Wednesday, September 10, 2014

Berhenti Mengeluh, Bersyukurlah...

Ahhh bolehkah nulis di blog cuma sekedar curhat-curhat GaJe gituuu...hikss. Boleh kali yaa, dari pada berputar-putar di kepala dan tak tercurah sebagaimana mestinya. Siapa tahu, bisa lebih plong setelah tertuang di sini. Sekaligus one day saat membacanya saya bisa selalu memastikan diri bahwa seharusnya saya bersyukur karena atas segala kesulitan yang kita hadapi, dipastikan tidak akan melebihi kemampuan kita menghadapinya.

Kejadiannya beberapa hari lalu, dua hari berturut-turut saya berangkat ke dan pulang dari kantor tanpa ojek pribadi saya tercintah, sekaligus partner in crime di commuter line dan di kantor Hahaha. Beliaunya sedang menjalani DL, dinas luar. Sejak beberapa hari sebelumnya kondisi saya memang sedang kurang fit, pun masih sampai hari itu. Pagi itu, perjuangan berat yang luar biasa di commuter line Sudimara -Palmerah yang saya naiki membuat saya hampir menangis "sendiri". Mungkin sesama pengguna commuter line bisa memahami maksud saya. Iya bukan sekdedar berdesak-desakan ala ikan pepes. Selain berhimpitan juga tertekan, badan dan organ dalam serasa ikut "squizee"...karena tertekan harus bisa atur nafas supaya tidak sesak. Ini bukan kondisi terburuk yang saya hadapi, ibaratnya setiap hari perjuangan ini lah yang harus saya lalui dan saya melihat alternatif ini yang paling rasional ketimbang memakai moda transportasi lain ke kantor.


Saya bahkan pernah pingsan di commuter line. Saat itu juga sedang sendiri tanpa si doi. Hujan lebat di luar commuter, kondisi yang kurang fit dan saya tak bisa menahan rasa sakit yang menyerang sedemikian rupa di pinggang kanan saya. Entah karena apa, mungkin salah posisi, menyebabkan urat terpelitir atau organ di sana tertekan...yang pasti meskipun saya berusaha keras menyetting pikiran saya untuk "tidak pingsan". Ahh ternyata saya tidak bisa bertahan menjelang stasiun tujuan saya, saya tak bisa menahan tubuh saya, merah, kuning, biru, hijau..lalu hitam. Tapi saya tak lama pingsan. Mungkin karena otak saya tak menghendakinya. Segera setelah siuman dan diberi duduk serta minyak kayu putih, saya bersikeras turun sampai di stasiun Palmerah. Saya lupa rasanya malu, karena mungkin saya digotong sampai ke tempat duduk. Beberapa suara yang saya tak kenali mukanya, menganjurkan saya tidak turun dulu. Ibu masih pucat dan lemes gitu, gak usah turun dulu. Tapi saya mmaksakan diri, sampai di stasiun saya langsung duduk di besi panjang (bukan tempat duduk), hanya sedikit terlindung dari guyuran hujan. Saya cuma ingin duduk, di antara hiruk pikuk penumpang yang kembali berebut mengantri di pintu keluar. Setelah tenang dan sepi saya baru beranjak dari stasiun.

Jadi kondisi seperti pagi itu sebetulnya bukan yang terburuk. Buktinya pagi berikutnya jauh lebih parah dari yang kemarin. Hiksss...the only good thing is ... meski saya terjepit (seperti biasanya), di antara tubuh-tubuh bapak dan tas-tas mereka, namun kepala saya tepat berada di bawah ketek eh ketiak seorang laki-laki yang saya tak bisa lihat mukanya. Sulit mendongak ke atas, saking penuhnya...ketek yang alhamdulillah baunya wangi hahaha...iya sehingga saya gagal pingsan. Lebih parah karena masinis kereta pagi ini membuat kami di dalam seperti cendol yang bergoyang ke sana ke mari mengikuti arus kereta yang dibawakannya dengan agak kasar, rem dan gas yang tidak smooth sama sekali...oh plisss pak supirrrr, tahu gak sih penderitaan kita di dalam gerbong???


Kalaupun saya berangkat bareng si doi, kondisinya tidak lebih baik. Tapi setidaknya saya merasa ada teman sependeritaan. Jadi gak terlalu meloww dan sedih. Pun saya bisa memilih untuk terjepit di belakang atau di depan suami saya. Kalau ada yang tanya, kenapa gak di gerbong wanita??? pada jam-jam saya berangkat gerbong wanita sudah sangat penuh, plus antrian di sana sudah penuuuh. Perjuangan masuk gerbong wanita, jujur, menurut saya jauh lebih sadisss. Beberapa kali saya memiliki pengalam buruk di gerbong wanita.

