Menikmati Serba Kambing di Sate Klathak Pak Jede Jogja

Ada satu hal yang selalu saya syukuri dari perjalanan dinas ke luar kota: kesempatan untuk mengenal lebih dekat kota yang saya datangi lewat kulinernya. Buat saya, perjalanan tidak pernah hanya tentang pekerjaan, meeting, atau agenda yang padat. Di sela-sela jadwal yang terkadang penuh, selalu ada ruang kecil untuk menikmati suasana, mencicipi makanan khas daerah, dan menyimpan cerita baru.

Begitu juga saat saya kembali menginjakkan kaki di Yogyakarta.

Sebagai Mom of Trio yang sehari-hari berbagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan berbagai aktivitas, momen perjalanan dinas sering menjadi kesempatan untuk “me time” sederhana. Bukan kemewahan, hanya menikmati sepiring makanan enak, suasana kota, dan pengalaman baru yang nantinya bisa dibawa pulang menjadi cerita.

Baca: Gudeg Permata, Lecker untuk Lidah Non Jawa

Pilihan kuliner  kali ini, jatuh pada salah satu tempat yang sudah cukup populer di kalangan pencinta olahan kambing di Jogja: Sate Klathak Pak Jede. Tempatnya luas dengan deretan meja dan kursi yang cukup banyak. Nuansa hijau tampak mencolok berpadu dengan meja kursi kayu. Area memasak di bagian depan dan terbuka di sampingnya kasir. Untuk parkir tenyata ada di bagian belakang samping tempat makan ya. Lokasinya di Jalan Nologaten 46 Depok Sleman.

Jogja dan Cerita Panjang Tentang Kuliner Kambing

Kalau bicara soal kuliner Yogyakarta, rasanya tidak akan pernah habis. Kota ini punya banyak sekali pilihan makanan legendaris dan khas, mulai dari gudeg, bakmi Jawa, angkringan, sampai aneka olahan kambing.

Saya sendiri sebelumnya sudah pernah mencoba beberapa menu khas kambing di Jogja. Masing-masing punya karakter rasa yang berbeda. Ada yang kuat dengan bumbu rempah, ada yang lebih sederhana menonjolkan rasa asli daging, ada juga yang menghadirkan sensasi kuah hangat yang bikin nyaman.

Karena itu, ketika ada kesempatan mencoba Sate Klathak Pak Jede, rasa penasaran muncul. Apalagi tempat ini tidak hanya menawarkan sate klathak, tetapi juga berbagai olahan kambing lainnya. Akhirnya, jadilah pengalaman “serba kambing” dalam satu meja.

Sate Klathak: Sederhana Tapi Punya Karakter

Menu yang paling wajib tentu saja adalah sate klathak.

Berbeda dengan sate kambing pada umumnya yang sering hadir dengan balutan bumbu kacang atau kecap yang kuat, sate klathak punya karakter yang lebih sederhana.

Potongan daging kambing dibakar  dan ditusuk menggunakan jeruji besi dengan bumbu yang tidak berlebihan sehingga rasa asli daging tetap terasa.



Saat datang ke meja, tampilannya memang tidak terlalu ramai, tampak sederhana.   Hanya potongan daging kambing yang ditusuk dan disajikan bersama kuah pendamping. Justru dari kesederhanaan itu muncul daya tariknya.

Gigitan pertama menghadirkan rasa gurih, aroma bakaran, dan tekstur daging yang cukup empuk. Tidak terlalu ramai bumbu, tetapi rasa daging kambingnya tetap keluar. Dagingnya terasa gurih, aroma bakarannya keluar, dan teksturnya cukup empuk.

Buat saya, sate klathak adalah contoh bahwa sebuah makanan tidak harus penuh bumbu untuk menjadi istimewa. Kadang rasa yang sederhana justru lebih mudah diingat. Kesederhanaan justru membuat rasa utama lebih menonjol.

Baca: Kuliner Pinggir Jalan di Yogya

Tengkleng: Hangat dan Penuh Rempah

Kalau sate klathak terasa lebih ringan dan "kering", tengkleng memberikan pengalaman yang berbeda.

Semangkuk tengkleng kambing dengan kuah hangat, gurih, dan penuh aroma rempah langsung memberikan sensasi tersendiri. Ada rasa rempah yang khas, dengan potongan daging dan tulang yang membuat pengalaman makan jadi lebih lengkap.



