Paragliding Tandem di Tinombo - Parigi Moutong - Sulawesi Tengah




Paragliding? Ah gak kebayang sama sekali. Saya si penakut ketinggian yang menyeberang jembatan saja nderekdek, panas dingin, gemeteran, mau terbang paralayang? Mimpi kali yaa. Hahaha sejujurnya mimpipun kayaknya enggak sih. Eh tapi aku pernah bermimpi bisa terbang melayang seperti kupu-kupu meski tanpa sayap, mungkin di bawah alam sadarku aku ingin mengalahkan rasa takut ketinggian dan bisa terbang. Tapi bisa terbang melayang di alam nyata benar-benar di luar imajinasi emak-emak anak tiga kayak aku.

Jadi meski di whatsapp grup sudah ramai diperbincangkan soal kesempatan bisa mencoba paralayang di wilayah Tinombo Sulawesi Tengah saat nanti kami bertugas ke sana untuk kegiatan pengumpulan data namun saya adem ayem karena berpikir "gak mungkin banget sih aku mau mencoba" "Gak beranii..., takut". 

Baca juga: Pengalaman saya river tubing di Yogya

Tapi ternyata apa yang kita pikirkan bisa jadi bertentangan dengan kenyataan ketika semesta justru berkata sebaliknya. Karena yang kemudian terjadi adalah semua orang berhasil memprovokasi sehingga aku entah kenapa berani-beraninya mencoba tantangan itu hanya beberapa menit sebelum akhirnya benar-benar terbang padahal sebelumnya membayangkan pun tidak hahayyy.

Perjalanan dari Kota Palu Ibu Kota Sulawesi Tengah ke daerah Tinombo di mana lokasi Paralayang atau Paragliding ini memakan waktu sekitar 6-7 Jam perjalanan dengan kendaraan darat. Untuk daerah yang berada jauh dari Ibu Kota Negara dan Pulau Jawa, aku merasa jalan di sana cukup bagus meski di beberapa ruas memang ada bagian yang cukup challenging. 

Mungkin karena kami hanya berempat di dalam mobil yang cukup spaciuos sehingga jauhnya perjalanan diselingi dengan obrolan sepajang jalan meembuat perjalanan dapat kami nikmati. Perjalanan menyusuri jalan yang bersisian dengan pantai sepanjang Teluk Tomini di Sulawesi Tengah yang merupakan jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Utara melewati Gorontalo.

Sempat menginap pada malam pertama yang sungguh melelahkan di salah satu penginapan di daerah Moutong. Penginapannya bersisian dengan pantai, jadi bangun pagi langsung jalan ke sisi pantai mengintip mentari yang mulai naik di ujung laut dan menikmati debur ombaknya. Seharian berkegiatan amat sangat padat, dan lanjut bermalam berikutnya di Tinombo sekitar 2-3 Jam dari Moutong kembali ke arah Palu. Jadi kalau berdasarkan rute dari Palu justru kita bakal melewati Tinombo yang ada di Kecamatan Tomini Raya sebelum sampai ke Kecamatan Moutong yang berbatasan langsung dengan Gorontalo. 




Nah di Tinombo menginap di Cottage Kayu yang dibangun di atas hutan bakau namun dengan kamar yang nyaman dan fasilitas yang lengkap dengan kamar mandi di dalam. Di Area Hotel atau Cottage Kayu Hutan Bakau di Pantai Lolarao Tinombo ini juga tersedia fasilitas snorkelling dan diving lengkap dan juga disediakan pemandu yang tersertifikasi. Pun spot diving dan snorkelling di sini juga cantik-cantik. Cottage kayu ini milik Bapak Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolututu.


Tak jauh dari Cottage ini ada bukit di mana di bagian atas merupakan tempat landasan bagi para pecinta olahraga ekstrim paralayang atau paragliding. Sebelum sampai ke puncak ada bukit yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat wisata semacam "point of view" untuk sekedar melihat indahnya pemandangan di sekitar bukit sekaligus juga pantai dan laut yang tak kalah indah di bawahnya. Ada tempat-tempat duduk dan spot photo berupa balon udara untuk mengambil gambar yang instagramable di sini.



