Saturday, January 11, 2014

Maghrib di Masjid Baiturohman RS Sari Asih Ciputat #ReviewMasjid

gerbang Masjid tampak luar

Saat tengah menunggu antrian di Poli Umum RS Sari Asih Ciputat, terdengar suara adzan maghrib nan merdu. Suaranya jelas terdengar karena posisi masjid tepat di samping RS, tepatnya di belakang pintu Poli Umum di mana saya dan suami mengantri. Hmmm sebenarnya kami ada di antrian pertama, namun akhirnya kami putuskan sholat dulu di Masjid sebelah mengingat dokternya belum ada, sedang sholat juga rupanya.


gerbang masjid dari dalam

Bukan kali pertama saya ke RS ini, bukan kali pertama pula saya melihat Masjid Baiturrohman ini. Iya sekedar melihat dan sebenarnya lumayan penasaran ingin melihat ke dalam Masjid dan menikmati suasana Masjid. hampir setiap hari saat mengantar anak-anak ke Sekolah dan perga/pulang ke/dari kantor melewati jalan ini. Setiap melihat bangunan putih dengan arsitektur yang tidak "mainstream" ini terselip niat saya untuk sekali waktu bisa menikmati suasananya, tepatnya lagi suasana sholat berjamaah.

ornamen plafon depan

menuju tempat wudhu/toilet pria

pintu utama

Bekas hujan yang walau tak terlampau deras, membuat saya harus berhati-hati saat sampai di pelataran Masjid. Genangan air, membuat lantai menjadi licin. batas suci dibuat dalam beberapa undakan, di mana jama'ah masjid menyimpan sendal/sepatu mereka. Hmm ternyata tersedia juga tempat penitipan di dalam. Dari undakan batas suci pelataran Masjid yang cukup luas sampai akhirnya kita bisa memasuki Masjid melalui pintu gerbang dengan bentuk unik setengah lingkaran yang meruncing di puncaknya. berwarna putih dengan hiasan ornamen kaligrafi yang juga unik.



Tersedia ruang wudhu dan toilet di lantai bawah dengan tangga yang cukup lebar. Untuk pria di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri. 4 buah toilet, cukup bersih dan 4 washtafel di depannya dan satu ruang wudhu dan tampaknya disedikan pula shower, sehingga mungkin diperbolehkan mandi. 


Untuk wanita, tersedia alat sholat atau mukena di tempat penitipan sepatu, mukena yang disiapkan di atas meja marmer dengan seorang penjaga. Saat saya selesai wudhu, saya sudah kehabisan mukena sehingga menunggu sampai Jama'ah Maghrib selesai. Hmm ketinggalan jama'ahnya deh. Padahal suara Imam shalat yang merdu dengan bacaan yang tartil membuat saya ingin turut menjadi makmumnya. Bukan hanya saya, beberapa jama'ah wanita lainpun ada yang tak kebagian mukena. 

Akhirnya mukena berbahan parasut itu sampai ke tangan saya. Maaf biasanya saya ingin memilih terlebih dahulu (jika ada pilihan) mana yang lebih baik, selain lebih panjang juga biasanya yang lebih bersih dan wangi. Sebagaimana kita maklumi demikianlah kebanyakan kondisi mukena/alat sholat di Masjid/Musholla kita, tak terawat, kumuh, dengan bau yang kurang sedap :D. Itulah kenapa setiap bepergian yang memang saya niatkan akan sholat di jalan atau di tempat tujuan, selalu membawa mukena sendiri.Ternyata saya salah,  Mukena coklat tadi rapih dan harum... aroma pewangi pakaian tercium sesaat setelah saya mengendus bagian atas mukena :D. alhamdulillah


Memasuki masjid saya agak kebingungan, hmmm apakah jama'ah wanita masuk melalui pintu utama atau ada pintu khusus. Saya menyebar pandangan dan menemukan pintu samping... lalu mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata bagian belakang dekat shaf jama'ah wanita. Masih banyak jama'ah wanita yang sedang sholat maupun berzikir. Karena Imam Sholatpun masih memimpin zikir dan sholawat bersama ba'da Maghrib.