Ada rasa gurih dengan bumbu khas yang meresap, cocok sekali dinikmati setelah seharian beraktivitas. Ini tipe makanan yang membuat kita ingin makan perlahan sambil menikmati suasana. Menyesap daging yang ternyata cukup lembut meski menempel erat pada tulang-tulangnya.  Kuahnya juga khas dan kaya rasa untuk diseruput atau dijadikan kuah nasinya. Apalagi di atmosfir Jogja, kota yang punya atmosfer santai dan membuat kita betah berlama-lama.

Sate Goreng: Menu Favorit yang Selalu Menggoda

Salah satu menu yang menurut saya cukup menarik adalah sate goreng. Ini salah satu menu yang langsung pingin saya coba sih. Potongan daging kambing dimasak dengan bumbu hingga menghasilkan rasa gurih yang khas. Teksturnya berbeda dari sate biasa. Lebih juicy dan terasa kaya bumbu.



Kalau makan bersama keluarga, menu seperti ini biasanya menjadi pilihan yang lebih mudah diterima karena rasanya familiar.  Jujur dari semua menu yang kami coba, sate goreng menjadi salah satu yang menurut saya paling mudah diterima semua lidah.

Potongan daging kambing yang sudah dilepas dari tusuk kemudian dimasak dengan bumbu khas hingga menghasilkan rasa gurih manis. Teksturnya lebih juicy dibanding sate biasa, dengan aroma bumbu yang lebih kuat. Kalau ada anggota keluarga yang masih ragu makan kambing karena takut bau prengus, menu seperti sate goreng ini bisa jadi pilihan yang lebih aman. Saya sih yes!


Krenyos: Si Renyah yang Bikin Penasaran

Dari semua menu yang dicoba, krenyos menjadi salah satu yang unik. Jujur kami memesan karena memang penasaran. Salah satu menu yang langsung menarik perhatian.



Krenyos punya tekstur renyah dan gurih. Sensasi tampak garingnya membuat ingin menambah pengalaman makan kambing jadi tidak monoton. Tekstur renyahnya memberikan variasi di tengah banyaknya menu berbahan dasar kambing. Kadang justru menu pendamping seperti ini yang membuat pengalaman makan semakin lengkap. Ada  sedikit sensasi kriuk yang membuat makan tidak terasa monoton.

Bumbu ketumbar yang sangat dominan mengurangi rasa dan aroma kambing yang mendominasi dari potongan lemak garing tersebut. Dicocol dengan sambel kecap makin membuat sensasinya tak gampang diabaikan. Kadang bagian-bagian kecil seperti ini justru menjadi pelengkap yang membuat meja makan semakin seru karena semua orang ingin mencoba. 

Sate Buntel: Padat, Kaya Rasa, dan Mengenyangkan

Sate buntel juga menjadi salah satu menu yang wajib dicoba. Pecinta sate kambing pasti tahu bahwa sate buntel punya penggemarnya sendiri. Berbeda dengan sate biasa, sate buntel menggunakan olahan daging kambing dengan berbagai bumbu aromatik yang dibentuk lebih besar dan padat. Kalau kata rekan saya, rasanya mirip daging kebab di Tukri. Betul sih, dengan aroma bumbu yang lebih lokal tentunya.



Dengan ukuran yang lebih besar dibanding sate biasa, sate buntel memberikan pengalaman makan kambing yang lebih “mantap”. Tapi memang rasa rempah dan bumbunya sangat dominan. Untuk yang tidak terlalu suka daging kambing dan aromanya, sate buntel bisa jadi pilihan karena rasa dagingnya bisa ditutupi oleh kuatnya rasa dan aroma rempah. 

Rasanya gurih, teksturnya lembut, dan cukup mengenyangkan. Saat disantap, terasa lebih “berisi” dan kaya rasa. Teksturnya lembut dengan rasa gurih yang khas. Menurut saya, sate buntel cocok untuk yang ingin menikmati kambing dengan sensasi lebih kaya rasa rempah dibanding potongan sate biasa.

Baca juga: Kuliner Yogya yang Unik dan Anti Mainstream

Kicik: Rasa Tradisional yang Mengingatkan Masakan Rumah

Menu berikutnya adalah kicik. Bagi saya, kicik punya nuansa yang berbeda. Rasanya membawa karakter masakan Jawa yang kaya bumbu  dengan sensasi manis dan dimasak dengan kesabaran. Menu seperti ini selalu punya cerita karena bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang memori.

Ada rasa manis gurih yang khas, seperti masakan tradisional yang sering kita temui di rumah. Ini tipe menu yang membuat kita teringat masakan tradisional yang dimasak perlahan dengan bumbu yang meresap. Daging dengan potongan daging yang sebagiannya berbalut lemak lembut menyatu dengan rasa manis dari kecap dan bumbu pelengkap klainnya mengingatkan kita pada tongseng goreng atau krengsengan. 



