Monday, August 15, 2016

Karena Pendidikan adalah Hak Setiap Warga Negara, Universitas Terbuka Hadir Untuk Semua


Karena Pendidikan adalah Hak Setiap Warga Negara, Universitas Terbuka Hadir Untuk Semua. Pesawat yang membawa saya kembali ke Jakarta dari Makassar baru saja mendarat. Sengaja tidak menyimpan barang di bagasi saya langsung keluar menuju tempat menunggu bus damri bandara. Bus bandara ke arah Lebak Bulus jumlahnya tidak terlalu banyak. Kalau telat, biasanya saya harus rela menunggu agak lama. 


Hmm untung saja bus yang saya maksud tak lama datang. Buru-buru saya naik dan mendapati sebagian kursi sudah penuh. Saya memilih sebuah kursi yang kosong di sebelah bapak-bapak usia separuh baya yang tengah sibuk dengan ponselnya. Rupanya bus sudah memutari bandara untuk kedua kalinya. Sehingga cukup penuh untuk kemudian langsung melaju menuju arah Jakarta.

Bapak yang duduk di sebelah saya kemudian membuka pembicaraan dengan menyapa terlebih dahulu. "Baru kembali dari Makassar bu?" rupanya beliau melihat kardus oleh-oleh yang saya tenteng. Dari nada dan gaya bicaranya, saya meyakini beliau berasal dari Makassar. "Iya Bapak". Pembicaraan berlanjut. Beliau memang berasal dari Makassar. Beliau baru melakukan perjalanan dari Papua, dan transit justru di Manado. Padahal biasanya di Makassar. 

Waah perjalanan panjang yang melelahkan. Tujuan beliau ternyata ke kampus Universitas Terbuka atau biasa dikenal UT yang terletak di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Tak jauh dari rumah saya di Ciputat. "Dari Lebak Bulus naik apa bu?" "Biasanya saya naik taksi aja pak, kalau naik angkot agak repot bawa-bawa koper". "Iya, saya juga biasanya sih naik taksi saja bu"

Dari hasil obrolan selama bus damri melaju menuju Lebak Bulus saya kemudian mengetahui bahwa bapak berusia separuh baya ini adalah dosen UT. Saat ini beliau sedang ditugaskan di Papua. Karena hendak menghadiri acara penting anaknya yang tengah studi di Jakarta, beliau menyempatkan diri kembali ke Jakarta dan kebetulan anaknya tinggal di sekitar Kampus UT di Pondok Cabe. Kampus tempat beliau mengajar dulu.

Jujur saya baru tahu bahwa UT juga memiliki semacam cabang atau lebih tepatnya Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ). Iyes, UT memiliki sekitar 40 UPBJJ mulai dari Banda Aceh, Gorontalo, Sorong, Jayapura, Tarakan, bahkan terdapat UPBJJ layanan luar negeri seperti Hongkong dan Johor . Waw!! 

Beliau kemudian bercerita bagaimana suka duka bertugas di tanah Papua. Selain harus jauh dari keluarga. Beliau menyewa rumah kos/kontrakan di sana, untuk kebutuhan sehari-hari beliau menyiapkan sendiri karena beliau tak ingin merepotkan keluarga terutama isterinya dengan mengajak isterinya menetap di sana. 

Beliau juga bercerita tentang tantangan dan suka duka menjalani tugas mengajar di Papua. Mulai dari kultur budaya dan kebiasaan masyarakat setempat hingga proses akademik yang harus ditunaikannya. Waah luar biasa, tugas mulia yang beliau jalankan atas nama dedikasi dan kecintaan akan profesi. Membuka kesempatan pendidikan tinggi untuk saudara-saudara kita di Papua sana.

Pendidikan sebagai Hak Dasar Setiap Warga Negara

Saya jadi teringat dengan amanat dari Konstitusi kita UUD NRI Tahun 1945, tepatnya Pasal 28C ayat (1) yang menyatakan bahwa "Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia."

