Saturday, June 10, 2017

Kenangan Ramadan di Negeri Seribu Masjid

Ramadan dimanapun. entah mengapa selalu terasa spesial. Ramadan di negeri cantik dengan pesona wisata yang tak akan habis dinikmati? Saya pernah mengalaminya. Iya, saya dung jalan-jalan ke Gili Trawangan, Pantai Kuta Lombok, Pantai Sengigi, Desa Sade, dan mengunjungi Desa Pringgasela dalam kondisi berpuasa. Ramadan di 2010.



Biasanya orang cenderung malas atau enggan melakukan kunjungan wisata di bulan ramadan. Jalan-jalan sambil berpuasa, gimana rasanya yaa? Hmm rasanya nano-nano seru! Iya, ini memang kenangan yang sudah cukup lama namun menjadi sangat berkesan karena pengalaman pertama saya berkunjung ke Lombok.

Kunjungan tersebut sebetulnya bukan untuk tujuan wisata. Kunjungan saya dalam rangka tugas. Hmm sambil menyelam minum air dung, tugas selesai wisata juga kalau bisa dilakoni. Seusai melaksanakan tugas di pagi hingga siang hari, saya menyempatkan diri menikmati Lombok untuk pertama kalinya. Beberapa kali pertemuan dan diskusi justru dilakukan di sore hari diakhiri dengan buka puasa bersama.

Intinya bulan ramadan dan kondisi berpuasa jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan aktivitas kita seperti biasanya. Produktivitas jangan sampai turun, termasuk antusiasme untuk melakukan traveling. Ibadahnya gimana? tentu saja semua kebaikan yang ditujukan untuk menggapai ridha Allah bisa bernilai ibadah di bulan ramadan kan?

Sholat wajib dan sunnah terutama tarawih serta tilawah dan tadarus tetap digenjot dung ah! Bisa? insyaAllah bisa kok. Apalagi kalau ramadannya di Lombok, Negeri dengan Pesona Seribu Masjid. Travelling menjelajah Lombok, InsyaAllah tidak menemukan kesulitan untuk menemukan masjid guna menunaikan sholat.

Suasana Lombok tepatnya Kota Mataram yang tentu jauh lebih tenang dari Jakarta, membuat kami bisa tetap maksimal menjalankan ibadah puasa meski sambil menjalankan tugas. Bertemu dengan beberapa stakeholders dalam satu hari bisa dilakukan dengan lancar karena tidak ada kemacetan berarti. Kalaupun harus sholat di jalan tidak kesusahan.

Karena memanfaatkan waktu yang ada, maka jalan-jalan menikmati keindahan alam di sekitar Mataram kami lakukan selepas tugas tunai. Hari pertama kami menikmati Pantai Senggigi petang menjelang sore hari dan suasana puasa membuat pantai tampak lebih lengang dan tenang dan hanya terlihat beberapa turis asing yang juga tetap asyik menikmati aktivitas mereka.

Puas menikmati angin dan suasana pantai, tak lupa berburu oleh-oleh khas berupa mutiara dan kerajinan, kami memutuskan untuk ngabuburit di dekat Pantai Senggigi. Banyak pedagang dan warung yang menjajakan makanan menjelang berbuka sambil kami menikmati sunset dari atas bukit tak jauh dari Pantai Senggigi.

Hotel tempat kami menginap juga sangat memudahkan kami menjalani puasa. Ada wake up call untuk membangunkan kami sahur dan menyiapkan menu sahur pengganti breakfast. Suara tilawah dari masjid-masjid sekitar hotel juga membuat kita merasa seperti di rumah. Demikian juga saat maghrib menjelang.

Karena letak hotel yang cukup strategis, teman saya (kebetulan 2 orang pria) dengan mudah mencari masjid untuk sholat berjamaah. Saya memilih shalat tarawih di kamar. Hmm padahal sebetulnya pingin juga merasakan suasana tarawih di sana. Selepas sholat tawarih teman saya mengajak keluar dan menikmati jajanan malam di sekitar hotel.

Kebetulan kami mendapat kamar dengan view kolam renang. Keluar pintu kamar terlihat kolam renang yang biru dengan gazebo dan rimbunan pepohonan. Hmm rasanya pingin nyemplung. Kalaupun mau ngabuburit di hotel saja sebetulnya tetap seru. Tapi mumpung ada di Lombok, kaki saya gatal dung. Setiap ada waktu luang, wuss deh jalan-jalan. Kondisi puasa sama sekali gak masalah.

Kami sempat mengunjungi Desa Pringgasela salah satu desa penghasil tenun Lombok. Setahu saya ada beberapa desa sentra tenun Lombok, tapi entah kenapa driver sekaligus guide kami mengajak ke sana. "Ini memang lebih jauh bu, sekitar 50 km dari Mataram, yaa satu jam lah sampai sana. Tapi tenun Pringgasela sangat khas bu, selain dikerjakan secara tradisional juga menggunakan pewarna alami. Nanti Ibu sama Bapak bisa ngobrol langsung, para penenunnya wanita semua." Desa ini terletak di Lombok Timur.

