Tuesday, March 18, 2014

Buta Politik, Jangan....!!!!

“The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. He doesn’t know the cost of life, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depends on political decisions. The political illiterate is so stupid that he is proud and swells his chest saying that he hates politics. The imbecile doesn’t know that, from his political ignorance is born the prostitute, the abandoned child, and the worst thieves of all, the bad politician, corrupted and flunky of the national and multinational companies.”

"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional."

Bertolt Brecht (Penyair Jerman)
 
sumber gambar dari sini


Dan saya seperti tertampar, plaaak!!! keras sekali, hikss...

Iya selama ini saya selalu gagah jika bicara soal ketidaksukaan saya pada hal-hal yang berbau politik. Kalau ada satu kata menggambarkan politik, maka kata itu adalah Menyebalkan :( . Rasa tak suka justru semakin menjadi-jadi sejak saya bekerja di institusi yang mensupport lembaga politik. Melihat dan menyaksikan langsung orang-orang politik ini "bekerja" mendampingi dan mensupport mereka dalam menghasilkan kebijakan (undang-undang) sering membuat saya merasa capek dan stress sendiri karena frustrasi melihat "kelakukan" sebagian besar mereka. Nahhh saya  garis bawahi sebagian besar karena dalam pandangan saya yang sebal dengan perpolitikan pun, saya melihat masih ada kok yang memang bekerja benar dan professional. Iya benar dan professional saya bedakan lagi dengan yang benar, professional dan lurus.. untuk yang lurus ini jumlahnya makin mengecil. lagi-lagi ini pendapat pribadi saya ..:)

Ini tidak menggambarkan kondisi obyektif secara keseluruhan memang. Ini lebih berdasarkan pengalaman saya bekerja langsung dengan mereka. Karena pekerjaan saya  mensupport mereka menyusun Naskah Akademik dan Draft suatu RUU yang menjadi RUU inisiatif DPR , lalu terlibat mendampingi dalam proses pembahasan suatu RUU sampai disetujui bersama dengan Pemerintah, bahkan mensupport penyusunan surat keterangan dari tim kuasa DPR dalam hal ada suatu undang-undang diuji materil (judicial review - tepatnya constitutional review) di Mahkamah Konstitusi. Jadi pengetahuan saya yaa sebatas ketika mereka masuk dalam suatu panitia kerja (panja) atau panitia khusus (pansus) suatu RUU. Pastinya pengetahuan saya tentang mereka memang lintas komisi, karena saya pernah ditugaskan dalam proses pembentukan RUU di beberapa alat kelengkapan yang berbeda. Berbeda dengan mereka yang ditugaskan sebagai supporting di sekretariat alat kelengkapan/komisi, mereka pasti tahu lebih dalam, day by day dari para bapak/ibu yang terhormat yang bertugas di masing-masing komisi.



 Jika membicangkan buruknya kualitas para legislator di periode 2009 - 2014 misalnya, maka saya cenderung berdalih, tooh saya tidak ikut memilih mereka. Memang di tahun 2009 pada pemilu legisaltif lalu, saya tidak menunaikan hak (kewajiban) konstitusional saya untuk memilih tapi bukan semata karena mau ngegolput, tapi saat itu saya tengah melahirkan anak saya yang kedua. Yaah berdalih karena melahirkan atau memang sebetulnya merasa diuntungkan dan diamankan, saya rasa intinya saya memang sering merasa bebas dari tanggungjawab itu. Tanggungjawab telah memilih orang yang tidak (ternyata) tepat untuk dipilih. Hmmm tapi pencerahan seolah datang di hari-hari akhir mendekati pemilu legislatif 2014 mendatang. Secara tidak langsung semakin sedikitnya jumlah legislator yang berkualitas membuat proses pembuatan kebijakan menjadi semakin menurun kualitasnya. Berkualitas dalam hal ini menurut saya pribadi adalah kualitas kenegarawannya, kualitas pribadi yang menyadari sepenuhnya bahwa dia duduk di kursi ini karena amanah para pemilihnya, rakyat Indonesia.