Kembali ke soal saya sampai ingin menangis..hiihihi *lebay kali yaa*, tapi jujur itulah yang saya rasakan saat itu. Saya menahan air mata agar tidak jatuh di pelupuk mata. " Ya Tuhaan, sampai segininya siih yang harus saya lalui setiap hari untuk sampai dan pulang ke kantor, demi apa cobaaa??? demi sesuap nasi atau segenggam berlian???" kewajiban???dan tetiba pikiran saya dipenuhi aura negatif berisi keluhan dan sejenisnya. Hari itu menjadi hari yang panjang karena kemudian saya baru pulang jam 7 malam. Daan datang telat siap dipotong, pulang telat??? *emang gue pikirin*, halaaah begitulah katanya sistem remunerasi ituu. Yaah kalau pulang telat meskipun karena mengerjakan tugas, yaa itu nasib namanya.

Saat pulang, saya mendapati langsam - kereta api ekonomi tujuan akhir Rangkasbitung , yang lebih dulu tiba di stasiun. Tanpa pikir panjang saya langsung naik. Saya ogah desak-desakan lagi di commuter line. Kalau bisa lebih leluasa bernafas mengapa tidak. Jangan bayangkan kereta api ekonomi di masa-masa lalu yaa :). Sekarang kereta ekonomi jauh lebih manusiawi, lebih bersih, ber ac, tidak terlalu penuh, dan tidak ada pedagang asongan (seharusnya). Saya bahkan bisa dapat duduk, meskipun nyempil di kuris yang seharusnya untuk dua penumpang namun hampir selalu diduduki 3 penumpang. Layaknya kereta "rakyat", perjalanan pulang saya malam itu ditemani lagu dangdut dari Rhoma Irama, Hmm full music dan full ac. bisa nyempil duduk pula.

Pada jam-jam sibuk, biasanya tidak ditemukan pedagang asongan di langsam. Malam itu pedagang asongan, buah, minuman dan makanan kecil hilir mudik di lorong kereta yang lumayan penuh. Mengangkat dan menyeret barang jualannya yang cukup berat. Tetiba saya tersentil, ada yang jaauh lebih sulit untuk mendapatkan sedikit biaya hidup. Sampai malam, berkeringat, dengan barang dagangan yang berat. Saya juga melihat beberapa Ibu lanjut usia yang juga tampaknya baru pulang "berusaha". Duuuh, saya merasa malu, dan masih pantaskah saya mengeluhh?? kejadian demi kejadian kemudian seperti Tuhan pentaskan di depan mata saya, untuk mengetuk dan mengingatkan saya, bahwa saya sungguh jauh lebih beruntung dari banyak orang lainnya.

Menaiki angkot dari Sudimara menuju Ciputat, seorang Ibu dengan dua karung besar (entah berisi apa, mungkin barang rongsokan??) ikut naik di angkot yang saya naiki. Turun bareng saya di Ciputat. Lalu saya yang biasanya menyampung perjalanan dari Pasar Ciputat ke rumah dengan ojek karena malas menyebrang jalan di depan Ramayana Ciputat yang menurut saya sangat menyiksa, sangat tidak ramah pejalan kaki dan penyebrang jalan. Harus menguatkan mental untuk bisa sampai ke sebrang, karena kendaraan terutama motor seperti tak punya mata. Ahh ya iyalah yang punya mata pengendaranya. Kali itu karena angkot membawa saya sampai mendekati tempat menyebrang, akhirnya saya memutuskan menyebrang bersama seorang penyebrang lainnya. Thanks God, saya bisa sampai ke sebrang dan menaiki angkot berikutnya ke arah rumah saya.

Lagi-lagi di angkot kali ini, naik dua orang pedagang keliling dengan tas yang amat sangat besar, kiranya sepatu atau sendal. Tampak mereka masih bercucuran keringat. Mencari nafkah...duuuh saya lagi-lagi seperti ditampar. Sesulit itukah perjalananmu hari ini phi??? Sanggupkah kamu jika diberi cobaan selayaknya mereka???Ah lagi-lagi saya  bersyukur, meski sampai rumah pukul 20.30 WIB dan anak-anak sudah naik ke atas. Artinya saya bakal tidak bertemu mereka malam ini. Alhamdulillah saat saya naik untuk ganti baju, dek Paksi dan ka Alinga masih bisa saya peluk, Ka Zaha sudah tertidur. Dek Paksi yang minta dikelonin, malah akhirnya menunggu saya dan baru tertidur sekitar pukul 22.00 WIB.

Kiranya irama kehidupan hari itu, bukan yang pertama pun yang terakhir. Irama ini hampir menjadi irama hari-hari saya. Sejak beberapa tahun lalu dan mungkin hari-hari ke depan. Lalu kenapa saya harus menangis??? menangisi irama yang seharusnya saya syukuri. Karena masih banyak yang lebih sulit dan pantas ditangisi dari irama yang saya hadapi. Ahhhh betapa kita sering lupa bersyukur bahwa karena irama inilah yang membuat hidup kita berwarna. Mengapa mengeluh sepertinya menjadi hal yang sangat mudah dilakukan??? Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan Ophi????

Ahh dengan rasa malu, lalu saya berjanji untuk secara serius mengurangi berkeluh kesah apalagi untk hal-hal ya tidak perlu, Stop Complaining.... take your positive view on things and the surrounding will give a positive aura on you



22 comments:

  1. Hiks..maaak...sy bisa membayangkan apa yg trjadi tiap hari berjibaku di jalanan.Sy juga pernah kerja. Entahlah..mental sy tak sekuat dirimu..insyaallah mak.tak ada yg sia2 jika ikhlas Allah sediakan ganjarannya. Bahkan org yg meninggal saat mencari nafkah ganjarannya syahid. Btw, sy jg auka curhat di blog hehe. Soalnya sy orangnya ga enakan kalo mau curhat jadi aja ngeblog..

