Monday, April 13, 2015

Peraturan di Rumah, Belajar Berkomitmen

Bukan karena saya dan ayahnya krucils sama-sama perancang undang-undang trus kami latah bikin aturan di rumah juga. Ini memang peraturan di rumah kami, tapi kami tawarkan pada anak-anak yang kami sepakati bersama. Hmm ditandatangani bersama oleh seluruh penghuni rumah lhoo. Peraturan apa sih??? Iya, mungkin banyak orang tua dengan anak yang jarak usia mereka berdekatan yang menghadapi masalah klise seperti kami. Yup anak-anak bawaanya ribuuuut melulu, bertengkar, berebut, trus pak pik puk, atau malah ada yang menangis.
Add caption

Eh tapi huru hara keseharian macam ini ternyata tak dimonopoli oleh keluarga dengan anak-anak yang jarak usianya berdekatan lho...banyak yang curhat menghadapi masalah yang sama meski usia anak-anak mereka berjauhan. Yaa jaraknya ideal dan terencana begitu, gak kayak saya yang tunji kata bahasa sundanya mah...satahun hiji. Setahun satu anak... ih gak juga sih, Ka Alinga 7,5 thn, Ka Zaha 6 thn, mereka sering disangka kembar. Trus dek Paksi 3,5 thn. Tapi kalau lagi barengan batas usia tak terlihat...ributnya, berebutnya sama deh tuh.

Berawal dari kewalahan saya menghadapi keributan yang biasanya berawal dari berebutannya mereka atas suatu benda yang kadang gak penting. Bukan saya tak mencari solusi. Mulai dari selalu memperlakukan adil dengam memberi atau membelikan setiap barang atau makanan yang sama atau sejenis masing-masing satu untuk mereka. Tentu disesuaikan khusus untuk dek Paksi yang cowok. Pemberian yang sama rata ini ternyata tak sepenuhnya menyelesaikan masalah karena bahkan kok timbul egoisme di antara mereka. Keengganan berbagi, mementingkan milik dan haknya sendiri. Hmm saya lalu merubah strategi...lebih sering membiasakan mereka berbagi dengan membelikan atau memberikan satu barang atau makanan untuk dipakai atau dimakan bersama. Maksudnya supaya mereka mulai bisa berbagi dan mau bergantian. Setidaknya meminimalisir egoisme di antara mereka. Hmm sometimes it works but sometimes it doesn't...but at least we are trying...


Saya kemudian curhat dan ngobrol dengan "adek" saya yang juga memiliki anak dengan usia berdekatan. Cowok semua pula. "Kak Phi coba deh pake strategi yang kami pakai di rumah" begitu katanya dalam percakapan kami via whatsapp. Kebetulan profesinya guru di sebuah lembaga pendidikan cukup ternama dan saya melihat kok kayaknya adik kelas zaman kuliah ini bisa banget deh menghandel ke empat anak cowoknya yang jaraknya berdekatan. Nah dari hasil obrolan tersebut saya kemudian mencoba menerapkannya di rumah. Saya print out besar-besar peraturan sederhana yang ingin kami terapkan di rumah. 

Menggunakan kalimat positif dan menghindari kalimat negatif. Begitu salah satu tipsnya. Beberapa peraturan sederhana yang kami sepakati dan kami tandatangi bersama tersebut antara lain: 1. berkata benar. Hmm menghindari kalimat "jangan bohong"); 2. Mendengarkan; 3. Berbagi. Lebih manis kan dari pada "jangan berebut); 4. Bermain yang aman. Eh biasanya kalimat yang kita gunakan, jangan main ini, jangan main itu, gak boleh ini, gak boleh itu hehhe. 5. Bertanggung jawab, misalnya setelah bermain semua harus bertanggungjawab merapihkan. Oh iya it works lhoo buat adek Paksi, dengan sedikit pujian. "Hmm adek pintar ya mau bertanggungjawab merapihkan mainannya sendiri habis main, hebat deh, Ibu kasih dua jempol yaa". 6. Diam ketika marah, berbicara ketika selesai marah. Nah ini yang sulit sekali diterapkan, bahkan oleh kami sebagai orang tua. Haisssh menahan marah itu... susah. Yang ini kami malah sering disemprit anak-anak hehehe. 7. Saling sayang. Hmm lebih nyaman kan kedengarannya ketimbang jangan berantem mulu dung... 8.  Berbicara dengan sopan. 

Demikianlah peraturan sederhana (namun berat) yang kami sudah terapkan di rumah. Karena disepakati bersama dengan tanda tangan, maksudnya supaya anak-anak juga merasa berkomitmen dengan kesepakatan tersebut, maka "hansip"nya adalah kita semua. Semua saling mengingatkan saat yang lain melanggar kesepakatan.


