Monday, March 2, 2015

Otentiknya Kuliner Banda Aceh

Yup secara baru pertama kalinua saya menjejakkan kaki di Tanah Rencong... Nangroe Aceh Darussalam pastinya saya sudah mencatat dung kuliner khas Aceh apa yang tak boleh saya lewatkan *tukang makan*. Yup saya bahkan harus mengaku kalah dan terpaksa cheating dari FC *haisshhhh alesan*. Daan kompor makin memanas saat duduk di pesawat Majalah Garuda Colours menyajikan reportase tentang kuliner Aceh *ngebullll*. Makin lupa sama pola makan sehat *garuktembok*

Meski belum pernah ke Aceh, saya sudah pernah sih mencicipi beberapa ragam makanan khas Aceh. Ayam tangkap, Mie Aceh, Es Timun eh tapi kan bukan di tanah Aceh tetep beda kayaknya. Mari kita buktikan.

Warung Nasi Khas Aceh Hasan.

Meski sejak awal saya sudah terbayang-bayang si Ayam Tangkap ternyata sampai saya pulang saya tak bisa mencicipinya. Hmm di Banda Aceh, saya makan siang di salah satu warung makan khas Aceh, Hasan 2 yang letaknya di sebuah jalan besar yang ramai yang berada di tepi sawah. Bangunannya berupa bangunan panggung tradisional. Ramai sekali siang itu. Suasana terik  tak mengurangi jumlah pengunjung.  Makanan dihidangkan dalam piring-piring yang dapat dipilih pengunjung di meja masing-masing. Persis seperti cara menghidangkan makanan di rumah makan Padang. Sekian banyak menu khas Aceh tersaji. Hm jujur saya bingung mau makan yang mana *boro-boro ingat FC - dijitak*.  

Menu ayam kampung goreng yang disajikan kabarnya justru sekarang lebih banyak diminati. Ayam goreng yang sedang naik daun ini tampak kering dan krispi. Saya khawatir akan menggigit daging yang keras. Upss ternyata meski tampak kering ayam tersebut renyah sekali. Ayamnya direndam dulu di air kelapa. Demikian penjelasan dari Bapak yang menjamu kami. 

Untuk menemani makan ayam tersebut saya tertarik dengan sambal yang berwarna putih campur hijau terang. Setelah dicoba rasa pedasnya sedang dengan gurih bawang dan sedikit masam. Rupanya dicampur belimbing wuluh... wah cucok sekali untuk colekan ayam goreng.

Saya juga mencicipi udang goreng besar dan gulai kambing khas Aceh *lupa namanya*. Gulai kambingnya lembut dan tidak bersantan dengan aroma rempah yang khas. Saya hanya mencoba sedikit karena sudah merasa kenyang. Sejak berFC...saat saya melanggar kombinasi makanan seperti mencampur protein hewani dan karbohidrat, perut langsung penuh dan keyang. Makan siang di Warung Nasi Hasan ditutup dengan Es Timun. Hmm alhamdulillah masih ketemu sayur segar. Tanpa gula dan es yaa. *lhoo jadi bukan es dung*


Mie Aceh Razali.

Ini juga sudah masuk di list saya. Wisata kuliner malam, Mie Aceh Razali. Posisinya ternyata tak jauh dari hotel tempat saya menginap. Berjalan kaki sekitar 150 meter saja. Daerah Peunayong tempat saya bermalam memang semacam down town - china townnya Banda Aceh. Pusat perbelanjaan dan toko-toko di siang hari. Di malam hari jauh lebih hidup dengan kuliner malamnya.

Menu favorit Mie Razali adalah Mie Kepiting. Tak lupa mencoba martabak telor dan roti canenya. Minumannya jus timur mix wortel tanpa gula. Mie kuning tebal dengan bumbu khas India menyelimuti kepiting besar yang tetap terlihat di antara balutan mie. Acar bawang khas aceh tentu jadi pasangan yang pas untuk martabak telor yang disajikan panas. Di akhiri dengan roti cane keju, ada pilihan coklat dan susu juga. Rasanya saya sudah sah berkunjung ke Aceh dengan mengunjungi Mie Razali yang sangat ramai pengunjung meski bukan di akhir minggu itu. Kabarnya mereka memasal 15kg kepiting dan  80 kg mie setiap harinya.

Nasi Goreng Daus.

Nah ini juga tak boleh dilewatkan kalau mengunjungi Aceh. Saya memang penyuka nasi goreng kambing dan di sini saya jamin rasanya leckeer.



Posisi restonya tepat di sebelah Mie Razali. Tak kalah ramai... saya melihat penjaga yang berseragam merah itu tak berhenti walau sejenak. Berbagai masakan dikeluarkan dari belakang disajikan di balik rak kaca. Tidak sampai dingin langsung habis dan diganti yang baru. Tak hanya ramai pengunjung tampak pelayan sibuk menata pesanan yang tidak dimakan di tempat.


