Saturday, May 6, 2017

Saat Perebutan Kursi di Commuter Line Makin Sadis, Disitu Saya Rindu Masa Lalu

Hmm sesama Roker, angkat tangan dung! Hahaha iya Rombongan Kereta. Ada juga yang menyebutknya Anker nih. Kamu, para Roker atau Anker pasti punya banyak cerita kan? Setiap hari selalu ada cerita berbeda seputar kereta. Sebagai Roker yang setiap hari, 5 hari seminggu sejak 8 tahun lalu pulang dan pergi rumah - kantor - rumah, ada banyak warna warni menghiasi hari-hari saya dengan kereta.



Delapan tahun artinya saya menyaksikan bagaimana "metamorphose" dari Kereta Api Langsam, KRL ekonomi, KRL ekspress, hingga Commuter Line hari ini. Jadi ada banyak #CeritaKereta yang ternyata kalau diceritakan bakal jadi cerita berseri. Tidak selalu cerita indah, ada juga cerita tidak mengenakan. Hmm semacam "hate and love relationship"sih sama kereta ini.

Awalnya suatu hari menemukan curhat Hani S. pemilik "Kacamata Hani" tentang #CeritaKereta yang baru saja dialaminya di timeline FB. Saya langsung nyamber dan comment. Trus kepikiran, kenapa enggak kita berdua bikin collaborative blogpost tentang #CeritaKereta masing-masing. Hani juga Anker yang setiap hari bolak balik ke tempat kerja dengan Kereta. Bedanya, Hani pengguna jalur Depok - Tanah Abang, kalau saya di jalur Serpong - Tanah Abang. Eh sejak April kemarin bahkan makin panjang jalurnya dari Rangkasbitung -Tanah Abang. Makin jauh artinya makin padat.

Hmm kejadian tak terduga bisa terjadi setiap waktu. Meskipun berdesak-desakan kayak cendol sudah menjadi rutinitas harian namun selalu ada kisah yang berbeda yang mewarnainya. Hmm saya sempat pingsan dua kali saat berdesakan di kereta. Kok bisa? iya bisa bangeet. Kalau mau pingsan sudah sering hahaha, tapi yang benar-benar gak bisa tahan ya dua kali itu. Jadi inget cerita Hani yang karena hampir pingsan terpaksa harus bohong kalau dia sedang hamil. Penasaran sama cerita Hani? Baca di postingan #CeritaKereta Hani yang ini ya.


Saya hanya harus melewati 4 stasiun kereta untuk sampai ke kantor. Dari Stasiun Sudimara, Stasiun Jurangmangu, Stasiun Pondok Ranji, Stasiun Kebayoran, dan Stasiun Palmerah. Kalau lancar, rata-rata hanya memakan waktu sekitar 30 menit atau bahkan kurang. Boleh dibilang, saya tidak berharap bisa duduk di kereta saat menggunakan Commuter Line, bisa keangkut saja sudah "aman". Jadi kalau bisa mendapat duduk maka bisa dibilang itu merupakan "rezeki anak sholihah." Gerbong agak longgar dan tidak terlalu berdesakan aja sudah alhamdulillah. 

Persoalan mendapat duduk di kereta rasanya semakin challenging belakangan ini. Sejak semua orang harus membayar biaya yang sama untuk satu jenis layanan kereta maka semakin kompetitif nih sesama pengguna untuk bisa mendapat kursi terutama di jam sibuk. Bisa dibilang saya tidak pernah lagi bisa mendapat duduk sejak kereta berganti nama commuter line. Di situlah saat sedang demikian lelah baik pagi atau saat pulang, saya merindukan masa lalu.

Ada apa dengan masa lalu? Dulu, saat pengguna masih bisa memilih antara Kereta Api/Langsam, KRL ekonomi, atau KRL eksekutif, maka ada kemungkinan untuk bisa mendapat tempat duduk, entah dengan memilih Langsam, KRL ekonomi, atau eksekutif karena pengguna kereta kemudian dengan sendirinya tersegmentasi dalam beberapa kelompok. Saya yang setiap hari menggunakan kereta tentu jadi hapal, pada waktu-waktu tertentu pada jam sibuk, kereta mana yang kemungkinan agak longgar. 

