Wednesday, August 5, 2015

Meski Kakak Adik, Kami Berbeda Bu!

Memiliki dua anak yang meski jarak usianya tidak jauh yang  ternyata beda karakter, beda sifat, dan beda potensi membuat saya agak merasa bersalah sering membandingkan mereka satu dengan yang lain. Ternyata perbedaan yang ada pada diri mereka seharusnya disikapi secara proporsional dan adil. Tidak semua hal yang saya terapkan  pada sang kakak bisa dan harus saya terapkan pada sang adik.


Mendapati perbedaan karakter dan kecenderungan antara Ka Alinga (7.5 thn) dan Ka Zaha (6 thn) kemudian membuat saya yang selama ini hampir selalu menerapkan dan memperlakukan mereka dengan cara yang sama tersadar bahwa saya harus memperbaiki pola asuh terkait bagaimana menyiapkan mereka berdua menjalani masa pendidikannya.

Dari beberapa pengalaman dan fakta yang saya temui, entah mengapa saya melihat ada kecenderungan perbedaan tipikal pola dan model belajar anak pertama dan kedua. Anak pertama biasanya cenderung lebih memiliki kemauan belajar, bertanggungjawab, dan fokus dalam kegiatan belajar. Anak pertama cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Mudahnya, mereka ini lebih mudah dan tertarik untuk belajar, membaca, menulis dan bersekolah. Dalam melakukan tugas sekolah dan mengikuti pelajaranpun mereka tampak bisa memahami tanggung jawab dan kewajiban. Kondisi anak seperti ini sangat membantu dan meringankan tugas Ibu bekerja seperti saya. 


Benih-benih sikap seperti itu sudah tampak dalam diri Ka Alinga sejak Ia di TK. Itulah mengapa saat Ia meminta tetap masuk SD meski usianya masih sangat muda (5,5 thn) saya tetap percaya diri dan cukup mempercayai serta mensupport pilihannya. Secara kognitif perkembangan Ka Alinga di SD sangat bagus, nilai-nilainya cemerlang. Hal ini didukung oleh kemauan belajarnya yang cukup tinggi serta pemahamannya akan tanggung jawab.

Meski memang dari sisi emosional dan psikologis masih sangat labil. Sifat sensitif dan mudah menangisnya waktu itu masih sangat sulit diatasi. Perlahan hal ini kemudian menjadi catatan kami. Di akhir kelas 2 kemarin, Ka Alinga alhamdulillah sudah sangat jarang terlihat menangis atau panik di kelas. Semoga di kelas 3 tidak ada lagi cerita deraian air mata yaa, baik karena panik atau tersinggung dengan teman atau takut pada guru.

Berbeda dengan Kakaknya, Ka Zaha menunjukkan sikap yang model belajar yang berbeda. Saya kadang agak gemas karena merasa kesulitan menerapkan kedisiplinan belajar padanya. Bisa dibilang Ka Zaha sangat santai dan cuek untuk urusan belajar. Rasa tanggung jawab dan ambisi untuk menjadi tahu dan meningkatkan kemampuan diri,  agak kurang. Prestasi Kakaknya tidak membuatnya terpacu  namun terkadang malah membuatnya mundur dan mengambil jarak. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa "aku bukan Kakak bu...aku berbeda dengan Kakak".

Kondisi ini makin dikuatkan dengan sistem belajar di TK mereka masing-masing. Lulus TK B Kakak Alinga sudah gemar membaca dan memang membacanya sudah sangat lancar. Ka Zaha kesulitan menghabiskan satu buku cerita sederhana yang saya berikan sebagai latihan membaca. Saya harus mengejar-ngejar agar Ka Zaha mau melatih diri membaca agar lebih lancar. Pun tampaknya sekolah TKnya tidak terlalu menekankan pada Calistung.

Selain dari karakater, saya juga merasakan adanya gap sistem pendidikan atau kurikulum pendidikan dasar kita. Anak Usia TK dilarang dipaksa belajar Calistung. Beberapa sekolah bahkan tak terlalu mengutamakan hal ini di tingkat TK. Namun faktanya, saat masuk SD buku-buku ajar anak sama sekali tidak memberi kesempatan bagi anak yang belum lancar Calistung. Selain tebal-tebal, materinya cukup berat dengan bahasa yang cukup kompleks.