Hmm memang butuh penjelasan berkali-kali, bahkan saat sudah setahun lebih kami tempelkan di kamar bawah. Malah saat-saat tertentu kami yang kena semprit krucils saat tidak mematuhi peraturan tersebut. Efektif tidaknya sih sangat tergantung pada konsistensi kita sendiri dan mood-nya krucils... Sebetulnya yang ingin kami tekankan di sini bukan pada aturan atau peraturannya tapi lebih pada komitmen untuk bisa menjaga kebersamaan di antara kami. Yup kami tengah belajar berkomitmen.

Wong si Kakak paling sering protes saat misalnya Ayahnya atau saya marah. "Naaah ibu harusnya diam dulu kalau lagi marah, nanti baru bicara sama kita kalau marahnya dah selesai, Ayah/Ibu gak menaati peraturannya." Bahkan ditulisnya pelanggaran kami di kertas yang kami tempel wkwkwk. Dari kejadian ini kami melihat bahwa mereka saat memperhatikan bagaimana kami mencontohkan, bukan sekedar aturan atau larangan dan kewajiban baik tertulis maupun lisan. Tapi bagaimana kita sebagai orang tua mempraktikkannya dalam keseharian, menjaga konsistensi antara aturan dengan perilaku. Aiiih berat ya jadi orang tua yang baik...tak apalah, toh kita semua belajar menjadi orang tua... belajar yang tak boleh berhenti.

Yup... belajar model apa yang paling sesuai, soal berebutan ini masih berjalan sampai hari ini kok. Yaa begitulah anak-anak. Awalnya kami pakai kalimat "jangan berebut", lalu lebih halus lagi, "Kakak adik tidak berebutan" sampai akhirnya kami memutuskan kalimat yang lebih mendamaikan. "Kakak adik harus berbagi..." Bahkan soal berebutan ini saya bahkan punya cerita lucu. Suatu kali saya ceritakan pada anak-anak bagaimana perjuangan saya dan ayahnya setiap pagi berebutan untuk bisa naik Commuter Line. Tahukah apa komentar Ka Alinga??? Dengan galaknya "ala bu guru", tetiba kakak menyela, "Ibuuuu, gimana sih Ibu kan selalu bilang sama kita untuk tidak berebutan, kenapa Ibu sama ayah berebutan naik kereta. Ibu harus berbagi dung...jangan berebutan". Haishhhh bagaimana ya nak... kalau gak berebutan Ibu sama ayah gak keangkut commuter line, telat mulu dung... dipotong mulu dong :D.

18 comments:

  1. Gak bisa sekedar bikin aturannya aja ya Mbak. Harus contohin juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget...aturan cuma aturan klo kita sendiri ga patuhi n contohin kemungkinan kecil.bs implementatif

      Delete
  2. Nice sharing mak...bener bgt kita sbgi org tua hrs pny UUD di rmh dan memberi teladan pd mrk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mak Irma.
      Kita belajar berkomitmen bersama2 anak mak

      Delete
  3. Memang perlu menerapkan aturan ya Mak... agar si kecil sejak dini sudah terbiasa taat akan aturan... Miris aja dgn kondisi saat ini koq semakin byk orang2 yang tak taat aturan... apakah nilai2 itu sdh lunturkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencoba mencari jalan tengah mak. Bahwa aturan bukan sekedar perintah...tp sesuatu yg kita pahami dan kita sepakati bersama
      Smoga sih ada efek positif terhafap kesadaran anak2 ttg taat aturan n komitmen.

      Delete
  4. Sama anakku suka negur juga nih kalo saya sama ayahnya lagi diskusi yang cenderung agak debat gitu, dia bilang "ngga boleh marah-marah" "D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak... jadi polisinya banyak. Kita saling mengingatkan

      Delete
  5. Gambar ilustrasinya menarik dan lucu.
    Anak pasti suka.
    salam mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mak Fee.
      Gambar mempengaruhi juga minat krucils jg

      Delete
  6. Kak Alinga, cerdas kaya ibunya.. :)

    ReplyDelete
  7. jangan bilang "jangan" ya mak, suka kepeleset ih mulutnya XD makasih sharenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah memang mak... harus pelan2. Kata psikolog anak mendengar kata jangan yg terekam di kepala anak.justru sebaliknya.

      Delete
    2. Betul mba, contohnya kita disuruh : "Coba jangan bayangkan kuda berkaki enam". Nah tentunya yang kita bayangkan kuda berkaki enam tho. begitu juga anak. anak-anak cenderung mengingat kata-kata terakhir. contoh : kata lambat bisa diganti kurang cepat, lebih cerdas, dll.

      Delete
  8. Mba Ophi, salam kenal saya Razi
    Widih, keren banget ya mba aturan2 dalam keluarganya
    In syaa Allah saya mau copy ya mba caranya, hehe
    Nanti tapi kalau udah nikah dan punya anak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya semoga yaa...ayo burun nikah #eh

      Delete
  9. peraturan di rumah itu memang perlu untuk diterapkan

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.