Nah memang Desa Tenun Pringgasela ini tampaknya sangat khas karena kerajinan tenun ini dikerjakan di rumah penduduk. Di depan rumah-rumah penduduk tampak panggung tempat menenun dengan alat tenun dan kain-kain tenun yang dipajang di sekitar mereka. Koleksi yang lebih banyak bisa kami lihat di dalam rumah. Harganya bervariasi namun ratusan hingga jutaan. Selain proses pengerjaannya secara tradisional yang memakan waktu lama, bahan-bahannya yang alami sehingga menghasilkan warna yang khas dan alami mungkin menjadi penyebab tenun ini dihargai cukup mahal.

Hari terakhir kami setting sudah bebas tugas, sehingga sebelum kembali ke Jakarta bisa mampir ke Gili Trawangan. Sehari sebelumnya, tugas kami selesaikan lebih cepat sebelum Zhuhur pertemuan sudah kelar. Kami sengaja menyelesaikan diskusi lebih awal dengan memulainya lebih awal. Tanpa membuang waktu kami langsung meluncur. Tujuannya kemana? Ke Pantai Kuta.

Dulu, akses menuju ke Pantai Kuta belum seperti sekarang. Tahun lalu saya ke Lombok dan sempat ke daerah ini juga. Sudah jauh perubahannya ya. Terlebih Airport Praya lebih dekat dari sana. Dulu bandara ini sedang dalam tahap pembangunan dan akses jalan yang sebagian besarnya sama dengan jalan menuju Kuta, baru dalam tahap pembebasan.


Sebelum ke Kuta, kami mampir ke Desa Sade. Kami bahkan sempat melakukan sholat Zhuhur dan Jamak dengan Ashar di salah satu masjid di sana. Bangunannya tidak terlalu besar dan masih sangat tradisional. Saya ingat sekali, untuk wudhu, air ditampung dalam wadah serupa gentong. Airnya dingin segar membasuh wajah saya yang terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan.

Menjelang sore kami sampai di Kuta. Saat itu masih sepi dan sangat alami. Pasir putih serupa butiran lada menyilaukan mata terpantul cahaya mentari yang mulai menepi. Kami bahkan sepakat menunggu sunset di sini. Kami hanya membawa bekal air mineral dan snack ringan manis.



SubhanaAllah suasana senja yang cantik menemani kami menutup puasa hari itu. Meski hanya dibatalkan dengan air mineral. Selepas mentari terbenam kami segera kembali. Driver dan guide yang mengantarkan kami wanti-wanti agar kami tidak pulang terlalu malam. Jalan-jalan di sana masih sangat sepi saat malam menjelang. Sekarang mungkin kondisinya sudah jauh  berbeda.

Kami menyempatkan diri makan di salah satu restaurant tak jauh dari Kuta. Cukup ramai dan mengantri agak lama. Pengunjungnya mayoritas turis-turis asing. Kami sepakat bahwa makan ini sekedar mengganjal perut setelah membatalkan puasa, karena ayam taliwang dan plecing kangkung di Mataram tampaknya jauh lebih menggoda.


Esoknya, pagi-pagi kami sudah sampai di Pelabuhan Bangsal. Setelah sahur dan sholat subuh, gak bobo lagi. Langsung siap-siap dan cuss. Kapal kayu yang merupakan public boat berpenumpang 20-25 orang mengantarkan kami hingga ke Gili Trawangan. Hanya sekitar 45 menit, agak sedikit pusing tapi alhamdulillah saya tidak mabuk. Penting banget bawa semacam minyak kayu putih supaya aman menyebrangnya, aman juga puasanya.

Kami keliling Gili dengan menggunakan Cidomo dan tidak lupa membeli topi mengurangi teriknya matahari. Saya lupa membawa kacamata nih. Kami sama sekali tidak main air meski tertarik buat nyemplung di birunya laut. Kami memang hanya berniat keliling dan photo-photo di beberapa spot tertentu. Lagi-lagi kami hanya bertemu dengan beberapa orang lokal, sisanya bule-bule.

Kenangan akan travelling pertama di Lombok dan menikmati suasana Ramadan di sana sangat mengesankan. Hmm kapan ya saya bisa menikmati keseruan sekaligus kesyahduan Ramadan di Lombok lagi? Tahun ini Ramadan di Lombok tampaknya lebih semarak. Ada Pesona Khazanah Ramadan Lombok yang berpusat di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB. 


Bahkan kabarnya ada Syekh Ezzat El Sayyed Rashid, salah satu Imam besar dari Mesir yang memimpin sholat tarawih di sana. SubhanaAllah, gak kebayang syahdunya. Tidak hanya itu ada juga beberapa Imam besar lain yang akan menjadi Imam Tarawih di sana selama Ramadan ini yakni Prof. Dr. Syeikh Khalid Barakat dari Lebanon,  Syeikh Mouad Douaik dari Maroko, Syeikh Ahmad Jalal Abdullah Yahya dari Yordania, dan Syeikh Ahmad Jalal Yahya juga dari Mesir. Luar biasa antusiasme masyarakat Lombok menyambut kemuliaan Ramadan. Jadi pingin ke sana dan jadi bagian dari kesyahduan ramadannya.

