Sunday, September 6, 2015

[Tana Toraja Trip] Kalimbuang Bori


Salah satu objek wisata wajib dikunjungi di Toraja Utara adalah Rante Kalimbuang Bori. Sebuah Situs Megalith yang terletak di   Jl. Bori, Kecamatan Sesean di Toraja bagian utara. Sekitar 5km dari Kota Rantepao, Ibu kota Toraja Utara di mana kami menyewa hotel untuk sekedar melepas lelah setelah sekitar 9 jam (termasuk istirahat beberapa kali di sepanjang jalan), menempuh perjalanan dari Makassar ke Tana Toraja ini. Sekitar pukul 7 malam kami berangkat dari Makassar dan sampai ke Rantepoa pas saat subuh berkumandang. Sholat subuh lalu mencari hotel untuk istirahat sejenak mandi dan sarapan. Pukul 10 kami langsung ke Situs Megalith Kalimbuah Bori. Secara keseluruhan jalanan yang dilalui cukup bagus, meski ada beberapa titik saat itu ada jalan yang ambruk.


Memasuki Kecamatan Sesean mulai terlihat pemandangan sawah yang rupanya belum lama dipanen dengan barisan bukit batu yang gagah memagari. Banyak kerbau yang tengah mandi lumpur di Sawah. Kami bahkan sempet melewati rumah Bupati Toraja Utara yang letaknya di daerah tersebut. Kami juga melewati pesta panen yang tengah dirayakan di tengah sawah. "Orang sini hanya mengandalkan pertanian, menanam padi dan memiliki kerbau" begitu cerita Pak Petrus, yang menenami kami. Pak Petrus asli Tana Toraja yang saat ini bekerja di Bank Indonesia Makassar. Tapi jangan salah, kerbau-kerbau itu harganya luar biasa mahal bu, apalagi kerbau belang, sebagian besar kulitnya berwarna putih bercampur hitam, harganya jauh lebih mahal.  Harga mahal ini tentu dimaklumi mengingat kerbau menjadi binatang yang dikurbankan untuk upacara pesta kematian di sana.

Lakkian
Rante Kalimbuang Bori merupakan salah satu dari sembilan tempat yang ditetapkan sebagai objek wisata sebagai warisan dunia UNESCO. tepatnya wisata budaya.  Keberadaan situs ini sebagai salah satu peninggalan sejarah kuno tempat diadakannya suatu upacara pemakaman tertinggi  di sana, salah satunya adalah Upacara Ma'Gonting Rante. Upacara Ma'Gonting Rante adalah upacara peresmian tempat (Rante) sebagai lokasi pelaksanaan upacara pemakaman. Upacara hanya untuk kaum bangsawan dan pemimpin masyarakat. Selain aktivitas yang berhubungan dengan pemakaman, upacara Ma'Gonting Rante juga diikuti dengan upacara syukur, perayaan Tongkonan (Ma' Pararai). 


Batu Menhir yang disebut Simbuang Batu didirikan sebagai simbol status dan nilai-nilai konservasi Tongkonan (atap rumah adat Toraja). Ukuran besar (tinggi dan diameter) Simbuang batu merupakan lambang status sosial yang lebih tinggi. Menhir dibangun untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun. Saat ini ada sekitar 102 bilah batu menhir yang berdiri, terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Untuk membangun menhir, msyarakat harus mengadakan suatu upacara adat yang dinamakan Rapasan Sapurandanan. Dalam upacara ini, kerbau yang dikurbankan minimal sejumlah 24 ekor. 

Balakkayan

Di bagian tengah, di antara menhir-menhir terdapat beberapa bangunan tinggi seperti panggung terbuka dengan atap gubuk. Balakkayan, demikian namanya . Tempat ini untuk membagi-bagikan daging hewan yang disembelih saat  pesta upacara. Ada juga Lakkian tempat jenazah disemayamkan selama upacara berlangsung. Terdiri atas dua tingkat. Bagian atas menjadi tempat peti jenasah disemayamkan. Adapun, bagian bawah sebagai tempat duduk keluarga yang berduka. 

Mencoba menaiki Balakkayan

Selain itu ada Langi, yaitu tempat usungan jenazah. Usungan ini berbentuk atap Tongkonan. Langi’ biasanya dihiasi dengan uang logam kuno orang Toraja, diukir dengan berbagai macam ukiran – ukiran khas orang Toraja. Beragam Langi tampak dibariskan di salah satu sudut. Masing-masing dengan kemeriahan hiasan dan ukirannya.

