Wednesday, March 11, 2015

Wisata "Tsunami" Aceh

Kota Banda Aceh tidak luas, kabarnya satu hari cukup untuk mengelilingi kota ini. Selama tiga hari di sana. Di sisa waktu tugas memang saya kemudian segera mengenali kota ini. Yup bolak balik di sini-sini juga. Simpang lima dan Masjid Raya Baiturahman merupakan dua tempat yang akan sering kita lewati. Sebagai orang yang baru pertama kali berkunjung ke Aceh tentu saya boleh melewatkan beberapa tempat yang kemudian menjadi obyek wisata mengenang ganasnya bencana tsunami di 2004 lalu.

Museum Tsunami.


Museum ini dirancang oleh Ridwan Kamil Walikota Bandung. Dari luar tampak ciri khas bangunan rancangan beliau, didominasi warna coklat. Cuaca cukup terik saat itu meski hari sudah menjelang sore.

Masuk ke museum ini tidak dikenai biaya. Helikopter rusak bukti fisik keganasan tsunami menyambut di depan Museum. Cuaca panas terik siang itu langsung terasa sejuk dan adem saat memasuki pintu pertama ke dalam museum. Cess... lorong panjang dan gelap, suara deburan ombak dan gemericik air yang menyentuh kulit, suara-suara yang merekam suasana saat tsunami menerjang Aceh. Dinding lorong itu memang dialiri air dan sebagiannya menyiprat ke arah pengunjung yang berjalan di tengah lorong. Sampailah kemudian ke ruangan dengan dinding kaca dengan lantai yang berundak-undak dan kotak serupa podium yang di tengahnya terdapat layar yang memutar film kejadian tsunami 2004 lalu.

Keluar dari ruang kaca tersebut terdapat ruangan yang serupa sumur, namanya pun sumur doa. Saat masuk kita seolah berada di dasar sumur. di bagian paling atas tampak bulatan dengan tulisan kaligrafi Allah. Saya terharu dan merinding, memandangi deratan nama-nama korban tsunami yang ditemukan yang dipahat di dinding sumur. Jumlah korban yang tak ditemukan jasadnya dan tak diketahui kabarnya, mungkin jauh lebih banyak. Lantunan ayat Quran yang diperdengarkan membuat hati makin lirih.



Keluar dari sumur doa, jalanan memutar mengikuti alur sumur. Sampailah kita ke sebuah jembatan panjang yang menghubungkan ke bagian lain Museum. Di atas jembatan panjang itu terpasang gambar bendera negara-negara yang membantu pemulihan pasca tsunami Aceh. Nama negara donor juga diabadikan di batu-batu bulat yang berjejer mengikuti arah jembatan.

Menyebrangi jembatan terdapat beberapa ruangan yang bisa kita pilih. Ruang pameran photo-photo tsunami. Aceh sebelum dan sesudah tsunami, dan kejadian-kejadian unik lainnya. Ada pula ruang pemutaran film, ala theatre mini yang memutar kejadian 26 Desember 2004 itu. Setelah itu pengunjung diarahkan ke pintu keluar dengan menuruni sebuah tangga yang ternyata posisinya justru sebelum pintu masuk pertama.

Boat di Atas Rumah.

Tempat wsiata tsunami selanjutnya terletak di Gampong Lampulo, Jln Tanjung. Sebuah kapal boat yang cukup besar terdampar dan menimpa rumah penduduk. Meski rumah-rumah di sekitarnya sudah kembali dibangun dan dihuni. rumah yang tertimpa boat ini tidak dilakukan perubahan. Boat nangkring dengan cantiknya di atas sebuah rumah penduduk. Meski cuaca sangat terik siang itu, kami bukanlah satu-satunya pengunjung. Tampak beberapa pengunjung yang tengah mengambil photo. Kita bisa naik sampai ke atas boat untuk mengambil photo karena dibangun tangga atau jalan untuk sampai ke atas. Tidak dikenai biaya untuk melihat tempat tersebut. Ada beberapa toko souvenir juga di sana.

Kapal PLTD Apung.

Selain boat tadi ada juga kapal yang terdampar di tengah pemukiman penduduk. Kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Bancut Banda Aceh. Kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue tempat kapal ini ditambatkan sebelum tsunami terjadi. Kapal dengan panjang 63 meter dan luas mencapai 1.900 meter pesegi dan bobot 2.600 ton ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Kapal sebesar dan seberat ini mampu terdampar di tengah Banda Aceh, 

Huffttth saya membayangkan betapa besar kekuatan gelombang bah tsunami yang menghantamnya. Kabarnya gelombang yang menyeretnya setinggi 9 meter dan menggesernya hingga sejauh 5 kilometer di tengah pemukiman warga, tak jauh dari Museum Tsunami. Kapal PLTD ini kemudian dijadikan wahana wisata edukasi dan menajdi monumen yang ditata sedemikian dengan relief menyerupai air bah. Oh iya, tidak dikenai biaya masuk ke dalam tempat ini hanya terdapat beberapa kotak amal jika kita ingin menyumbang.


