Wednesday, March 25, 2015

Mengejar Matahari Bromo

Sebelum lanjut ke bagian tulisan selanjutnya saya sarankan jika hendak mengunjungi kawasan Bromo maka siapakan waktu yang cukup. Mengunjungi Bromo memang harus menyediakan waktu cukup selain karena memang butuh waktu untuk bisa menjelajahi semua  spot yang recommended juga capek yaa kalau tergesa-gesa *Curcol*. Lanjut yaa sesuai judul, saya memang mau cerita bagaimana perjalanan kami mengejar matahari di kawasan Bromo Tengger, yang sayangnya waktunya terbatas karena salah satu rekan harus kembali ke Malang untuk mengejar pesawat. Tapi setidaknya sudah sah deh saya mengunjungi Malang karena sudah menyaksikan Matahari terbit alias sunrise di Bromo dan naik ke kawah Bromo *jiyaaah gaya*. Ini bukan kunjungan pertama ke Malang tapi kayaknya tidak sah jadi pengunjung Malang kalau belum menginjakkan kaki ke Bromo.

Setelah hunting informasi dari berbagai sumber, akhirnya kami sepakat pergi kesana dengan bantuan salah satu travel yang awalnya hanya menyewakan mobil untuk perjalanan Malang (hotel) ke Bromo untuk masa sewa 12 jam. Dari 6 orang, hanya kami berempat yang berniat mengunjungi Bromo. Demi keamanan anggaran, saya memilih mobil yang ramah anggaran dan dari hasil hunting saya ini yang paling ramah lhoo. Untuk mobil avanza sudah termasuk supir dan bensin dikenai Rp.450.000,- Tentu kami juga menyiapkan untuk tips bagi driver yang sekaligus jadi "guide" kami. Oh iya ini hanya sewa mobil untuk mengantar dari Malang ke tempat penyewaan hardtop atau jeep yang akan kami naiki menuju kawasan Tengger. Untuk sewa hardtop kami harus menyewa langsung di lokasi.

Untuk bisa mengejar sunrise, kami harus bersiap berangkat dari hotel sejak pukul 24.00. Perjalanan dari hotel menuju Wonokitri, daerah di tempat penyewaan hardtop atau jeep ditempuh sekitar 2- 2,5 jam. Sampai di Wonokitri masih sepi saat kami sampai, kami pikir tak akan ada banyak pengunjung. Informasi awal dari travel untuk sewa hardtop untuk paket standar biayanya Rp.450.000,-. Paket standard ini maksudnya hanya mengunjungi dua spot yakni pananjakan tempat menyaksikan sunrise dan kawah gunung bromo. Untuk paket lengkap ada tambahan sekitar dua spot yakni ke savana dan  bukit teletubis. Sesampai di sana ternyata jeep dihargai Rp.550.000,- akhirnya setelah tawar menawar disepakati Rp.500.000,-. Untuk satu mobil jeep bisa memuat 5-6 orang. Untuk tiket masuk kawasan Bromo dikenai Rp.32.500/orang. 

Driver yang mengendarai hardtop sekaligus kemudian menjadi guide merupakan warga Wonokitri Asli. Namanya Suroto. Menurut Mas Suroto, Wono artinya hutan, Kitri artinya batas. Dusun ini memang dusun terakhir yang berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari pintu atau arah Pasuruan. Bormo bisa dicapai dari beberapa arah lainnya. Dusun Wonokitri hanya dihuni oleh suku asli, suku Tengger. Tidak ada pendatang dan tidak ada yang pergi merantau. Wonokitri dihuni sekitar 670 kepala keluarga. Mereka semua beragama hindu dan memegang kuat tradisi. Mata pencaharian mereka mayoritas ada bertani. Sepanjang jalan menuju Pananjakan dan Bromo, di kanan kiri jalan merupakan bukit-bukit yang ditanami kentang. Saat itu menjelang musim panen. Menurut Mas Surot harganya bisa mencapai Rp.3.000,-/kilogram. Hihi murah sangat yaa saat masih di petani.

Jalan menanjak dan berliku kami tempuh sekitar 30 menit saja sampai akhirnya sampai ke Pananjakan. Sepanjang jalan ada beberapa titik di mana ada semacam tempat khusus yang biasa disebut Patma Sari. Dipercayai bawa di tempat tersebut ada penghuni "lain" yang menungguinya dan menjadi rumah bagi mereka. Setiap hari masyakat menyajikan sesajen di Patma Sari ini. Selain memberi sesejaen, melewati tempat tersebut, driver menyalakan klakson tanda kulonuwun atau permisi. Patma itu artinya rumah, sari itu artinya makanan. Jadi filosofinya, tempt tersebut merupakan rumah bagi para penghuni halus tersebut yang merupakan tempat menyajikan makanan. Sehingga sesajen yang diberikan merupakan sari makanan yang dibagikan atau sengaja diberikan dahulu kepada arwah tersebut sebelum dinikmati.

