Tuesday, August 5, 2014

Rasa Kecukupan, Syukur dan Berserah: Resep Menua dan Bahagia

Menua suatu keniscayaan, menajdi bijak?? harus dipersiapkan

Ketika menua dan menjadi bijak bukan satu paket. 

Wiih kok agak-agak berat dan dalem gitu yaa? ini tentang apa sih?? tentang menjadi tua? ataukah tentang menjadi bijak? Selayaknya memang semakin bertambah usia semakin bijak cara pandang seseorang terhadap berbagai hal. Harapan ini tentu didasarkan pada suatu hypotesa bahwa dengan usia yang sekian tahun lebih lama dalam menjalani kehidupan tentu semakin banyak pelajaran hidup yang diperoleh seseorang. Tampaknya tak selalu kemudian hal ini berbanding lurus,  menjadi tua tidak otomatis menjadi bijak. 

Hmm kita yang masih muda, - ciyeeee muda -, yang insyaAllah akan sampai pada kondisi di mana kita bertumbuh dan menua, dipastikan berharap pada suatu kondisi menua yang bahagia. Menjadi tua dan bahagia kadang kita asumsikan sebagai menjadi tua ditengah kecukupan, biasanya materi, sebagian lagi memasangkan kecukupan dengan kecukupan yang bersifat immateri, prestise, kebanggaan, keluangan waktu, dan kegembiraan. Menjadi tua dan bahagia baik dari sisi materi maupun immateri memerlukan satu syarat mendasar yakni sehat. Menjadi tua merupakan suatu keniscayaan, namun semoga saja kita bisa menjalani masa tua kita dengan terpenuhinya syarat kesehatan. Menjadi sehat di masa tua bukanlah hadiah, tetapi lebih karena berbagai persiapan dan investasi kita di masa muda. 

Apa yang sudah saya lakukan untuk investasi di hari saat saya telah menua?? menabung untuk dana pensiun, asuransi untuk menjamin kecukupan materi di hari tua?? Ternyata saya lebih fokus pada hal-hal yang bisa saya hitung dengan angka-angka. Saya kadang lupa bahwa ada investasi yang lebih penting dan mendasar untuk menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia. Iya investasi kesehatan dan kebahagiaan... menjaga kondisi tubuh dan fikiran dengan pola hidup yang "baik dan benar", pola makan yang "baik dan benar",  pola pikir yang "baik dan benar", dan pola rasa yang "baik dan benar".

Yang saya sebutkan bukan hal yang mengada-ada, komposisi penduduk Indonesia saat ini yang masih berbentuk Pyramid, di mana penduduk usia muda dan produktif masih mendominasi dibandingkan penduduk usia lanjut, antara lain (antara lain yaaa) menunjukkan bahwa tingkat harapan hidup di negara ini masih relatif rendah. Salah satu yang bisa kita terima secara logika sebagai penyebab rendahnya harapan hidup masyarakat kita adalah rusaknya pola hidup, pola makan, pola pikir dan pola rasa sebagian besar dari kita.

Menjadi Tua dan Bahagia

Coba deh secara kasat mata saja...bandingan jumlah manula dan usia muda termasuk kanak-kanak dan balita di keluarga besarmu... jumlah manula dipastikan jauh lebih sedikit. Ceritanya kemarin saat mudik lebaran di Cirebon. Saya yang di keluarga inti tinggal punya satu manula yaitu Mimi (Ibunda) saya mendapat sebuah pelajaran tentang resep menua, sehat dan bahagia. Mimi saat ini usianya sudah 66 tahun (itupun kalau beliau tidak salah ingat yaa...)  karena menurut KTP, Mimi lahir tahun 1948... saya pastikan itu usia administratif saja... rasanya saat ini hanya Tuhan yang tahu berapa pastinya usia Mimi. Iya lah yaa, karena tidak ada akte kelahiran saat itu, berdasarkan hitungan "kira-kira" Mide (Nenek saya), memang Mimi lahir di tahun tersebut. Ayah saya (Bapanda) sudah mendahului kami 13 tahun yang lalu.

