Friday, June 27, 2014

Rangking Satu yang Semoga Makin Tangguh dan Tak Lagi Mudah Menangis

Putri sulung saya ini memang sangat sensitif dan perasa. Sebuah kelebihan yang juga jadi kekurangannya :) Saya selalu berusaha membuatnya menjadi lebih tangguh agar tidak mudah menangis. Sungguh saya berusaha keras untuk menghapuskan kata cengeng dari pikiran saya. Saya yakin Ka Alinga bukan anak cengeng, meski dibanding kedua adiknya mungkin dia paling mudah menangis menghadapi situasi yang membuatnya tak nyaman, sedih, marah atau sakit.
Ka Al menerima cerificate dan piala, berfoto dengan guru-gurunya Miss Rona dan Miss Fidi
Sejak masih kecil, dari pengamatan dan kaca mata seorang Ibu, saya melihat ka Alinga termasuk anak yang cerdas dan punya kemauan yang keras. Saat selesai sekolah TK selama 3 tahun, Ka Al sudah bisa membaca dan membaca Iqra di jilid 4 (meski kemudain di SD diturunkan kembali). Saat saya tanya Kaka mau lanjut ke SD? Dia bilang mau, maka kekhawatiran saya bukanlah apakah dia akan bisa melakukan adaptasi dengan materi pelajaran di SD, yang saat itu saya bayangkan serupa dengan materi yang dulu saya terima di SD dua puluh tahunan lalu. Hmmm yang menjadi kekhawatiran saya justru dua hal saja. Apakah Kakak akan menikmati masa sekolahnya yang saat itu masih di usia 5,8 tahun dan apakah Kakak akan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan sifatnya yang sensitif dan mudah menangis??? Bukan karena guru TKnya dahulu memberikan catatan pada saya semata tapi karena memang dalam keseharian, Kakak sangat mudah tersentuh dan menangis.

Saya gembira luar biasa, di awal-awal masa sekolahnya Kakak tampak senang dan menikmati waktu belajar di sekolah. Sekitar tiga bulan pertama, saat menerima raport bayangan semester ganjil, saya kaget sekaligus senang, nilainya bagus-bagus dan gurunya memberi catatan Kakak masih suka menangis di kelas bunda... Saya kemudian berusaha keras memotivasinya agar lebih berani, tangguh dan tak terlalu perasa dan mudah menangis. "Ibu, kata Miss (gurunya di sekolah) dan teman-teman aku rangking satu ". Oh iyaaa, saya bahkan tidak menanyakan rangking saat itu."Alhamdulillah ya Kak...tapi yang penting kakaknya enjoy belajar yaa, dan tidak boleh gampang menangis yaa". 

Di luar cerita guru-gurunya (ada dua orang guru kelas) dan seorang guru di kelas lain yang kebetulan adik kelas saya di kampus dulu, memang saya pernah sekali menemukannya menangis saat suatu kali  menjemputnya ke sekolah (kayaknya sekali-kalinya hiks...) Saat itu Ka Al baru saja selesai mengikuti kelas science club, melihat saya di depan pintu mukanya yang sudah muram langsung makin mendung dan tak lama menangis. "Kenapa Ka??? " "Lem aku hilang buuu, gak ketemu dari tadi aku cari gak ketemu.." Rupanya kelas science saat itu sedang mempraktikkan sesuatu dan setiap murid membawa perlengkapannya sendiri. Meskipun tempat lem sudah diberi nama, mengingat banyaknya murid yang mengikuti kelas ini dan bercampur dari semua kelas 1 (ada 5 kelas), rupanya saat tak juga lem ditemukan membuatnya frustrasi dan menangis. Saya lalu menghibur dan menenangkan: "nanti pasti ketemu dan dikembalikan ke Kakak, karena ada label namanya."