Sungguh sebuah peristiwa yang gak saya sangka namun akhirnya luar biasa saya syukuri. Saat teman-teman yang lain sudah puas snorkeling dan bermain air saya yang tidak ikut turun kembali ke kamar untuk bersih-bersih mandi dan hanya ingin duduk-duduk santai di sana menghabiskan waktu hingga siang. Demikian juga saat teman-teman mulai naik ke bukit untuk paralayang saya masih mengantri mandi. Saat kemudian driver menjemput dan akan mengantarkan saya menyusul ke bukit, awalnya saya ragu-ragu. Hanya karena merasa tidak enak, akhirnya saya berangkat juga.

Stop sebentar di bukit pertama untuk berphoto di balon udara lanjut naik ke puncak pun hanya karena penasaran ingin melihat bagaimana keseruan teman-teman yang menjajal paragliding. Karena hanya ada dua orang coach yang menjadi pilot, selain beberapa orang siswa yang sedang berlatih maka untuk kami yang akan paragliding mengantri satu demi satu. Sebagai orang yang datang paling akhir saya pun sama sekali tidak berekspektasi akan mendapatkan giliran kalaupun memang mau naik.


Sungguh hingga detik terakhir saat akhirnya saya memberanikan diri, senyatanya saya masih ragu ini nyata atau mimpi hahaha. Dag dig dug melihat teman-teman yang terbang duluan. Saat mereka kembali, yang paling pertama saya tanya adalah "takut gak"? "Gimana rasanya?", "aku berani gak ya?""Jantungnya copot gak?". Semua tahu saya super penakut. Sekali-kalinya flying fox bareng teman-teman ini beberapa tahun lampau, jeritan saya sepanjang menggantung rasanya yang paling kencang katanya hahaha.

Semua memprovokasi agar saya berani naik. "Ayok, pengalaman sekali seumur hidup, belum tentu ada kesempaatan lagii, " "Ayok udah jauh-jauh dari Jakarta ke Tinombo, masak gak nyobain." Karena saya datang telat saya belum mengikuti briefing awal dari coach. Hanya diinfokan bahwa tugas saya hanya "menuruti dan patuh perintah coach/pilotnya". Bahkan saya yang harusnya mendapat urutan terkahir karena datang belakangan diarahkan untuk mendahului beberapa antrian. Hahaha

"Saya kasih Ibu terbang sama Coach Andrew nih, beliau professional. Jangan khawatir. Ibu rugi kalau gak terbang." Hmmm bener juga yaa. Saya sempat diledek teman-teman, coba tanya suami dulu via wa. Takut ada apa-apa hahaha. Bikin ngeper aja. Beberapa hari ini sulit sinyal di wilayah Parigi Moutong tapi entah kenapa wa saya ke suami waktu itu masuk dan langsung dibalas. Sambil saya kirim photo suasana saat itu.

"Yah aku berani gak paralayang? "
"Takut gak ya?"
"Coba aja deh"
"Ayo pasti berani"


Dihh kok sok-sok-an banget bilang pasti berani. Padahal paling tahu kalau aku paling takut kalo di ketinggian macam itu huhuhu. 


Temen-teman nanya, "Gimana? apa kata Mas Ricko?"
Lalu aku kasih tahu jawabannya. Sontak mereka makin semangat memprovokasi.
"Amanat suami itu lho, harus nurut sama suami."
"Duuuh...."

Sampai akhir dengan kepasrahan yang luar biasa. Iya betul pasrah, bukan keberanian yang menyelimuti saya waktu itu tapi lebih pada kepasrahan. Akhirnya saya mau mencoba.

"Bawa hp gak ya, takut jatuh."
"Bawa bu, rugi kalau gak bawa.."
"Duuh boro-boro megang hp kali, gemeteran aku kayaknya."

Awalnya saya selipkan di saku celana jeans saya. Namun terjepit tali. Coach Andrew berbaik hati menyimpankannya di salah satu kantong parasut yang saya kenakan. 

"Coach, saya penakut banget, bisa gak ya."
"Bisa bu, tenang aja, Ibu pasti nanti ketagihan"
"Huhuhuhu...boro-boro."
"Pingsan gak ya nanti? Copot gak ya jantung saya..."