Belum lagi jika sekolah menerapkan sistem Bilingual dimana terdapat beberapa mata pelajaran yang secara full menggunakan bahasa Inggris. Untuk kasus SD Ka Alinga dan Ka Zaha misalnya untuk Math, Science dan English sudah full berbahasa Inggris. Bahkan untuk Ka Zaha, penerapan bilingual sudah lebih sistematis dan ketat. Masuk  sekolah pertama kalinya, guru sudah menggunakan bahasa Inggris saat menyambut dan mengarahkan mereka.

Lalu apakah saya khawatir?? Jujur awalnya saya sangat panik melihat Ka Zaha yang sangat santai menyikapi proses belajar. Bahkan hingga hari ini saya masih harus mengejar-ngejar Ka Zaha agar mau konsentrasi dan fokus membaca untuk memperlancar bacaannya. Namun saya sudah jauh lebih "nrimo" bahwa mungkin setiap anak memiliki kecenderungan yang berbeda.

Saya hanya ingin membantu agar Ka Zaha tidak kesulitan menjalani masa awal sekolahnya karena kemampuan membacanya tidak seperti Kakaknya dahulu. Pun kadang Ia ditakut-takuti Kakaknya, bahwa belajar di SD itu berat, tidak seperti saat di TK. Alih-alih memotivasi, kadang Ka Zaha malah makin minder. Anehnya bukannya terpacu dia malah makin cuek dan seperti ingin menghindar. *fuihhh lap keringat

Saat saya merasa gagal paham, saya coba mengevaluasi diri. Lalu saya mencoba memperbaiki sudut pandang. Toh sudah ditekankan oleh guru di sekolahnya dan ini tergambar dari sistem dan kurikulum sekolah bahwa anak-anak tidak dinilai hanya dari kemampuan kognitifnya semata. Sekolah sangat mempertimbangkan dan memperhatikan perbedaan potensi dan karakter masing-masing anak. Untuk yang memiliki masalah kesulitan membaca misalnya ada waktu remedial. Untuk pematangan materi ada masa pengayaan.


Ah syukurlah... Saya yang tak punya background pendidikan apalagi pendidikan anak mendapat titik terang. Meskipun secara kemampuan atau kelancaran membaca Ka Zaha tidak lebih baik dari Kakaknya dulu, namun Ka Zaha memiliki banyak kelebihan lain sebetulnya. Dari sisi emosional dan psikologis setidaknya ia jauh lebih telaten dan caring baik terhadap barang yang dimilikinya maupun terhadap orang-orang di sekitarnya. Ia lebih mudah bersosialiasi dan ngemong. Selain itu, Ia punya perhatian terhadap kerapihan barang miliknya dan punya rasa tanggung jawab menjaganya. Sedikit berbeda dengan Ka Alinga yang menonjol di kognitif namun kurang untuk aspek tersebut. 

Eitsss saya kan tak boleh terus-terusan membandingkan ya??mengenali perbedaan dan potensi antar mereka memang harus tapi tidak untuk dibanding-bandingkan. Semua menjadi catatan untuk memperbaiki cara saya mendidik dan mengawal mereka belajar. Saya sadar sekali, menjadi Ibu adalah proses belajar sepajanng masa. Sesungguhnya dari kalianlah Ibu banyak belajar nak.

Saya kemudian lebih fokus memotivasi semangat dan rasa tanggung jawab Ka zaha untuk belajar dan menjadi lebih baik. Saya tekankan bahwa kemampuannya membaca, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk kebaikannya sendiri. Jika mau belajar dan rajin memperlancar baca dan tulis, tentu akan mempermudah belajar di kelas. Selain itu lancar membaca dan menulis itu asyik sekali bisa tahu berbagai hal dari membaca informasi. Saya juga memberi pemahaman bahwa belajar di SD tidak sulit dan berat karena sudah disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan Ka Zaha. Tidak ada yang sulit, karena semua masih dalam proses belajar. Jika mau belajar maka sedikit demi sedikit kesulitan akan teratasi. 

