Monday, March 17, 2014

Menikmati Hijau di Hutan Kota 2 BSD


"Sesuatu itu terasa berarti ketika sulit ditemukan. Tak ada kata terlambat. Mari hijaukan bumi, lindungi air, birukan langit ..."

Mencari tempat yang teduh dan lapang di mana anak-anak bisa berlair-lari dan bermain sepuasnya. ini salah satu agenda weekend favorit kami, sebutlah Kebun Raya Bogor (waaah yang ini kok malah belum pernah buat reportasenya yaa, padahal sering banget ke sana, meski cuma pasang tenda bocah-bocah, gelar tiker, buka bekel dan membiarkan para kruclis berlarian sepuasnya), Taman Mini atau  Hutan/Taman Kota 1 BSD. Untuk yang di Taman Kota 1 BSD sudah pernah dibuat tulisannya, di sini yaa.  Penasaran deh karena sudah beberapa kali cuma sekedar melewati tempat ini tapi belum pernah masuk dan melihat sendiri bagaimana sih Hutan Kota yang katanya tiga kali lebih luas dari Hutan Kota yang sebelumnya. Sebagian orang mengenalnya sebagai Taman Tekno, karena letaknya memang di Jl. Tekno Widya, Taman Tekno.



Sabtu kemarin kami ke sana tidak di pagi hari. Selepas Zhuhur kami bersiap-siap. Saya yang agak kurang fit sudah menyiapkan bekal sandwich burger untuk para bocah, saya mah maem nasi ajah *ndesso, apalagi lauknya favorit tuh ada urab daun paya plus terong balado. Dari rumah kami di Ciputat, kami mengambil arah ke Pamulang - Muncul, lalu belok kanan ke arah BSD. Kami masuk dari arah belakang, tempat para pedagang tanaman hias berjajar dengan rapihnya. Suasana sesungguhnya agak panas meski matahari agak bersembunyi di balik awan. Saya dan dua kakak cantik jalan duluan karena jagoan kecil masih tertidur di kursi depan, ayah menyusul kemudian saat akhirnya dia terbangun Kami bertiga segera menyusuri jogging track yang sudah tidak baru lagi dan pada beberapa bagian sudah rusak dan retak dengan kawat-kawat besi yang menonjol kesana kemari.  Iya memang jauh lebih luas dari Taman/Hutan Kota 1 nya.




Sayangnya terlihat tidak terawat, sampah berserakan di beberapa tempat membuat saya mengelus dada. Hmm memang jumlah tempat sampah tidak terlalu banyak. Saya melihat beberapa tong sampah. Walaupun tidak seharusnya hal ini menjadi alasan untuk membuang sampah sembarangan. Selain itu banyaknya tangan jahil yang mencorat-coret tembok-tembok di Hutan Kota tersebut. Hal lain yang membuat saya lebih miris, saya melihat beberapa gerombolan anak abg (belasan tahun) termasuk didalamnya remaja putri yang bercengkrama sambil asyik merokok. Sayang sekali, Hutan Kota yang diperuntukkan bagi paru-paru kota jutsru dicemari oleh asap rokok yang merusak paru-paru. Remaja belasan tahun, remaja puteri pula dan mereka tidak menunjukkan rasa risih sama sekali. Saya bahkan harus menjelaskan pada anak-anak (yang terlihat heran dan bingung) bahwa hal seperti itu tidak sepatutnya dilakukan.



Menurut data, Hutan  ini dibangun pada tahun 2006, diresmikan pada 18 Juni 2006.  Hutan ini luasnya sekitar 7,4 sampai 9 hektar, dengan beragam jenis pepohonan. Suasana masih terasa sejuk di balik rerimbunan pohon. Selain jogging track yang bisa menjadi jalur sepeda, disediakan banyak bangku di sepanjang track tersebut. Selain itu terdapat beberapa arena terbuka yang dimanfaatkan untuk bermain skateboard, bermain bulu tangkis atau bermain bola. Di ujung akhir Hutan Kota yang tampaknya lazim menjadi pintu utama, terdapat lapangan yang rasanya paling luas diantara yang lainnya yang dilengkapi dengan tangga yang setengah lingkaran menuju sebuah jembatan (jembatan goyang) yang membelah sebuah sungai yang kabarnya bermuara ke suangai Cisadane. Beruntung sore itu saya dan dek Paksi menyaksikan serombongan kerbau yang tampaknya hendak pulang melewati jalan di sempadan sungai. Paksi girang luar biasa melihat rombongan kerbau yang sering diceritakan Ibunya saat sedang bernostalgia mengenang masa kecil di kampung. Rupanya jembatan goyang dengan cat merah inipun menjadi salah satu tempat favorit bagi yang ingin mengambil gambar, mulai dari prewedding sampai sekumpulan pecinta photography. Saya tak ketinggalan mengabadikan ketiga bocah untuk berpoto di sini.



