Monday, November 9, 2015

Menularkan Kebiasaan Pola Makan Sehat Kepada Anak

food combining anak

Tak terasa sudah hampir satu tahun, tepatnya 11 bulan-  saya dan ayahnya Trio Krucils menjalani pola makan sehat, food combining. "Trus anak-anak ikutan FC juga tuuh?" tidak sedikit yang bertanya seperti ini. Hmm tidak juga sih, lebih tepatnya belum sepenuhnya. Membiasakan pola makan ala FC bagi orang dewasa saja agak terkesan ribet dan aneh, meskipun sebetulnya tidak seribet atau seaneh yang orang pikirkan. Apalagi membiasakannya pada anak-anak yang sebelumnya sudah mengenal pola makan yang "lumrah" dilakukan. Akan berbeda mungkin jika pembiasaan dilakukan sejak dini. Sejak anak-anak baru mengenal makan. Sejak bayi dan mulai dikenalkan MPASI misalnya.

Nah khusus untuk Trio Krucils saya memang tidak memaksakan mereka mengikuti pola makan saya dan ayah mereka. Saya lebih tepatnya mencoba mengubah kebiasaan dan pola makan mereka yang dulu kurang pas, *baca kurang sehat. Saya belum bisa menerapkan pola food combining secara full kepada mereka terlebih karena saya bekerja dan tidak setiap waktu makan saya bisa mengontrol mereka. Tapi tidak berarti saya tidak berusaha menularkan dan membiasakan pola makan sehat secara pelan-pelan pada mereka. Beberapa upaya yang saya lakukan untuk mengubah pola makan anak-anak kepada pola makan lebih sehat antara lain dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

No Frozen Food

Dulu, dengan alasan kepraktisan saya hampir selalu stock berbagai macam frozen food  seperti nugget dan sosis  Sejak mengetahui efek buruk dari berbagai bahan yang terkandung dalam makanan beku tersebut, perlahan tapi pasti saya tidak lagi menyiapkan makanan beku seperti ini. Karena saya melakukannya secara perlahan, anak-anak tidak merasakan perubahan yang terlalu drastis. Sekarang sudah total berhenti menyiapkan makanan beku untuk anak-anak. Tantangannya memang tidak mudah, nugget, sosis dan teman-temannya sudah menjadi semacam makanan favorit mereka. 

Anak-anak terutama Ka Zaha sering protes, tapi lama kelamaan mulai lupa. Awalnya saya bilang, oke seminggu sekali, lalu dua minggu sekali, lalu sebulan sekali. Lama-lama stop. Meski sering mereka tanyakan, saya jawab bahwa makanan tersebut tidak baik bagi tubuh dan kesehatan mereka. Kita makan makanan lain yang segar dan sehat, pun tetap enak. Kesulitan lainnya adalah karena makanan beku dan makanan pabrkan lainnya biasanya mengandung zat perasa yang membuat anak-anak ketagihan. Akan sedikit menantang awalnya memutuskannya dari anak-anak.

No Mie Instan

Sama halnya dengan frozen food, meski bukan penggila mie instan, dulu saya hampir selalu punya stock mie instan di rumah. Saat anak-anak malas makan, mie instan jadi alternatif utama. Tambahkan sayuran dan telor. Kesannya tetap sehat kan? Hmm namun mengetahui bagaimana alat cerna kita sedemikian tersiksa untuk menyerap mie dan waktu yang sangat lama untuk mencerna mie membuat saya memutuskan untuk menghentikan kebiasaan memberikan mie instan pada anak-anak.

Selain dari bahan dasar mie, -gluten- yang tidak sehat bagi alat cerna,  bumbu, pengawet dan zat tambahan dalam mie instan yang membuat ngeri menguatkan saya untuk say good bye dengan makanan favorit zaman ngekos dulu ini. Sama seperti frozen food, saya melakukannya secara perlahan. Sekali-kali memang saya masih membiarkan mereka "cheating" dengan makan bakmi atau makanan sejenisnya di luar. Sekali-sekali saja.

