Tuesday, May 20, 2014

Ke Museum, Menembus Lorong Waktu Menyelami Sejarah.

Museum, Menuju Lorong Waktu

Mengunjungi suatu negara, terasa tidak lengkap tanpa mengunjungi museum yang ada di negera tersebut. Museum seperti sebuah jendela yang bisa mengajak kita menembus waktu. Kita seperti tengah berada di lorong waktu menyaksikan berbagai peristiwa masa lalu. Tak heran di berbagai negara museum menjadi salah satu tujuan wisata penting bagi para turis. Iya, tak kenal maka tak sayang. Jika ingin mengenal jati diri suatu negara, budaya, tradisi, dan sejarah suatu bangsa, kunjungilah museum.
Musuem Nasional di malam hari

Negara-negara maju menjadikan museum sebagai sebuah simbol penghubung generasi masa kini dengan para pendahulu mereka. Museum dikelola dengan sedemikian profesional dan menjadi daya tarik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Sebutlah Museum Louvre, Paris - Perancis, salah satu museum terbesar dan paling terkenal di dunia. Mungkin setiap pelancong awalnya semata hanya tertarik dengan nama besar dan popularitas dari museum ini. Dengan pengelolaan yang profesional, kemudian ternyata museum ini tak sekedar menjadi objek wisata karena layaknya fungsi museum, koleksi Louvre menjadi bagian dari saksi sejarah peradaban manusia di suatu masa. Pengunjung diajak menikmati berbagai koleksi yang membuat mereka serasa berada di ruang dan waktu yang berbeda.

Museum menurut Undang-Undang

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan dan/atau struktur yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau yang bukan cagar budaya dan mengomunikasikannya kepada masyarakat (Pasal 18 ayat 2). Dari sisi pemanfaatannya, museum dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, dan/atau pariwisata (Pasal 91).

Secara normatif disebutkan bahwa fungsi melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kolekasi yang dimiliki pada akhirnya ditujukan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat. Tanpa fungsi komunikasi koleksi museum hanya sekedar menjadi benda-benda yang statis tanpa makna. Dengan mengomunikasikannya, koleksi museum menjadi sebuah penghubung dan sarana komunikasi kepada masyarakat akan nilai, sejarah, dan budaya dari suatu masa/peradaban. Museum menjadi penghubung masa lalu, masa kini bahkan masa yang akan datang. Koleksi museum menjadi sarana pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya dan sosial, serta sarana pariwisata. Jika saat ini titik berat pemanfaatan museum masih dalam ranah pendidikan dan ilmu pengetahuan, terutama terkait penelitian/riset. Maka ke depan, pemanfaatan dari aspek budaya dan sosial serta pariwisata menjadi sebuah agenda besar guna semakin meningkatkan pemanfaatan museum bagi masyarakat umum.

Museum di Indonesia cukup banyak, ada yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah,  perorangan, atau badan usaha/badan hukum, salah satu museum yang cukup bagus dikelola oleh swasta misalnya Museum Sampoerna di Surabaya. Namun pengelolaan museum seharusnya memang merujuk pada UU tentang Cagar Budaya diatas, peraturan pelaksana mengenai museum sampai saat ini masih dibahas oleh pemerintah dalam bentu Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Museum.

Guna makin mendekatkan museum dengan masyarakat, maka peran aktif masyarakat untuk menyosialisaikan museum memiliki peran penting. Saya pribadi berusaha mengenalkan museum sejak dini pada anak-anak. Mereka pernah saya ajak ke Museum Bank Mandiri, Museum di Monas, museum-museum di TMII, bahkan Museum Linggarjati di Kuningan Jawa Barat.  Dengan kepolosan anak-anak, mereka justru banyak bertanya dengan berbagai benda dan deorama yang mereka lihat. Kenapa begini, kenapa begitu, ini apa, itu apa... Mau tidak mau sebagai orang tua kita mengedukasi diri dengan pengetahuan terkait koleksi museum.

