ya, masak apa hari ini, bekal apa yang harus dibawa anak-anak. Tugas kemarin belum kelar, ditagih pagi-pagi gak ya di kantor?

Halaaah!


Bahkan ketika suasana pagi sudah berjalan demikian sempurna, sering tanpa terduga di ujung waktu sebelum saya pamit berangkat tiba-tiba Dek Paksi tantrum. Entah "Ibu jangan berangkat kerja," "Ibu di rumah aja temani aku sekolah", atau "aku mau ikut Ibu ke kantor", membuat Ibunya masih harus bersabar menjalani drama-drama pagi.

Kalau di kantor ada yang heboh karena dalam setahun, baru sekali tunjangannya dipotong karena telat, anggap saja hiburan hahaha. Siapa tahu akan ada masanya bisa bilang: "Aku dooong tumben tunjangannya utuh..." lalu tebar confetti

---------

"Ih anak-anakmu kok kurus sih?"
"Kamu diurusin gak sih makannya sama Ibumu...?"

Bukan sekali dua kali ucapan ini terdengar.

"Lhoo tapi anakku sehat lhoo, lincah, aktif, pintar-pintar pula. Mereka makannya makanan sehat sih."
Hahayyyy sekarang sudah bisa jawab kayak begitu dengan agak sombong dikit qiqiqi...

Dulu tersiksa rasanya mendengar pertanyaan seperti ini, guilty feeling gak karu-karuan. Tapi aku sudah berusaha yang terbaik kok, insyaAllah kurusnya sehat. Sudah itu aja :)

Terhubung dengan Dunia Luar

Sekali-kali, perlu menyempatkan diri keluar dari rutinitas harian. Sekali-kali ajak si kecil main ke taman sambil membawa bekal. Gelar tikar dan siapkan bekal mereka, sambil bawa buku untuk dibaca. Biarkan anak-anak berlarian dan kita bisa rehat sejenak menghirup udara segar.

Sekali-kali ajak suami (dan anak-anak) makan malam di luar. Liburlah dari dapur. Tidak harus makan yang mahal dan mewah kok, makanan pinggir jalan banyak yang seru dan asyik. Setelahnya ajak anak-anak ke pasar malam. Biarkan mereka juga sejenak melupakan tugas sekolah. Mommy juga bisa ikut main dan memicu  adrenalin lagi.

Tetap menjaga komunikasi dengan lingkaran pertemanan kita selain suami dan keluarga juga penting. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi jika hal terburuk terjadai dalam lingkaran inti kita, kita tahu kemana bisa meminta support dan sokongan. 

Sekali-kali mintalah waktu ke toko buku, ke salon, ke cinema, atau sekedar ke tempat favoritmu tanpa anak-anak dan suami. Nikmati me time tanpa mereka. Iya sekali-kali, karena mungkin tidak bisa rutin tapi kebutuhan ini ada. Bertemulah dengan banyak wajah di luar rumah, nikmati percakapan dengan orang lain. Keluar dan terhubunglah dengan dunia luar...:)

Minta Tolong!

Saat kondisi lelah dan depresi sudah sedemikian tidak termanage, segeralah meminta tolong. Sampaikan pada pasangan, teman curhat, keluarga, atau siapapun bahwa kita membutuhkan pertolongan.

Jangan malu dan merasa "lebay" karena merasa sudah sangat sesak dan ingin meledak. Karena semakin ditahan akan semakin besar ledakannya.

Suatu kali ada curhat dalam wag yang isinya perempuan semua. Tentang curhatan seorang rekan perempuan yang lelah di mana Ia sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan.

Rasa lelah seorang perempuan bisa menjadi pintu masuk rusak dan retaknya mahligai kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Berangkat dari lelah yang diabaikan begitu saja, lalu menjerumuskan sang perempuan pada kondisi yang sulit bergerak bahkan untuk menggapaikan tangan meminta bantuan.

Duhai para Ibu, kalian tidak sendiri. Berceritalah, memintalah bantuan.

Katakan bahkan jika engkau sangat membutuhkan pelukan erat guna menumpahkan rasa. Sini saya peluuk, I feel you moms.




Minta tolonglah...
Ada banyak jalan yang akan menuntun.
Ada banyak tangan yang akan merengkuh.
Ada banyak doa yang akan menguatkan.

Asalkan kita mau mengungkapkannya! Biarlah kita lebay, biarlah kita dianggap lemah, biarlah kita dianggap mencari perhatian. Mungkin kita memang harus lebay, tak perlu malu untuk mengakui kelemahan kita, dan tidak mengapa jika kita mencari perhatian kan? Kita yang tahu batasan kita sendiri, lebay untuknya mungkin tidak bagiku.

It's Human...

Last but not least...

Bersyukur Yang Banyak!


Dari semua masalah yang kadang kita pikir mengikat kita demikian ketat hingga sulit bernafas, mungkin kita perlu mengambil waktu untuk sejenak hening. Melepaskan diri dari semuanya, lalu menghitung satu demi satu sekecil apapun karunia sanga Maha Kuasa. SubhanaAllah, betapa banyak ya nikmat Tuhan untuk kita. 



