Tuesday, May 17, 2016

Waspada Bahaya Racun Tomcat! Kenali dan Atasi Dengan Tepat!



Tomcat, keren sebutannya namun sayangnya efek dari racun yang berasal dari cairan tubuhnya baik melalui gigitan atau keluar dari tubuhnya karena dipencet atau terpencet ternyata sangat berbahaya bagi kulit. Sebuah sumber menyebutnya racun cairan Tomcat lima kali lebih kuat dari pada bisa Kobra. Bukan efek mematikan karena masuk dalam peredaran darah tetapi efeknya jika terkena kulit. Memang racun tomcat hanya menyerang kulit. Racun tersebut tidak mematikan walaupun sangat menyakitkan karena zat yang terkandung dalam cairan tomcat  yaitu paederin apabila terkena kulit kita akan menimbulkan gatal atau efek terbakar. 



Serangga tomcat memiliki nama ilmiah Paedarus Littoralis, sering juga disebut sebagai semut semai. Tomcat memang mirip semut dengan tubuh yang lebih panjang dengan ujung ekor meruncing. Tomcat berwarna jingga dan memiliki bagian berwarna hitam pada kepala, perut, dan ujung ekornya. Dalam kondisi tertentu, saat merasa ada bahaya, tomcat akan menaikkan perutnya, sehingga terlihat seperti kalajengking. Bagaimana bahayanya racun tomcat bagi kulit? Ternyata saya menyaksikan sendiri betapa "kuat" efek racun tersebut. Sayangnya yang harus menjadi "korban" adalah Dek Paksi.

Karena Tak Kenal, Bisa Jadi Fatal!

Sekitar satu bulan lalu. Hari Jumat malam, Trio Krucils izin pada saya menginap di rumah Mbahnya. Sabtu pagi kami jemput karena kami sudah janji ingin menonton film Boboi Boy. Saat mereka kembali ke rumah dan kami siap-siap berangkat tak ada yang janggal. Sehingga kami kemudian berangkat ke salah satu theater di daerah Tangerang.

Dek Paksi yang biasanya ceria dan semangat, apalagi menonton tokoh kartun idolanya rewel sepanjang jalan tanpa sebab yang jelas. Ia hanya bilang merasa perih di badannya. Namun tak mau menunjukkan dengan sukarela bagian tubuh yang dia bilang perih. Saya dengan susah payah akhirnya bisa mengintip sedikit bagian tubuh yang dia bilang perih. Tampak memerah. Hmm perih? mungkin biang keringat atau "keringet buntet", karena dia memang tetap aktif dan tak mau diam bahkan berkeringat karena cuaca cukup panas hari itu.

Karena sepanjang jalan Dek Paksi mengeluh dan rewel, kami bahkan menawarkan mengagalkan rencana nonton. Rupanya sudah kadung semangat akhirnya Dek Paksi keukeuh tetap pingin menonton. Baiklah, kami (saya dan suami) tetap berkesimpulan itu hanya biang keringat. "Ya sudah nanti kita mampir ke toko obat dan beli bedak dingin ya dek...supaya gak panas lagi." Kami kemudian membeli satu merek bedak cair berwarna pink yang biasanya meredakan gatal pada kulit. Saat itu saya tidak terlalu jelas melihat kondisi kulit Dek Paksi karena dia membatasi saya melihat langsung. 

Jadi saya oleskan saja bedak cairnya seluas yang mungkin dia merasa perih dan panas. Hmm kok jadi banyak yaa. Awalnya di punggung, lalu dis ekitar ketiak, dan sekarang dia bilang di bagian pundak kiri depan. Duh nak kok bisa? Saya masih belum berpikir terlalu jauh karena meski sering rewel dan mengeluh perih, namun sepanjang waktu main di mall dan menonton, Dek Paksi tetap ceria dan lari-lari bercanda dengan kakaknya. Hanya saat dia merasa bosan dan teringat dengan perih di kulitnya kemudian dia meradang dan rewel.

Well acara menonton tidak terlalu sukses. Karena film ini cukup lama. Paksi rewel dan menangis minta keluar sebelum selesai dengan alasan perih. Setiap kali dia bilang perih saya tawarkan untuk menambahkan bedak cair tersebut. Akhirnya kami keluar dan malah menonton Optimus Prime dan Avengers melalui youtube di smartphone saya. Hampir seharian kami nonton, jalan, dan makan. Saatnya kami pulang ke rumah dan saya mengecek bagian tubuh yang Dek Paksi bilang perih saat hendak mandi.