Selesai Sholat, zikir dan do'a, saya mulai memutar pandangan melihat-lihat interior masjid. Hmm meskipun tidak terlampau besar tapi terasa lega dan luas. konsep yang terbuka dengan selasar masjid di bagian belakang membuat suasana jadi makin adem, terlebih diiringi hujan yang turun di luar Masjid. Shaf jama'ah pria dan wanita dipisahkan oleh sebuah partisi kayu dengan ukiran dan hiasan ornamen yang senada dengan gerbang, pintu utama, pintu sekat serta plafon bagian atas Masjid.  Seluruh tembok bagian dalam Masjid merupakan batu Marmer dengan motif dan warna yang serasi dan elegan, putih coklat. di tembok kanan belakang di tempat jama'ah wanita dinding atau tembok dibuat seperti lemari/laci tempat menyimpan al-Quran, dan buku-buku. sementara di salah satu tembok bagian kiri Masjid terlihat  tanggal bulan tahun dan jadwal waktu sholat digital di atas pintu yang menghubungkan ke bagian lain Masjid.


Tampak sekelompok anak-anak bergerombol di ujung selasar Masjid, tampaknya hendak mengaji. benar saja tidak lama datang dua orang Ustadz (salah satunya yang memimpin sholat) yang kemudian memerintahkan anak-anak untuk membuat dua barisan ke belakang, hmm jadi ingat masa kecil. istilahnya "ngaji sorogan". Saya sempat bertanya pada petugas di tempat peminjaman mukena dan penitipan sepatu. Rupanya anak-anak tersebut berasal dari warga sekitar RS. Hmmm bagus juga konsepnya, karena banyak kasus masjid institusi menjadi ekslusif dan tidak terakses oleh masyarakat sekitar sehingga kadang sepi dan tak terurus. Jama'ah yang sholatpun dari pengamatan sesaat saya, tidak hanya karyawan, tenaga medis dan pengunjung (pasien dan keluarganya) tetapi juga masyarakat sekitar. Di bagian selasar lain saya lihat sekelompok anak berseragam SMA tengah membuat lingkaran, hmmm mungkin sedang belajar bersama. Suana masjidnya memang nyaman. Seperti inilah suasana masjid yang selalu membuat saya kangen dan ingin berlama-lama. Hmm masjid yang hidup, alhamdulillah.


Mnegingat antrian di Poli tadi dan setelah mengambil gambar di beberapa sudut dengan smartphone saya, yang tentu saja hasilnya minimal, saya bergegas mengembalikan mukena dan kembali ke RS.  Hujan yang turun lumayan deras mengguyur teras pelataran depan Masjid dan sepatu/sendal jama'ah termasuk sepatu saya.

Mudah-mudahan, ke depan suasana yang indah dan hal-hal positive  dari Masjid ini tetap terjaga dan semua jama'ah yang datang turut menjaganya dengan menaati hal-hal yang mungkin sederhana tapi penting bagi keindahan dan kenyamanan rumah ibadah.

Sampai ketemu di #ReviewMasjid  lainnya.

Ciputat, 10 Januari 2014

4 comments:

  1. liputannya bagus - memang seperti itulah seharusnya eksistensi masjid, takjarang - di setiap bangunan kantor, atau pertokoan, masjid hanya disediakan ala kadarnya, sholat harus gantian karena mushola yang kecil. Belum lagi tempat wudhu-nya ... Beda dengan masjid Baiturohman di atas, bikin penasaran ingin sembahyang di sana. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an ada kesempatan mampir dan sholat di sana yaa..
      smoga semua masjid ke depannya bergerak ke arah masjid yang hidup yaa
      amiiin

      Delete
  2. Terima kasih atas reviewnya ibu ophi...masukan dan kritiknya jd bahan disain masjid kami yang lain. Salam

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.