Masjid Baiturahim Ulee Lheue

Masjid ini terletak di Kecamatan Meuraksa Banda Aceh, merupakan peninggalan Sultan Aceh pada Abad ke 17. Masa itu masjid ini merupakan Masjid Jami' atau Masjid Raya. Pada 1873 saat Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, masyarkat terpaksa melakukan sholat jumat di Ulee Lheue sejak itulah Masjid ini dinamai Baiturahim. Meski posisinya dekat sekali dengan pantai, anehnya masjid ini termasuk yang selamat. Meski ada kerusakan di sana sini, namun bangunan ini masih kokoh dan terselamatkan sementara bangunan di sekitarnya sudah luluh lantak dan porak poranda. Kabarnya pada peristiwa tsunami terjadi, tinggi gelombang yang menyapu daerah Ulee Lheue mencapai 21 meter. Masjid ini juga menjadi salah satu tujuan wisata tsunami selain masjid Baiturahman di pusat kota. Alhamdulillah saya sempat sholat maghrib dua kali di Masjid ini.


Masjid Raya Baiturrahman

Last but not least, Masjid Raya Baiturrahman. Masjid Raya dengan sejarah panjang ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612, sempat terbakar habis saat agresi Belanda pada April 1873. Masjid ini terletak di pusat kota Banda Aceh. Dilengkapi dengan  menara setinggi 35 meter yang saya lihat agak miring. Apa hanya perasaan saya saja yaa...? lalu 7 kubah besar dan 7 menara masjid. Baiturahman menjadi contoh bagi masjid lain di Indonesia dan semenanjung Maalaysia. Dinding putih dan verah serat kubah hitam. Kata orang mirip dengan Taj Mahal di India *hmm harus dibuktikan nih...kapan yaa bisa ke sana??* Selain bukti keindahan arsitektur Islam, Masjid Raya ini saksi kegaansan tsunami yang menjadi tempat berlindung warga Aceh yang menyelamatkan diri dari air bah tsunami.


#Lesson learn
Apalah kita dibandingkan Dia, tak ada kepantasan sedikitpun untuk berbangga diri terlebih membusungkan dada. Betapa kecil kita di hadapanNYa. Dengan mudahnya ditunjukkannya kebesaran dan kekuasaannya atas mereka yang lupa hakikat diri. Menjadi pelajaran dan peringatan sekaligus wujud kasih sayangNya. Satu hal yang saya dengar, sejak peristiwa Tsumani perpecahan di Aceh berakhir ... mungkin itu jalanNya agar negeri ini berdamai. 

35 comments:

  1. nama2nya terukir disitu semua ya mbak,ohya kalau lihat masjid baiturrahman jadi inget taj mahal..kayaknya mirip gitu,apa karena di depannya ada kolamnya ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nama yang teridentifikasi say... katanya sih terilhami oleh Taj Mahal

      Delete
  2. Subhanallah.terharuu.makasih mb sharingnya

    ReplyDelete
  3. Terbayang pas baca nama2 itu rasanya seperti apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. merinding dan terharu banget... nyesss di hati

      Delete
  4. Pernah liat di tv mak, itu aja udh bikin terharu biru, apalagi kalau liat langsung ya mak, daku nangis gulung2 kali yak...hhhhh.
    Tfs ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan gulung2 nti bingung yang liat hehe.. iya melihat saksi bisunya aja merinding n bikin hati nyesss

      Delete
  5. Selalu ngeri saya kalau melihat postingan tentang tsunami aceh...saya ngebayangin betapa dahsyat...Subhanallah.... semoga cukup sekali itu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, mudah2an tak terulang lagi di mana pun di bumi Indonesia ya mak

      Delete
  6. Replies
    1. alhamdulillah selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yaa

      Delete
  7. MasyaAllah... mengingat Tsunami Aceh, bagi saya masih menyimpan kesedihan. Tapi dgn adanya wisata ini, kita bisa belajar sejarah darinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin semoga kita bs ambil pelajaran dan berkaca ya dr masa lalu mak

      Delete
  8. Masya Allah..merinding bacanya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sy juga merinding pas masuk ke sana

      Delete
  9. Keren ya sekarang Aceh, udah berkembang pesat abis bencana yang pernah melanda.
    Aku suka banget sama museumnya, arsitekturnya kang Ridwan Kamil emang keren. Kapan ya bisa ke Aceh? Hhehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pemulihan pasca tsunami terhitung luar biasa.
      Ayoo ke sana kapan2..

      Delete
  10. aMasjidnya keren banget ternyata :)

    ReplyDelete
  11. Masjid Raya Baiturrahman nya sepintas kayak taj mahal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener... model2nya katanya sih terinspirasi dr sana

      Delete
  12. sungguh indah, kapan ya bisa main kesana :)

    ReplyDelete
  13. Di balik setiap bencana, pasti ada hikmah.

    @nuzululpunya

    ReplyDelete
  14. sejarah yang tak akan terlupakan oleh warga aceh

    ReplyDelete
  15. Hal yang bikin saya berdecak menyebut asma Allah sewaktu Masjid Raya Baiturrahman itu sama sekali tidak tersentuh oleh Tsunami Mbak.. :)

    ReplyDelete
  16. kayaknya kalau lihat nama-nama itu, mungkin saya agak sedikit merinding, ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. merinding saya mak... dan pastinya sedih nyesss gt di hati

      Delete
  17. Saya tertarik dengan tulisan anda, saya juga punya tulisan yang sejenis yang dapat membantu anda menemukan penginapan kemanapun liburan anda, anda dapat mengunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.