Sekarang kok rasanya makin sadis ya soal perebutan kursi kereta ini. Widiiiih udah kayak kursi kekuasaan aja ya. Tapi begitulah faktanya. Pasti pernah dengar dung, ada gadis muda yang duduk dan main gadget tanpa rasa bersalah padahal di depannya ada wanita tengah hamil besar berdiri. Pemandangan sejenis juga sering kita temui, ada bapak-bapak atau mas-mas yang gagah tidur atau pura-pura tertidur padahal ada manula wanita, ibu dengan balita, atau bumil berdiri.


Ini sebetulnya soal hati nurani ya, karena memang kondisi kereta yang masih terbatas sehingga kondisi berdesakan dan berebutan menjadi hal yang tak terhindarkan. Semua harus terangkut tapi kapasitas dan intensitas kereta belum seimbang untuk menjadikan kereta menjadi sarana yang nyaman dan memadai. Kayaknya karena anti "macet" dan saving time merupakan alasan pengguna kereta tak bisa pindah ke lain hati.

Saya termasuk orang yang gengsi minta duduk meski merasa lebih berhak terutama untuk kursi prioritas. Mengalami 2 kali masa hamil sebagai pengguna kereta, saat hamil muda bahkan hamil besar sekalipun dan tidak mendapat kursi, saya cenderung pasif dan pasrah saja. Kalau ada yang berbaik hati alhamdulillah, kalau tidak ada, maka saya selalu bilang pada diri saya, insyaAllah saya kuat. 

Belakangan saat kursi di kereta makin "kompetitif" dan banyak pihak yang berhak tidak mendapat haknya saya jadi lebih galak. Saat melihat ada Ibu hamil/manula/dengan balita masuk gerbong saja susah apalagi mendapat duduk, saya berani bicara agakkencang pada mereka yang duduk (meski tidak di kursi prioritas) untuk memberikan kursi. 

"Bu, minta duduk saja bu"
atau
"Tolong ya Pak/Mas, Ibu ini bawa anak, lebih berhak untuk duduk, makasih untuk pengertiannya ya."

Anehnya saat saya berada pada kondisi "lebih berhak", saya tetap merasa enggan atau gengsi meminta hak. Maunya mereka paham sendiri. Rasanya gimana gitu harus meminta. Saking gengsinya pernah suatu saat ketika harus membawa dek Paksi ke kantor. Saya sempat mau nangis sendiri saat harus berdiri di peron menunggu kereta lewat sambil menggendong Dek Paksi yang tertidur sejak dari kereta  Mereka yang duduk cuek saja. Bahkan seperti mata-mata itu menghakimi, jam sibuk gini bawa anak. Salah sendiri. Su'udzon sendiri ih! Baper hahaha.

Saat membawa Paksi, biasanya saya juga enggan meminta kursi. Kalau ada yang memberi dudukpun biasanya hanya untuk dek Paksi dan saya tetap berdiri. Saya memahami dalam kondisi sangat penuh, lelah atau masih mengantuk, dan diburu waktu kadang nurani agak kurang jernih.

Yang penting para bumil, ibu dengan balita gak harus pake kostum khusus dengan tulisan "Saya Hamil" untuk bisa mendapat kursi. Kalau kita di posisi yang alhamdulillah mendapat kursi dan kemudian ada yang lebih berhak gak perlu jutek, ya memang waktunya mereka yang duduk. Di luar kursi prioritas atau sesama bukan yang berhak mendapat prioritas, maka bisa duduk atau mendapat kursi di commuter line benar-benar hal yang di luar kontrol.

Again ternyata ada bagian dari masa lalu yang masih saya rindukan. Tapi tetap sih, saya masih akan jadi pecinta dan setia pada commuter line sampai wkatu yang saya tidak tahu. That what I called  "Hate & Love Relationship". Saya masih cinta sih...