Museum Nasional, Dulu, Kini dan Masa yang akan Datang
Museum Nasional tampak depan

Museum Nasional atau biasa disebut sebagai Museum Gajah, dalam rangka memeringati International Museum Day yang jatuh pada tanggal 18 Mei serta memeringati hari jadinya yang ke 236 pada Bulan April mengadakan suatu rangkaian kegiatan dalam tema festival hari museum internasional yang mengusung tema Museum Collections Make Connections, Museum Nasional, Dulu, Kini dan Masa yang akan Datang. Tema international museum day, kiranya relevan bagi Museum Nasional yang merupakan salah satu lembaga pelestarian warisan budaya tertua di Indonesia dengan koleksi lebih dari 140,000 koleksi nusantara termasuk koleksi arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuno lainnya dan barang-barang kerajinan.
Dengan suatu sosialisasi dan promosi, koleksi Museum Nasional tak hanya menjadi sebuah kumpulan benda-benda saksi sejarah masa lalu namun menjadi penghubung bagi generasi masa kini dan yang akan datang untuk belajar dan memahami arti dan makna dari benda-benda bersejarah tersebut. Menembus lorong waktu melihat peristiwa-peristiwa bersejarah sesuai masa setiap benda diam tersebut. Sebutlah sebuah Archa Adityawarman sebagai Bhaiwara yang menjadi centerpiece dari koleksi patung-patung masa hindu-budha kuno dengan tinggi lebih dari 4 meter, akan membawa kita pada masa keemasan kerajaan nusanatara di masa ratusan tahun lalu.
Arca Adityawarman Koleksi masa Hindu-Budha
Dulu,  suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778 sebagai lembaga independen yang didirikan untuk memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum). Salah seorang pendirinya yaitu, JCM Radermacher menyumbangkan sebuah rumah di Kalibesar dan koleksi benda budaya serta buku yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Seiring waktu, koleksi BG kian meningkat, rumah di Kalibesar sudah tak mampu menampung koleksi sehingga dibangun sebuah gedung baru di jalan Majapahit yang kemudian juga tak mampu lagi menampung koleksi yang kian bertambah. Pada 1862, Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah gedung baru di lokasi saat ini, Jalan Medan Merdeka Barat No.12 (Koningsplein West). Gedung ini dibuka untuk umum pada tahun 1868.

BG berubah nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 26 Januari 1950 dengan sebuah semboyan baru “memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”. Pada tanggal 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/05/1979 tertanggal 28 Mei 1979, museum tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Kini, Museum Nasional dengan visi “Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa” terus mengembangkan diri menjadikan museum sebagai sebuah sarana penghubung masa lalu bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Sebagai salah satu lembaga pelestarian warisan budaya tertua di Indonesia yang melakukan penelitian di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan seni, seperti arkeologi, filologi, etnografi, historia, numismatik dan heraldika.

Koleksi museum nasional antara lain dikelompokkan ke dalam koleksi prasejarah, numismatik, keramik, etnografi, dan arkeologi. Koleksi prasejarah merupakan koleksi benda-benda dari kurun waktu yang dimulai sejak keberadaan manusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu hingga dikenalnya tradisi tulisan pada abad ke-5 Masehi.

Beliung persegi dari masa neolitikum ditemukan di Sukabumi Jawa Barat
Koleksi Numistatik terdiri dari benda-benda seperti koin, uang kertas dan token yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat, di samping itu juga terdapat alat cetak uang. Koleksi Numismatik Museum Nasional sebagian besar berasal dari masa kerajaan-kerajaan Indonesia kuno, masa kolonial (Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang) hingga masa kemerdekaan Indonesia. 

uang Pitih Teboh, ditemukan di Palembang tertanda 1219 Hijriah atau 1804 Masehi
Koleksi keramik asing, yang meskipun berasal dari mancanegara, tetapi seluruhnya ditemukan di wilayah nusantara. Keramik asing sebagai bukti sejarah yang sangat penting tentang hubungan luar negeri Indonesia, baik dalam aspek sosial-budaya, politik, maupun ekonomi. Koleksi tersebut diperoleh melalui suatu komunikasi intensif tentang perkembangan hasil penelitian yang kemudian berlanjut kepada pertukaran objek hasil penelitian dengan negara lain baik Asia Tenggara, Asia, Australia, bahkan Eropa. 
Vas Amphora dari Dinasti Tang China, dari abad ke 7, ditemukan di Pasemah Sumatera Selatan
Koleksi etnografi merupakan benda-benda atau hasil budaya dari suku-suku bangsa di seluruh Indonesia yang bersifat majemuk atau multikultural. Benda-benda etnografis itu berupa peralatan hidup yang digunakan oleh suatu suku bangsa baik yang dipakai untuk keperluan upacara maupun sehari-hari. Koleksi etnografi menunjukkan pengaruh berbagai kebudayaan pada masa Hindu, Islam, dan masa kolonial yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat.

hiasan telinga suku Dayak Kalimantan terbuat dari besi
Koleksi Arkeologi meliputi benda-benda budaya hasil kegiatan manusia dari masa Hindu Buddha/Klasik Indonesia dari awal abad ke-5-15 Masehi, yang  terdiri dari arca dewa-dewa Hindu, arca Buddha, arca perwujudan, arca binatang, perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, mata uang, prasasti, dan lain-lain. 