Di antara para bapak ibu yang terhormat itu. Masih adakah politisi yang berkualitas seperti definisi saya?? yang saya tahu masih ada. Berapa banyak?? yang saya tahu tidak banyak. *ambil nafas dalam-dalam-prihatin. Tapi jika kita kemudian bersikap masa bodoh, tak mau tahu bahkan bangga bahwa kita tak pernah ikut campur dalam proses duduknya orang-orang yang tidak berkualitas di parlemen. Maka rasanya betul kata penyair Jerman tadi, jangan salahkan jika lahirnya kebijakan-kebijakan politik tidak memihak kepada kita. Sebagian besar orang beranggapan bahwa wajah parlemen adalah wajah rakyat, iya karena mereka yang duduk di parlemen adalah pilihan rakyat. Terlepas dari siapa dan bagaimana yang memilih, faktanya mereka adalah wakil, representasi dari rakyat yang sesungguhnya. Bisa jadi kualitas rakyat kita terhadap pemahaman politik yang  memang masih rendah mendominasi jauh dari pada mereka yang punya kualitas pemahaman politiknya lebih baik. Sehingga seperti itulah wajah perwakilan mereka di Senayan. Jangan menghibur diri atau melarikan diri dari tanggung jawab seperti yang selalu saya lakukan 5 tahun belakangan. Jangan... jangan buta politik. Frustasi itu ada, tapi jangan menyerahkan nasib kita dengan tidak berbuat apa-apa. Apalagi cuma bisa menggerutu, mengecam tapi tak melakukan apapun untuk merubah keadaan.

Rasa frustrasi saya bukan tanpa alasan. Di satu sisi lembaga tempat saya bekerja adalah lembaga yang setiap hari dimaki-maki orang, diberitakan keburukannya di berbagai media. Hmmm kadang saya berpikir apakah mereka yang mencaci maki yang hanya memberitakan keburukan parlemen itu juga memilih??? apa mereka yakin sosok yang mereka pilih seperti apa???  Di sisi yang lain, idealisme dan professionalisme kerja saya dan  supporting tim kadang pada akhirnya harus berbenturan dengan kebesaran politik. Iya, kami tidak punya hak suara dalam pengambilan keputusan, kami menyumbangkan saran pemikiran dan konsep yang terbaik, seideal mungkin, seilmiah mungkin, namun saat itu masuk ke ranah politik (pengambilan keputusan dalam pembahasan), maka kami tetap harus sadar diri. Ketok palu-lah yang menjadi putusan. Bukan pula kerja kami menjadi tidak berarti karena dari sekian banyak raport merah DPR itu, masih ada mereka yang sungguh-sungguh bekerja, sepanjang pengetahuan saya. Saya jamin masih ada, dan mensupport mereka yang benar-benar bekerja inilah yang menjadi hiburan tersendiri bagi saya pribadi, menjadi penyegar jiwa saya di bawah tekanan citra buruk DPR, citra buruk performa legislasi dan citra buruk politik kita.

Alangkah bahagianya saya, jika di lima tahun ke depan (dan seterusnya), saya akan mensupport dan mendampingi orang-orang yang benar-benar bekerja untuk mereka yang memilihnya. Maap saya tidak begitu peduli partainya, saya melihat semuanya kembali pada karakter dan kapasitas pribadi masing-masing. Meskipun, to some extent ada pengaruh dan efek tertentu dari mana politisi ini berasal. Namun latar belakang pendidikan dan pengalaman bermasyarakatnya menjadi lebih signifikan menurut saya. Saya berharap tidak ada lagi bapak/Ibu anggota DPR yang selama satu masa pembahasan RUU, hanya hadir untuk mengisi absen tanpa ada sumbang saran sama sekali, atau lebih buruknya hadir sewaktu-waktu mengoceh tanpa dasar, megulang-ulang materi yang sudah dibahas sebelumnya, gara-gara keluar masuk rapat semau-nya saja. maju terdepan di rombongan studi banding ke luar negeri, tapi bisa dihitung jari kehadiran dan kontribusinya dalam pembahasab. Saya juga berharap semoga anggota DPR ke depan jauh lebih santun menyikapi semua orang termasuk, kami yang bekerja justru untuk membantu mereka. kami yang harusnya juga mereka "bangun" agar menjadi sistem pendukung yang kuat, perofessional dan tegas. Bukan lagi menganggap kami seperti pelayan dan pembantu, yang menjadi tumpahan kemarahan dan tempat lap kotor untuk hal-hal yang bukan menjadi tanggungjawab kami. 