55 comments :

  1. katanya mending naik di gerbong campuran ya mbak, naik di gerbong wanita sadisss, tapi kadang ada juga sih yang gak liat padahal kita bawa anak or lagi hamil tetep aja cuek

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku sih dah lama ga ke gerbong cewek ev
      klo menurut aku iya..lebih sadis hihi

      Delete
  2. Wah mbak perjuangan bgt u dapatkan tpt duduk di kereta ya, perlu mgkn bawa kursi lipat sendiri hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah ga boleh pake kursi lipat, itu jamannya bogor ekspress dan bekasi ekpress he he he

      Delete
    2. iyaa udah lama gak boleh lagi pake kursi lipaat...boro2 buat kusi lipat sekarang maah

      Delete
  3. kyaknya dengan bertambang panjangnya jalur Garis hijau semakin padat isinya KRL, heee
    harus pinter-pinter ambil waktu yang pas, biar dapat jatah kursi ... wkwkkw
    semakin Kanibal sekarang, heeee
    #SalamAnker

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa gtu deh mas.... masalah waktu kan sulitnya memang jam kerja dan ibu2 macam saya waktunya terbatas

      Delete
  4. Gak cuma di commuter line mbak Ophi, jaman sekarang sepertinya orang2 emang udah gak punya nurani (walo masih banyak yg baik dan mau ngalah). Budaya ngantri aja kadang gak punya. Saya pernah di ATM ada bumil udah ngantri, eh ada bapak2 baru nyampe dgn pedenya langsung nyamber, mentang2 badannya besar kali ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk bapak2nya lupa lahir dr ibu2 tuh..dia lahir dr perut onta kali hihihi

      Delete
  5. Hi Mbak Ophii, wah sejalur dong kita, ahaha! Pernah suatu kali saya pulang naik kereta terus ada ibu hamil yang enggan minta dikasih tempat duduk di gerbong, padahal buncitnya udah keliatan, huhu...
    MEmang rebutan tempat duduk di kereta ganasnya ngalah-ngalahin the Hunger Games. Salam kenal ya Mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mba...jangan2 kita pernah empet2an yaa

      Delete
  6. Aku baca ini jadi tahu sejarah nama dan jenis2 Kereta di Ibukota.
    Semangat ya kitaaaaa! haha.

    ReplyDelete
  7. klo kendaraan saya biasanya bus kota dan seringnya berdiri sampai kepala pusing

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebayang mba...lebih melelahkan dan menuntut kesabaran...jaman dulu blom kenal kereta akupun ngebus

      Delete
  8. saya juga roker lagi sejak tahun lalu, masalah duduk jadi gak penting kalau pas mau brgkt kerja, masuk aja sudah susah,maklum stasiun ke 4 setelah stasiun awal.. apalagi sejak April 2017 ini, jarak kereta kok makin lama ajah....kalau pulang kerja sih karena pulang jam 4 nyaman bgt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah pulang jam segitu masih enak ya mbaa

      Delete
  9. Saya sering dengar cerita horor teman-teman. Dan bahkan di gerbong wanita lebih ganas.
    Saya sih berharap semoga gerbongnya bisa diperbanyak frekuensi lebih banyak terutama di jam sibuk

    dan yang lebih utama, masyarakat semakin sadar mana pihak yang lebih memerlukan tempat duduk mana yang bisa berdiri

    salam saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya om, sy dah lama gak ke gerbong cewek

      Delete
  10. Hihihi toosss Mba aku pun orgnya rada segan minta, pas hamil muda belum keliatan lagi kan.. Tp aku tetep minta biasanya sama PKD.. :) Skrg naik kereta yg dari dipo Depok mba dan itu rebutannya paraaaah jg dorong2an biar bisa dapet duduk.. Gile deh roker mesti tahan banting bgt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tosss ditaaa, smoga sabar n tetap semangat kita yaaa

      Delete
  11. Alhmdulillh nih mbk, di kereta yg biasanya aku tumpangin masih mendahulukan yg tua, ibu2 hamil, ibu2 bawak anak, dan wanita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mungkin gak sebejubel CL kali yaa

      Delete
  12. Masyarakat Indonesia sekarang mulai menurun rasa pedulinya. Apalagi warga ibukota yang dituntut harus serba ini, serba itu. Jadi semua tidak mau mengalah.
    Sungguh miris negeri ini.