Saya kaget luar biasa karena ternyata bagian tubuh yang dia bilang perih ternyata bukan kemerahan karena biang keringat namun hitam seperti luka terbakar, melepuh. Iya luka terbakar tetapi karena cairan kimia atau air keras. What happen? Saya panik luar biasa dan langsung menangis saat melihat Dek Paksi menangis dan meronta karena tidak ingin menunjukkan lukanya. Parahnya luasan kulit yang terbakar cukup banyak. Tersebar di punggung kanan sampai ke bawah ketiak dan bagian dada kanan, serta pundak kiri bagian depan. Duuh nak, ngeri sekali Ibu melihatnya. 

Saya mulai curiga. Jangan-jangan bukan biang keringat. Jangan-jangan memberinya bedak dingin bukan solusi tapi malah memperburuk kondisinya. Setelah dikorek-korek, akhirnya Dek Paksi mau cerita (diperkuat kedua Kakaknya) bahwa rasa panas dan perih sudah dirasakan sejak pagi di rumah Mbah. Bahkan Paksi sudah rewel minta ditiupin dan digaruk oleh Mbahnya. Mbah Utinya ternyata sudah menaburkan bedak tabur. Mungkin sama seperti kami, Mbah Uti berasumsi hanya biang keringat. Karena Paksi tak mau diam dan aktif bergerak padahal udara Sabtu pagi waktu itu cukup terik dan lembab.

Hari Minggu keesokan paginya saya langsung membawa Paksi ke Rumah Sakit. Saya tahu tidak ada dokter spesialis hari itu. pasti hanya ada dokter jaga di ruang UGD. Saya hanya merasa perlu tahu kenapa dan apa yang terjadi serta apa yang harus saya lakukan. Agak susah memakaikan baju pada Dek Paksi karena posisi luka bakar tersebut di badannya. Setelah merayu bahkan dengan agak memaksa akhirnya dia mau ke dokter, menggunakan baju yang longgar dan tidak menutup bajunya kecuali sampai di RS. SubhanaAllah kamu hebat nak! bisa kuat dan tegar melangkah ke ruang UGD dan dipersilahkan menunggu di bed yang sudah kosong menunggu giliran karena pasien hari ini cukup ramai hanya dengan satu dokter jaga.

Dokter tampak kaget saat kami menunjukkan luka Paksi. "Ada alergi bu? Salah makan? salah minum obat?" demikian pertanyaan dokter. Tidak ada... Paksi bahkan menggeleng sendiri. Tidak ada salah makan dan beberapa hari belakangan tidak minum obat. Dokter juga bertanya sudah ditangani seperti apa? Saya sampaikan karena kami kira biang keringat kami beri bedak dan bedak cair. Saya juga sampaikan bahwa belakangan ini Dek paksi suka main di kebun menangkap belalang dan kadal-kadal kecil. Saya malah khawatir terkena racun binatang.

Dokter yang tampak sangat sibuk hanya menyampaikan kemungkinan alergi, meresepkan kami obat demam dan batuk pilek (entah mengapa) padahal tidak sedang batuk hanya pilek biasa dan salep/cream yang harus dioleskan di atas kulit yang terbakar. "Tiga hari lagi Ibu kembali ke sini ya, bisa ke dokter anak atau ke dokter kulit". Begitu sarannya.

Drama terjadi saat kami harus mengoleskan cream/salep. Parahnya ada bagian kulit terbakar yang sudah terbuka saat kami merayu untuk membuka baju agak mudah mengoleskan cream. Dek Paksi menolak keras, saya mencoba merayu (sambil tak tahan ingin menangis karena kasihan melihat kondisinya), namun lama kelamaan Ayahnya tak sabar dan berusaha membuka baju Paksi. Paksi meronta hingga ada kulit yang terkoyak. Duuh saya beneran menangis mendapati hal tersebut. Tak tega melihatnya. Tapi memang harus diobati. Paksi hanya mau saya yang menanganinya, sementara rayuan saya tak menggoyahkan pertahanannya. Drama banget deh!

Well dugaan sementara alergi (entah terhadap apa), "terhadap binatang atau serangga dok?" "bisa jadi bu." Duuh dokter ini sangat tidak memuaskan saya. tapi saya juga tak bisa apa-apa karena dia memang bukan bidangnya. Dia hanya dokter umum bukan dokter spesialis. Duh! saya juga sempat googling namun yang muncul tentang luka terbakar atau kulit melepuh justru informasi yang membuat saya makin bergidik.