Waktu terasa seperti cepat menyelinap membuat saya tidak bisa menjawab pikiran-pikiran saya sementara parasut dan kelengkapan sudah terpasang di badan yang artinya gak mungkin mundur. Baru sadar "Duuh kok nekat banget sih aku huhuhu..."

"Ibu kalau kata saya jalan, ibu jalan, kalau kata saya lari ibu lari, nanti kalau saya bilang duduk, ibu duduk."
Belum sempat saya mencerna lebih lanjut...

"Jalan buu... pelaaan... agak kencang..."
"Stop...."
"Di ujung landasan saya berhenti."

Rupanya parasut gagal naik dan mengembang, arah angin belum kondusif.
Parasut jatuh lalu dilakukan kembali persiapan seperti tadi. Tanpa jeda terlalu lama. Saya gak sempat banyak berpikiran macam-macam.

"Mundur bu..."
"Ingat ya bu, ikuti aba-aba"
"Jalan bu, jalan..."
"Lari bu, lari..."
Dengan hati kosong, saya ikuti semua arahan tersebut..."


Kaki saya masih dalam posisi seperti berlari meskipun terasa seperti berlari di udara, melayang. Tak lama terdengar aba-aba. "Duduk bu, sekarang Ibu bisa duduk." "Whaat duduk, gimana duduk kan ga ada kursinya atau alas duduknya..." Si overthingking ini malah mulai mencerna terlalu jauh.

"Iya posisi duduk bu"
"owh bisa ya duduk"
"Iya duduk aja bu, kayak biasa..."

Saya masih terkaget-kaget dan akhirnya otak saya terasa baru bekerja, baru muncul rasa takut lalu saya menjerit. 

"Mas gak papa ya saya menjerit takut huhuhu"
"Iya gak papa bu, lepaskan aja."

"Ibu relaks yaa...ibu tegang banget nih.."

"Ya iyalah...gimana enggak sih?" pikir saya.
"Relaks bu..."
"Ibu duduknya masih kaku, coba dibuat relaks..."



Kata Mas Andrew saya termasuk lama beradaptasi dengan rasa takut dan bisa relaks. Sampai akhirnya saya mulai relaks, dan duduk dengan lebih nyaman. Saya izin berteriak kencang, untuk meluapkan rasa girang karena akhirnya saya bisa mengalahkan rasa takut dan tegang itu. Upss...basically bukan mengalahkan mungkin, tapi melupakan hahaha. Awal-awal menjerit karena ketakutan selanutan jeritan super girang karena gak nyangka bangeeet..bisa terbang melayang. Hikss terharu akutuu!

Mas Andrew memang profesional, selain soal teknis tentunya. Untuk peserta tandem yang penakut seperti saya, Mas Andrew bisa menghandle saya. Semula demikian kaku, sampai akhirnya diberi kepercayaan bisa memegang handphone. Menyalakan photo dan video. Hmm langsung deh Naluri ngevlog saya menyisihkan rasa takut, saya mulai ngoceh ini dan itu. "Hai Guys...aku terbang nih... Ayah, Kakak, Adek...Ibu terbang..." Bla bla bla.

MasyaAllah...Tabarakallah...

Saya baru sadar memang tampaknya Mas Andrew sengaja memancing dengan percakapan untuk mengalihkan rasa takut dan ketegangan yang luar biasa. "Coba bu, dialihkan ke belakang kameranya supaya teman-teman juga bisa lihat pemandangan di bawah." "Oh iya yaa..."  Alhamdulilah ya bisa merekam sendiri. Saat saya mulai terdistraksi saat Mas Andrew membawa saya naik atau turun atau meliuk, Ia melemparkan pertanyaan yang membuat saya tetap fokus pada kamera hape dan ngevlog. 

"Owh semalam menginap di mana bu?"
"Di situ tuh Mas, cottage yang di hutan bakau itu, di pantai Lolaro."
"Owh yang itu yaa... "
"Oh iya itu...."

Pemandangan memang luar biasa indah dari atas. Kombinasi hijaunya perbukitan lalu pantai dan laut yang membiru, hijau, dan toska serta langit yang tak kalah biru dengan hiasan awan-awan putih. MasyaAllah Tabarakallah.