Sesampai di Penanjakan, driver memarkir mobil kami harus berjalan sekitar 100 meter ke atas untuk sampai ke view point untuk menyaksikan sunrise. Terdapat toko souvenir dan makan minum di sepanjang tanjakan. Tersedia juga kamar kecil. Udara dingin makin menyergap. Jangan lupa siapkan diri dengan baju hangat bahkan sarung tangan. Saya sih sudah pake longjhon dan jaket, plus sarung tangan. Serasa winter hehe. Saya liat beberapa bule tapi mereka santai saja, jaketnya tak terlalu tebal, sudah biasa kali yaa. Sampai di view point masih sepi, kami langsung mengambil posisi di bagian depan. Hmm terlalu dini kami sampai, suasana masih sepi. Di luar dugaan ternyata tak lama kemudian suasana menjadi demikian riuh di tengah gelap gulitanya malam yang luar biasa dingin. Waah ternyata yang ingin mengejar sunrise pagi ini banyak juga. 

Sambil menunggu sunrise, kami menyempatkan sholat subuh. Tersedia tempat sholat terbuka. Dengan membayar Rp.2000 kita bisa berwudlu. Saya mendapati pengalaman syahdu. Dalam kondisi sangat dingin, brrrrr terutama setelah menyentuh air wudhu saya bergabung dengan beberapa kloter jamaah sholat shubuh. Suara Imam shubuh di tengah ruang terbuka yang dingin sekaligus riuh. Hmm SubhanaAllah... Allah maha besar dan kami sangatlah kecil.

Suasana riuh membuat posisi kami agak tak menguntungkan. Banyak pengunjung yang akhirnya mengambil tempat di depan pagar dan menghalangi kami. Hmm sebelum keadaan makin kacau, saya mengambil inisiatif ikut-ikutan berdiri di atas pagar. Hmm udah jauh-jauh dari Jakarta masak sih ga bisa dapet gambar ya oke hehehe.

Cuaca agak menggoda, sore Malang diguyur hujan. Lalu berhenti dan langit tenang di malam hari. Ternyata menjelang pagi awan kembali mengelayut. Bisa dibilang kami kurang beruntung. Menurut Bapak-bapak warung kemarin 98% sunrisenya bagus. Hmm hari ini berapa persen ya?? yang pasti ada awan mengelantung di sekitar Matahari. Hmm yaa kita ambil sisi positifnya aja yaa... pemandangannya menjadi lebih dramatis.


Setelah matahari terbit, kami buru-buru turun. Driver sudah mengingatkan bahwa kami tidak boleh berlama-lama di sana. Sesampai di bawah puluhan hardtop memenuhi tempat parkir. Kami kemudian segera melaju menuju kawasan kawah bromo. Jalan kembali berlika liku. Meski berlika liku namun jalanan sudah bagus. sudah dicor. Sebelumnya jalanan aspal bebatuan yang sudah tak berarturan. Kabarnya belum lama jalan ini dicor. Kemudian kami sampai ke kawasan berpasir. Hmm ini dia rupanya tempat di mana pasir saling berbisik hehehe. Saat itu hujan atau lebih tepatnya gerimis turun. Pasirpun tampak basah sisa hujan kemarin sore. Jadi kami tak sempat mendengar bisikan pasir Bromo. Jika tak ada hujan, tentu sangat berdebu. Awalnya kami ragu apakah akan tetap menaiki tangga menuju kawah Bromo atau cukup berkeliling dengan hardtop. 

Mas Suroto memastikan hujan tidak akan deras, ini hanya embun biasa *padahal lumayan juga gerimisnya. Saya sih takut masuk angin dan pusing *kambuh deh*. Kami disambut oleh sekumpulan orang dengan kuda-kuda mereka. Kami bisa saja berjalan kaki sampai ke puncak. Namun ada pilihan berkuda, dan untuk efisiensi waktu kami memilih berkuda. Sebelum jalan berphoto dulu dengan view gunung Batok. Ahhh meski hp saya yang menjadi kamera *karena dianggap paling lumayan* namun sayangnya khusus photo saya malah kurang bagus *hiksss...memang nasib potograper dan pemilik kamera selalu seperti ini *garuk pasir*

Bagi saya saat yang paling menegangkan adalah saat mengendarai kuda. Meskipun kuda ini dituntun oleh pemilik kuda namun menaiki kuda dengan kondisi medan yang menanjak menurun sangat menegangkan bagi saya. Mengendarai kuda saja sudah membuat saya dag dig dug luar biasa. Ini kedua kalinya saya menunggangi kuda dalam hidup saya hihihi. Tapi kemudian saya memberanikan diri. Kapan lagi??? masak dah jauh-jauh sampai sini, gak tidur dan kedinginan masak gak sampai ke puncak dan kawah Bromo. Ya sudah saya memberanikan diri.