Menu nasi goreng ada nasi goreng kambing muda, nasi goreng seafood dan nasi goreng biasa. Lauk yang melengkapi disajikan di tiap meja terdiri dari udang, cumi, ayam, burung, daging, telur dadar. Tak lupa pasangan paling pas irisan timun, acar khas aceh dan emping Aceh. Saya memesan nasi goreng kambing muda dan tertarik mencoba burung goreng yang ternyata gurih dan renyah. Hmm mantap. Oh iya kami juga disediakan es campur di gelas kecil. Awalnya saya bingung karena tidak memesan rupanya itu sudah paket. Minumnya tetap jus wortel mix timun tanpa gula. Makan malam yang luar biasa.

Ngopi di Kedai Aceh.

I am not a coffee person actually. Tapi tidak mencoba merasakan suasana kedai kopi rasanya tak lengkap berkunjung ke Aceh. Saya ditawari ngopi di kedai seperti apa. Awalnya saya pikir lebih ke suasana asli kedai-kedai kopi *tradisional* atau yang legendaris macam kopi solong. Namun sampai di sana kami harus kecewa karena ternyata tutup. Kami kemudia  diarahkan ke lokasi wisata kopi di mana sederetan warung kopi yang tampak cozy dan ramai pengunjung. 

Kami disarankan mencoba kopi sanger. Semcam kopi susu yang light... saya setuju. Oh iya saya pikir kopi sanger itu nama jenis kopinya, ternyata menurut rekan yang menemani ngopi sanger ini singkatan dari saling ngerti. Awalnya kopi ini biasa disajikan untuk mahasiswa yang minim uang sehingga kopinya hanya sedikit namun dicampur dengan susu. Tapi justru kabarnya kopi sanger ini lebih banyak diminati. Ngopi sanger ditemani dengan sajian kueh-kueh tradisional. Saya harus menanyakan satu persatu namanya, ada bingka, srikaya dan ketan dibungkus daun yang dibakar dengan rasa manis yang ringan. Secangkir kopi sanger habis membahasi kerongkongan saya. Suasana sore yang panas berkurang dengan hembusan angin yang cukup kuat. Tapi ngopi-ngopi ini bukan kegiatan sore hari di Aceh. Sejak pagi hari kedai kopi telah buka. Untungnya hampur selalu tersedia musholla di tempat makan dan kedai sehingga tak kesulitan melaksanakan sholat.


Saya masih punya banyak PR kuliner di Aceh mengingat kunjungan singkat saya ke Aceh
Smoga ada kunjungan berikutnya ke Aceh supaya bisa berwisata kuliner lagi.


20 comments:

  1. Clegukkk....ngiler berat :) Ueenak tenan gambarnya.

    ReplyDelete
  2. aaah tidaaaaak...saya ngiler sejadi-jadinya niiih mak hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihhi... lempar tisu ke New York 😀😀

      Delete
  3. Kulinernya menggoda sekali nyaaaam

    ReplyDelete
  4. Masakan Aceh emg juara :) Aku besar dan tingal di aceh ampe umur 18 thn...Krn papa kerja di perusahaan minyak sana.. Buatku masakan Aceh yg kaya rempah ga ada yg bisa gntiin deh mba ;).. Itru sambel ayamnya, sambel ganja bukan ? tp bukan terbuat dr ganja bneran..cm krn enak dan bikin nagih disebut gitu ;)

    Mba belum coba sayur pli-u nya yg super enak, ato ikan asam pedas khas Aceh... wuihhhhh itu juara ^o^..Ah, aku jd kgn ama Aceh.. Pindah dari sana itu krn GAM lg gencar2nya menculik para pendatang :(. Padahal Aceh itu udh kyk rumah sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah belum tuh yang kedua tadi disebutin. Kmrn liat juga menu ikan ala asam padeh. Iya aku lupa aku cobain ikan gabus juga dibumbu kuning gt... tp ga ada potonya
      hehehe
      Waah pasti kangen berat yaa sm kuliner aceh

      Delete
  5. dari yang mbak sebutkan, cuma sanger dan mie Razalie yang pernah saya coba saat berkunjung ke Banda Aceh. eh, nyobain gulai hiu juga ding.. trus di daerah Peurada tuh ada juga mie aceh enak, lupa apa nama warungnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah saya juga msh banyak PR kuliner yg harus dicoba lagi klo ke sana nih...
      Weew gula hiu.

      Hiu beneran tuh?

      Delete
  6. Ngileeeer... lafeeeeeer :D

    Yang lumayan sering saya makan itu, mie aceh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ayo di elapppp *sodorin tisu*

      Delete
  7. waduh nampak enak semuaaaa! di bandung restoran aceh cuma satu. itu juga rame banget sampe buka 24 jam. konon katanya masakan aceh enak karena dicampur ganja :P hihihi di sana katanya (dulu) ganja udah kayak terasi klo di cirebon. jadi campuran bahan makanan. etapi itu cerita dulu kali yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemaren juga saya masih dicandain kayak gitu mak... dr beberapaorang ada cerita juga kayak gitu katanya klo makannya maunya nambah terus dan habis makan mengantuk itu pertanda bumbunya pake ganja ihihihi...cuma keberanannta entah laah yaa *bisa jadi bener juga*

      Delete
  8. Tosh mak Ophi. Aku kalau kunjungan ke suatu tempat yang dicari pertama ragam kulinernya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu yang paling menarik kayaknya ya mak xixixix *tukang makan*

      Delete
  9. mantap sekali kuliner aceh ini :))

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.