Monday, August 24, 2015

Pongek "OR" Situjuah: Kuliner Otentik Payakumbuh

Jika berwisata atau sekedar berkunjung ke Payakumbuh, saya sarankan mampir untuk makan siang di warung makan ini. Saya tidak tahu nama persis jalannya. Atas rekomendasi dari driver yang menemani kami, kami makan siang di sebuah warung makan dengan cita rasa otentik dan bonus pemandangan alam yang hijau melatarbelakangi suasana santap kita.


"Sebaiknya kita singgah sebelum jam makan siang." Begitu saran driver. "Penuuh, bisa tak kebagian tempat dan harus menunggu kita." Benar adanya beruntung kami bisa sampai di sana saat pengunjung belum terlalu ramai. Di depan warung makan yang terletak di area pesawahan yang hijaundan dipagari bukit kebiruan itu terpampang plang nama restoran. Warung Makan Pongek "OR" Situjuah. Mungkin nama daerahnya adalah Situjuah.


Layaknya menu masakan minang. Segera setelah kami duduk disajikan menu masakan minang. Masih panas dan tampal segar menggoda. Pandangan saya langsung tertuju pada ikan bakar dan gulai kambing yang merupakan menu andalan di rumah makan ini.


Ikan bakar dengan bumbu yang pas berukuran sedang. Ikan mas diambil dari kolam yang berada tepat di bawah rumah makan yang berbentuk panggung tersebut. Hmmm saya juga sempat menikmati pemandangan kolan penuh ikan yang tampak berebutan air karena air kolam tengah surut.


Ikan bakar dengan rasa yang mantap. Panduam bumbu yang pas dan daging ikan yang segar dan manis. Sangat menggoda untuk mencoba dua jenis sambal yang tersaji sebagai temannya. Sambal cabe hijau goreng yang jempol dan sambal mangga kuweni/bacang muda yang terasa segar asam menggugah selera. Beberapa menu masakan minang lainnya juga tersedia di meja. Namun kami lebih banyak fokus pada sang promadona. Ikan bakar dan duo sambal tadi.


Menu favorit lainnya adalah gulai kambing. Hmm wajin dicoba. Meski penampakannya sederhana saya cukup jatuh cinta dengan rasanya. Agak berbeda dengan gulai kambing di Aceh atau di Jawa misalnya. Gulai kambing ini memiliki cita rasa yang khas dengan bumbu rempah yang pas dan tidak berlebihan. Bumbunya berwarna coklat tidak kuning atau kemerahan layaknya gulai di tempat lain. Daging kambing lembut menyatu dengan bumbu yang pas. Tidak tercium bau "prengus" kambing. Seporsi gulai kambing di piring kecil rasanya pas untuk sepiring nasi. Dilengkapi segarnya sambal mangga dan lalapan.

Untuk dessert, warung makan ini juga punya menu khas andalan. Srikaya, memang sudah biasa kita temukan di restoran atau rumaha makan khas minang. Namun penyajian yang unik membuat srikaya ini makin menarik untuk dicoba. Ketan dikukus dalam bungkusan daun pisang sementara "toping"nya yang bisanya diletak di satu wadah khusus dan baru diletakkan di atas ketan saat hendak disajikan kali ini dibungkus dengan daun pisang yang dibentuk persegi. Biasanya saya mengkhawatirkan rasa telur dalam toping srikaya. Kali ini gabungan gula dan kocokan putih telur paa dipadukan sehingga tidak menimbulkan rasa "eneg".


Intinya...recommended deh mampir ke sini saat ke Payakumbuh. Semua keotentikan cita rasa masakan di sini antara lain karena semua bahan bakunya segar dan dimasak dengan media tungku dengan kayu api. Bukan dengan kompor gas atau sejenisnya. Saya sempat melongok ke dapur tradisional di bagian samping depan warung makan. Semua bahan segar dan pengolahan yang tradisional dan alami menambah cita rasa masakan. Hmm pengalaman kuliner yang mengesankan.


16 comments:

  1. mesti nyoba mampir kesini deh kayanya makanannya enak-enak

    ReplyDelete
  2. Kirain kalau di Sumatera Barat, gulainya lebih pedas gitu daripada di Jawa... Kapan ya saya ke sanaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah ini malah gak terlalu pedas mak, bakhan sambal2nya sekalipun. sy suka sambal tp tak suka terlalu pedas jadi rasanya cucok bgt bt lidah saya.
      semoga bs kesana dan mampir yaa

      Delete
  3. Aaah....kapan ya bisa jalan-jalan ke Sumatra.Dari dulu pengin banget menginjakkan kaki di Pulau Sumatra.Belum kesampaian jugaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga segera bisa ke sumatera yaa..klo ke sumbar mampir sini, mamam enak

      Delete
  4. Wahh kayaknya sedep banget nih dimasak pake tungku...

    ReplyDelete
  5. Ophiiii, itu my kampuang, Payakumbuh tercinta hehe... hmmm jd pengen makan pongek *ngeces

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah..kampungnya asik banget deh... Kayaknya gimana gt bisa tinggal bekerja dan bekeluarga di tempat seindah Payakumbuh...
      lap dulu ilernya uni...

      Delete
  6. Beeeeeuh menggoda mbak, semoga bisa main kesana nantinya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin...sukses yaa godaankuuh hahahaha

      Delete
  7. kue srikaya dengan buah srikaya atau selai srikaya...bedanya apa ya...saya masih beluym ngeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda mak..tiga2nya beda. buah sri kaya itu yang bruntus berbiji mirip sirsak. selai sri kaya itu khas medan atau makasar komposisinya telor dan gula gt gak ada essence buah srikayanya. sedang kue ini khasnya kuliner padang, biasanya di masakan khas padang ada juga tuh ketan/pulut sama pelengkapnay terbuat dari santan dan gula

      Delete
  8. wah menggoda itu makanannya, apalagi kolam ikannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kolamnya kmrn airnya lagi surut jadi ikannya kayak bejubel gt rebutan air...klo airnya penuh seneg liatnya ikannya montok2 dan banyak

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.