Alhamdulillah lancar sampai di tangga bawah kawah Bromo dengan selamat. Jujur saya baru bisa bernapas lega setelah kaki saya menapak ke pasir. Hmmm entahlah nanti saat turun, tadi menanjak jadi saya cenderung tidak terlalu merasa takut ketinggian karena posisi menanjak dan saya melihat ke atas. Gimana nanti pas turun yaa *garuk-garuk pasir*. Perjuangan selanjutnya menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 290 sekian. Hmm sebetulnya tak terlalu berat, tangga inipun kemiringannya tidak curam plus tidak terlalu panjang mungkin sekitar 50 meter saja. Saya meyakinkan diri bisa sampai ke puncak. 

Iya saya akhirnya sampai ke puncak meski harus berhenti dan ambil nafas setiap 10 anak tangga hehehe... sampai di puncak pun tak lama sekedar mengambil photo yang naasnya hp saya yang menjadi andalan untuk kamera sudah low battery. Hiksss Oh iya saat itu gerimis turun membuat kami makin ingin cepat turun. Rekan saya pun mengingatkan kami untuk tidak terlalu lama. Padahal saya bahkan belum mengambil nafas di puncak di tepi kawah Bromo. Cuaca kurang bersahabat dan waktu yang terbatas... setidaknya saya sudah sampi di Kawah Bromo dan menyaksikan lukisan alam ciptaan Tuhan.

Turun terasa lebih cepat dan mudah. Saat yang mendebarkan kembali dimulai. Saya harus menaiki kuda hitam yang terhitung kecil itu menuruni bukit yang curam yang jalanan yang berliku. Saya jauh lebih tegang, posisi saya yang salah membuat saya makin tak nyaman. Saya kemudian diingatkan posisi saya harus tegak berdiri agar tidak tegang dan sakit karena malah membungkuk menahan bahu. Setelah saya coba, benar sekali saya merasa lebih nyaman. Sepanjang jalan saya memang tampaknya begitu tegang hihihi.... Sesampainya di tempat hardto parkir ada sedikit insiden, kesepakatan awal bahwa sewa kuda Rp.100.00,-/orang tiba-tiba berubah tukang kuda menyebutkan Rp.125.000,-. Hmm kami kekeuh karena kami sudah sepakat meskipun awalnya kami diinformasikan Rp.75.000,-/orang. Akhirnya uang kami serahkan ke Mas Suroto untuk dibayarkan kepada tukang kuda.

Tak sempat berkeliling dan mengambil gambar, kami langsung kembali ke Wonokitri dan segera melanjutkan perjalanan kembali ke kota Malang. Saya masih berharap punya kesempatan lain menikmati Bromo lebih lama dan pastinya sunrisenya yang sempurna. Semoga yaa....

31 comments:

  1. Asik mbak pengalamannya. Itu bagus banget foto sunrisenya.

    Ryan
    Ryanfile.wordpress

    ReplyDelete
  2. sunrise, hem..kalau aku di sana , pasti sudah aku buatkan puisinya. Indah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah seru yaa...sayangnya saya gak pintar bikin puisi kayak Mak Tira

      Delete
  3. Kereenn sunrise nya... :) pengeenn kesana

    ReplyDelete
  4. Fotonya keren-keren. JAdi kangen Bromo. Kesana pas ajamn kuliah, motoran sama geng. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah keren ihh..kebayang pake motor rasanya kayak apa hihihi...ya iyalah masa muda gitu ya mak

      Delete
  5. kalau datang tidak pada saat yang tepat, terkadang mengejar sunset adalah mengejar keberuntungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas...bener2 tergantung luck...cuaca agak menggoda, berubah sesukanya hehehe

      Delete
  6. Hihiii jadi ikut deg-degan bacanya. Asik jjs ke bromo ya, anak2 malah udh pernah. Tinggal aku ama suami nih yg belum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo Mak Hidayah...bulan madu lagi sm suami kesana romantis lhoo hihihi

      Delete
  7. Waktu kesana saya gak dapet Sunrise T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah sayang banget yaa, memang bener berarti untung-untungan. Alhamdulillah walopun gak perfect saya beruntung dung yaa

      Delete
  8. Keren banget mbak sunrise nya, keucilnya engga dibawa ya...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya keren dan syahdu...krucils gak ikut pak, sy penjajakan dulu hehehe...next time mudah2n bisa berame2

      Delete
  9. Cakep sunrisenya...pasti ini slh satunya yg bikin nagih...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup kayaknya begitu, peminatnya luarr biasa mak Inda

      Delete
  10. Potonya cakep2 maak, sering liat potomu di IG juga dan cantik2 semuaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah makasih Mak Irits, lg seneng motrat motret inihhh...

      Delete
  11. Masha Allah, jadi kepengen tau mak...kapan2 ajakin dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooo... kapan2 kopdar di Bromo hahahahaha.

      Delete
  12. Pengen kesana tapi belom kesampaian2 juga, mayan mak infonya bisa buat referensi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip, mudah2an bisa ke sana yaa...segera

      Delete
  13. pasti indah pemandangan disana belum pernah saya menaiki bromo pasti seru

    ReplyDelete
  14. Tiap kali liat foto Bromo selalu pengen balik lagi ... indah luar biasa ya mbak ^-^

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa balik lagi ya amk..aku blm sm krucils n ayahnya nih

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.