Pemerintah berkewajiban memenuhi hak dasar di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sendi dan budaya ini bagi seluruh warga negara Indonesia tak terkecuali mereka yang berada di tanah Papua. Tentu saja karena setiap orang berhak untuk mengembangkan diri demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraanya. Hak yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar. 

UT dengan sistem pembelajarannya yang khas memungkinkan setiap warga negara (di manapun) bisa mengakses pendidikan tinggi, termasuk saudara-saudara kita di Papua. Jangan-jangan banyak dari teman-teman yang belum mengenal tentang perguruan tinggi negeri yang satu ini. Apa yang membuat UT menjadi khas dan sangat berperan dalam meningkatkan akses setiap anggota masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan tinggi? Yuuk kita kenali lebih dekat!

Bagaimana Sistem Pembelajaran di UT?

UT merupakan Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. UT memiliki 4 Fakultas untuk jenjang Diploma dan Sarjana, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 

Sejak tahun 2004, UT membuka jenjang Magister pada Program Pascasarjana. Selain program Diploma, Sarjana dan Pascasarjana, UT juga memiliki program sertifikat, diantaranya:

  • Kuliah Terbuka UT - Massive Open Oline Courses (MOOCs)
  • Bahasa Indonesia bagi Bagi Penutur Asing (BIPA-UT) - Indonesian Language Program (ILP)
  • Program Pendidikan Berkelanjutan
  • Program Pelatihan Pembelajaran

Yang membedakan UT dengan universitas lainnya adalah sistem pembelajarannya yang menerapkan sistem belajar "jarak jauh dan terbuka"."Jarak jauh" berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi).

 "Terbuka" maksudnya tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat). Jadi UT sangat memungkinkan setiap orang asalkan sudah berijazah SMA atau yang sederajat bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa dibatasi usia, tahun ijazah dan batasan administratif tertentu lainnya. Jadi kalau ada yang sudah emak-emak kayak saya tapi dulu belum sempat memperkaya wawasan di perguruan tinggi. Bisa lhoo belajar di UT.

Mahasiswa UT memang dituntut dapat belajar secara mandiri, harus punya prakarsa atau inisiatif sendiri. tapi proses belajarnya bisa dilakukan secara sendiri ataupun berkelompok, dalam bentuk kelompok belajar maupun dalam kelompok tutorial. Kok bisa? Iya, karena UT menyediakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri.

Mahasiswa UT dapat mengambil inisiatif untuk memanfaatkan bahan bacaan lain di perpustakaan mengikuti tutorial, baik secara tatap muka maupun melalui internet, radio, dan televisi serta memanfaatkan sumber belajar lain seperti bahan ajar berbantuan komputer dan program audio/video.  Jadi ada banyak jalan menuju Roma nih. 

Nah kalau ada yang mengalami kesulitan belajar, mahasiswa bisa meminta informasi tentang bantuan belajar kepada Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) setempat. Jangan khawatir ada 40 UPBJJ lho se-Indonesia. 

Selain sistem belajar yang menuntut mahasiswa lebih mandiri, UT seperti halnya perguruan tinggi yang lain, menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk menetapkan beban studi mahasiswa. Dalam pendidikan tinggi tatap muka, mahasiswa yang mengambil beban studi satu sks harus mengikuti perkuliahan selama satu jam per minggu di kelas dan satu jam untuk praktek, praktikum, atau belajar di rumah, sehingga dalam satu semester mahasiswa harus mengalokasikan waktu belajar sekitar 32 jam. Untuk menempuh mata kuliah yang berbobot 3 sks dibutuhkan waktu belajar sekitar 96 jam per semester.

Dalam sistem pendidikan jarak jauh, mahasiswa juga harus mengalokasikan waktu yang sama dengan mahasiswa tatap muka (2 jam per minggu per sks). Hanya saja kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan secara mandiri (belajar sendiri, belajar berkelompok, atau tutorial).

