Sunday, March 12, 2017

Kuliner Yogyakarta yang Unik dan tidak Mainstream


Ke Yogyakarta? kayaknya saya sih gak ada bosannya. Mau aja, kalau diajak ke sana. Wisata kuliner salah satu yang gak boleh dilewatkan saat ke Yogya. Yogya identik dengan gudeg, mie godog, dan bakpia? Hmm rasanya kuliner tersebut mainstream banget ya, meski saya juga gak nolak kalau ditraktik hahaha.

Kalau ke Yogya lagi (atau yang memang tinggal di sekitaran Yogya), cobain deh nih 3 kuliner unik dan tidak mainstream ini! Memang buat saya relatif baru nih infonya, jadi baru mencoba wisata kuliner ini beberapa waktu lalu. Overall, recommended! karena selain unik, rasanya khas, dan satu lagi sehat!
Menu serba Organik di Bumi Langit

Makan makanan dari bahan organik? Hmm gimana ya rasanya? hambar, tasteless, gak menarik? wih salah banget tuh. Saat ke Yogya kemarin sebelum menikmati beberapa wisata alam di Mangunan. Saya dan suami menyempatkan diri mampir di salah satu restoran di jalan Imogiri-Mangunan. Bumi Langit sebetulnya bukan hanya restaurant atau biasa disebut Warung Bumi, tapi juga kebun tempat belajar mendekatkan manusia dengan lingkungan alam.


Semua kegiatan yang dilakukan di lingkungan Bumi Langit mengedepankan aspek "back to nature" mereka memiliki lahan pertanian, peternakan, bahkan pengelolaan bio gas sendiri untuk energi. Hmm untuk lengkapnya mungkin bisa dilihat dulu info tenang Bumi Langit di sini http://www.bumilangit.org/.

Nah kembali ke makanan ya. jadi Warung Bumi ini semacam outlet dari seluruh kegiatan Bumi Langit di mana masyarakat bisa merasakan cita rasa dari hasil pangan (beras, sayur, ikan, ayam, daging, susu dan olahannya) kebun Bumi Langit dan lingkungan seputar Yogya. 

Selain berbahan dasar pangan organik pengolahannya juga dilakukan secara istimewa dan khas ala Bumi Langit. Makanan yang disajikan tidak hanya enak dan sehat namun memperkaya roh kehidupan dan bermakna spiritual, demikian filosofi yang dikedepankan.


Selain berbagai menu makanan yang bisa kita pesan di daftar menu. Ada beragam olahan roti yang non/minim terigu, minuman prebiotik kefir, aneka olahan susu, dan selai buah dari buah-buah lokal. Hmm untuk menu makanan kami mencoba dua macam menu dan dua minuman. 

Katanya yang paling khas adalah nasi campurnya, saya pesan nasi campur spesial sedangkan Ayah Trio pesan nasi goreng suwir ayam kampung. Untuk minuman saya pesan mint lemongrass sedangkan ayahnya mencoba lassy kefir semcam jus buah dengan kefir.


Harum aroma minyak kelapa "coconut oil" bukan minyak kepala sawit yaa menyeruak menggoda penciuman saya. Pesanan agak lama karena pagi itu Warung Bumi sudah cukup ramai. Bukan hanya mereka yang hendak makan tapi juga kelompok pengunjung yang mungkin sedang "belajar" di sini. Kursi dan meja makan  dari kayu jati dengan aneka macam dekorasi sudah penuh. Kami memilih meja di ujung depan. Warung Bumi berbentuk rumah joglo yang terbuka sehingga pengunjung bisa menikmati udara segara dataran tinggi dan pemandangan di kejauhan.

Saya tergoda untuk mengintip ke dapur yang sengaja dibuat terbuka. Melihat proses menu yang kami pilih sedang diolah.  Selain bersih, tampak dapurnya lebih mirip dapur di rumah untuk keluarga besar ketimbang dapur restauran. Sambil menunggu saya melihat-lihat beragam display produk dari Bumi Langit. Produk olahan dari kefir, madu asli, selai-selai dan syrup buah, bahkan buah markisa segar yang baru dipetik.