Kedua guru kelasnya sudah memaklumi kondisi Kakak, mereka jauh lebih sabar menghadapi kondisi ini. Namun guru-guru science yang mungkin belum "mengenal" Kakak  tampaknya tak tahu kondisi Ka Al. Saya melihat ada rasa kesal/jengkel/marah di wajah mereka. "yaa nanti juga ketemu, gak usah nangis...kayak gitu aja nangis." saya ingat sekali salah satunya berujar demikian. Ahh di satu sisi saya merasa tidak enak hati karena Kakak menyusahkan gurunya, namun di sisi lain saya merasa hal ini masih dalam kewajaran. Memang tidak baik mudah menangis, namun saya tahu sifat dan kondisinya saya lebih memilih memaklumi Kakak dan menenangkan bahwa lem tersebut akan kembali dan dia tak perlu menangis. Saya peluk dan tenangkan Kakak...saya justru merasa jatuh kasihan padanya terlebih mendengar nada jengkel dari salah satu guru science tersebut. Jujur, itu menjadi pecutan bagi saya untuk terus menyemangatinya menjadi pribadi yang lebih tangguh. Berhasil???? Hmmmmm kita lihat yaa...*semoga*
The Best Ten of Ustman bin Affan
Saat pembagian raport di akhir semester, nilai Kakak justru berada di urutan tiga di kelas. Menurut gurunya the best 3 di kelas yang kesemuanya murid perempuan ini nilainya susul menyusul, "hanya beda koma saja bunda". Saya bahkan tak mempermasalahkan hal tersebut. "gak apa-apa kan buu, yang penting masih di rangking 3 yaa". Saya pastikan pada Kakak bahwa itu bukan masalah besar, that's fine... saya melihatnya semangat belajar dan mau disiplin menyiapkan diri menghadapi ujian sudah merupakan hadiah terbesar bagi saya. Kembali soal sifat sensitif dan mudah menangisnya inilah yang kemudian menjadi pembicaraan kami, saya dan guru-gurunya. Saat itu kemudian saya jelaskan pada Kakak, di depan gurunya bahwa selain Kakak semangat belajar dan bisa mendapatkan nilai yang bagus, yang tidak kalah penting kakak juga harus belajar berani dan lebih mudah menerima perbedaan pendapat dan sikap di antara teman-temannya...intinya tidak mudah tersinggung, tersentuh lalu menangis. 

Pada pembagian raport bayangan semester genap, Kakak mendapat urutan ke tiga kembali. Saya tak pernah membebaninya dengan urusan rangking. Melihatnya enjoy belajar dengan materi yang menurut saya lumayan berat untuk anak seusianya sudah membuat saya merasa bahagia luar biasa dan mengobati rasa ragu sudah menyekolahkannya di usia lebih dini. Yang justru saya banggakan adalah sikap tanggung jawabnya. Saat menghadapi ulangan atau ujian, buat saya belajar menyiapkan ulangan atau ujian bukan soal mampu menjawab. Saya pastikan pada Kakak, itu cara kakak belajar bertanggungjawab. Kalau ingin mendapat nilai baik, Kakak harus belajar. Meskipun saat mendapat materi atau soal yang rumit dan menurut saya terlalu berat untuk anak seusianya, saya memilih dia melewatkannya saja. Tak usah dikerjakan atau diulang. Materi pelajarannya memang jauuuh sekali yaa bobot beratnya dengan materi zaman saya SD dulu...hikss 

Terakhir pembagian raport di semester ganjil ini ternyata diundur satu minggu dari jadwal semula. Kalau tidak salah karena guru-guru di sekolah Kakak disibukkan dengan training. Saat hari itu Sabtu, 21 Juni saya harus mengambil raport ke sekolah, saya sama sekali tak menyangka akan ada perubahan konstalasi peringkat di kelas Kakak. Saat itu ayahnya masih dinas luar, karena ada konsinyering. Saya memintanya agar minta izin pulang lebih awal untuk mengambil raport. Karena kebetulan satu kantor, sebetulnya saya sudah menyampaikan pada atasan langsungnya. Beliau menjawab.. "kan ada Ibunya...". "Justru itu, saya rasa ayahnya justru yang harus tahu kondisi anaknya di sekolah.." Biasanya guru menceritakan perkembangan belajar dan psikologis anak-anak, saya mau ayah mereka juga mendengar dan tahu langsung dari gurunya (kecuali memang untuk satu dan lain hal, benar-benar tidak dapat hadir). Jika selama ini saya sebagai Ibunya masih sering berkomunikasi dengan guru-gurunya, maka seharusnya ayah pun mengambil peran dan perhatian.

Alhamdulillah, the 5th Best Student
Ayahnya sampai ke rumah sekitar pukul 10.00, sekitar pukul 11.00 kemudian kami berangkat. Saya membungkuskan kado kenang-kenangan untuk kedua guru kelas Kakak... Kakak menuliskan sepatah kata di atas kertas untuk masing-masing gurunya. As always... selalu ada tanda hati di sana :)  Alinga *loves* Miss ... Kakak tampaknya juga sangat menyanyangi gurunya... "sedih nanti aku gurunya ganti ya bu di kelas dua..."

Turun dari mobil di tempat parkir, terlontar dengan ringan dari mulut mungilnya. "Mudah-mudahan aja aku rangking satu ya bu..." Saya agak kaget mendengarnya dan langsung tersenyum "Amiiin, mudah-mudahan ya Kak... jadi 1-3-3-1 deh, tapi kalau tidak satu juga gak apa-apa kok Kak..." saya buru-buru menetralisir suasana. Jujur saya khawatir, saat dia penuh optimisme dan harapan, dia mungkin akan lebih kecewa saat menemukan kenyataan yang berbeda. Suasana sudah agak sepi terutama di ruang kelas I C, Utsman bin Affan. Tak ada antrian lagi.. kami berlima segera masuk setelah mengucap salam. Suasana agak rusuh karena meski hanya dua kursi yang disediakan di depan Miss Rona dan Miss Fidi, Paksi dan Zaha ingin ikut duduk juga... akhirnya ditambahkan lagi kursinya... heboh.... Gara-gara kehebohan ini saya bahkan sampai luput memperhatikan sekitar.