Genta Candi dengan bahan perunggu ditemukan abad 13-14 Masehi
Kini, masih dengan semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum), Museum Nasional ingin menjadi semakin dekat dengan masyarakat. Berbagai acara diadakan untuk sosialisasi dan promosi. Museum nasional juga membuka diri untuk digunakan sebagai tempat mengadakan event-event tertentu, misalnya perhelatan Srikandi Blogger dari sekumpulan wanita penyuka blogging yang bernaung dalam Kumpulan Emak Blogger beberapa waktu lalu. Selain jadwal berkunjung rutin Museum Nasional juga mengadakan berbagai event guna membuat museum lebih hidup dan menarik bagi pengunjung seperti festival jurnalisme atau pentas mini teater serta program edukasi di akhir pekan kerjasama dengan Teater Koma.

Ke depan, Musem nasional diharapkan dapat terus berbenah. Hal yang sangat penting untuk menunjang terjaganya berbagai koleksi adalah tempat penyimpanan yang memadai. Ke depan bangunan museum harus dapat melindungi koleksi-koleksi tersebut termasuk benda-benda yang berada di luar ruang tanpa perlindungan yang memadai. Ruang pameran dan penyimpanan harus membuat pengunjung nyaman sekaligus membuat koleksi aman dan terjaga. Rencananya akan ada pembenahan dari sisi bangunan fisik museum yang kelak menunjang fungsi penghubung dari berbagai koleksi yang ada, bahkan dimungkinkan untuk museum tergabung dalam sebuah komplek pembelanjaan, wisata, atau pusat keramaian lainnya sehingga memudahkan dan menarik pengunjung untuk datang.
  
Museum Nasional ke depan :)

Ayoo ke museum, kita akan terhubung pada suatu masa lalu, menembus waktu dan belajar sejarah dari berbagai koleksi museum.

Sumber pendukung (materi tulisan maupun gambar)
http://www.museumnasional.or.id/
http://museum-nasional.blogspot.com
http://id.wikipedia.org
https://www.facebook.com/museumnasionalindonesia
UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya

21 comments:

  1. Museum menembus lorong waktu, sepertinya ide cermerlang ya Mba ? semoga sukses kontesnya ya....


    Salam

    ReplyDelete
  2. waw...koleksinya bikin bulu kuduk merinding...seperti memasuki ruang dan waktu yg berbeda, sukses ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...apalagi kalau diatur display-nya sedemikian, pasti makin dapet tuh ke masa lalu-annya... makasih mak Rodame, sukses juga ya

      Delete
  3. entah kapan ya terakhir kali jalan-jalan ke museum mak *_*

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh dijadwalkan lagi mak Irma, banyak pilihan museum di jakarta yang keren :)

      Delete
  4. ayoo ke museum...memasuki lorong waktu dan memaknai peristiwa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayoo mak Ida, setuju memasuki lorong waktu dan memaknai peristiwa..like this

      Delete
  5. pengin ke meseum nasional....moga nti bisa ke Jakarta dan berkunjung ke sana TFS mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Smoga ya mak.. aksesnya mudah mak.. kalau pake kendaraan umumpun... ada busway transjakarta lewat di depan :), makasih dah mampir mak

      Delete
  6. Aku termasuk keluarga penggemar berkunjung ke museum. .. tapiii..itu dilakukan siang hari.. ternyata keren ya patung kontemporer pusaran waktu di malam hari itu...mirip pusaran api

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, baru tahu klo patung kontemporer pusaran waktu itu klo malem keren kayak gitu mak Ade...

      Delete
  7. Museum Nasional ini bikin saya teringat masa SD ketika study tour, seru banget ya sebenarnya. Mampir yuk mak ke www.rumahmemez.com

    ReplyDelete
  8. keren foto museum nasional yang malam hari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, sy baru tahu juga klo malem keren kayak gitu

      Delete
  9. Mantaaaap... Follow juga twitter @museum_weekend . Ada info acara dogeng dari Teater Koma di Museum Nasional.

    ReplyDelete
  10. Kereeeen tulisannya...
    Follow juga twitter @museum_weekend . Ada info acara dongeng teater koma di Museum Nasional.

    ReplyDelete
  11. Foto paling atas aku ambil waktu Dewa Bujana bikin pameran gitar di Museum Nasional.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren banget, banyak yang baru tahu klo malem keliatan kayak begitu dan banyak yg comment suka ngeliatnya. Kayak lorong waktu yang menyala :)

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.