Saat makanan yang kami pesan tiba, perut memang rasanya sudah tak sabar ingin diisi. Baik nasi campur maupun nasi gorengnya berbahan dasar beras organik pecah kulit. Bentuknya bulat dan rasanya khas. Aroma minyak kelapa kembali menyeruak. nasi campur dengan olahan beragam sayuran segar, tahu dan tempe organik, serta suwir ayam kampung. Rasanya enak kok, bumbunya pas dan terasa sekali tidak ada penambah rasa tertentu, sangat natural namun tetap lezat.


Untuk nasi goreng yang membuat istimewa adalah kecombrang dan petainya. Ihh saya yang malah banyak icip hahaha. Meski digoreng, tidak terlihat minyak yang berlebihan. Rasanya juga pas dan khas dengan aroma kecombrang. Makan siang makin komplit dengan jus buah kefir yang masam manis segar. Mint lemongrass merupakan kombinasi serai/sereh dan daun mint ditambahkan gula batu. Segar dan mengesankan.




Kami sempat ikut sholat Zhuhur di Musholla mereka dan melihat-lihat kebun sayur dan buah serta kandang ternak dan biogas yang mereka kelola. Hmm back to nature, seru yaa. Saya juga mimpi bisa punya tempat seperti ini nih. Btw, kalau ke Yogya lagi saya bakal mampir lagi dan mencoba menu yang lain, mungkin ikan atau dagingnya yang juga fresh dan organik.

Untuk harga dibandrol relatif terjangkau untuk makanan dengan bahan oganik. Untuk menu utama kisaran harga dari Rp. 22.000 hingga Rp.35.000,- Snack mulai dari Rp.12.000 - Rp.15.000 demikian juga beragam olahan sayuran dan salad. Sedangkan minuman dibandrol dari Rp.15.000 - Rp.20.000. Untuk olahan ikan atau daging dihargai per ons mulai dari Rp.12.000- Rp.25.000/ons. Menu tambahan lain seperti aneka sambal dihargai terpisah.



Saoto Bathok Sambisari

Sebuah warung makan di tengah persawahan tak jauh dari lokasi Candi Sambisari. Saoto Bathok Mbah Katro, demikian papan namanya. Pagi hari selepas mendarat di bandara Adi Sucjipto, teman-teman mengajak sarapan ke sana. Saya yang masih membawa bekal jus buah mengiyakan saja karena tampaknya semua kompak kelaparan. Awalnya saya pikir nanti lihat dulu seberapa menggoda menunya. Cukup worth it kah untuk membuat saya cheating dan makan besar di pagi hari. halahhh


Suasana pagi rupanya justru waktu yang cukup ramai. Banyak motor dan beberapa mobil terparkir di sekitar warung makan. Udara pagi dan pemandangan sawah yang mulai menguning membuat rumah makan yang dibuat terbuka dan sebagiannya dibuat panggung atau gazebo dari bambu ini nyaman disinggahi. Kami memesan di depan dan langsung memilih salah satu rumah panggung.


Tempe goreng yang tampak crunchy dan hangat baru saja diangkat menggoda selera makan saya. Hmm kayaknya bakal cheating nih. Well memang kemudian saya memesan satu porsi soto. Saoto Bathok, dinamai demikian karena ternyata soto bening berisi tauge segar dan irisan daging ini disajikan di batok kelapa. Porsinya mungil tapi pas untuk saya.


Layaknya Soto di Jawa disajikan dicampur dengan nasinya. Namun tentu saja dimungkinkan memesan dengan nasi terpisah. Saya pesan terpisah. Untuk menu pendamping ada beragam pilihan sate usus, ati ampela, dan telor puyuh, termasuk goreng tempe yang tampak menggoda tadi.




Rasanya sotonya light dan pas banget. Enak dan segar buat saya. Tidak berlebihan baik dari bumbu maupun porsi. Karena makan nasi (karbo), saya menyisihkan irisan dagingnya. Tampaknya irisan daging sapi ini yang juga memberikan aroma kaldu soto yang meski bening namun tersesap nikmat dan segar. Penyuka pedas bisa menambahkan sambal dan tentu saja makin segar dengan tambahan air jeruk nipis. Untuk porsi sarapan tampaknya pas juga, harganya juga sangat pas dan jauh dari kata mahal. Hanya Rp.8000 per porsi.

Minuman yang disediakan mulai dari air mineral, teh manis dan tawar, hingga air jeruk. Setelah mengisi "bensin" kami mampir sejenak melihat salah satu candi peninggalan Hindu di Abad ke 9 Masehi. Tunggu ceritanya di Mom of Trio yaa.


