Thursday, April 10, 2014

Beijing Trip: Tiananmen Square & Forbidden City [ Part 6]

Closing Ceremony

Setelah farewell dinner semalam, pagi harinya acara penutupan secara resmi. Selain presentasi dari masing-masing group terhadap kesan dan pesan selama mengikuti program SIDA ini, kami juga melakukan evaluasi secara online terhadap keseluruhan program. Acara selesai lebih cepat dari jadwal karena presentasi dilakukan lebih cepat. Artinya setelah makan siang, kami free. Sebagian bersiap kembali ke negara masing-masing. Beberapa teman termasuk kami dari Indonesia yang masih punya waktu sampai tengah malam bersepakat menghabiskan sore ini untuk melihat Tiananmen Square dan Forbiden City yang letaknya masih dalam satu lokasi. Tentu saja dengan subway yang cukup hanya dengan 2RMB untuk satu kali jalan/one way. Saya pikir pada jam-jam sibuk, akan sangat padat, ternyata tetap kalah padat dari Commuter line yang setiap hari saya naiki menuju dan pulang dari kantor. So... ya biasalah buat saya tingkat kepadatan yang menurut teman China saya mengkhawatirkan. Iya, meraka tidak tahu kalau Commuter Line jauuh lebih padat pada rush hour.


Selain kebersihan kota transportasi publik juga menjadi hal yang membuat saya mengacungkan jempol. Selain memadai dengan jumlah rute yang banyak, bahkan tahun ini akan ditambah 2 line lagi, biaya public transport sangat murah 2RMB untuk subway one way, ke tujuan manapun dan kita bisa pindah ke berbagai line, asalkan belum keluar dan melakukan tape out ya hanya 2 RMB. Rute dan nama masing-masing subway station tertulis dengan versi bahasa Inggris juga di dalam gerbong, selain tentunya rekaman suara yang memberitahukan penumpang sedang berada dimana dan stasiun apa selanjutnya, dalam bahasa Inggris juga lho. 1 RMB untuk bus kota, perlu dicatat bus kotanya pun sudah semaca trnasjakarta. Hanya turun dan stop di bus stop tertentu. Dildalam bus juga tersedia petunjuk jalur dan stop bus yang dilewati dana ada rekaman suara dengan bahasa inggris yang  membantu kita.

Tiananmen Square

Tiananmen Square, merupakan City Square- pusat Kota Beijing China.  Dinamai Tinanmen yang berasal dari Gerbang Tiananmen (Gate of Heavenly Peace) yang merupakan salah satu gerbang menuju Forbidden City. Gerbang ini dibangun pada tahun 1415 pada masa Dynasti Ming. Tiananmen square memiliki pengarug kulturak yang sangat besar dan signifikan dan tempat beberapa kejadian penting sepanjang sejarah China. Luasnya sekitar 440,000 m2. Merupakan City Square terbesar ke empat di dunia. Bagi kita di luar China, tempat ini dikenal saat adanya unjuk rasa pada tahun 1989 gerakan pro demokrasiyang berakhir 4 Juni 1989 dengan dideklarasikannya darurat militer oleh pemerintah dan meninggalnya ratusan bahkan ribuan rakyat sipil.


Sekeliling city square ini selain tentunya gerbang Tiananmen menuju the Royal Palace yang dikenal sebagai Forbidden City, berdiri berbagai banguan penting negara China, termasuk Istana Kepresidenan.  Suasana cukup terik dan ramai saat itu. Memasuki wilayah ini kita harus melewati pintu screening yang cukup ketat. Namun lagi-lagi kebersihan di tempat ini saya acungkan jempol. Selain banyak disediakan tempat sampah mobil atau kendaraan pembersih hilir mudik menjaga kebersihan. Yang menarik, petugas yang memakai pakaian seragam, mungkin tentara penjaganya tidak bersedia dipoto, saya harus mencuri-curi untuk bisa memotret mereka. Saat mereka tahu akan diambil gambar segera mereka berbalik arah. hihihi....Tapi akhirnya saya bisa dapat gambar mereka... *zoommodeon*






Forbidden City

Forbidden City atau Kota Terlarang merupakan terjemahan bebas dari nama China istana tersebut yakni Zijin Cheng, yang terjemahan literalnya berarti Purple Forbidden City, sering juga disebut sebagai Forbidden Palace. The Forbidden City merupakan istana kerjaan China sejak Dinasti Ming sampai Dinasti Qing.  Terletak di pusat kota Beijing, saat ini kenal sebagai the Palace Museum. Selama hampir 500 tahun, istana ini merupakan tempat kegiatan sehari-hari dari kerajaan China dan menjadi tempat acara perayaan resmi dan pusat politik pemerintah China. Kenapa disebut kota terlarang, karena memang sebelumnya tempat ini tertutup bagi kalangan umum, hanya keluarga kerajaan yang bisa masuk ke sini.