Mengurangi Makanan Pabrikan

Ini yang masih agak sulit, tapi perlahan saya mengurangi segala macam penganan pabrikan. Jujur tidak mudah karena sudah sangat terbiasa namun sedemikian rupa saya merusaha mengurangi segala macam makanan pabrikan untuk cemilan dan penganan anak-anak. Penggantinya disiapkan cemilan buat sendiri atau yang lebih aman, misalnya keripik singkong atau pisang yang dibeli dari pedagang yang kita tahu tidak lama dari proses pembuatannya. Jadi tanpa zat pengawet tambahan. Buatkan pisang goreng/bakar, singkong goreng/rebus, bakwan sayur (meskipun masih ada glutennya), atau tahu isi. setidaknya makanan yang bisa kita pastikan keamanannya.

Mengurangi Roti dan Serba Gluten

Dulu hampir tiap hari, bekal roti. Sejak paham bahaya gluten bagi pencernaan,rRoti mulai saya kurangi sebagai bekal ana-anak, terutama roti tawar. Roti sobek masih lebih baik dari pada roti tawar. Untuk mengganti dengan roti gandum tidak sesederhana dan semudah yang dibayangkan sehingga saya lebih menargetkan untuk mengurangi perlahan ketimbang memaksakan menghentikannya sama sekali. Bekal anak-anak biasanya dibuat sendiri dan yang tidak ribet. Ceplok telur, buah, kentang goreng, orak arik, atau agar yang kita buat sendiri.

Mengenalkan Enak dan Sehatnya Sayur Segar

Alhamdulillah tidak terlalu sulit untuk mengenalkan enak dan sehatnya sayur segar pada anak-anak. Ala bisa karena biasa. Anak-anak bisa kok suka sayuran karena dibiasakan mengonsumsinya. Artinya ya setiap hari harus selalu ada menu sayur di makanan mereka. Alhamdulillah anak-anak sejak sebelum kami ber-FC memang sudah suka sayur. Meskipun masih pilih-pilih, yang paling favorit adalah rebusan daun singkong dan rebusan labu muda.

Tapi lama kelamaan, karena selalu ada menu sayur dan terutama sayur segar (mentah), akhirnya mereka mulai mengonsumsinya juga. Awalnya cemal cemil, penasaran melihat kami makan dengan nikmatnya. Apalagi mendengar bunyi sayuran digigit dan dikunyah dengan crunchy, sounds krauuk krauuk.

"Emang itu enak bu? Gak pahit bu?" "Enak banget, manis, coba deh" "Ayo cobain dulu dikit-dikit, kalau enak dan suka boleh lanjut". Lalu mereka mencoba. Jika mereka membuktikan sendiri rasanya enak dan manis, biasanya kemudian setiap kali sayuran tersebut tersaji mereka ikut makan. Bentuknya kadang lalapan, salad atau malah asinan. Jika lalapan, sambal saya buat sengaja tidak pedas. Pun saya juga bukan penyuka pedas. Awalnya ambil satu, colak colek dikit ke sambal. Saat merasakan enaknya akhirnya ikutan suka dan ketagihan. 

Hal sama berlaku saat saya membuat jus sayuran. Awalnya memperhatikan, lalu mulai bertanya-tanya, mencoba, dan mereka akhirnya tidak "anti". Biasanya warna jus sayur yang menarik membuat mereka pingin ikutan minum. Kalau hanya full warna hijau, mereka sudah berpikir "tidak enak" padahal tidak juga lho - menurut saya hehehe. Saat warna jus sayur lebih menarik, misalnya orange, merah atau bahkan ungu, saat menggunakan bit sebagai salah satu sayurnya. Mereke cenderung semangat ikutan minum. Satu teguk dua teguk, kalau terasa enak biasanya minta lagi. Jus sayur bagus dikonsumsi sebelum bobo. Biasanya mereka jadi lebih nyenyak tidurnya. Sayapun merasa demikian.

Jenis sayur segar yang anak-anak suka memang rasanya relatif manis dan tidak langu. Itupun sudah bagus menurut saya. Mereka bertiga suka dengan mentimun segar, kacang panjang muda, buncis muda, daun selada, kol, pokcay, atau sesekali daun kemangi. Kadang-kadang dek Paksi dan ka Zaha bahkan makan begitu aja seperti cemilan. Yang penting cuci bersih yaa sayurannya. Kalau punya cuka apel. Rendam sayuran di air yang telah diberi sesendok cuka apel selama beberapa menit lalu cuci bersih. Cuka apel merontokkan pestisida dan bakteri lainnya. Jika tak punya cuka apel, bisa dengan air garam.