Ayam Panggang Mbah Dinem

Berkesempatan meet up dengan teman lama yang sudah lama juga tak bersua, saya dan suami diajak makan siang. Di sela kesibukannya sebagai dosen dan wakil dekan di Fakultas Hukum UGM, Melon demikian panggilan kesayangan kami padanya, mengajak mencoba kuliner baru di Yogya yang letaknya tidak jauh dari tempat kami menginap di sebuah hotel di bilangan Malioboro.


Yang ini tidak kalah unik dan sehat nih. "Ayam Ajaib" karena merupakan ayam kampung liar tanpa dibakar, tanpa digoreng, tanpa digodhog, tanpa dikukus, tanpa diungkep, tanpa MSG, tanpa proses minyak. Trus diapain ayamnya? Entahlah, saya agak sulit juga menjelaskannya hahaha. Tapi sebetulnya mungkin dipanggang namun dengan proses memanggang yang berbeda dari biasanya.

Ayam kampung liar,- demikian rumah makan ini meng-klaim ayam panggang yang menjadi menu utamanya, diproses di dalam gerabah yang dibakar di atas tungku-tungku dengan kayu bakar di bagian samping depan resto. Proses pemanggangan dilakukan secara tradisional, jadi dari daging ayam kampung liar yang masih segar langsung diproses di dalam gerabah tadi tanpa ada proses dikukus, direbus, digoreng, atau diungkep sebelumnya.


Dari pamflet yang saya baca, ada 4 keistimewaan dari Ayam Panggang Mbah Dinem ini. Pertama, dimasak dengan rempah alami resep turun temurun tanpa MSG dan bumbu instan lainnya. Kedua, gerabah yang dijadikan alat masak berasal dari tanah liat di Bantul yang aman dan tidak mengandung zat berbahaya. Ketiga, Karena proses pemanggangan tradisional tersebut, air dan lemak dari ayam terkuras habis. Keempat, Ayam dimasak di dalam ruang kosong tanpa minyak, tanpa air, dan tanpa tersentuh api. Unik bukan?


Rasanya? untuk ayam yang tidak diproses dengan cara dikukus, diungkep, digoreng, atau direbus, daging ayam bisa saya gigit dan nikmati dengan mudah. Meskipun kita akan merasakan perbedaanya dengan ayam kampung yang melalui proses yang biasa, ayam panggang ini terbilang lebih alot atau kenyal. Bumbunya khas dan berbeda dari yang rasa ayam panggang yang sebelumnya pernah saya icip. Makan ayam panggang ini dilengkapi dengan sambal dan lalapan dan tentu saja nasi hangat.


Harga Ayam Panggang dibandrol  berukuran 1/2 ekor Rp. 55.000- sedangkan untuk Ayam utuh ada yang Rp.110.000,- dan Rp.120.000,-. Untuk minuman saya memilih wedang uwuh dan kunyit asam.

Wedang uwuh ini sering disebut juga sebagai minuman sampah karena merupakan seduhan beragam dedauan dengan aroma khas ditambahkan gula batu. Hmm segar rasanya. Untuk kunyit asamnya juga alami sehingga rasanya tentu tak kalah segar, Kombinasi yang cocok dengan ayam ajaib. Terlebih nuansa rumah makan yang tampak tradisional menyerupai rumah joglo dengan furniture yang juga tradisional.


Informasi tentang Ayam Panggang Mbah Dinem bisa diintip di http://www.mbahdinem.com/



Jadi gimana? penasaran dan pingin mencoba kuliner Yogyakarta yang tidak mainstream, unik, dan sehat ini? Jangan lupa yaa ceritain gimana pengalaman versi kamu. Selamat bertualang rasa di Yogya :)

39 comments :

  1. Ya alloh demi apa aku baca ini en jadi pertamax hihihj,mantab mantab amat yak,
    Paling suka wedang uwuhan, minumnya pas ujan jadi anget di perutnya mb ophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. enak di perut dan enak di badan jg kayaknya mbul... srupuuut

      Delete
  2. ayam kampunh liar panggang kualinya itu mbak berhasil bikin penasran
    seperti apa ya empuknya
    catat ah..,

    ReplyDelete
    Replies
    1. catet mba...klo ke Yogya mampir deket kok di tengah kota