Khusus untuk UT, satu SKS disetarakan dengan tiga modul bahan ajar cetak. Satu modul terdiri dari 40-50 halaman, sehingga bahan ajar dengan bobot 3 sks berkisar antara 360-450 halaman, tergantung pada jenis mata kuliahnya. Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan membaca dan memahami rata-rata mahasiswa adalah 5-6 halaman per jam sehingga untuk membaca dan memahami bahan ajar dengan bobot 3 sks diperlukan waktu sekitar 75 jam (360-450 halaman dibagi 5-6 halaman). Jadi sistem ini juga sudah didesain sedemikian dengan mempertimbangkan kemampuan rata-rata kita.

Apabila satu semester mempunyai waktu 16 minggu, maka waktu yang diperlukan untuk membaca dan memahami bahan ajar dengan bobot 3 sks adalah 75 jam dibagi 16 minggu, atau kurang lebih 5 jam per minggu. Misalnya, mahasiswa mengambil 15 sks/semester, maka yang bersangkutan harus mengalokasikan waktu belajar sebanyak 15 sks dibagi 3 sks kali 5 jam = 25 jam per minggu atau kira-kira 5 jam per hari (1 minggu dihitung 5 hari belajar). 

Jadi masing-masing bisa menyesuaikan dengan ritme kegiatan harian dan kemampuan belajar. Sangat fleksibel yaa. Pintar-pintar kita "mengukur" diri aja sih. Dengan sistem belajar seperti ini memang diharapkan mahasiswa bisa mengalokasikan waktu belajar sesuai dengan beban sks yang diambil, atau mengambil beban sks setiap semester sesuai dengan waktu belajar yang dapat dialokasikan, plus mempertimbangkan kemampuan akademik masing-masing.

Visi dan Misi UT

Nah sekarang sudah ada gambaran yang lebih jelas kan tentang sistem pembelajaran di UT. Sebagai salah satu Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh (PTTJJ) tentu saja ada visi yang ingin diwujudkan oleh perguruan tinggi yang telah banyak menghasilkan alumnus yang berhasil di bidangnya masing-masing ini. 

UT memiliki visi untuk menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki daya saing tinggi serta dalam mengembangkan teori dan praktek PTTJJ. Dalam mencapai visi tersebut UT memiliki beberapa misi:

  1. menyediakan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dunia bagi semua lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program PTTJJ untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi.
  2. mengkaji dan mengembangkan sistem PTTJJ
  3. memanfaatkan dan mendiseminasikan hasil kajian keilmuan dan kelembagaan untuk menjawab tantangan kebutuhan pembangunan Nasional
Kiranya bukan hal yang mustahil untuk mencapai visi yang telah ditetapkan dan menjalankan misi-misi yang telah ditentukan. Kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kita masih menghadapi kendala untuk mengenyam pendidikan tinggi baik karena alasan kesempatan, waktu, dana, maupun lokasi membuat eksistensi dan peran UT dengan kekhasannya sebagai penyelenggara pendidikan tinggi terbuka jarak jauh semakin signifikan terlebih memasuki empat windu usianya. 


Betul UT, tidak lama lagi akan memasuki usia ke 32. Banyak hal yang telah dilakukan, banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun kehadirannya terbukti telah membuka jalan bagi banyak masyarakat Indonesia, termasuk warga negara Indonesia di luar negeri.

Bagaimana Kualitas UT sebagai Penyelenggara Pendidikan Tinggi?

Nah jika ada yang penasaran seperti apa sosok alumnus UT. Sebut saja dua tokoh nasional ini, mereka berdua merupakan alumni dari UT lhoo. Siapa? Iyes, Ibu Ani Yudhoyono dan Bapak Wiranto. Banyak alumni UT yang telah berkarya di bidangnya masing-masing dan mendapat tempat yang baik dalam kiprahnya masing-masing. Saya sempat mengulik website/blog khusus alumni UT. 