Drama berikutnya adalah karena hari Senin saya harus tugas ke Surabaya. Tidak mungkin dicancel karena saya koordinator tim dan semua sudah fix. Tiket pesawat, hotel dan seterusnya. Alhamdulillahnya tugas ini hanya sampai hari Rabu. Tetap saja 3 hari dua malam yang menyiksa namun apa daya hiks. Saya ambil penerbangan pagi untuk kembali ke Jakarta pada hari Rabu. Selama di Surabaya saya berusaha memantau kondisi Paksi lewat ayahnya. 

Menurut laporan Mbah Uti yang kami titipi Paksi. Everything was fine. Dia mau minum obat dari dokter dan mau diolesi cream/salep. Sayangnya ayahnya cukup sibuk tiga hari tersebut sehingga saat saya pastikan untuk melihat lukanya dengan melakukan video call dia belum sampai ke rumah atau ketika sampai ke rumah Paksi sudah tidur demikian juga pagi saat dia berangkat Paksi masih tidur. Well drama is drama. Finally I was home at Wednesday morning. Thanks God!

Sesampainya di rumah saya langsung cek. Sebagian kulitnya tampak mengering (seperti hangus), namun luka yang terbuka karena kulit yang mengelupas tanpak memerah seperti daging bakar. Hmm baunya juga agak aneh. Ibu mana yang tidak segera menangkap "sinyal" keanehan meski dia tampak seria menyambut saya pulang. Sambil menahan rasa perih di hati karena tak tega sekaligus merasa bersalah meninggalkannya. Tanpa istirahat saya langsung merapihkan diri dan Paksi. 

"Ayok Dek, kita ke dokter."
 Awalnya dia menolak. 
"Adek belum sembuh, harus ke dokter lagi. Ingat kan pesan Pak dokter waktu itu? tiga hari lagi harus ke dokter". 
"Nanti gak disuntik kan bu". 
"Enggak, janji deh gak bakalan disuntik".
"Dokternya sama kayak yang kemarin?"/
"Enggak, beda! kita ke dokter spesialis kulit. Dokter yang kemarin gak tahu sakitnya Dek Paksi. Yang sekarang dokternya lebih pintar. Sekolah dokternya aja dua kali. Jadi pasti dia tahu sakit  adek apa dan bisa obati adek.."

Well akhirnya dengan gagah berani dia mau memakai kemeja longgar meski selama beberapa hari dia tidak dipakaikan baju karena takut terkena luka bakarnya. Dia pegang sendiri bagian kerah bajunya agar tidak menempel ke luka terbuka di pundak kirinya. "Anak jagoan, anak pintar, sholeh Ibu, raja Ibu, semoga kamu segera sembuh ya nak." batin saya sambil berkaca-kaca.


Alhamdulillah meski mendapat antrian nomor 8. Kami bisa langsung masuk pada antrian 2 karena datang cepat dan baru ada satu pasien sebelum kami. Dokter dengan ramah bertanya. "Adek kenapa nih?" Tanpa menjawab langsung dibukanya kemeja bajunya dan menunjukkan luka di pundaknya. Dokter langsung mengerutkan alisnya. Tanpa diminta saya langsung nyerocos menjelaskan kronologis ceritanya hingga hari ini. Termasuk drama saat mengoleskan lukanya. Duuh kesempatan banget nih numpang curhat. Dokternya hanya tersenyum. "Dok, jadi ini kenapa ya? sebenarnya kena apa sih dok? "

"Bener Ibu gak kasih yang lain selain bedak cair?"
"enggak dok"
"minyak tawon atau sejenisnya"
"enggak dok, Mbah utinya sebelumnya kasih bedak terus saya bedak cair"
"Jadi kenapa ya dok? Kok kayak kena cairan kimia gitu, sampai melepuh dan terbakar. Alergi apa dok? dia gak makan dan minum yang aneh-aneh kok."
"cuma memang belakangan suka banget main ke kebon nih, nangkepin belalang, kadal..."
Saya kok ngerocos gak bisa ngerem!
"Saya juga punya photonya nih dok, luka bakarnya pas hari kedua. sebelum separah kayak sekarang."
Lalu dokter melihat photo luka Dek Paksi yang saya ambil setelah negosiasi alot dengannya.
Calm...dan pasti dokter kulit kemudian memberikan jawaban yang akhirnya saya yakini
"Nah itu bu, dari cerita Ibu dan fisik luka dua hari lalu dan hari ini, saya sih cenderung ke tomcat nih bu."
"What?Tomcat..?"