Langi

Saat saya dan rombongan mengunjungi tempat ini, tampaknya belum lama diadakan upacara pemakaman dan pemotongan kerbau. Hidung saya langsung mencium bau amis darah dan daging kerbau. Rumpu-rumput di sekitar menhirpun tampak kering dan rusak. Selain kemarau yang membuat mereka kering, saya yakin karena bekas pembakaran di lokasi tersebut. Kayu-kayu sisa upacara dan tiang-tiang tempat mengurbankan kerbau masih banyak yang terpancang. Begitupun kotoran kerbau,  bahkan di beberapa tempat tampak ceceran darah kerbau yang mulai mengering.  


Selain sekumpulan menhir, di sekitar area ini kita bisa juga melihat langsung makam di mana mayat-mayat dikuburkan. Jangan bayangkan bentuknya seperti kuburan biasa. Kuburan di sini merupakan bongkahan batu atau bebatuan di area bukit berbatu yang sebaja dilubangi untuk menyimpan mayat-mayat, hmm atau menguburkan mayat?. Satu batu atau satu lokasi biasanya merupakan kuburan keluarga. Selain photo almarhum, tampak juga hiasan bunga dan berbagai hiasan milik almarhum.



Sebuah situs wisata budaya yang sangat menarik, kabarnya hanya ada satu di seluruh dunia. Kalimbuang Bori dan beberapa kuburan khas Tana Toraja merupakan magnet tersendiri bagi para traveller dari seluruh dunia mengingat keunikan budaya suku Toraja memakamkan dan memperingati upacara kematian.

26 comments:

  1. Sungguh unik ya ragam budaya di nusantara.. Salah satunya yg ada di tana Toraja ini.. Pantaslah UNESCO menjadikannya salah satu warisan budaya mengingat peradaban dan budaya spt ini hanya ada di Toraja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. unik mak...the one n only tradition in the world

      Delete
  2. Jd inget pelajaran sejarah mak ophi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini melihat langsung bukti fisiknya mak

      Delete
  3. puluhan tahun di sulawesi
    blum sama sekali sempat
    ke tana toraja
    T__T

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan2 sempetin mak...unik budaya toraja ini

      Delete
  4. Bener kata mbak Inda Chakim akunlangsung kebayang pelajaran sejarah jaman SMP dulu...jd pengen ke Toraja juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya jadi ternyata begini toh yang diceritain di pelajaran sejarah duluu...
      amiin smoga ya mak

      Delete
  5. waaa, jadi pingin ke Toraja juga, sepertinya seru ya :)

    The Journey

    ReplyDelete
  6. Jd pgn ke Toraja. Mistisnya masih kuat ga disana, mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan mak... pas ke makamnya itu memang auranya spooky gt..mana aku kmrn lagi gak sholat pulak tp bismillah aja

      Delete
  7. Alam di Toraja masih asri ya, bagus banget... tapi ada suasana mistisnya, bikin serem...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alamnya cantik mas...aku terkagum2 sepanjang perjalanan pulang..krn waktu dateng malem jadi gak bs ngeliat

      Delete
  8. Walaupum suasananya sedikit menyeramkan. Tapi ini nih yg bikin Indonesia unik. Semoga saya berkesempatan melancong kesana juga... :)

    ReplyDelete
  9. Wah.
    Selevel traveling internasional nih, mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba...mknya dibela2in ke sana walopun waktu mepet dan lumayan jauh, tp worth it kok

      Delete
  10. Replies
    1. ke sana tahun brp mas??? kmrn sy ke sana kayaknya blm lama ada perayaan..jd bau amis dan sisa upacara masih berserakan

      Delete
  11. entah harus komentar apa... tapi ini keren bangeet walaupun keliatan serem.. btw itu perayaan apa yang bikin bau amis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Upacara pesta kematiannya kan menyembelih kerbau. Jd masih bau amis bekas sembwlihan kerbau kayaknya.

      Delete
  12. Objek satu ini memang paling khas Toraja dan mewakili Indonesia. Keren. Dan emang kerbau mihiiil banget di sanaa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener...luar biasa mihilnya kerbau apalagi yang belang hitam putih.

      Delete
  13. tempat yg berbau mistis dan bersejarah gini yg paling suka aku datangin... :) Lebih menarik daripada tempta2 wisata sejarah/budaya yg biasanya cendrung bosenin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah harus ke sana berarti nih. tanah Toraja have many death tourism sites

      Delete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.