Sunday, March 9, 2014

[ Book Review ] Assalamu'alaikum Beijing



Judul: Assalamuálaikum, Beijing!
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Noura Books PT Mizan Publika
Halaman: 354 halaman
Kategori: fiksi Indonesia
Tahun terbit: 2013
Penyunting Ahli: dr. Lukman
Penyelaras Aksara: Fakhri Fauzi
Penata aksara: Nurul M. Janna
Perancang Sampul:  Tuarzuan AFC

Pada bagian awal buku ini sampai setengah bagiannya pembaca akan dibawa pada dua kisah yang mungkin mengarah pada suatu pertanyaan, apa dan dimana hubungan dari dua kisah tersebut sehingga menjadi suatu rangkaian cerita dalam buku ini.

"Cinta adalah kegembiraan yang tersisa , jika nanti suatu pagi, tak lagi senyummu menyapa seperti biasa dan hanya bisa kutemukan dalam mimpi" (Canserrat, El Burc)

Kisah pertama adalah kisah cinta sepasang kekasih yang memiliki hubungan yang sungguh ideal selama 4 tahun. Ada sosok Dewa lelaki berwajah tampan, cerdas dan "laki-laki" dan Ra, seorang gadis manis dengan mata indah yang cerdas, berkharisma dengan kepribadian yang tak kalah manis dari penampilannya. Hubungan yang terjalin indah dari suatu kecocokan, kesamaan, kemiripan dan "chemistry" di antara keduanya yang hanya sampai satu bulan saja menjelang pernikahan. Rencana pernikahan yang sudah tersusun dengan sempurna, undangan tinggal disebar. 

Suatu peristiwa kecil  karena kesalahpahaman dan miss-komunikasi kemudian menggiring Dewa mengambil keputusan yang kelak disesalinya seumur hidup. Pada suatu malam dengan hujan yang deras, Dewa mengantarkan pulang teman sekantornya Anita yang ternyata telah lama menaruh hati.  Kejadian ini kemudian menyebabkan suatu peristiwa yang tidak seharusnya terjadi, terjadi dan menimbulkan persoalan besar karena ternyata menyebabkan hadirnya calon bayi dari hubungan yang tak diinginkan Dewa malam itu. Porak poranda keindahan yang terjalin selama 4 tahun, karena saat Dewa menceritakan kejadian tersebut kepada Ra, ternyata Ra memilih untuk bersikap logis dan realistis. Dewa diminta bertanggungjawab atas perbuatannya, yang berarti mengakhiri hubungan mereka dan menikahi Ibu calon anaknya.

Kisah kedua tentang perjalanan seorang gadis manis berjilbab, Asma ke negeri tirai bambu untuk menjalankan tugas/dinas yang ternyata mempertemukannya dengan seorang pemuda China yang berhasil meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Zhongwen sang pemuda China inipun ternyata menaruh kesan mendalam terhadap sosok Asma. Selaras dengan suatu kisah cinta China klasik yang teramat dihayatinya tentang kisah cinta Ashima dari Yunnan dan Pemuda miskin penuh cinta, Ahei. Pertemuan singkat dua insan beda jenis, beda budaya, beda latar belakang, dan beda agama  ini kemudian berlanjut dalam suatu komunikasi melalui dunia maya. Perbincangan yang tak sekedar basa basi, namun meninggalkan kesan di hati dan jiwa masing-masing namun tak terkespresikan kepada lawan bicara karena masing-masing membatasi diri untuk tak lebih jauh.


Asma kembali ke kehidupan dan rutinitasnya. Menjaga hatinya agar tak terlalu jauh berharap adanya hubungan yang serius dengan Zhongwen yang secara rutin menjaga komunikasi dengannya via email, chat, bahkan lewat kartu pos. Asma yang kemudian ternyata harus menghadapi kenyataan pahit saat APS menyapanya dan menjadi bagian dari kehidupannya semenjak serangan stroke pertama menimpanya. Antiphospholid Syndrome, gangguan kekentalan darah, dimana saat syndrome ini datang di area tertentu pada bagian tubuh, maka akn terjadi gangguan kelumpuhan fungsi organ tersebut. Jika APS/pengentalan darah terjadi di daerah mata, maka akan terjadi kebutaan, di telinga akan timbul gangguan pendengaran, di jantung gangguan jantung.
Selamat tinggal laut yang menyimpan amarah, selamat tinggal bumi yang melahirkan duka.
Diuji dengan sakit ini Asma justru semakin "kuat", termotivasi untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan orang yang sangat dicintainya, satu-satunya, sang mama. Berusaha menutup rapat sakit dan derita yang menderanya dari dunia, termasuk dari Zhongwen. Harapan dan sinyal-sinyal yang dikirimkan pemuda berahang kukuh dan bermata sipit itu, selalu ditepisnya dari pikiran. Iya hanya ingin fokus pada cita-cita membahagiakan mamanya. Melewati hari-hari berat bersama sang mama, sahabatnya Sekar dan suaminya  Mas Ridwan.