Ternyata, tomcat lah penyebab luka di kulit Dek Paksi. sayangnya karena ketidaktahuan kami, karena Dek Paksi tidak cerita pada saya, Mbah Utinya juga tidak cerita sampai ketemu pada hari Senin saat dia ke rumah, plus penanganan awal yang kurang pas sehingga memperburuk kondisi kulit Dek Paksi. Jadi saat ke Dokter Kulit kondisi kulit dek Paksi sudah ada pada tahap dermatitis dan kemungkinan sudah ada infeksi karen luka terbuka tampak memerah (seperti daging terbakar) dan tercium bau kurang sedap.

Karena cerita saya tentang drama mengoleskan cream. Dokter kemudian merayu dek Paksi bahwa nanti yang harus dilakukan Ibu adalah mengompres lukanya dengan kain kasa yang dibasahi cairan infus. Kompres dilakukan sekitar 15 menit 2 kali sehari. hal ini dimaksudkan untuk mengelupaskan kulit yang sudah kering tanpa rasa sakit dan perih. Saat mengering ditetesi kembali cairan infus, demikian hingga 15 menit. Setelah selesai dikompres lalu diolesi cream/salep khusus di atas luka-luka tersebut dan kemudian menutup semua luka tadi dengan kain kasa (seperti perban). 

"Gak mau...periiiih"! Paksi langsung menolak.
"Enggak dek..nih coba ya dokter kasih contoh, kamu rasain sendiri. Rasanya dingin, dijamin deh! kalau perih gak usah dilanjutin ya bu..pasti adem kok gak perih"

Dokter lalu mengambil tisu, membasahinya dengan air infus lalu menempelkannya ke tangan Paksi. "nah dingin kan rasanya?" Paksi mengangguk. Tak semudah yang dibayangkan. Hari-hari selanjutnya drama berlangsung dua kali sehari. Setiap "ritual" kompres, oles cream dan menutup luka dilakukan. Meyakinkan anak pintar ini tidak mudah. "Kan Paksi sudah cobain waktu itu sama Pak Dokter kalau rasanya dingin, gak perih..." "Iya, kan waktu itu ditaronya di tangan Pakci, bukan di lukanya Ibuuu..."

Drama berlangsung sekitar 4-5 hari, hari kelima luka sudah jauh membaik. Kulit Paksi yang terbakar mulai mengelupas sendiri saat kompresan dilepas. kulit yang terbakar tersebut menempel sendiri di kain kasa basah dan lama kelamaan bersih kembali. Sayangnya ternyata bekas luka meninggalkan tanda di tubuh Paksi. Tapi mudah-mudahan seiring perkembangannya bisa pulih dan diganti kulit baru. Selain treatment untuk kulit, dokter juga memberikan antibiotik karena tampaknya sudah ada infeksi di luka bakar yang terbuka. Obat minum ini juga sangat membantu pemulihan luka,

Cegah dan Hindari

Berdasarkan penjelasan dokter dan hasil googling ada beberapa hal yang bisa dicatat. Untuk mencegah dan menghindari tomcat di sekitar rumah sebaiknya:

  • pastikan jendela dan pintu tertutup rapat; jendela atau lubang angin sebaiknya diberi kasa/jaring nyamuk/tirai/kelambu;
  • selalu matikan lampu jika tidak digunakan. Tomcat menyukai tempat-tempat yang terang;
  • jangan memakai pakaian terbuka yang memungkinkan bersentuhan langsung dengan tomcat;
  • jika suka tanaman di sekitar rumah, rawat dengan baik dan singkirkan san buang  tanaman yang tidak terawat karena berpotensi menjadi sarang Tomcat;
  • semprot aerosol atau pestisida organik dari campuran laos, daun mimba, dan sereh untuk membasmi serangga di rumah;
  • hindari kontak langsung dengan Tomcat. Gunakan pemukul untuk mengusir Tomcat, dan bukan menggunakan bagian tubuh kita;
  • jaga kebersihan lingkungan. Pastikan rumah dan lingkungan tempat tinggal selalu bersih
Selain di kebun, lapangan, atau tempat tumbuhnya tanaman dan rerumputan, Tomcat juga dimungkinkan suka tinggal di kayu-kayu lapuk yang sudah tua. Sebaiknya hindari tempat-tempat seperti ini.