Suasana cukup ramai, banyak pasangan muda-mudi yang sedang "bercengkrama" di sini. Jujur, saya pribadi agak terganggu karena ini menjadi perhatian dua krucils cantik saya. "Ibu, kok banyak banget sik yang lagi pacaran ya bu..." Hmm menjelang pulang si Kaka sulung bahkan membisiki saya "Ibu aku sudah hitung semuanya, ada 49 yang lagi pacaran" *halaaah tepok jidat sendiri. "Iseng banget Kaka ngitungin, bener tuuh ngitungnya?... "Kayaknya sih Bu, aku lupa-lupa inget tapi kayaknya 49 deh bu...mungkin ada yang kaka hitung ulang, tapi kayaknya sih segitu bu" *dengan mimik serius Kakak menjelaskan. "Hmm aku sih suka bu main di sini, tapi aku lebih suka di Hutan Kota yang satunya" . "Memang kenapa ka?". "Iya, disini gak ada ayunan, perosotan dan mainannya bu, kalo di sana kan ada." "Aku bosan kalau cuma naik pohon dan lari-larian". Memang tidak ada fasilitas bermain anak di sana, tempat sampah juga terbatas, selain itu tidak ada fasilitas kamar kecil dan mushalla.


Berbeda dengan di Hutan Kota 1, dimana untuk pedagang disediakan kios khusus dan tertata rapih. Selain pedagang kaki lima di tempat parkiran, di dalam kawasan hutan kota terdapat beberapa pedagang asongan seperti pedagang minuman dan tukang rujak bebek. Hmm keliatanya laku keras, karena kami harus mengantri saat ingin menikmati segarnya rujak bebek. Naah, kesadaran membuang sampah pada tempatnya memang sangat rendah. Beberapa pembeli membuang bekas rujak bebek tersebut di sembarang tempat.
 

Sayang seribu kali sayang, Ruang Terbuka Hijau yang jumlahnya sangat sedikit di sekitar kita tidak terpelihara sebagaimana mestinya. Sebagian pengunjungnya justru melakukan tindakan tidak terpuji dengan hal yang justru merusak dan bertentangan dengan tujuan awal pembangunannya. Saya ingin mengutip kembali tulisan pada batu prasasti saat peresmian hutan kota tersebut:
 "Sesuatu itu terasa berarti ketika sulit ditemukan. Tak ada kata terlambat. Mari hijaukan bumi, lindungi air, birukan langit ..."
Sekali lagi tak ada kata terlambat, semoga kita semua menyadari arti penting sebatang pohon bagi lingkungan dan masa depan anak cucu kita. Jika kita tidak mampu menumbuhkan yang baru, mengapa tak turut kita jaga yang sudah ada... Dengan beberapa permasalahan yang saya sebutkan tadi sekalipun, saya masih menikmati suasana hijau dan teduh di Hutan Kota ini. Untuk sesama pengunjung, mari kita jaga, kalau bukan kita lalu siapa???


8 comments:

  1. Seru ya, Mak kalau di kota masih bisa jalan-jalan ke tempat sejuk kayak gitu. Liburan yang mahal di zaman sekarang. TFS, Mak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, seruuu ... bosen juga klo ngemall mulu... anak2 juga seneng lari-larian smp keringetan, sehat hihi..
      Maknya bs duduk2 smbl baca ... Endang bardendang...
      sama2 mak..makasih dah mampir :)

      Delete
  2. Kenapa banyak orang pacaran di taman, merokok di taman, dan jualan di taman? Karena RTH itu ibarat barang langka, di mana kegiatan yang boleh dilakukan di dalamnya tidak dikenakan aturan yang mengikat.

    Sebenarnya, asalkan pengunjung RTH diberi aturan yang "mengikat", hal-hal bakal berjalan lebih tertib kok. Karena ya itu, orang kita itu kalau nggak "diikat" dengan aturan jadinya malah kebablasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, padahal di depan pintu masuk ada papan pengumuman n aturannya lho mas, lupa gak ku uplot di sini..
      adanya aturan idealnya spy lebih tertib, tp mmg kesadaran yg kurang tampaknya...

      Delete
  3. betul, mak.. sudah disediakan ruang, tinggal menjaga bersama saja susah, heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ... klo sudah tidak ada, tidak tersedia baru deh terasa ya mak..
      RTH sudah langka lhoo ... hutan apalagi deh..
      smoga kelak bs lebih aware-yaa pengunjungnya...

      Delete
  4. ya Allah hehehe....sempet juga yak ngitungin hehehe....menjaga dengan membuang sampah pada tempatnya,mengambil sampah di jalan,kalo saya gitu biasanya...risih juga,iseng kali orang yang g bisa jaga lingkungan :(
    tapi seru ya,eh rujak bebek gimana sih mbk bentuknya???penasrannn..
    salam kenal^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... iseng si kakak ngitungin.
      Nah itu harusnya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil... sipp
      waah belum tahu yaa... itu rujak dari bermacam-macam buah2an yang ditumbuk di ulekan dari kayu, rasanya campur deha seger asem manis pedes..
      oh iya bacanya bebek pake e pepet yaa... tdk seperti menyebut bebek si unggas hahaha
      ayo main nti sy traktir rujak bebeknya

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.