Udara yang bisa demikian mudah kita hirup, Jantung yang masih berdegup. Langit yang masih biru. Keheningan pagi, keriuhan hari, ramainya suasana yang masih bisa kita rasakan, kita saksikan, dan kita dengarkan. 

Senyum anak-anak? 
Dukungan pasangan atau para sahabat?
Cinta orang tua?

Hmm rasanya masih banyak yang tertinggal dari percakapan ini. Pada intinya, adalah sangat manusiawi merasa lelah, jadi beristirahatlah Moms... beri ruang untuk melepaskan beban. Bagikan dan carilah support, tak lupa banyak bersyukur.

Mari berpelukaaan :)



19 comments :

  1. Supeerr sekali mba. Iya, mau berperan jadi ibu di rumah atau ngantor pun tetap sama lelahnya.
    Saya yang belum ada momongan aja merasa lelah. Harus pintar membagi waktu dan sesekali keluar dari rutinitas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I am not a super one indeed mba...aku sering lelah juga hanya masih bs menemukan jalan utk bangkit lagi dan lagi

      Delete
  2. Ah keren banget Mbak Ophi, kemarin aku pun sempet curhat aku ga sanggup bekerja karena ga kuat mentalnya, dan aku liat mbak ophi mentaknya baja banget, subhanalloh. Suka curhat atay berekspresi di blog bukan berarti seorang pengeluh (menurut aku) lebih baik bicara dan berbagi memang, healing bgt.

    Haa Mbak Ophi, aku aja di rumah anakku ga mau makan, kurus pula, baju anak juga nyucinya ga bersih, bahkan sepatunya kadang suka lupa aku lap wkwkwk.

    Kayaknya itu mah emang realitas yang ga bisa dihindari, real life, real mother hood, gak akan ada ibu yang sempurna ini itu, setiap orang pasti punya komentar masing2 ttg diri kita.


    Keep strong Mbak Ophi, sini aku pijitin dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mauuuu dipijitin mba Tetty...
      salah satu me time ku juga niih dipijitin mba pijit langganankuuu
      love you mba pijiiit :)

      Delete
  3. aku juga ngerasain hal yang sama mba, makanya ngeblog semacam "pelarian" untukku.
    btw kerja dimana mba? kalau ada tunker biasanya di kementrian :D
    siapa tahu di kementrian yang sama.

    stuju banget, pada akhirnya kita harus legowo dan nrimo. toh ada masanya anak-anak besar dan bisa mengurus dirinya sendiri. :) semangaaat mom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mb aku di sekretariat jendral DPR senayan mba...PNS juga sih
      mba di kementerian mana?

      Delete
  4. Dan sering, yang bikin perempuan depresi adalah...perempuan lainnya. >.<
    Kadang jadi berpikir, apa mereka sebenernya lebih depresi tapi menyalurkannya secara negatif: memojokkan dan menekan perempuan lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiksss cuma bisa berdoa semoga dijauhkan dr perempuan semacam itu teh..
      bisa jadi kondisi mrk spt dan pelariannya seperti ituuh juga

      Delete
  5. Mbak,
    Beberapa hari yg lalu aku nyampek di kata lelah. Akhirnya, aku pun memutuskan dg sepenuh hati utk bolos kuliah. Hahay.
    Alhmdulillah mmbantu bgd.

    Dah, dikau emang tangguh mbk. Salut pokoknya mah.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bolos sesekali gpp mba....
      eh jangan ketagihan yaa bolosnya hahaha

      Delete
  6. Intinya tetap bersyukur serta memelihara hati agar kita bisa bahagia. Super.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya intinya bersyukur dan memelihara hati, meski tak mudah tapi harus berpangkal pada 2 hal ini

      Delete
  7. Replies
    1. IYa maah bersyukur alhamdulillah utk apapun

      Delete
  8. kadang, banyak pressure yg dibebankan pada seorang Ibu, dr hal2 remehtemeh sampe hal gede diurusin sama orang2... bikin stress kl diladeni :D dan bersyukur itu kadang2 sulit dilakukan ketika hati & pikiran lagi mumet, dan seringnya sosmed ikut berperan utk hal ini... nerima kl kita bukan supermom adalah salah satu cara mawas diri & tidak ada orang yg sempurna (apalagi keluarga) + support org2 terdekat & teman satu visi-misi jg bisa membantu... jgn sampe curhat ke org or tmpt yg salah ntar malah tambah stress hihihi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaAllah berasma waktu kita bisa tahu mana tempat dan orang yang tepat buat curhat kan yaa...

      Delete
  9. waktu masih bekerja, lelahnya karena merasa buanyaaaak yg harus dilakukan di luar dan di dalam rumah. setelah resign, eh ternyt lelah juga liat rumah 24 jam ga beres2..memang bersyukur lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya mba...
      semua punya resiko lelah...

      Delete
  10. Alhamdulillah bersyukuuuurrrr. Meski rumah tiap hari kyk kapal pecah, teriakan anak2 yg berebut mainan terus terdengar, tapi kyknyan tanpa mereka hdiup kyknya hampa...
    TFS

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top