Memperbanyak konsumsi buah dan memperbaiki pola konsumsi buah.

Kami yang full sarapan pagi dengan buah membuat mereka juga lambat laun tertular. "Oh jadi kalau makan buah sebelum makan yang lain ya bu? "Ka Alinga dan Dek Paksi bahkan sudah paham soal pola mengonsumsi buah yang benar. Pagi-pagi makan buah seperti kami mereka sudah terbiasa. Kadang saat Ka Al malas sarapan pagi, asalkan dia mau sarapan buah cukup banyak, saya senang dan tenang saja. Toh jam break dia kan makan bekalnya. 

No syrup dan minuman dengan pemanis buatan, kurangi konsumsi gula

Mengurangi segala minuman pabrikan dengan pemanis buatan maupun yang produsen claim sebagai gula asli kami lakukan secara perlahan juga. Dulu saat ada "promo" produk minuman tertentu kami biasanya stock. "teh manis", "jus buah", bahkan "minuman kesehatan". Minuman-minuman ini kami andalkan untuk bekal dalam perjalanan. Sedang syrup biasanya selain di bulan ramadhan selalu ada meski bukan bulan ramadhan karena anak-anak sering meminta dibuatkan minuman dingin yang manis.

Seiring waktu, saya mulai mengurangi dan tidak lagi menyimpan stok minuman sejenis. Sebagai gantinya saya menggalakan air putih berkualitas untuk semua suasana.  Syrup kami ganti dengan madu, sebisa mungkin madu murni. Susu, kami masih sediakan untuk anak-anak. Terlebih susu yang kami pilihkan adalah yang jenis UHT. Sebaiknya yang plain - tanpa rasa. Hmm tidak mudah memisahkan anak-anak dari gula dan yang serba manis. Kami  masih mentolerir untuk susu UHT dengan rasa tertentu.  Untuk minuman pabrikan dengan rasa buah kami gantikan dengan jus buah asli yang dibuat sendiri, tanpa gula. "Hmm gak manis bu...Itulah PR-nya." Tapi pelan pelan mereka insyaAllah akan terbiasa. 

Mengurangi Fast Food

Saat sedang jalan bareng anak-anak terutama weekend. Dulu pilihan yang paling mudah dan dipastikan anak-anak suka adalah makan makanan cepat saji. Entah kenapa, makan mereka jadi lahap. Meskipun di rumah kadang sering dibuatkan makanan sejenis. Kebiasaan ini juga mulai kami ubah. Saat dine out, kami mensyaratkan "bukan makan di tempat yang itu ya", "tidak makan ini dan itu yaa". Sebagai gantinya kami mencari restoran dengan pilihan menu makan yang lebih beragam dan sehat, selain dimasak secara "normal", banyak pilihan menu sayuran dan tersedia menu jus buah dan sayur segar. Banyak pilihan kok, asal kita mau. Seiring waktu anak-anak mulai bisa melupakan makanan cepat saji itu.

Lakukan Perlahan dan Berikan Contoh

Apakah semua upaya saya di atas berjalan mulus dan lancar? tentu tidak. Prinsipnya jangan dilakukan secara radikal, pemberian contoh dan pembiasaan yang kita contohkan sendiri jauh lebih efektif. Pelan-pelan, mereka akan terbiasa dan menikmati pola makan sehat. 

Bukan tanpa hambatan dan tantangan tentunya. Belum lama ini, anak-anak bercakap-cakap (ada saya di antara mereka). "Ka menurut kamu, kalau kita jalan-jalan keluar atau makan di luar, enak dulu apa sekarang?" "Kalo menurut aku enakan dulu waktu Ibu belum FC, kita boleh makan apa ajah. Sekarang gak boleh makan K*C, Burger, Sosis... Harus makan yang ada sayurannya". "Iyaa, Enakan dulu". *saya nyengir ajah.