    ReplyDelete
  2. Hiksss.... makasih mak Kaniaa....nuhun pisan sudah mampir dan ninggalin jejak...iya lklo agi ngedrop iniiih semangat, kayaknya pengen nangiss gitu... hihihi...bismillah aja yaa...kudu diniatan ibadah ya mak

    ReplyDelete
  3. gpp mau curhat di blog pribadi, rumah2 gwee, suka dateng n komen, ga ya rapopo :p

    whuaa emang hidup di jalanan apalagi desek2an rebutan commuter line hihihi, seruu tuuh..
    ko bisa ampe pengsan begeto ya, apa ada Artis Cowo Ganteng ampe tumbeng :p

    tapi memang phi, ada masa2 nya kita mengeluh, bukannya tidak bersyukur, hal yang sangat wajar di saat kita mengeluh ternyata masih ada di sekeliling kita yang lebih kurang beruntung dari kita ..hikss.
    yang penting apapun itu keadaannya wajib di syukuri dan dinikmati yuuk :)

    tetep cemunguud eeaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih teh Nchie Hanie...
      saking epnuhnya smp ga bisa bedain mana artis mana bukan hahaha...*kejepit di CL*

      Delete
  4. Mbak Ophi, kadang curhatan seperti ini penting juga lho buat orang lain. Seperti saya nih yang suka mengeluh dan jarang bersyukur, jadi pemecut kalau ada orang yang lebih susah tapi nggak berhenti bersyukur dan tak pernah ngeluh.
    Sharingnya menarik, Mbak Ophi, santai saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mak Indah Juli...
      Iya saat dibuka2 dan baca tulisan ini lg, sy jd mikir2 lagi buat ngeluh2...

      Delete
  5. Mbak Ophi, kadang curhatan seperti ini penting juga lho buat orang lain. Seperti saya nih yang suka mengeluh dan jarang bersyukur, jadi pemecut kalau ada orang yang lebih susah tapi nggak berhenti bersyukur dan tak pernah ngeluh.
    Sharingnya menarik, Mbak Ophi, santai saja :)

    ReplyDelete
  6. wah, perjuangan pulang-pergi ngantornya bener2 subhanalloh ya mak.. makasih dah berbagi curhatan. penting banget buat jadi reminder saya yang suka lupa bersyukur. jadi nyadar.. betapa saya harus bersyukur secara buat ngantor cukup 10 menitan naik motor, masih sempet antar-jemput anak skul tiap hari.. tapi masih aja suka bete ama suasana kantor yg gak pas di hati.. kurang puas juga sama gaji, hihi. astaghfirulloh.. *laah kok malah jadi saya yang curhat ya mak.. :D
    semangat mak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak... kadang2,,,rumput tetangga yang selalu kita pikir lebih hijau selalu jadi komporan buat ngeluh n lupa bersyukur ya mak Ofi

      Delete
    2. Tulisannya malah bisa jadi cermin emak-emak lain, Mak Ophi :))

      Delete
    3. Eh ini sesama OFI --> OPHI yaah :D

      Delete
    4. Hahaha iya mak niar...sesama oph/fi

      Delete
  7. Hidup..adalah..perjuangan tanpa henti...henti...:) Percaya Mak..hanya bersyukur yang membuat bahagia...dan mengeluh membuat kita sengsara..Melihat ke bawah akan membuat kita bersyukur...keep smile ..untuk semua yang kita hadapi...*duh maap..komen geje*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha..... makasih dah komen...apapun commentnya tidak akan sy keluhkan..akan sy syukuri
      hahahah komen lebih geje lagiiii

      Delete
  8. Selama tdk 100% tulisannya keluhan, curhat di blog di boleh kan kok..

    ReplyDelete
  9. Waduh ... kalo saya mengalami kayak gitu, sudah muntah2, Mak ..... yang tabah ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks...iya mak niar...makasih...waah klo bakal muntah2 tdk disarankan naik commuter line jabotabek maak...

      Delete
  10. Sungguh besar nikmat Allah sehingga terlalu naif untuk dikeluhkan... Bersyukur dan bersyukur niscaya nikmat-Nya akan berlimpah...

    Salam dari pulau Dollar

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin ya rabb...insya Allah mudah2n slalu ingat utk banyak bersyukur...terimakasih kunjungannya

      Delete
  11. wuuiihh perjuangan yang berat dan melelahkan setiap hari ya mak. hebat euy dirimu :)
    suatu saat melihat ke bawah juga ada baiknya, supaya kita lebih bersyukur dan belajar banyak tentang kehidupan di bawah sana. tetap semangat ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah mak...klo tidak ingat bahwa itu bagian dr ibadah saya...rasanya suka ngedrop...insya Allah mdh2n smangat bs slalu dipertahankan

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.