      Delete
  3. Ayam panggangnya sungguh menggoda mbak..dan payahnya dari ketiganya saya blm nyoba semua, padahal wong jogja..*tutupmuka

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayo mba wong yogya harus nyobain niiih

      Delete
  4. Wajib kesini nih kalo ke Jogja, organik + nuansa alam = perfect :)

    ReplyDelete
  5. Wajib mampir ke resto Bumi Langit deh kalo ke Jogja. Terima kasih ya Mom, rekomendasinya :)

    ReplyDelete
  6. Bumi Langit itu masuk Dlingo Ama Imogiri yaa, perasaan kalo ke Dlingo baca tulisan Bumi Langit, abis dari Jogja ya mbaaak, rumahku ngga jauh dari bandara, mampir donk

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan2 beneran yaa ku mampir mba hehehe

      Delete
  7. Ihhh aku pgn rasain yg nasi goreng organik kecombrang pete :D. Hihihi itu favoritku banget mba :D.

    Ama yg ayam panggang tuh bikin pgn nyoba. Lebih sehat sih ya kayaknya, tapiiii kan lemak ayam itu yg bikin enak wkwkwkwk :p. Udh ilang lemaknya ya mba kalo dipanggang dgn cara gt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. enak mba nasi goreng kecombrang petenya, sensasional hahaha

      Delete
  8. paling suka klo liat sate endhog..

    ReplyDelete
  9. Kenapa saya harus klik artikel ini saat saya gak boleh makan makanan berat selain bubur plain? kan jadi ngences saya.. Ayam panggang itu favorit saya. Kalo ke jogja kudu silaturrahmi ke mbah dinem. TITIK !!!

    ReplyDelete
  10. walah...itu mbah katro hampir tiap sabtu mbak saya ke sana.

    bolehlah kalau pas pulkam ke situ.

    kecombrang...jadi inget kereta api. kalo sampe purwokerto ketemu bakul pecel kecombrang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah berarti deket ya mba..enak lhoo sotonya light tp mantep, tempenya yang top banget juga

      Delete
  11. Unik-unik semua, pi! Pengen nyobain. Bumi Langit pernah denger namanya. Temen saya petani di cimahi pernah ikutan workshop permakultur deh kayaknya di Bumi Langit. Ke jogja lagi saya kudu pisan mampir nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kudu mampir Ulu, cucok buat ulu tuh mampir ke bumi langit

      Delete
  12. Jogja memang surganya wisata kuliner, meskipun saya belum pernah merasakannya. Tapi sekian banyak tulisan tentang kuliner di Jogja termasuk tulisan ini sudah cukup meyakinkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah siap dicoba nanti klo ke YK ya mas rodhoy

      Delete
  13. Hadeeeh jadi ngileer... Wisata kuliner endes brendes mom ophi, salam.

    ReplyDelete
  14. Waaah....liat ayam panggang jadi pengen. Selama ini kalo ke Jogja, jajannya mainstream...kalo nggak gudeg ya bakmi jowo.

    ReplyDelete
  15. Waktu pas ke jogjah mau ke bumi langit tapi nggak jadi euy... Aduh jadi pengin nih mba ophiiii...
    Harganya bersahaja banget Ya utk ukuran healthy food

    ReplyDelete
  16. aku sampe nelen ludah Mbak, fotone apik banget. Trus makanannya juga baru ngelihat, apalagi yang ayam panggang. Ovennya tradisional banget ya, enak pasti

    ReplyDelete
  17. Dija sudah pernah ke jogja,
    tapi belom pernah sekalipun ke tempat tempat itu
    kayaknya asyik yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo ke YK lagi dicoba ya Dija..enaak lho

      Delete
  18. Saya suka sekali masakan Jawa, apalagi kalau pas mudik, makan masakan mertua mirip semua menu yang ada pada postingan mba Ophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah enake mba ria...salam buat ibu Mertua yaa hehe

      Delete
  19. Aku orang jogja taapi malah belum pernah nyoba kuliner2 ini mbak duhhh kurang piknik nih ahaha

    ReplyDelete
  20. Kalau diliat fotonya, emang lebih menggoda nasi campurnya sih

    ReplyDelete
  21. wah kayaknya kalau wisata kulineran di yogya harus dicobain satu- satu ini. Biasanya saya makan yang itu2 ajah hehehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top