Karena menyadari merekapun juga bersosialiasasi dan mendapat cerita dari teman-temannya tentang makanan enak versi mereka, sekali-sekali (jarang sih), kadang saya melanggar aturan di atas. "Gak papa, sekali-kali kita cheating ya nak, tapi gak boleh keterusan". Ada saatnya saya sedikit longgardan menawarkan mereka makan bakso atau bakmi. "Pastinya mereka semangat". Sekali-kali aja yaa... awalnya sebulan sekali, dua bulan sekali, lama-lama lupa, setahun sekali aja yaa...Hahahaa atau saat mencoba jenis makanan baru yang sedang ngehits, menghilangkan rasa penasaran bolehlah dicoba.

Setiap anak memiliki kecenderungan dan kesukaan yang berbeda. Ka Zaha sangat suka dan mudah menyukai sayuran namun kurang suka dan agak pemilih untuk konsumsi buah. Sampai hari ini dia masih "ogah" makan pepaya karena "aroma"nya. Sebaliknya Ka Alinga dan Dek Paksi hampir suka semua jenis buah dan lebih memilih jenis sayuran tertentu. Saya ikuti saja irama dan kecenderungan mereka. Ini justru membantu membiasakan mereka menyukai makanan sehat.

41 comments:

  1. Ini kenapa nyebut anaknya "Trio Krucils"? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena ada 3 dan masih kecil2 mbak... kru cil.. Kru cilik...hahaha

      Delete
  2. zaidan suka brokoli adiknya sebaliknya :( rada perjuangan buat adiknya untuk suka sayur kalo disop masih mau alhamdulillah soalnya kalo sop kan mengandung air ngunyahnya cepet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelan2 mak...gak papa dibuat sayur atau dimasak tp jangan terlalu matang sayurnya. nanti enzin dan vitaminnya dah ilang.

      Delete
  3. Saya suka nyerah sendirir mak kalo anak lg kumat gak mau makan sayur. Apalagi ayahnya jg gak suka. Lengkaplah sudah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...ibunya contohin aja yg konsisten. Tunjukkan klo kita menikmati makan sayur. Lama dia tertarik deh...pilih sayur yg dia suka juga

      Delete
  4. Saya suka nyerah sendirir mak kalo anak lg kumat gak mau makan sayur. Apalagi ayahnya jg gak suka. Lengkaplah sudah :D

    ReplyDelete
  5. Susah banget anak2 itu makan sehat. Apalagi anak2ku udah remaja, kegiatan seabrek. Akhirnya aku nggak tega sendiri, nyiapin makan yg mereka doyan aja drpd nggak mau makan. Aku ibu yg lemah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi ibunya contohin dulu...selalu sediain. Sapa tau lama2 melirik merekanya...
      Ayoo semanangat buat investasi mrk juga lhoo

      Delete
  6. Wuih keren. Anak-anak masih susah ninggalin mie instan dan roti. Cuma bisa dibatesin aja. Sayur juga si sulung masih susah. Pilih-pilih banget dia mah. Kudu belajar dari Mak Ophi nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mie instan udah ga nyetok di rumah. Klo roti msh tahap mengurangi. Klo kepepet msh suka beliin roti juga sih.
      Gpp sayurnya sediain sesuai kesukaannya dulu mak

      Delete
  7. pola makan sehat itu sangat penting sekali apalagi buat anak-anak

    ReplyDelete
  8. berat juga sepertnya ya menjauhi makanan2 yg praktis itu.. eh jusnya kayanya enakk tuh, jadi inget minum jus di acara buah itu :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo yg itu tergantung kita mak. Krn biasanya ibunya yg maunya praktis kan hehee...
      Jus sayur itu mak..enaak seger

      Delete
  9. Kalo anak1 mau nyoba sih enak ya kadang belum apa2 udah ga mo nyoba dulu. Tutup.mulut trs lari hiks :(
    Tp alhamdhulilah nadia si doyan hampir smua buah dan sayur cuma klo yg frozen2 dan roti itu susah bgt ngerayunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. pelan-pelan mak say...aku sih sengaja gak sedian. Jadi kalu mereka ngambek dan akhir mbah uti (yg di rumah) terpaksa beliin, ya sudah tp setidaknya ada usaha buat mengurangi...