Mimi saat ini kondisinya relatif sehat, ada beberapa penyakit yang diderita seperti maag dan rematik, tetapi alhamdulillah tidak mengganggu keseharian Mimi. Mimi masih melakukan berbagai aktifitas, meski kuantitasnya sekarang tentunya jauh berkurang dari masa "muda"nya dulu. Mimi yang bertiga saudara sudah tinggal sendiri. Kakak dan adiknya lama mendahuluinya dipanggil Yang Kuasa. Kakaknya, Uwak saya perokok berat dan meninggal akibat sakit keras di usia mudanya karena rokok jauh sebelum Mide (Nenek) saya meninggal. Adik Mimi, Bibi saya juga sudah dipanggil Tuhan, mengidap beberapa penyakit dan komplikasi. Usia di tangan Yang Maha Kuasa, namun dari ketiga bersaudara ini saya melihat ada suatu pola yang menguatkan apa yang saya sampaikan sebelumnya, rusaknya pola hidup, makan, pikir dan rasa mempengaruhi usia dan kualitas hidup di masa tua. 


Mimi seorang pekerja keras, selain menjadi Ibu dari kami 8 anaknya dan beberapa sepupu yang juga tinggal di rumah, mengurusi urusan rumah tangga tanpa asisten. Mimi memiliki beberapa profesi lain :), pedagang, petani dan peternak ikan. Meski tidak secara langsung turun ke sawah dan kolam, namum Mimi manager multi-talented...:). Saya ingat, Mimi saat Bapak saya masih hidup bahkan tak punya waktu untuk sekedar bergaul dan bergosip dengan tetangga (kami menyebutnya "nangga"), Mimi tak pernah tahu acara di Tivi apalagi sinetron. Seluruh waktunya dihabiskan untuk berbakti pada Suami dan kami anak-anaknya. Mimi, saya sebut sebagai wanita sederhana yang lurus-lurus saja namun bermental baja, tak mudah menyerah menghadapi kerasnya hidup. 

Tivi, di rumah ada, tapi bisa dihitung dengan jari melihat Mimi duduk di depan Tivi. "mubazir, ga ada manfaatnya, mendingan nderes (membaca Qur'an)" begitu katanya. Karena kebiasaan tidak pernah gaul, Mimi agak kaget saat kemudian hidup tanpa suami dan saat anak-anaknya telah memiliki dunia dan keluarga sendiri-sendiri, lalu memulai kehidupan bersosialisasi lebih intens dengan ibu-ibu pengajian. Selain ada hikmah dan nilai positif, akibat "pergaulan" ini antara lain sedikit merubah sikap pandang Mimi, yang dulu "lurus-lurus" saja. Sejak bergaul, Mimi mulai merasakan resah saat mendengarkan cerita ibu-ibu lainnya bahwa mereka baru saja memiliki ini dan itu, bahwa anak mereka baru saja membelikan mereka ini dan itu. Sedikit banyak, ada yang berbeda dari cara pandang Mimi. Meskipun alhamdulillah, hal itu kemudian tidak terlalu dalam berpenetrasi pada Mimi. Mimi tetap wanita sederhana yang mandiri, yang tetap tak mau menyusahkan anak-anaknya, yang tak mau berbagi kesusahan pada kami...berusaha menyelesaikan sendiri banyak hal dan enggan meminta tolong pada anak-anaknya kecuali terpaksa.

Saya menyimpulkan pola yang "baik dan benar" termasuk pola pikir dan pola rasa menjadi faktor kebahagiaan menjadi usia lanjut. Iya, saya kemudian tersadar bahwa selain persiapan materi menjelang masa tua yang jika kita dalami lebih jauh, sejauh mana kecukupannya??? tentu kembali pada pola rasa dan pola pikir kita akan rasa cukup. Kita juga perlu mempersiapkan diri, investasi kesehatan dengan menjaga pola makan, pola kerja, dan pola tidur yang baik dan benar, setidaknya mendekati pada upaya yang ideal. Yang tak kalah penting namun terlupakan adalah pola pikir dan pola rasa.  Bagaimana agar kita tidak sekedar menua tanpa menjadi bijak dan dewasa, bagaimana agar kita menua namun bahagia, menua dan mensyukuri nikmat Tuhan menjadi tua dan bahagia.
Mimi (Ibu saya), Mi Haji, Saya dan dek Paksi
Resep Menua dan Bahagia Mimi Haji Saodah