rumput ilalang di kebon sekitar rumah


Cara Tepat Menangani Racun Tomcat

Yang lebih penting adalah bagaimana cara menangani jika kita terkena racun tomcat. Parahnya luka pada kasus Dek Paksi antara lain karena kami tidak mengetahui, tidak mengenali, dan kurang waspada kemungkinan akan terpaparnya racun tomcat. Tubuh tomcat mengandung Paederin yaitu racun yang apabila mengenai kulit manusia akan menyebabkan dermatititis. Gejala-gejala  dermatitis akibat tomcat antara lain kulit terasa perih,  panas , merah, melepuh, sakit, gatal, iritasi serta muncul gelembung atau nanah


Jika terlanjur terkena racun tomcat maka lakukan hal-hal berikut:

  1. Jangan digosok agar racun tidak menyebar. Apabila cairan racun terkena bagian tubuh lain, bagian tubuh tersebut dapat mengalami gejala yang sama sehingga luka gigitan Tomcat jangan digaruk karena racunnya bahkan dapat berpindah ke bagian lain kulit lewat cairan luka. Hal ini terjadi pada Dek Paksi. Karena gatal lalu minta digaruk, cairan racun tomcat kemudian menyebar ke beberapa bagian tubuh yang digaruk, demikian juga keringat. 
  2. Cuci kulit dengan air mengalir (dan sabun). Hal ini dimaksudkan agar racunnya terbawa air dan tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Jangan diberi odol, minyak kayu putih, balsem, minyak tawon, maupun bedak tabur karena hanya akan memperparah keadaan. Kulit yang terkena toksin tomcat akan merah meradang mirip herpes tetapi tidak sama.
  3. Beri cairan antiseptik dan kompres dengan air dingin atau air infusan untuk mencegah dan meredakan peradangan.
  4. Apabila berlanjut segera bawa ke dokter kulit untuk mencegah infeksi atau peradangan.

Demikian sharing Mom of Trio kali ini, setiap kejadian meski musibah sekalipun tentu ada hikmahnya. Semoga kita tidak mengalami apa yang Dek Paksi alami, setidaknya waspada dan bertindak tepat saat mendapati kasus seperti ini. Sehat yaa semuanya..:)

51 comments:

  1. ya ampun, sekarang sudah sehat lagi mbak kulitnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah sudah baik mba

      Delete
    2. Ya Tuhannn.. depan rumahku masih banyak ilalang. cepat sembuh Mbak Ophi. Jadi ngeri-ngeri-sedap ini

      Delete
    3. hati-hati aja mas...ilalangnya rajin dibersihkan. anak2 jangan dibiarin main terlalu lama...

      Delete
  2. Saya pernah juga terkena racun tomcat. Betul rasanya perih, panas bahkan seperti ditusuk2 bagian dalam kulit. Menjalar dari atas punggung sampai bawah. Dan saya malah sampai panas badan saya. Ga enaknya, ga bisa kena keringet karena gatal plus sakit. tapi, waktu itu saya dikasih salep aja sama apoteknya. Salep anti basa, allhamdulillah ga ada bekas sama sekali.

    Bahkan di rumah juga ada yg kena juga, tapi udah bisa nanganinnya. Padahal rumah kami ga dekat dengan kebun loh. Full rumah semua. Jadi ga jamin juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setidaknya mencegah ya mba..
      katanya di sudut2 rumah, trus kayu2 lama juga dia suka mba...
      klo orang besar penangannya jd lebih mudah ya mba..krn udah lebih paham...

      Delete
  3. Teryata kena racun tomcat bahaya juga ya. Sampai lihat kulit melepuh begitu. Lekas pulih ya. Amin

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduuuh kok serem ya mak, semoga cepat pulih ya adek Paksi, ngilu lihat kulitnya sampe kebakar dan mengelupas begitu :(

      Delete
    2. alhamdulillah sudah pulih tante...

      Delete
  5. Tomcat emang bahaya, kulitnya bisa seperti luka bakar, mbak. Tetangga dan teman kantor dulu pernah kena juga, dan langsung ke dokter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak...mendingan langsung ke dokter spy pas penangannanya

      Delete
  6. Aku dalam dua tahunan tinggal di jogja udah tiga kali ke dokter krn tomcat dan lukanya nggak terjangkau, misal di pungnggung dan telinga. Kalau yg luka di wajah, tangan kaki mah diatasi sendiri aja, cepat dibasuh dan enggak digaruk terus pake salep dr dokter langgangganan pertomcatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah smpa ada dokter langganan pertomcatanan ya mba..mewabah kah di yogya?