      Delete
  10. saya juga sudah jarang mengkonsumsi makanan instan seperti mie, nugget, sosis

    ReplyDelete
  11. Yang masih susyah itu kurangi makan mie instan ke anakku, mak. Meskipun ngga sesering dulu. Lha akunya jg suka makan mie. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga dulu lumayan suka..apalagi zaman ngekos dan kuliah. tp udah insaf hahaha..negliat sendiri sodara n teman yang sakit berat penceranaannya krn mie instan

      Delete
  12. Bagus banget mak, harus kita upayakan memang ya namanya kesehatan itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. berusaha semampu yg kita bisa mak Ir...investasi kesehatan. klo sakit rempoooong

      Delete
  13. Bagus mak, makan sehat buat anak-anak memang harus diajarkan sejak dini ya emang. Walopun belum punya anak, saya suka sebel sama ponakan atau anak tetangga yang masih kecil udah suka dikasih makan nasi sama mie instan atau ciki2an plus minuman kemasan yang banyak gulanya itu. Rasanya kok sayang banget ngga diajarin makan sehat sm orang tuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasanya sih alesan kepraktisan -kyk saya dulu juga begitu. tp ternyata yang dibilang praktis dan instan itu gak sesuai sama kebutuhan organ tubuh kita

      Delete
  14. hiks..padahal emaknya suka makan mie instant...hahaha..ntar kalo udah punya anak harus konsisten nih mengenalkan makanan sehat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip..mulai dari diri sendiri dulu mak say...anak2 mudah mencontoh klo kita udah praktiikan dan contohkan sm mereka

      Delete
  15. klo pas bayi anak2 saya makannya sehat terus tapi agak gedean, kadang makan mi juga mbak, klo mereka lg males makan. Mungkin 2 mingggu sekali, lg berusaha ngurangin juga nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih mie itu awalnya buat selingan gitu kan yaa...tp lama2 malah keseringan. dikurangi lagi aja pelan2 mak

      Delete
  16. Anak saya 3 tahun malah susyaaah makannya mak. Pas bayi apa aja masuk sekarang pilih2 sama kayak bapaknya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha..ada memang yg type pemilih gt mak..yang kayak gini temukan yg dia suka (sayur dan buahnya) dan buat dia jatuh cinta klo sudah oke baru pelan2 variasikan...

      Delete
  17. Bener juga ini seperti kata pepatah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" artikel yang menarik, semoga sukses mendidik anaknya kejalan yang lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, makasih mas. Iya contohkan dan mereka akan melihat dan meniru insyaAllah

      Delete
  18. Mantranya tidak radikal...suka itu. Bungsuku masih mania gluten dan tidak suka sayur. Untung di sekolah ia mau makan. Anak-anaku yang besar suka makan sayur. Biasanya kelas 4 SD-an baru suka. Mereka paham manfaatnya. Kalau tidak makan sayur sulit BAB.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup...pelan2 yang penting sampe. klo maksain kemungkinan malah mereka makin ogah makan yang sehat...
      nah apalagi sdh tahu manfaatnya kayak melancarkan BAB, gt bisa banget buat memotivasi

      Delete
  19. Semangat terus! Aku juga makin semangat nih. Gak terasa, anak-anak sudah setengah vegetarian. Jarang minta protein hewani. Jus dan smoothie udah pada mau, meski kesukaannya masih terbatas. TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip mak, tantangannya justru kebiasaan makan di sekitar mereka. Mereka masih suka nawar minta roti, mie, fast food dan sejenisnya, sekali2 masih sy turutin

      Delete
  20. waduh baru tau mak ophi..
    aku pikir masih bagus roti tawar drpd roti sobek...
    makasih bgd nih infonya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mak..roti tawar lebih banyak bahan tambahannya yang gak save mak

      Delete
  21. suka ya, kalau anak mencontoh kebiasaan kita. AKu juga gak suka banget tuh froozen food..

    ReplyDelete
  22. Betul banget mak, sy juga lebih intens mengenalkan mereka buah dan sayur

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.