Ditutup dengan Bihun Godhog: Karena Jogja Selalu Punya Tempat untuk Mie Jawa

Walaupun sedang menikmati serba kambing, rasanya kurang lengkap kalau ke Jogja dan tidak mencoba menu bakmie godhog. Kami juga mencoba bihun kuah godhog. Semangkuk bihun kuah hangat menjadi penutup yang pas. Rasanya sederhana, tapi justru itu yang membuat nyaman. Ada kuah hangat, aroma khas masakan Jawa, dan rasa yang akrab di lidah.



Bihun kuah hangat dengan cita rasa sederhana tapi comforting. Setelah menikmati berbagai menu kambing yang kaya rasa, bakmi godog menjadi penutup yang pas. Ada rasa nostalgia tersendiri dari masakan seperti ini. Tidak perlu terlalu banyak topping, yang penting kuahnya hangat dan rasanya akrab. Kalau kamu mau mencoba menu Bakmie Godog varian lainnya di Pak Jede, cukup lengkap juga lho. Ada bakmi kuah dan goreng, bihun kuah dan goreng, capcay godhog yang merupakan capcay kuah dengan aneka sayuran, serta capcay goreng.

Varian lengkap, Porsi Pas, Harga Masuk Akal

Hal yang saya suka dari pengalaman makan di Sate Klathak Pak Jede adalah varian pilihan makanan dan menu masaknya yang lengkap, porsinya yang pas, dan harganya yang juga relatif aman di kantong.

Untuk menu perkambingan mari kita daftar: ada tongseng, tengkleng, sate klathak, sate goreng/bakar, krenyos. Eits tenang masih ada sate hot plate, gule daging, gule balungan, kick, dan nasi goreng kambing.

Menu non kambing yang tersedia antara lain bakmi, bihun, dan capcay (godhog dan goreng),  mie lethek (godhog dan goreng), nasi godog, rica-rica ayam, nasi goreng, magelangan. Untuk minuman ada aneka minuman mulai dari pelbagai jenis jus buah serta minuman tradisional seperti wedang uwuh, beras kencur, dan kunyit asam. Salah satu rekan mencoba beras kencur dingin. Dia suka dengan sensasinya hanyat tapi dingin! Nah lho gimana itu maksudnya. Tenang es teh dan teh hangat, es jeruk/jeruk hangat, bahkan soda gembira juga ada kok.

Saat melihat list harganya, hmm kok affordable yaa? ternyata memang pas dengan porsinya yang tidak berlebihan. Saya lebih suka model seperti ini, karena kita bisa mencoba beberapa jenis menu tanpa khawatir berlebihan dan akhirnya terbuang karena tak sanggup menghabiskan saing besar porsinya.

Buat saya, ukuran porsi menjadi pertimbangan penting ketika mencoba banyak menu sekaligus. Di sini, porsinya menurut saya cukup pas. Tidak terlalu besar, sehingga kita masih bisa mencicipi beberapa menu berbeda tanpa merasa terlalu penuh. Dari sisi harga juga terasa seimbang dengan porsi dan pengalaman yang didapat.

1 porsi menu serba kambing dibandrol Rp.35.000,  kecuali Sate Hotplate yang dihargai Rp.78.000. 1 porsi perbakmian dan teman2nya dihargai Rp.28.000 jika ditambahkan extra daging/jeroan/brutu/saya, menjadi Rp.40.000. 1 porsi sate buntel terdiri dari 3 tusuk dihargai Rp.28.000. Anek Jus dan minuman tradisional mulai dari Rp.11.000 IDR - Rp.18.000. 1 Nasi porsi putih Rp.5.000.

Kuliner yang menyenangkan bukan hanya soal makanan enak, tetapi juga bagaimana kita merasa mendapatkan pengalaman yang sesuai. Setiap kota selalu punya cara sendiri untuk meninggalkan kesan. Bagi saya, Yogyakarta selalu punya tempat khusus. Bukan hanya karena kotanya yang nyaman, tetapi juga karena makanan-makanannya selalu membawa cerita.

Pengalaman makan di Sate Klathak Pak Jede kali ini menjadi salah satu cerita kecil dari perjalanan dinas saya. Di tengah kesibukan pekerjaan, ternyata ada jeda sederhana yang bisa membuat hati senang: menikmati makanan khas Jogja, mencoba rasa baru, dan membawa pulang kenangan. Karena bagi Mom of Trio, perjalanan terbaik selalu punya cerita dan sering kali cerita itu dimulai dari meja makan.

Yuk makan dan jajan di Yogya lagiii....


No comments

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.