Saya juga bermimpi anggota DPR ke depan punya kepedulian dan harga diri yang tinggi atas jabatan (sekaligus AMANAH) yang mereka sandang. Ahh lagi-lagi saya berharap ke depan saya tidak malu saat ditanya di mana saya bekerja? atau tidak perlu takut ada lagi yang bertanya, "gimana rasanya bekerja untuk orang-orang yang sok tahu padahal b***h tapi sok paling berkuasa... tukang k****si dan seterusnya. .." Saya berharap yang mengisi Senayan kelak, bukan lagi didominasi oleh mereka yang mencari penghidupan dari lembaga amanah ini. Bukan yang mencari setoran untuk partai dari kewajiban dan tanggungjawabnya di rumah rakyat ini. Saya juga berharap, kelak Senayan lebih didominasi oleh wajah-wajah ramah dan mulut-mulut yang santun, berisi dan bernas. Sampai hari ini jika diminta satu kata untuk menggambarkan anggota DPR periode 2009-2014 ini maka kata itu adalah "AROGAN". Lagi-lagi tidak semua, tapi tidak ada kata lain yang menurut saya paling mewakili bahkan jika sebagian besar orang memilih kata "KORUPSI". Sependek pengetahuan saya, korupsi di Executive tidak kalah besar, namun komoditas politik membuat lembaga ini lebih populer terlebih jumlah anggota yang 560 orang... makin memungkinkan untuk menang secara kuantitatif.

Apakah harapan dan impian saya mungkin terwujud??? Bisa, jika saya dan anda tidak asal memilih dan tidak memilih untuk tidak memilih alias GOLPUT...

Saya jujur masing bingung melihat nama-nama dan wajah-wajah calon anggota legislatif di daerah pemilihan saya, beberapa nama lama yang saya kenal dan saya tahu kualitas dan performanya (lagi-lagi sependek pengetahuan pribadi saya), banyak pula nama-nama yang baru saya kenal. Saya berjanji untuk mencari tahu lebih jauh tentang mereka, karena kali ini saya harus menentukan bahwa pilihan saya tidak boleh salah. Kalaupun ternyata salah (setelah melihat mereka bekerja), jangan pernah lagi memberi mereka kesempatan kedua. Saya tidak mau lagi menjadi orang yang BUTA POLITIK apalagi bangga menjadi BUTA POLITIK. Karena ternyata setiap tindakan kita (termasuk memilih atau tidak memilih) tidak hanya menentukan masa depan kita namun akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Keburukan wajah wajah Senayan sudah banyak di ekspose berbagai media. Tak perlu saya tambahkan atau saya pungkiri untuk yang mungkin sebetulnya tidak selalu tepat. Tapi masih adakah yang bisa menjadi harapan. Ada, saya mau cerita beberapa. Saya mengenal beberapa nama yang sungguh bekerja dan berdedikasi, mereka berasal dari partai yang berbeda, latar belakang yang berbeda (pengusaha, akademisi, birokrat, pedagang, artis, dll). Saya sebutkan salah satunya Bapak S, seorang tokoh politik dan yang sudah dikenal publik jauh sebelum beliau bergabung di Senayan periode 2009-2014, beliau yang sangat berdedikasi, tidak pernah dalam rapat apapun beliau tidak memberi warna dan arti. Salah satu favorit saya, selain santun dan disiplin beliau benar-benar mengikiti setiap pembahasan RUU yang dibebankan pada beliau. 10 jempol untuk beliau, sayangnya .. "saya tidak akan maju lagi dek, saya takut tergelincir..." Ah bapak... saya sedih... tapi memang Bapak sudah cukup sepuh meski pengabdian dan kesungguhannya bahkan mengalahkan wajah-wajah baru nan segar.

Kemudian Bapak A, dari sebuah partai kecil, sejak awal menjabat terlihat melakukan penyesuaian irama dan belajar pada situasi politik di parlemen. Jumlah anggota dari partai kecil yang minim sering membuat mereka dibebani banyak pembahasan RUU, karena memang orangnya ya itu-itu saja. Kondisi ini sering membuat mereka sekedar setor muka dan keluar masuk dari satu RUU ke RUU lain. Sepanjang pengetahuan saya, Bapak A tidak demikian. Dalam beberapa RUU yang saya dampingi beliau selalu punya perhatian dan konsen yang luar biasa, meskipun pemahaman substansi beliau tidak terlalu jago, tapi terlihat usaha dan kemauan beliau untuk belajar dan mencari tahu. Tidak ragu untuk berdiskusi dengan kami di sela-sela rapat pembahasan. Satu lagi, sangat santun, selalu menyalami kami dan mengucapkan terimakasih atas support dan dukungan yang kami berikan.