"Bunda ayah, bisa dilihat pengumuman di papan tulis di belakang saya..?" Begitu Miss Rona membuka pembicaraan. Kami yang sedari tadi tak memperhatikan langsung mengarahkan pandangan ke papan tulis. Ahhhh nama Kakak ada di urutan pertama.. apa ini?? oh... The Best Ten of Ustman bin Affan Class. Saya agak tercenung sejenak... jujur tak menyangka. Lalu segera mengucap Alhamdulillah...Kakak Alinga tampak tersipu-sipu malu... seperti biasanya. Hmmm kalau di rumah pemberani tapi di sekolah tetep pemalu...seminggu tak bertemu guru-gurunya, dia tampak malu saat berjabat tangan tadi. Nilai rata-ratanya, 90,9 melampaui standar kompetensi. Kakak Alinga memaknai keterangan standar kompetensi terlampaui artinya pasti naik kelas :)

"Tingkatkan prestasimu dan jangan cepat menangis saat kamu berselisih paham dengan temanmu saat bermain"
Selain menjadi rangking I, Kakak juga mendapat penghargaan lainnya sebagai The Best Five of  1st Grade Student academic year 2013-2014. Dengan bangga Kakak menerima sebuah piagam penghargaan dan dua buah piala. Ohh ternyata dua piala yang tersisa di samping meja guru menunggu kehadiran Kakak. Senang melihatmu senang nak...Alhamdulillah..., saya sih secara pribadi lebih merasa terharu ketimbang senang atau bangga.

Kami kemudian membincangkan beberapa hal termasuk, bahwa sudah ada kemajuan dari sisi keberanian Kakak, sudah berani maju ke depan dan lebih percaya diri dari sebelumnya (Alinga saat pemalu meski saya tahu dia berpotensi), satu lagi yang sangat membuat saya lega. "Alinga sekarang sudah jarang menangis bunda... tapi tetep catatannya, jangan terlalu sensitif niiih" begitu pesan Miss... alhamdulillah setidaknya sudah berkurang yaaa... semoga ke depan Kakak bisa lebih tangguh dan tak mudah menangis... "jadi di kelas dua nanti, pertahankan yang sudah baik..tingkatkan lagi yang belum maksimal dan tidak boleh lagi menangis di sekolah yaaa" Kakak tersipu-sipu maluuu, dan menyembunyikan wajahnya di punggung saya..:)
Miss Rona, Al, dan Miss Fidi
Terimakasih Miss Rona dan Miss Fidi, sudah menemani Kakak belajar di tahun pertamannya di SD. Kakak tampak sangat terkesan, enjoy dan happy menjadi bagian dari kelas Utsman bin Affan...Prestasinya menjadi bonus yang semoga semakin membuatnya semangat belajar ke depan dan tetap rendah hati...tentu saja...makin tangguh...be strong and stronger my lil girl.. Ibu Loves You...as always...

Semoga juga adik-adiknya bisa meneladani semangat belajar Kakaknya... soal prestasi itu bonus, Alhamdulillah. "Kakak dikasih hadiah apa bu..? kan rangking I..."  Hmm Pizza Canada, Ice Cream, Nonton (Maleficent), dan naik kuda...puas deh hari itu mentraktir yang rangking I plus adik-adiknya... Kami tidak membesar-besarkan soal rangking ini, karena kedua adiknya bisa jadi memiliki pola dan sikap yang berbeda menghadapi pelajaran dan ujian. Perbedaan ini sudah tampak meski sekarang dek Zaha masih TK. Jadi buat saya kenyamanan mereka belajar dan berinteraksi lebih penting, selain tentunya menanamkan sikap disiplin dan bertanggungjawab.

Mau kenal lebih jauh sama Kak Alinga???..Ceritanya ada di sini untuk beberapa tulisan seputar Kaka Alinga

4 comments:

  1. selamat, ya! Hebat prestasinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mama Keke Naima..:) alhamdulillah

      Delete
  2. hehehe, wajar ya, mba. anak2 masih suka nangis :D
    selamat ya, kaka, semoga makin cerdas dan shalihah aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya wajar si mba.. walaupun jujur saya maunya dia lgh tegar dan tangguh dan tak mudah menangis... selalu support dia utk bisa lbh kuat nih
      Amiin makasih doanya tante :)

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.