Selain Mimi, sebuah pelajaran terkait resep menua dan bahagia, saya dapatkan dari momen mudik lebaran kemarin. Peristiwa terjadi di hari ke tiga lebaran. Tetiba seorang nenek-nenek, dari kejauhan berujar dengan lantang menyebut-nyebut nama Mimi, tentu saja dalam bahasa Cirebon. Saya baru melihatnya pertama kali ini. Hmm pandangan pertama melihatnya, saya langsung meyakini bahwa di masa mudanya nenek ini pasti sangat cantik, terlihat jelas jejak-jejak kecantikan di wajah mungilnya. Mungkin kalau anak sekarang menyebutnya imut hehe. Akhirnya saya pertemukan beliau dengan Mimi saya, yang saat itu baru saja selesai shalat dhuha dan tengah mengaji di ruang sholat. Saya tidak mengenali nenek yang saya pikir usianya "hanya" sekitar 80 tahunan ini. 

Sontak Mimi mengakhiri membaca Qur'annya, membuka mukena (alat sholat) dan langsung menyalami dan mencium si nenek. "Aduuuh, subhanaAllah Mimi Haji...kok repot-repot dan sempetin datang ke sini, kita yang muda-muda malah belum sowan ke sana". begitu kurang lebih alih bahasa dari ucapan Mimi saat itu. Lalu dengan lantangnya nenek menjawab "Iya...dari sana yang muda-muda gak ada yang ke sini, yang dari sini ya sama aja, ini makanya yang tua yang ngalah dateng ke sini, supaya kalau saya meninggal yang muda-muda di sini tahu kalau saya ini saudaranya, supaya didoakan...bla bla..." Saya alih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia yaa.

Singkat cerita, Mimi Haji Saodah ini isteri pertama dari almarhum sepupu almarhum kakek saya dari Ibu. Saya bahkan tidak mengenal kakek saya, karena meninggal ditembak DI/TII, waah coba buka buku sejarah tahun berapa itu yaa, saat terjadi pemberontakan DI/TII. Dua keluarga ini karena satu dan lain hal kemudian agak terganggu komunikasi dan hubungan silaturahminya. Rupanya Mimi Haji ingin merekatkan kembali tali silaturahmi tersebut. Meskipun Mimi tetap menjalin silaturahmi dengan anak-anak beliau, tapi tidak berlanjut pada kami anak-anaknya. Seperti biasa, orang-orang tua hanya hafal pada anak pertama dan kedua, saat itu yang ditanyakan oleh Mi Haji hanya kakak pertama dan kedua saya. Saya sebagai anak ke enam dari delapan bersaudara sudah tak dikenalinya. 

Masih tampak, jejak kecantikan dan keimutannya :)
Tebakan saya soal usia ternyata salah besar, saat saya pastikan berapa usianya, Mimi Haji menjawab "satus punjul siji", "seratus lebih satu", " haaa 101 tahun Mi?" saya masih tak percaya. "SubhanaAllah masih sehat seperti ini??"  "Ya alhamdulillah masih sehat, masih waras, jag-jag, masih krungu, masih katon, yaa cuma ari maca Qur'an ya kurang awas, tulisane kudu gede-gede". "Ya alhamdulillah masih sehat, masih kuat, masih bisa mendengar dengan jelas, melihat dengan jelas, cuma kalau membaca Quran sudah kurang jelas, tulisannya harus yang besar-besar". Saya masih penasaran "Trus tadi ke sini dianter siapa, naik apa?"  "Yaa mlaku dewek"... "Yaa jalan kaki sendiri".

Sayapun menanyakan resep Mimi Haji menjadi tua dengan tetap sehat dan terlihat bahagia dan riang, tanpa beban. "Waah banyak yang suka nanya kayak gini," begitu jawabnya, "Pasrah ning Gusti Allah, urip matie, rejekie, mangane, segala tindak lakue..." Sangat sederhana namun dalam benar maknanya, resepnya berserah diri sama Allah, hidup dan matinya, rezekinya, makannya semua tindak lakunya dalam bahasa agama disebut bertawakkal. "apa jare Gusti Allah bae, alhamdulillah disyukuri bae kang ana" "Apa kata Allah saja, Alhamdulilah disyukuri saja apa yang ada". Pastinya selain tawakkal, rasa syukur dan rasa cukup... Mimi Haji juga rajin bersilaturahmi tanpa berpikir gengsi dan melihat usia dan senioritas. SubhanaAllah...