Oh iya, secara kualitas UT telah mengembangkan sistem jaminan kualitas (SIMINTAS) yang digunakan untuk menjamin kualitas dari seluruh produk maupun kegiatan yang ada di UT sejak 2002 lho.  Revisi SIMINTAS dilaksanakan pada 2012 dengan mengintegrasikan seluruh persyaratan standar kualitas yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan termasuk Statements of Best Practices di bidang pendidikan untuk memenuhi standar kualitas baik nasional maupun internasional (ISO 9001 dan ICDE).

Secara akademik, UT juga memastikan bahwa kualitas akademik UT sudah diakui secara nasional dengan mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kualitas UT sebagai penyelenggara pendidikan terbuka jarak jauh (PTTJJ) juga sudah diakui secara internasional dengan diperolehnya pengakuan dari Internasional Council for Distance Education (ICDE) setelah melakukan review kualitas pada tahun 2005, 2010, dan 2015

Dalam kancah internasional UT juga menunjukkan prestasinya. Belum lama ini 9 makalah UT meraih Best Paper di Educational Technology World Conference (ETWC)  2016 di Bali. Beberapa delegasi UT berhasil meraih penghargaan Best Paper, bahkan salah satunya meraih 3 penghargaan sekaligus dari ratusan delegasi yang berasal dari 14 negara.  Konferensi teknologi pendidikan yang pertama di Indonesia ini mengusung tema “Educational Technology to Improve Quality and Access of Education to Prosperous Society - Teknologi Pendidikan untuk Meningkatkan Kualitas dan Akses Pendidikan menuju Masyarakat yang Sejahtera”. 


Empat windu sudah UT membangun negeri, semoga semakin maju dan melangkah lebih sigap guna memenuhi hak dasar pendidikan bagi semua warga negara. Kehadiran UT dengan sistem pembelajarannya yang khas membuka peluang stiap orang meingkatkan kualitas diri dan kesejahteraannya dengan kemudahan mengakses pendidikan tinggi. UT, maju dan teruslah berkiprah untuk negeri!

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”








Referensi: http://www.ut.ac.id/

48 comments:

  1. Saya termasuk yang sedang kepo dengan UT ini, karena memang ada rencana mau lanjut di UT. Lebih mudah dijangkau bagi saya yang sulit untuk bisa tatap muka ke kampus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak..utk mrk yg masih berniat mengakses pendidkan tinggi tapi ada halangan waktu bs jadi pilihan banget nih

      Delete
  2. ini yang jadi pemikiran saya beberapa tahun belakangan. SUdah ngebet tapi tertahan2 lagi, akhir2 ini banyak teman yang punya jalan serupa (lanjut di UT) banyak yg bagi cerita dan pengalamannya. Cukup tertantang sih, meski gak buru2 tapi ini bisa jadi langkah konkrit saya kelak

    ReplyDelete
  3. amiiin, semoga UT semakin maju terus ya mba kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba...semakin maju dan makin bermanfaat

      Delete
  4. Prestasinya udah sampai level internasional ya, salut dengan visi dan misinya.

    ReplyDelete
  5. Salut ya, mba. Jadi yang bekerja pun bisa belajar lagi di UT biar bisa mengembangkan potensi diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba...membuka kesempatan lebih luas

      Delete
  6. Iparku kuliah di UT jadi sangat terbantu nih mba :)

    ReplyDelete
  7. Cocok untuk perempuan yang sudah berumah tangga ya.. Bisa terus melanjutkan studi tanpa harus keluar rumah ya he he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..cocok lebih fleksibel waktunya

      Delete
  8. Wah, UT ini lagi jadi perbincangan hangat di grup arisan BP 4. Ada yang sudah kuliah di sana dan sering sharing segala kemudahan dan 'kemurahan' UT :D. Walasil yang lain jadi terkompori dan pengen kuliah di UT juga, termasuk saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah rame ya di arisan Bp 4 mba...memang bs jd alternatif yg mau kuliah tp gak punya waktu banyak mba...bs disambi