Ibu O, dari sekian banyak artis dan selebritis yang masuk Senayan, meski banyak yang tidak mampu mengimbangi ritme Senayan, tetapi ada beberapa yang mampu bekerja. Setidaknya mau belajar dan kemudian mau berusaha untuk memahami masalah dan berkontribusi. Ibu ini saya lihat selalu berusaha untuk bisa masuk ke dalam substansi pembahasan dan ketika hendak memberikan sumbang saran, beliau akan mencoba memaparkan dengan hati-hati dan dengan bahasa yang menyenangkan. Sikapnya yang elegan dan sangat -behave- dibanding para bapak/ibu lain yang kadang "mulut"nya kurang terjaga memberi warna tersendiri dalam pembahasab suatu RUU. Beliaupun sering menengahi saat ada pembahasan yang "pabalieut teu pararuguh" :D dan mostly suasana menjadi lebih cair. Ibupun sangat ramah dan santun...  tak segan mengapresiasi pekerjaan dan dukungan kita. Hal yang sangat jarang dilakukan para bapak/ibu terhormat  :P *halahcurhatlagi.

Eits... tapi bukan berarti juga saya dan tim tidak pernah diapresiasi yaa, banyak kok yang mau terang-terangan mengapresiasi kerja keras kami...tapi jangan sampai deh ada sedikit kesalahan, bisa jadi bulan-bulanan, seolah-olah kita adalah pihak "pemerintah" yang tengah menjadi objek pengawasan hahahaha. Iya setingkat menteri dan eselon I pemerintah yang pastinya punya kualifikasi tertentu saja bisa ditunjuk-tunjuk dan dimaki-maki. Yaa... biasalah klo mereka memperlakukan kita tidak lebih elegan hahaha...*santaisajaaah. Maklumlah mereka kan biasa dimaki-maki di mana-mana *hadeeh gak puguhhh... 

Saya berharap ke depan semakin banyak sosok-sosok seperti Bapak S, Bapak A, Ibu O dan beberapa lainnya yang berdedikasi pada rakyat untuk mengisi Senayan. Selain akan mempermudah saya bekerja dan mensupport lembaga ini, nasib bangsa ini semoga akan menajdi lebih baik. Selalu ada harapan dalam keputusasaan sekalipun. Mari memilih, jangan menjadi BUTA POLITIK.





26 comments:

  1. semoga Rakyat Indonesia tidak dibodohi oleh yang namanya golput dan penghasutnya. kita harus tau apa itu politik, kita punya hak pilih, kita masih punya harapan untuk pemimpin Indonesia yang baru, yang menciptakan perubahan, kedamaian, dan kesejahteraan untuk negri tercinta. #MelekPolitik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup #MelekPolitik ... mari belajar ... setidaknya gunakan hak konstitusional kita untuk berkontribusi menuju Indonesia lebih baik

      Delete
  2. bener tuh jangan buta politik, apa susahnya buat belajar politik, biar melek sama politik :)) jadi nggak salah pilih pas lagi pemilu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip mas, sudah siap2 memilih sesuai dengan pikiran yang jernih kan mas..
      yuuuk #MelekPolitik

      Delete
  3. berhentilah menutup mata terhadap politik, ayo ikut berpartisipasi. ingat pilihan anda pada hari PEMILU akan berpengaruh pada nsaib anda 5tahun ke depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mas, belajar memahami situasi politik untuk kemudian bs turut mengambil keputusan

      Delete
  4. Di pemilu legislatif 2014 ini ada 12 partai (15 untuk Aceh). Klo misalkan tiap partai mengusung 6 calon berarti ada satu dari 72 orang yang harus kita pilih. Mayoritas masyarakat hanya tahu profil mereka dari baliho kampanye saja. Lha kompetensi kalau mereka sudah duduk menjadi anggota dewan tahunya dari mana? Saya pikir masyarakat harus dididik bagaimana cara memilah caleg yang baik. Ini yang sulit, bila tidak ya sama saja ikut pemilu seperti memilih kucing dalam karung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang tidak mudah, itu jd PR setiap kita yang mau melek politik, saat ini caranya yaa, paling cari di google, liat di web KPU atau kalau sebagian dr kita punya pengalaman dan tahu kapasitas para caleg (terutama wajah lama), sebaiknya menshare pengetahuan ke banyak orang.
      ini kalau pemilihnya mau aktif, seharusnya juga menjadi bagiandar PR para caleg itu utk bisa mensosialisasikan diri melalui kontribusi nyata, buka sekedar sapnduk dan sejenisnya.