Dibangun dari tahun 1406 sampai 1420, komplek istana ini mencakup 890 bangunan dengan luas lebih dari 720,000m2.Kompleks istana ini merupakan gambaran dari arsitektur tradisional China yang megah yang mempengaruhi perkembangan arsitektur dan budaya di wilayah Asia Timur. Dideklarasikan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1897 dan terdaftar oleh UNESCO sebagai koleksi terbesar struktur kayu kuno diawetkan di dunia. Sejak tahun 1925, komplek istana ini berada di bawah naungan Museum Istana, dengan koleksi karya seni dan artefak yang sangat ekstensif dibangun dari koleksi kekaisaran Ming dan Qing . Bagian dari bekas koleksi museum kini berada di Museum Istana Nasional di Taipei. Komplek istana ini mempunyai 3 sumbu/poros: poros timur, tengah dan barat. Bangunan utamanya antara lain Panorama, The Meridian Gate, Hall of Supreme Harmony, Emperor Office dan Corner Tower. Sekali lagi setiap bangunan dan tempat memiliki makna histroris dan kultural tersendiri.




Saya pikir istana megah di China adalah the Summer Palace, sebegitu indah dan megahnya,  ternyata the real one nya adalah the Royal Palace atau Forbidden Palace ini. Luar biasa luas, megah dan besar dengan bangunan-bangunan yang luar biasa mengagumkan. Menjelajahi dari satu gerbang ke gerbang lain membutuhkan tenaga ekstra, setiap bangunan utama di dalamnya terdapat kursi tahta kaisar dengan nama dan fungsi yang berbeda-beda. Sayangnya saya tak bisa mengambil gambar karena jendela untuk bisa mengambil gambar penuh sesak oleh puluhan orang yang mengantri mengambil gambar kursi tahta tersebut. 


Masuk dari gerbang Tiananmen lalu membeli tiket seharga 60RMB. dibagian akhir kompleks adalah sebuah taman yang kemudain kami keluar melalui taman tersebut. Di taman tersebut banyak terdapat pohon-pohon tua yang usianya sudah puluhan tahun, bahkan ada yang sampai setarus tahun lebih. Sebagian besar pohon-pohon tua tersebut dibiarkan hidup dan disangga dengan besi-besi penyangga. 



Ratusan pengunjung tidak membuat suasana sesak karena luasnya kompleks istana ini. di antara ratusan entah mungkin ribuan pengunjung, saya melihat seorang perempuan China dengan jilbabnya, dugaan saya dia dan keluarganya merupakan salah satu dari suku Xin Jiang yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Saya menduga dari raut muka yang khas dan penampilannya. Di setiap bangunan utama  tersedia kursi-kursi dimana pengunjung bisa rehat sesaat sebelum mengkesplore bagian selanjutnya dari kompleks yang luar biasa luas ini. Lagi-lagi saya teryakinkan bahwa dulunya China merupakan kerajaan yang benar-benar besar. Sisa-sisa kemegahan itu masih tampak pada berbagai bangunan di kompleks ini.






Tak cukup waktu 4 jam untuk menjelajahi kota terlarang ini secara detail. Waktu bergerak dan kami harus bergerak menuju pintu keluar. Dari sana kami memilih naik bus untuk kembali ke hotel, cukup dengan 1RMB saja. Luar biasa murah dan terbilang nyaman dibandingan dengan bus-nya Jakarta. Kembali ke hotel dan siap-siap kembali ke Jakarta... Seminggu yang melelahkan namun tak terlupakan. C u again Beijing... hope so.

2 comments:

  1. aduuuuhhh ini lama2 bikin iri hati deh postingannya :( mupeeeengggg

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi.... syukur deh klo bisa bikin mupeng, afirmasi maak

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.