Saya juga menyampaikan banyak terimakasih atas bantuan Mas Andrew. Jujur saya senang sekali sampai akhirnya mau landing. Kok terasa cepat yaa hahaha. Saat landing juga merupakan kondisi yang krusial. Saat ini kita juga kembali harus mendengarkan arahan Coach/Pilot.

"Bu sebentar lagi kita landing...nanti Ibu ikuti instruksi saya ya.."
"Luruskan kaki ya bu..."
Posisi kaki saat landing memang harus diluruskan sejajar dengan tanah.

"Oke...sambil menahan nafas agar tak terlalu tegang, saya meluruskan kaki..."

Tanpa terasa akhirnya kami meluncur ke bawah.
Alhamdulillah pendaratan berjalan mulus.

Terimakasih Mas Andrew...
Terimakasih untuk semua yang sudah memprovokasi.
Pengalaman tak terlupakan. Bisa jadi sekali seumur hidup saya.

MasyaAllah, Tabarakallah...Alhamdulillah.

Ternyata kunci menyisihkan rasa takut adalah pasrah dan berhenti overthinking!
Semangat untuk kamu yang berpikir bahwa aku tak mungkin bisa melakukannya. Bahkan tak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak! Pasrahakan saja padanya dan biarkan semesta mewujudkannya.

Boleh cek juga videonya di Youtube Mom of Trio berikut yaa.:)



22 comments

  1. Hebaaaaat mba ophi 👍👍👍. Bisa ngalahin rasa takut ketinggian. Dan ternyata ga semenyeramkan ituu kaaan 😁😘. Main2 di ketinggian itu buatku nagih mba. Semakin bisa naklukin suatu batas tinggi, percaya deh, nantinya bakal pengen lebih tinggi lagi.

    Next nya cobain bungee jumping mba. Itu seru dan nagiih ❤️❤️

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, akhirnya bisa terbang!

    Jadi ingat pengalaman waktu naik halilintar pertama kali di Ancol.
    Ada gunanya juga aku tidak mengintip pengalaman orang lain. Jadi tidak terlalu risau.

    Lalu dengan gagah aku duduk di paling depan.
    Hahaha.

    Awalnya sih biasa ya, namun saat menukik setelah pendakian yang panjang dan lama, aku sempat berpikir, "Beginikah rasa orang mau mati, hahaha"

    Jadi, gimana?
    Masih mau coba paragliding lagi, Mba?


    ReplyDelete
  3. Aku sudah lihat videonya juga. Wih seru! Hebat mbak Ophi berani.
    Kalau aku kayaknya gak mau deh, sereeem. Cukup sekali dulu itu mencoba parasailing di Bali karena suami 'maksa2' aku untuk nyobain hahaha. Akhirnya pasrah, dan diatas tuh sama sekali gak bisa menikmati pemandangan indah di bawah, doa terus dalam hati dan pikiranku cuma kapan ini turunnyaaaaaa, mana pas sudah deket daratan kok gak bisa turun2 ya, ternyata saking takutnya, aku lupa narik talinya agar bisa turun hahaha. Kapok deh!

    ReplyDelete
  4. Kalau aku kayaknya gak mau deh, sereeem. Cukup sekali dulu itu mencoba parasailing di Bali karena suami 'maksa2' aku untuk nyobain hahaha. Akhirnya pasrah, dan diatas tuh sama sekali gak bisa menikmati pemandangan indah di bawah, doa terus dalam hati dan pikiranku cuma kapan ini turunnyaaaaaa, mana pas sudah deket daratan kok gak bisa turun2 ya, ternyata saking takutnya, aku lupa narik talinya agar bisa turun hahaha. Kapok deh!

    ReplyDelete
  5. Wah suaminya kayak suamiku, kalau istrinya ragu mau ngelakuin sesuatu pasti didukung terus sampe majuuu! Aku kayaknya bakalan teriak juga deh naik paragliding ini. Lewat jembatan yang tinggi aja aku oleng 😂

    ReplyDelete
  6. Wow ngeri-ngeri syedeeep ya mba kayaknya. Deg-degan tapi takjub gak sih liat pemandangan dari atas sambil berasa terbang gitu. Jadi pengen nyobain hihi

    ReplyDelete
  7. Masyaallah Mbak, keren sekaliii... Ini salah satu bucketlist yang harus aku lakukan meskipun cuma sekali. Bisa paralayang atau paragliding, itu impianku bangeettt... Keren nih, mantab udah berani nyobain.