      Delete
  5. buta politik memang jangan, tapi itu berlaku pada kondisi perpolitikan yang normal, dan bukan seperti di negara kita yang penuh dengan muslihat dan ujung-ujungnya korupsi

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalu kita tidak melakukan apa-apa.. akankah kondisi perpolitikan ini akan menjadi lebih baik atau semakin buruk.
      jika kita mencoba melakukan sesuatu, setidaknya mengimbangi maraknay dan dominasi politik dan politisi busuk..
      kembali kepada pilihan pribadi... jangan lupa setiap tindakan kita, memilih tak memilih akan menuai tanggungjawab ...:)

      Delete
  6. hmm,sepertinya yg membuat org males dg politik itu krn orang2nya,cth spt di indo,org2 politik bukan buat rakyat.Memang nggk semuanya buruk,ada juga org2 politik yg masih peduli dg rakyat dan jujur tpi klo dilihat jumlahnya nggk sebanding dg mereka yg memikirkan kepentingan sendiri.Berapa bnyk politikus terjerat kasus korupsi? bukankah mereka itu org2 cerdas?

    mampir juga ke blog saya ya sob :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, sependek pengetahuan saya, saat ini jumlah yang "baik" masih sangat sedikit. so yuuk kita jadi pemilih cerdas dengan menambah jumlah yg baik ...

      Delete
  7. indonesia lima tahun lagi seperti apa itu ada di tangan kita ya, mba. sangat miris kalo sampai golput, ya meski kita pun bingung dengan calon2 yang ada. kualitas negarawan yang baik seperti bung karno sangat jarang ada :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul yang muncul memang sangat jarang, tp masih ada harapan mba... di antara citra yang buruk saat inipun masih ada yang baik, semoga ke depannya semakin membaik dengan kita menjadi pemilih yang baik dan cerdas juga...

      Delete
  8. Wah iya,.. bener banget tuh kalau politik itu perlu agar kita melek dunia..
    Perpolitikan itu tak selamanya najis, yang menajisnya adalah para antek-antek pemerintah yang berjiwa bukan sebagai pemimpin alis sebagai penjilat..

    Wah.. tulisannya panjang banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tokoh-tokoh dibalik politik lah yang membuat politik menjadi menyebalkan... iya panjang krn yang mau diceritain juga panjang heheh... makasih dah mampir

      Delete
  9. Jika ingin memperbaiki kondisi politik saat ini... paham dan mau bergerak itu hal wajib.. ditambah lagi istiqomah di jalan lurus (ini yang berat) .... Anti POlitik sometime don't solved any matter

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bahkan tanpa kita sadari memperparah persoalan... berbuat yang kita mampu :)

      Delete
  10. Belajar politik itu perlu jika kita ingin memperbaiki kondisi politik di negeri ini. Susahnya adalah menjaga hati tetep lurus. Saya tidak anti-politik.... hanya tidak terlalu suka hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sya juga sempat seballl sm yang namya politik, tapi ternyata ketidakmautahuan kita justru bisa membuat kita tersesat dna tidak memberi solusi
      thx sudah mampir

      Delete
  11. Sy juga masih bingung mbak, mau milih siapa :((
    terlalu banyak serangan dari masing2 calon.

    pemilih jadi galau :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya wajar mak, makanya harus bisa mencari info sebanyak-banyaknya, kunjungi web KPU dan buka telinga n mata lebar2... jangan tergiring juga
      selamat memilih mak

      Delete
  12. Wah infonya sangat bermanfaat sekali gan. izin nyimak ya gan dan jangan lupa update terus artikelnya. Oh iya sob, kapan-kapan saya akan mampir lagi jika ada waktu luang. hehehehehe. jangan lupa di update terus ya blognya.
    Thanks.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.