Nun jauh di negeri tempat legenda Ashima dan Ahei, Zhongwen tengah bergulat dengan perjalanan ruhaninya yg dipicu oleh pertemuannya dengan gadis manis bermata lebar yang dipanggilnya Ashima. Sebuah pergulatan yang dengan hidayahNya membawa pada keputusan besar dengan konsekuensi yang tidak ringan. Menjadi mualaf dan terusir dari keluarga yang sangat disayanginya.
  
~~~~~~ 000 ~~~~

Dewa yang belum juga bisa melupakan sosok Ra dari kehidupannya, semakin hari semakin terobsesi untuk bisa kembali menjalin cinta dengan Ra. Bulat niatnya segera menceraikan Anita setelah bayi mereka lahir. Tak bergeming hatinya dengan berbagai kebaikan, bakti dan cinta yang diberikan Anita. Bahkan saat Anita mencoba bunuh diri, yang menyebabkan bayinya lahir sebelum waktunya. Kehadiran sang Dewa junior dan peristiwa percobaan bunuh diri tak mengurungkan niatnya untuk menceraikan Anita dan kembali pada Ra.

Pada bagian akhir  cerita yang begitu menyesakkan dada, akhirnya takdir Tuhan menuntun Asma atau Ra untuk mendapat jawaban dari pertanyaan yang seumur hidupnya menggelayut di pikirannya. Adakah cinta sejati? Adakah keajaiban dan kekuatan cinta layaknya Ashima dan Ahei dalam kehidupan nyata? Suatu kejadian yang mempertemukan dua pemuda yang memberi kesan mendalam dalam hidupnya 5 tahun belakangan. Kejadian mengejutkan yang disusul dengan terjadinya gangguan kekentalan darah di matanya. APS datang lagi dan menyebabkan buta sementara. Saat itulah dia menemukan mana dari dua laki-laki ini yang sejatinya adalah cinta yang dicarinya. Salah seorang dari mereka secara spontan segera membopongnya dan membawanya keluar rumah, mencari taksi, menuju rumah sakit ditemani mamanya.

Ashima-nya meski dengan APS tak menggoyahkan keyakinannya akan cinta.  Tetap berada di sisi gadis itu untuk menemani hidupnya. Sementara Dewa seperti dibenturkan oleh suatu kenyataan yang kembali membuatnya limbung. Iya tidak pernah membayangkan harus mendampingi gadis itu di sisa hidupnya untuk merawatnya. Dewa tak bisa membayangkan, dalam benaknya keinginan untuk kembali adalah pada sosok Ra yang dulu, yang sempurna dan tidak sakit-sakitan.

Ahh saya merinding membaca ending cerita ini. Kiranya keajaiban cinta sejati itu masih ada. Bukan milik Ashima dan Ahei semata. Cobaan yang demikian berat dilalui Zhongwen untuk menemukan cintanya dan menjaganya hingga akhir hayatnya. Sebuah pernikahan dari cinta yang "sempurna", dengan berbagai keajaiban di dalamnya. Serangan Stroke kedua, tidak lama setelah ijab-kabul yang menyebabkan kelumpuhan dan hilangnya memory Asma selama hampir dua tahun itu berangsur menghadirkan titik-titik kebahagiaan. Menghadiahkan dua orang buah cinta Asmara dan Zhongwen.  Sempurnanya cinta membuat semua rintangan dan cobaan menjadi kisah yang mengayakan diri dan hati. Berbagai serangan APS, silih berganti membuat kondisi kesehatannya naik turun. Dimanakah cinta sejati itu???

Dalam kesempatan berbulan madu setelah dua tahun pernikahan itu, Asma dan Zhongwen berkesempatan melakukan napak tilas pertemuan awal mereka ke negeri tirai bambu, Assalamuálaikum Beijing !!! Meski tak tersisa memory itu di kepala Asma, semua dilakukan Zhongwen atas nama cinta...

Ahhhh denger-denger mau dibuat filmnya, hwuaaa ga sabar apakah akan sedalam novelnya mengacak-acak hatiku yang telah "menua" dan bertanya-tanya "serius", masihkah ada cinta sejati di zaman ini ??? semoga masih ... bahkan di zaman kelak ketiga krucils-ku sudah boleh mengenalnya...





20 comments:

  1. huwaaa....ternyata baca reviewnya aja serasa udah baca bukunya :) kereen

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetep baca bukunya mak... keren sekeren reviewnya hahahaha #nahlhooo

      Delete
    2. Saya sepakat Mak Napitupulu... hebat neh reviewernya..

      Delete
  2. wah seruu jadi mau baca novelnya eeuy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca Maak ... hmmm drama banget nih mbacanya :)

      Delete
  3. buku2 bunda asma emang selalu keren!

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. sama... kita nantikan versi layar lebarnya yaa :)

      Delete
  5. Reviewnya keren, saya juga mau neh kalo blog saya di review di sini.

    Salam kenal dari Pulau Dollar

    ReplyDelete
  6. selain buku, saya juga penasaran sama filmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sudah liat filmnya mak Myra..sy lebih suka novelnya meskipun tidak berarti filmnya jelek... tapi kedalaman dlm novel tidak semuanya terangkat di layar lebar

      Delete
  7. saya nonton filmnya di yutub, bukunya malah blm baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya dah nonton filmnya juga maak..tapi beda rasanya dengan saatb membaca bukunya. apalagi menurut saya ada pemilihan pemain yang kurang pas hahahah subyektif sih

      Delete
  8. Wah kayaknya tuh buku keren ya.. Dulu sih temen ada yg punya eh pas minjem katanya dia gabisa :(

    ReplyDelete
  9. Reviewnya itu... merasuk sukma! Terhanyut aku dalam pusarannya. Bergulung-gulung, pasrah di bawa ke mana. Untunglah akhirnya aku tertambat, dalam pelabuhan cinta Asma dan Zhongwen yang menggurita.
    #sungkem mak,, reviewnya..
    Hacep!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. huawawawa...bisa aja niih mak say yang satu ini. tapi beneran novelnya bikin tenggelam dalam perasaan yang menggulung eh apaan sih?

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.