    ReplyDelete
  13. bahkan kalau jam pulang kerja harus nyender di ketek orang lain huaaa.. gak kebayang deh bagaimana hawanya. Untunglah aku tinggal di kota kecil yang belum merasakan macet deh mba,

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah kenapa pake masker is a must buat Roker n anker hehehe

      Delete
  14. Ya ampuun mba, baca ini aku bener2 ga pengen untuk mencoba naik :D. Aku pasti kalah dorong2annya.. Bisa2 malah ga bisa kluar dr kereta ntr hahahaha.. Udh cukup ngerasain jd berasa sarden pas naik kereta commuter di osaka, pas jam sibuk.. Sampe ada nenek2 keguling.. Dr situ aku mikir, gila yaa yg di jepang aja sadis, apalagi di jakarta wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah di jepang juga sadis kayak gt mbaa...dududududu

      Delete
  15. Saya sesekali naik CL, benar benar sadis, lebih parah dari susunan ikan Sarden. Ga kebayang kalau harus bawa anak kecil naik CL, eh tapi kalau Minggu agak lega.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha..cendol cendol mbaa..klo sarden msh rapih

      Delete
  16. Sewaktu kuliah dulu saya juga pengguna setia kereta api dari Jombang-Surabaya. Seru tapi juga miris kalo ga dapat tempat duduk bahkan kadang bergerak pun susah saking penuhnya. Apapun itu, itu pengalaman berharga karena sekarang saya stay di samarinda dan gak ada kereta api disini hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah samarinda aman dan damai ya heheh..ga ada kereta qiqiqi

      Delete
  17. ada triknya mbak biar bisa dapet tempat duduk saat berebutan di pintu dg catatan keretanya sebelumnya tdk penuh.
    kyknya prnh saya tulis di blog juga deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. krn aku gak punya banyak waktu jd ga bs praktekin mba...

      Delete
  18. Seruju mbak dengan kalimat mendapat duduk maka bisa dibilang itu merupakan "rezeki anak sholihah.".. Hehe.. kalo pengalaman saya Alhamdulillah baik2 saja sih.. Saya lebih suka naek kereta di gerbong umum.. Kalo gerbong wanita kog sikut2annya berasa banget.. Kalo gerbong umum cowok2nya kayak ngasih jarak gitu biar aku gak terdesak.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kupun udah lama gak pernah ke gerbong cewek mba

      Delete
  19. Saya belum pernah ngerasain commuter Line sepadat itu. Tapi pernah di stasiun jalan kaki ngelawan arus saat ada kereta mau jalan. Eyaampun, itu orang-orang yang ngejar kereta larinya pada gak lihat-lihat, ya. Hajar sana-sini, sampe saya juga ditabrak :D

    ReplyDelete
  20. Betul ya mbak.. commuter skrng kurang manusiawi... eh... atau penumpangnya yang kurang manusiawi
    lebi enakan sistem yang dlu ya.

    ReplyDelete
  21. Luar biasa ya kalian roker yg harus berjuang tiap hari menghadapi hal ini. Salah satu yg bikin aku takut kerja di ibukota ya salah satunya soal ini hihihii... udah keenakan kerja di desa, ga sanggup klo kudu ngadepin beginian.

    ReplyDelete
  22. saya ga kebayang gimana semua para anker harus berjibaku, untuk diri saya saja saya ga tau sanggup atau ga menjalani hari2 seperi itu. beruntungnya di medan belum sepadat jakarta. \kendaraan umum yang tersohor disini ya angkot, cuma angkot medan suka ngebut2an. saya sendiri kemana selalu pake motor

    ReplyDelete
  23. Duh beruntung udah ngga ngantor, kalo ngga mungkin bakal nangis setiap hari hehehe

    ReplyDelete
  24. Aku ga naik tiap hari aja udah ga bisa nafas mbak, salut lah buat para rocker :)