    ReplyDelete
  8. seru banget ya mba pengalaman paragliding, adrenalin bakal terpacu banget sih itu, tapi terbayar dengan view yang masyaallah bagus banget

    ReplyDelete
  9. Seru banget Mak bisa ngerasain pengalaman paragliding tandem gituuu. Suatu hari nanti aku juga pengen coba siapa tau bisa dapet kesempatan buat liat pemandangan dari atas yang cakep juga.

    ReplyDelete
  10. Mati bisa lanjut di Puncak Bogor Teh. Instruksi yang diberikan pelatih sama tuh. Pasti gak bakalan takut lagi nanti. Intinya sama tapi pemandangan yang beda. Jelas cantik banget disini ya. Kalau di Puncak cuma kebun teh hehehe

    ReplyDelete
  11. Wow, pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan ya. Senangnya bisa terbang dengan paralayang. Pengin juga sih someday nyobain. Semoga ada kesempatan. Amin..

    ReplyDelete
  12. Waaa, ngga rugi ya, Mak... Akhirnya, karena bisa melawan rasa takut, malah jadi punya pengalaman istimewa. Salut sama Coach Andrew.. 😍

    ReplyDelete
  13. wawwww proud banget mbaaa, bisa mengalahkan rasa ketakutan itu dengan langsung mencobanya. Aku jd penasaran buat naik paragliding ini dehhh

    ReplyDelete
  14. MasyaAllah seru bangeettt! yaampun, aku mau banget ngerasain ini jugaa lhoo. biayanya berapa mbak btw?

    ReplyDelete
  15. Seru bangettt.. Semoga suatu saat aku punya kesempatan main ke sana yaa..

    ReplyDelete
  16. Aduh langitnya gak mampu aku lihatnya, bikin tergoda. Ga kebayang gimana cakepnya pemandangan dari atas sana

    ReplyDelete
  17. Yeaay~
    ikutan bersorak pas kak Ophi berhasil mengalahkan rasa takut.

    Rasanya gimana terbang bareng burung-burung di langit, kak Ophi?
    Huhuuu...pen teriak gitu gak siih??

    ReplyDelete
  18. Wah seru banget bisa merasakan wahana ekstrim ini
    Kalau aku pasti deg deg an dag berani
    Haha

    ReplyDelete
  19. Jaman usiaku masih 30tahunan dulu pernah mau nyoba parasailing, tapi nggak diijinkan adikku. Padahal suami udah ngijinin, nyesek banget. Eh begitu sampai di Danau Bedugul malah adikku bilang, boleh deh kalo mau nyoba. Yaah kan aku maunya di Nusa Dua, kalo di atas danau mah aku ogah.

    Keren deh mba Ophi, akhirnya menaklukkan ketakutan di atas awan sana. Pemandangannya juga keren banget Masya Allah, pantai dan langitnya yang biru jadi pengen kesana

    ReplyDelete
  20. Mbak..udah sampai Sulawesi Tengah aja. Ya ampun..yuk kapan yuk ke Lombok lagi. BTW, paragliding ini kalau di Lombok, biasanya di Sembalun, daerah kaki gunung rinjani. Di Sumbawa, pulau sebelah Lombok pun ada.. di Mantar kalau gak salah. Tapi saya sendiri belum pernah coba sih, lebih tepatnya belum berani mencoba. Haahhaha

    ReplyDelete
  21. Waaahhh seruu kan mbaa?? Amazingg tau mbaaa, aq sm anak2 sudah pernah dan ketagihan

    ReplyDelete
  22. Ahaha bener mbak kadang kalau di tempat kem gtu apalagi ada provokasi dari teman2 kyk merasa sayang kalau gak melakukannya. Jd minimal dapat pengalaman sekali seumur hiduplah, setelah itu masalah kapok atau pengen lagi kapan2 dipikir ntar haha.
    Apalagi ada tandemnya juga udah insyaAllah aman :D
    Tp aku kepoh nih adakah peserta newbie yg berani sendirian? haha

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.