Beliau kemudian lama berbincang dengan Mimi saya, curhat tentang kondisinya dan kondisi anak cucunya saat ini lalu minta dipertemukan dengan anak-anak Mimi dan dikenalkan untuk yang belum pernah tahu seperti saya. Saat kami menyelipkan sedikit rezeki di tangannya, dengan segera beliau mengucap syukur dan dengan tulus mendoakan semoga rezeki kami dilancarkan oleh Allah. Amiiin, saya jujur sangat terharu, sekaligus takjub mendapat banyak pelajaran hari itu.

Saya sempat mengambil gambar Mi Haji dan Mimi saya, lalu mengajak berpoto bersama. Sebuah perkenalan yang sangat unik. Iyaa, saya baru mengenal beliau, begitu juga beliau. Sepulang Mimi Haji Saodah, Mimi bercerita bahwa dulu Mi Haji ini merupakan isteri pertama dari seorang tokoh di kampung saya, yang melahirkan beberapa anak keturunan mereka, cukup berada dan terpandang di kampung kami. Mimi Haji ini kemudian "ditinggal" oleh suaminya yang mempolygaminya dengan dua orang wanita lainnya. Menurut Mimi meski sudah tua, Mi Haji ini tidak mau diam, tetap sigap dan mampu mengurus diri dan mengerjakan pekerjaan hariannya sendiri. Saya bisa memastikan dari kelincahannya dan dari ceritanya yang mengalir apa adanya. Bahkan beberapa tahun lalu Mi Haji masih jualan di pasar, jualan bubur sumsum dan jajanan tradisional sejenisnya. Saya yakin beliau sangat mandiri. SubhanaAllah. 

Mimi Haji memang tua, tapi beliau sangat bijak dalam kesederhanaannya, positive thinking dan berserah sepenuhnya pada Nya. Kiranya demikianlah cara membentuk pola pikir dan pola rasa yang baik dan benar menuju tua dan bahagia. Semoga saya mampu mempraktikkan resep ini dan menjadi persiapan saya menuju suatu masa di saat saya tak lagi disebut muda.

Artikel  ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu:  Road To 64
dan memenangi salah satu kategori

22 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Mimi Haji bukan hanya cantik dan imut mbak, beliau juga memancarkan aura kesholehahan. Mukanya bercahaya. Itu pasti karena ibadah dan pasrahnya. Makasih ilmu nya ya mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mak indah...saya juga meyakini begitu...tenang dan riang sekali beliau seperti tanpa beban meskipun curhat kondisinya tp mmg kepasrahannya sangat tinggi...

      Delete
  3. memang rasa bersyukur itu harus terus dipupuk ya mak, trimaksih ilmunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...kadang kita lupa hal yang satu ini, sama2 mak

      Delete
  4. Semoga Allah menyempurnakan usia beliau dengan segala kebaikannya. Amin ya rabbal alamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin ya rabbal alamiin...makasih mas

      Delete
  5. Saya mengucapkan minal aidin walfaidin mohon maaf lahir dan batin, salam

    ReplyDelete
  6. datang berkunjung sambil menyimak, o iya minal aidin walfaidin ya, ditunggu kunbalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 yaa...mau kunbal tapi tidak bisa dibuka linknya

      Delete
  7. berkunjung, minal aidin walfaidin mohon maaf lahir batin, jangan lupa kunbalnya ya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih...sama2 yaaa... kok gak bisa masuk niih utk kunbal

      Delete
  8. Tulisannya inspiratif mak :) hebat ya Mi Haji..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak Arifah... iya menurut saya luar biasa

      Delete
  9. wah Subhanallah artikel yg bagus mbak...sukses ya mbak buat kompetisinya pakde cholik ^-^ mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahamdulillaah makasih ki...amiin doanya

      Delete
  10. ini giveaway ya mbak? sukses ya mbak buat giveawaynya... :D semoga menang... aamin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa... dikutan ke giveaway, makasih yaa amiiin

      Delete
  11. baca resep bijak dan tua mimi haji, aku lgs malu mba.... selama ini kyknya bnyk bgt yg ga aku syukurin ya... punya gaji slalu dianggab kuranglah, kehidupan terjamin ttp dianggab ga cukup... -__-.. pgn coba berubah, spy bs kyk mimi haji... tua jg msh blm pikun dan sehat bgt yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya itu juga jadi catatan pribadiku kok...rasanya jadi seperti tertampar sendiri...padahal bahagia itu ada dalam rasa syukur kita

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.