    ReplyDelete
  25. Wah, serius mbak, sepadat itu sekarang green line?! :( Saya kadang menggunakan KRL untuk berangkat kerja. Sejak berubah jadi kereta dingin semua, KRL memang berubah total yaa mba. Kalo masalah empati ini emang luar biasa gila nya, apalagi gerbong perempuan, banyak ibu-ibu (terutama dari yang abis belanja di tanah abang), dan anak2 muda nggak mau mengalah, jujur saya sampe skrg pun masih misuh-misuh kalo harus naik KRL dari Tanah Abang. Tapi yaa mau gimana lagi :')))

    Banyak yang nggak mau berbagi, jangankan kursi, sekedar space berdiri saja sulit, karena tertutup dengan barang bawaan. Ngerti sih, tapi tapi tapi. :(((

    Semoga setelah project DDT selesai, jalurnya bisa dipanjangin sampe manggarai, biar nggak riweh transitnya :))))

    ReplyDelete
  26. Sempet 2 tahun jadi anak kereta Bekasi - Kebayoran baru. Wkwkwkwkwk.... Jadi teringat kembali. Beruntungnya kantorku waktu itu masuk jam 10 pagi. Pulang suka suka. Jadi seringnya malah ngambil kereta jam 11 malem dari manggarai, dan masih penuh. Tapi seenggaknya gak jadi ikan pepes lah..

    ReplyDelete
  27. kalo mau tepat waktu mau g mau ya begini.. kalo g nunggu kereta selanjutnya bs lamakkkk

    ReplyDelete
  28. Di Makassar gak ada kereta sih, tapi sewaktu ngantor di Jakarta pernah beberapa kali naik kereta. Pengalaman itu akhirnya mau gak mau teringat lagi pas ngebolang di Seoul, kemana-mana naik subway. Nyata bedanya. Hahaha. Jadi pengen ngeposting ttg naik kereta nih.

    ReplyDelete
  29. Rezeki2an.. Teh klo dpt tmp duduk mah, tp kdang gk enak jg sm ibu2 yg br baik biasany lsg cpt diri,, karena tujuanny gk prnh lama, yg sadis mlh perebutan naikny, pernh naik smp kaki gk brasa napak krn d drong dr blkang ^^

    ReplyDelete
  30. Beberapa kali saya membaca bahwa di gebong perempuan mendapat tempat duduk lebih sukar ketimbang di gerbong campur. Mungkin karena semua perempuan merasa mereka senasib kali ya, jadi enggan mengalah..Tapi semoga tak semua perempuan begitu ya, masih ada yang tergelitik dan terketuk hatinya, memberikan kursi kepada yang berhak :)

    ReplyDelete
  31. wah .. sadis bgt ya mbak ...

    ReplyDelete
  32. aku jarang nek kreta. kalo sndiri di gerbong wanita. kalo lagi bawa boyz n pengen duduk, pilih ke gerbong campur. biasanya suka ada yg kasi kursi

    ReplyDelete
  33. Saya lama bgt gak naik kereta. Sekarang pada egois gitu ya mbk :(

    ReplyDelete
  34. Ga kebayang klo desek-desekan di kereta apalagi pas hamil. Duh, kaki capek banget y, mb.klo aku pernah ngalami masa naik kereta kaligung ke semarang desek2an juga. Skrg alhamdulillah keretanya udah jauh lebih baik dari segi pelayanan maupun jumlah gerbong.

    ReplyDelete
  35. Wah kalau di Jepang ini nggak pernah terjadi Mbak, Berdiri 30min sampai 1 jam itu hal biasa disini, malahan kebanyakan orang tua nggak mau duduk karena merasa masih cukup muda.. Kalau berdesak-desakan karena penuhnya kereta itu saya pernah sekali mengalami ketika di TOKYO tapi tetap rapih dan nyaman sih, nggak pakai gontok-gontokan. Semoga saja berkereta menjadi semakin populer di Indonesia sehingga budaya berkeretanya juga akan meningkat menjadi lebih baik.. Salam kenal dari saya Mahfuzh, yang mengklaim sebagai blogger sains. XD

    ReplyDelete
  36. Kalo saya sih cenderung memilih berdiri, bisa mencegah kesemutan dan kram yang duduk biarlah yang membutuhkan .. hehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top