Saya justru melihat proses pembiasaan sebagai cara yang paling tepat untuk mengajari anak dengan keinginan dan antusiasme belajar yang kurang tinggi seperti Ka Zaha. Biarlah proses belajarnya mengalir sebagaimana mestinya, saat tak akan membebaninya dengan target apapun. Learning by doing, Practice makes Perfect. Proses pembiasan berbahasa Inggris di sekolah yang  tampaknya telah aktif diterapkan sejak hari pertama akan sangat membantunya lebih percaya diri dan terbiasa.

Selama ini saat melihat saya dan Kakaknya berlatih atau membiasakan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris di rumah, Ka Zaha selalu menghindar dan ogah meniru atau ikut mempraktikkannya. Tampaknya minder dengan kemampuan Kakaknya. Iya itu tadi, alih-alih termotivasi, Ia malah makin down. 

Namun kiranya dengan sistem di sekolah, saya akan mencoba memotivasi Ka Zaha di rumah agar ikut aktif jika saya dan Kakaknya tengah mempraktikkan percakapan dalam Bahasa Inggris. Karena saya sangat percaya bahwa masalah bahasa adalah masalah pembiasaan. Language is Habit. saya masih ingat saat kami mulai mempraktikkan berbahasa Inggis di rumah saat Kakaknya dua tahun lalu masuk SD, dengan lugunya Ka Zaha pernah bilang: "Ibu mah sombong, ngomongnya pake bahasa Inggris." *Hahahaha tepok jidat* Persepsi dan pemahaman seperti ini juga harus saya ubah pelan-pelan, bahwa mempraktikkan bahasa Inggris bukan untuk gaya-gaya-an.

Ka Zaha makin minder saat sepupunya yang ikut Ibunya ke Amerika untuk study mengajak bercakap-cakap via skype atau hangout dengan bahasa Inggris yang sudah sangat lancar. Ka Alinga yang sudah sering practice-pun masih kewalahan menimpali percakapan dengan sepupunya yang belum setahun di sana sudah lancar sekali berbahasa Inggris. Ahhh tahukah kalian nak??? Ibupun kadang kewalahan dan belepotan menimpali percakapan dengan Keisa, entah kemana menguapnya kemampuan berbahasa itu. Karena sekian tahun tak dipraktikkan, menguaplah Ia. Itulah kenapa, kita harus mempraktikkannya.

Jujur hari pertama sekolah Ka Zaha agak horor untuk saya. Hari pertama akan menjadi kesan pertama di kepalanya. Itulah mengapa, saya ingin menemaninya dan memastikan Ia baik-baik saja di hari pertama sekolahnya. Alhamdulillah saat pulang sekolah dan sepanjang saya menemaninya di sekolah tadi, Ia tampak ceria dan enjoy. "Betul kata Ibu, sekolah SD itu gak susah ya bu..." alhamdulillah. Iya tenang aja, Bu gurunya sudah tahu bagaimana membuat kalian nyaman di masa-masa awal sekolah.  Memang selama 3 hari pertama belum mulai belajar namun masih dalam masa orientasi.

Sebelumnya saat saya menyiapkan perlengkapan dan buku dalam lokernya, Ka Zaha langsung menempel dan memasukakna mukannya ke badan saya dan berbisik. "Ibuu, Miss-nya ngomong bahasa Inggris, aku gak bisa". Saya tahu Ka Zaha bukan tak tahu sama sekali, Ia paham namun belum bisa membalas atau mereply ucapan Miss-nya, lebih tepatnya karena belum percaya diri. Lalu saya membalas dengan peluk dan membisikinya dengan pasti, "nanti lama-lama Ka Zaha bisa, Missnya akan ajari setiap hari sampai Ka Zaha bisa. Semua juga belum bisa kok, makanya diajari Miss ya kan. Ayo semangat". Lalu perlahan pelukan eratnya mengendur.