      Delete
  9. wow UT makin berkembang aja ya, moga makin banyak peminatnya dengan segala kemudahan dan rasa miring harganya tuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya teh..semoga yaa makin maju kiprah UT ini, iya biayanya jg lumayan friendly di kantong

      Delete
  10. S2 ada juga ya mba UT? kayanya untuk IRT yang punya anak kaya saya cocok ya UT tapi ngga tau ini otaknya masih nyampe ngga

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mabk ada S2 juga...hahaha pasti nyampe lah mba Kania mah

      Delete
  11. Wah nice info banget ni mba buat suamiku yg super riweuh sama kerjaan. Ngebantu bgt y mba karena ga perlu dateng k kampus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..infoin aja ke suaminya...masih bs disambi kerja dll

      Delete
  12. kehadiran ut bs dibilng mmbantu bgd, di tmpat tinggal aku jg bnyk yg ikut ut mbk,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mba...sudah ada UPBJJnya ya di sana

      Delete
  13. Banyak teman saya yang kuliah di universitas terbuka sebagai solusk buat yg bekerja dan susah atur waktu tapi tetap mau kuliah.

    ReplyDelete
  14. Wah ada program BIPA ya kebetulan aku lg pengen ambil sertifikasi untuk pengajar BIPA nih mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mbak..soak atuh bs diambil kan ada ya UPBJJ nya di Semarang? bs sambil tetep ngajar dan negblog hehe

      Delete
  15. Keren, semoga UT semakin maju ya mba. Dulu alm. bapak saya D2nya ambil di UT juga. Baru S1nya di yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya neng...banyak yg terbantu dg sistem khasnya UT ini

      Delete
  16. universitas terbuka ini cocok banget untuk para karyawan yang masih ingin kuliah tanpa terikat waktu, teman-temanku masih banyak yang pengen kuliah sambil kerja ntar aku infoin ke mereka, thanks for sharing mbak Ophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mba Tuty...iya monggo diinfokan ke temen2nya

      Delete
  17. Sepupu dan teman-temanku di Wonosobo banyak yang kuliah di UT, sangat terbantu karena mereka karyawan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. syukurlah mba...waktunya lebih flesksibel sih yaa

      Delete
  18. aku dulu pengen banget ngambil kuliah lagi di UT tapi belum sempet2, abis baca artikel ini jadi inget lagi ...

    ReplyDelete
  19. UT memang sangat membantu ya mba..Jadi meneruskan pendidikan hingga ke jenjang yang paling tinggi tidak lagi menjadi halangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba..memeprluas akses pendidikan yaa

      Delete
  20. Wuihhh sukses mbak ophi, rekan kerja ku banyak yang kerja sambil kuliah di UT, membantu banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Ev..iya memang banyak yg terbantu nih yg sdh kerja tp ttp mau kuliah

      Delete
  21. aku kalau tau ada UT enak ambil ut aja sama didunia kerja kok

    ReplyDelete
  22. Ini universitas sejuta umbat mbak, siapapun boleh ikutan tanpa batasan umur....

    ReplyDelete
  23. Ngomongin Papua, belajar di sana perlu perjuangan. Saya pernah baca postingan seorang guru di sana yang harus mengantar anak didiknya untuk ujian nasional, perlu menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan salah satunya ada yang menggunakan perahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya...sarana dan prasarana di sana kan msh minim mbak.
      Ada temen kerjaku dr sana cerita klo dia mau ngasih kabar ke isterinya via telpon isterinya harus jalan kaki dr rumahnya ke tempat yg ada telpon itu puluhan kilo meter. Kata dia kayak dr jkt bogor...jalan kaki

      Delete
  24. betul seklai UT solusi bagi ornag2 yang ingin melanjutkan pendidikan tapi trekendala banyak hal.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.
Comment teman-teman akan segera muncul setelah dimoderasi yaa.