      Delete
  7. Pernah lihat di berita bahanya tomcat ini mbak, tapi belum pernah lihat tomcat secara langsung. Btw makasih infonya mbak, bermanfaat sekali

    ReplyDelete
  8. Ciri-ciri awal kena tomcat sedikit mirip dengan biang keringat ya mak? Semoga bekas luka tomcat dek paksi segera hilang ya. Senang dengarnya kalau sudah sehat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mirip mba...klo orang dewasa kyk kita bs ebdain rasanya kali ya..krn anak ekcil jd gak ngerti bvedain rasanya

      Delete
  9. bapakku pernah kena juga di pundaknya mbak

    ReplyDelete
  10. Anakku rewel karena biang keringat aja, aku ikutan nangis, apalagi kalo kena tomcat, pasti rasanya gak karuan ya mbak..

    Bahaya banget ya tomcat ini, jadi was was.. semoga dek paksi cepet pulih n lukanya cepet ilang ya.. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. drama bangeeet..
      alhamdulillah sudah pulih sekarang

      Delete
  11. ya ampun bulan kemarin aku juga kena tomcat di leher sama kaki, bahkan ada sedikit racunnya kena bawah mata. ga enak banget, panas, gatel dan sakit. bawaannya pengen nangis
    alhamdulillah sekarang udah pulih ga berbekas. semoga dek paksi juga cepet pulih dan lukanya cepet ilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah sudah pulih ya..dek paksi juga sdh baik sekarang

      Delete
  12. Ya Allah, dek Paksi gimana sekarang, ngelihat lukanya enggak tega banget

    ReplyDelete
  13. duh ya ampun de paksii...sampe begitu kulitnya. untung skr sudah sembuh ya mak.
    ga nyangka itu gara2 si tomcat

    ReplyDelete
  14. Jujur aku paling takut ama serangga tomcat mb ophi,
    Pernah liat satu ekor di lantai krl trus aku langsung pindah gerbong

    Cepet sembuh dedek paksi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya jangan smp bersentuhan deh bahaya..
      maksih atue udah sembuh

      Delete
  15. sekarang udah sembuh kan mba?, sampe parah gitu ya

    ReplyDelete
  16. Aduuh seremnya.. Thx for sharing yaa mbak, berguna banget buat saya yg punya 2 anak balita hobi jongkok dikebun :)

    ReplyDelete
  17. Ngeri ya Mba', rumahku dekat sawah, trus banyak semak-semaknya juga, beberapa kali pernah ketemu sama ini tomcat, Cepet sembuh ya dedeknya, Aamiin.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin..makasih...hati2 aja yaa..yg penting waspada

      Delete
  18. waduh mbak aku baru tahu kalau efeknya seperti itu ya, beberapa athun lalu kan ada wabah tomcat ini ya, kebayang yang kegigit. Semoga cepet sembuh ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya di ruarbaya klo ga salah mah tira

      Delete
  19. Ya Allah dek Paksi kesiannya...sampe kaya gitu kulitnya. Moga2 sekarang sudah sembuh ya

    ReplyDelete
  20. AStagfirullah, saya tau tomcat cuma dari tipi mak Ophi, ini dapat pengetahuan baru lengkap-selengkapnya. Alhamdulillah kalau sudah sembuh, semoga tidak tertimpa kejadian ini lagi. Agak merinding juga ngeliatnya, karena saya punya pekarangan yang sedang rimbun.
    Semoga dapat limpahan pahala dari Allah karena sudah share ini ya Mak

    ReplyDelete
  21. Di tempatku pernah ada wabah serangan tomcat sampe byk yh tersengat dan masuk rmh sakit.. Btw, mksh byk atas sharringnya ya mbak..

    ReplyDelete
  22. Serem...harus ekstra nih ngawaain sikecil...

    ReplyDelete
  23. Oohh itu bentuk tomcat yaa,saya baru tahu, pantas saja tomcat banyak di pakai untuk istilah militer atau senjata,mungkin ini alasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mungkin krn efectnya yg super kuat mba

      Delete
  24. Ya ampun mbaa...semoga semuanya sudah membaik untuk Paksi. Memang bahaya sekali yaaa tomcat ini..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.