"Jadi aku juga bisa kan bu?? nanti aku bisa seperti Ibu bilang.." Ibu percaya kamu bisa nak, bersama waktu dan dengan caramu... dengan caramu, bukan dengan cara Kakak atau cara Ibu. Ibu hanya berusaha membantumu menjalani proses belajarmu, membantumu lebih disiplin dan bertanggungjawab.

Minggu pertama dengan lugunya Ka Zaha mengungkapkan rasa senangnya sudah bisa sekolah di SD. Saya senang karena dulu dia sering ketakutan, dan menyampaikan ketakutannya masuk SD. Tidak lain karena sebetulnya dia sadar dia belum lancar membaca seperti Kakaknya dahulu saat masuk SD. Aiiih namun ternyata oh ternyata alasan rasa senangnya memang sedikit unik dan berbeda dari Kakaknya dulu. "Ibuuu aku seneng sekarang sekolah SD.." "Waah syukur deh kalau begitu, Zaha sudah mulai bisa menikmati yaa belajar di SD, belajar gak susah kan sayang ....bla bla bla.." " Hmmm bukan itu sih bu, aku seneng masuk SD karena aku suka baju-bajunya, setiap hari aku pake rok panjang, aku suka pake rok panjang, aku jadi cantik. Aku gak suka yang pake celana panjang kayak hari jumat." "Oooh... hmmm oke deh kalau begitu". Ibu cuma bisa tersenyum. Ah nak, apapun Ibu berjanji akan mensupportmu, jikapun Zaha tak secepat ka Alinga, yang pasti kamu bukan anak yang menyerah pada keadaan kan?? You are (might be) a Slow Learner, But not Quitter!!


17 comments:

  1. Sama dong, Aa Dilshad juga masuk SD umur 5,5 th.
    Baru sempet mampir lagi via web, Mak. Tampilannya blognya sudah ganti ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss ah Aa Dilshad sm ka Alinga

      Baru diganti headernya sm rapihin dikit mak

      Delete
  2. Ganti template dan dirapihin dikit aja mak... lagu seneng gonta ganti template baru bisa bikin di picarts. Makasih dah mampir mak

    ReplyDelete
  3. Harus sabar ya Mak, untuk menjadi orang tua yang bijak dan mampu menyikapi karakter yang berbeda dari masing-masing anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, saya niih stock sabarnya kurang banyak kayaknya hiks...
      kita juga msih belajar jd ortu mak

      Delete
  4. Wah kaya aku dan kakakku mak..kak Alinga persis kya kakaku rajin..rapi lah orangnya... sebaliknya aku nyantai pwooll... tapi ya gitu semua orang ada plus minusnya..
    Betewe selamat jadi kakak SD ya kak Zaha :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya...gak bisa bulet2 dibandingkan mak. memang mrk punya kelebihan dan kekurangan masing2..
      kitanya nih yang kudu bs mensikapinya
      makasih ateu...

      Delete
  5. Pola asuh tuk anak yg beda karakter juga kudu diperhatika ya mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ternyata say..ga bisa dipukul rata. they are unique,

      Delete
  6. semoga bisa mendidik anak-anak dengan baik

    ReplyDelete
  7. Ngeliatnya kayak anak kembar ya mak ^^ usianya dekat sekali..
    anak saya baru 1, kelahiran 2011. Jadi kalaupun nanti punya adik, usianya sudah terlampau jauh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa..kadang2 orang nyangka kembar...meski muka dan wajah beda cuma karena sepantaran trus bajunya kadang senada. Hmm lumayan juga tuh jaraknya klo punya adek..nti masalah yang dihadapi bisa jadi beda lagi mak

      Delete
  8. Iya betul, kakak adik sekalipun kota memperlakukan dan mendidik dengan cara yang sama, hasilnya bisa beda, anak2ku juga itu maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, bahan baku boleh sama yaa... hasilnya sangat mungkin berbeda hahaha

      Delete
  9. idem mak, dua anak saya karakternya beda, yang cewek-cewek rada grasak grusuk yang cowok kalem heheh dna ini berpengaruh pada cara belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Rin, yang dua cewekpun beda, apalagi sm yg cowok nanti.

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.