Lombok makin gencar menghidupkan halal tourism dan family friendly tourism. Apalagi sejak berhasil membawa kebanggaan dunia pariwisata Indonesia dengan memboyong piala di ajang World Halal Tourism Award selama dua kali berturut-turut. Prestasi yang sangat prestisius dengan mengambil gelar ini dari Malaysia dan Turki yang selama ini sudah menjadi icon dari Halal Tourism. Bangga deh! 

Tahun lalu saya terkahir berkunjung ke Lombok. Saya alhamdulillah juga bisa menikmati keindahan Masjid Islamic Center yang di malam hari dihiasi dengan sinar lampu warna warni. Kali itu saya menginap di hotel baru yang punya roof top yang asyik juga untuk ngabuburit. Berlatarbelakang pemandangan Lombok yang syahdu dipagari pegunungan di kejauhan. 


Dari roof top tersebut kita bisa menyaksikan sunset yang cukup indah dan pemandangan Kota Mataram di kejauhan yang dihiasi masjid di sana sini. Menara masjid yang indah tampak mendominasi dan suara Azan maghrib yang bersahutan membuat senja makin syahdu. Tak salah memang jika dijuluki Pulau Seribu Masjid. 

Menikmati jus dan smoothies ditemani pizza seafood kayaknya perfect banget ya buat membatalkan puasa. 



Hmm semoga ada kesempatan lagi buat saya dan kali ini bisa dengan keluarga menikmati wisata dalam kesyahduan ramadan di Lombok. Apalagi kalau bisa tarawih diimami para Syekh-Imam besar yang luar biasa tadi. SubhanaAllah. Pliss say "amiiin", mumpung bulan Ramadan di mana do'a-do'a baik insyaAllah diijabah Sang Maha Baik. Amiin


26 comments :

  1. saya bngga dgn negeri ini, kapan yah saya bisa kesana ??

    ReplyDelete
  2. Lombok,I'm coming.... Hope I'll be there soon

    ReplyDelete
  3. Beruntung deh bs ngerasain ramadhan disana ya.. Pasti mudah banget ibadahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhdmulillah mseki sdh lama mba ruli, pingin ke sana lagi deh di suasana ramadhan jg

      Delete
  4. Huwaaa... Kayaknya pengen banget kesana deh habis baca artikel ini.

    ReplyDelete
  5. saya pun lebih suka di rumah saja bila Ramadan. Tapi gak menolak juga untuk jalan-jalan kalau memang asik. Lombok masih jadi salah satu destinasi impian saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo di Lombok ramadan jg asyik mak chi apalagi sm keluarga kayaknya seru malamnya bs tetep tarawih di Islamic center

      Delete
  6. Masya Allah..keren banget mbak.. Semoga suatu saat bisa punya pengalaman seperti ini juga di Lombok.. 🙏

    ReplyDelete
  7. Lombok memang asyik banget, di mana-mana ada masjid :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas Bai..aman yaa jalan2nya gak bakal ninggalin sholat krn susah cari masjid

      Delete
  8. Indahnya pesona Pulau Lombok. Semoga suatu saat aku juga bisa kesana. Aamiin :)

    ReplyDelete
  9. lombok terkenal dengan wisata halal terbaik, ga salah kalau disana ada 1000 mesjid :)

    ReplyDelete
  10. Masih terus memimpikan bisa ke Lombok, dan semakin mupeng setelah baca yang ini :)

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah kenangan yang indah ya mba Ophi di bulan Ramadhan bisa menikmati di Lombok

    ReplyDelete
  12. Masjidnya cantik banget ya, Mba Ophi. Aku jadi penasaran pingin ke Lombok buat nyaksikan sendiri. Dan pengalaman Ramadan di Lombok itu jadi memorable yah :).

    ReplyDelete
  13. Jadi kangen mau ke Lombok lagi abis baca postingan ini deh mbak ;)

    ReplyDelete
  14. saya juga ikut nulis ini, tapi kenangan saya di Sumbawa. Mampir ya ke blog saya.

    ReplyDelete
  15. Nuansa islaminya terasa banget ya di Lombok.

    ReplyDelete
  16. Duuh kepengin ke sana akuuu, indah banget

    ReplyDelete
  17. akubelum pernah ke sana mbak, indah banget ya.
    Tadnya waktu di Bali mau sekalian ke sana, tinggal nyeberang. Tapi belum ada waktu juga
    semoga kesampaian kapan2 aamin.

    ReplyDelete
  18. Bikin mupeng teh,,, syahdu banget suasananya ya,,, mdh2an bs k sana y teh,,,

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top