Thursday, April 20, 2017

Kisah Asmara dalam Legenda Curug Cipendok


Saya, Trio Krucils, dan Ayahnya serasa sedang pulang kampung saat menyusuri jalan menuju Curug Cipendok yang kabarnya merupakan satu dari ratusan curug yang berada di sabuk lereng Gunung Slamet. Gunung terbesar di Pulau Jawa yang masih kaya akan sumber daya alam hayatinya. Hutan alaminya masih terjaga dan sekitar 200 lebih sungai yang bening mengalir di sekelilingnya.


Dari jalan utama, kami melewati perumahan penduduk yang cukup tertata rapi. Kami mengikuti arah yang ditunjukkan oleh google map. Semakin lama terasa jalanan makin menanjak. Pemandangan perumahan berganti menjadi pemandangan desa.

Jalan berkelok menanjak. Sawah di kanan dan kiri. Teruss menanjak. Sebagian besar jalan mulus dan membantu mempercepat laju kendaran, namun pada beberapa titik kami terhambat dengan ruas jalan yang rusak parah seperti di tengah kali atau sungai yang kering airnya. Bebatuan menonjol di sana sini membuat badan mobil bergoyang kencang ke sana kemari.

Semakin mendekati lokasi kami melihat deretan villa dan penginapan. Sebagian tampak baru dibangun. Kami juga melewati Balai Pembibitan Sapi Unggul milik Kementerian Pertanian. Pemandangannya juga seru. Di ketinggian tampak hamparan rumput hijau menghiasi alam yang berbukit bukit. Tampak sekelompok sapi bergerombol merumput. Serasa di Australia dan New Zealand hahahah.

Kawasan Hutan nan Asri

Akhirnya kami sampai ke gerbang kawasan wisata alam yang dikelola Perhutani tersebut. Setelah masuk, jalan berkelak kelok, dan naik turun cukup curam dengan kerikil dan batuan menyambut kami. Sebelah kiri tebing dan pepohonan yang rimbun. Sisi kanan jurang yang dipenuhi pepohonan dan pemandangan hijau dan pesawahan di kejauhan.

Suasana terasa sejuk dengan pepohonan yang tampak sudah berumur dan asri. Bebatuan besar yang menonjol di tebing-tebing yang juga ditumbuhi lumut dan pepohonan menambah pemandangan yang makin khas. Sampailah kami ke area parkir.

Setelah memarkir kendaraan, kita harus berjalan sekitar 300 meter. Meski jalanan sudah rapih namun tetap harus hati-hati apalagi jika membawa anak kecil. Setelah disiram hujan jalanan setapak ini makin licin. Jalan setapak selebar 1 meteran ini juga berada di tepian tebing. Yes, sebelah kanan kita jurang hahay!!!

Suara air terjun sudah terdengar dari kejauhan. Udara makin segar dan dingin. Akhirnya kami sampai juga. Waaw cantik dan anggun sekali Curug Cipendok ini. Tingginya sekitar 93 meter. Hampir 100 meter. Saat kami datang memang sedang musim hujan sehingga debit air cukup besar uniknya jika di beberapa air terjun yang kami datangi saat musim hujan airnya keruh kecoklatan. Curug Cipendok berbeda. Airnya tetap mengalir benih. Wiiih artinya sumber air ini cukup terjaga. Duuh senang yaa semoga kawasan hutan di sekitarnya tetap terjaga kelestariannya.


Kawasan hutan yang melingkupi curug ini memang masih terlihat asri. Jika beruntung pengunjung bisa melihat beberapa hewan yang cukup langka yang berhabitat di kawasan ini seperti kera berdada abu-abu, elang Jawa, atau harimau hutan. Jika memang berniat melihat sekelompok kera langka atau harimau tersebut, kabarnya bisa menggunakan jasa pawang untuk mengundang mereka keluar dari persembunyian. 

Ada Leganda Kisah Asmara di Curug Cipendok

Yang tak kalah menarik adalah kisah di balik Curug Cipendok. Kabarnya, masyarakat sekitar percaya bahwa Curug ini dijaga oleh penunggu yang bernama Dewi Intan. Warga Karang Tengah Cilongok di mana curug ini berada kerap melakukan ritual Gerebek Suran setiap tahun untuk menghormati sang dewi.

Ada sebuah bukit tidak jauh dari curug yang diberi nama Bukit Sudem yang diambil dari nama julukan sang dewi. Masyarakat percaya, di bukit itulah sang peri tinggal. Syahdan Peri Dewi Intan ini dulu dinikahi oleh seorang Wedana penguasa Ajibarang bernama Raden Ranusentika. 

Selain kisah asmara, ada juga legenda yang terkait dengan penamaan curug ini. Nama Cipendok sendiri sangat erat dengan sejarah Perang Diponegoro. Perang yang juga disebut sebagai perang lima tahun (1825-1830) antara Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perang ini memang dimenangkan oleh Belanda. Akibatnya, wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas, berada dibawah kekuasaan pemerintahan Belanda.


Wilayah Ajibarang yang berada di daerah Banyumas yang saat itu dipimpin oleh Raden Ranusentika mendapat tugas "kerja rodi" untuk membuka hutan belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area perkebunan. Anehnya usaha pembukaan area hutan yang kemudian berjalan selama delapan tahun ini tak juga menunjukkan hasil.

Berbagai keanehan muncul. Kabarnya seriap kali satu pohon ditebang, esoknya tumbuh kembali seperti semula. Demikian kejadian aneh ini terus berulang. Kondisi ini membuat Raden Ranusentika kehilangan akal dan pusing. 

Demi menenagkan diri dan mencari solusi. Sang Raden melakukan tapa di dekat air terjun untuk mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Lama bertapa tak kunjung ada petunjuk. Sang Raden kemudian menyudahi tapa dan melepas kejenuhan dengan memancing di dekat air terjun.


Saat tengah memancing tiba-tiba terasa kail di makan ikan. Hmm tampaknya ikan besar karena gagang pancing ikut melengkung. Perlahan pancing ditarik. Alangkah terkejutnya karena bukan ikan yang menyangkut pada mata kail.  

Ada sebentuk cincin warangka keris yang bersinar keemasan yang terkait pada ujung mata pancing. Saat mencoba mendekat, Sang Raden melihat banyak sekali makhluk halus yang ada di hutan yang ditebang. Rupanya merekalah yang selama ini menggagalkan upaya Raden Santika menebang hutan.

Breden Santa, kepala pekerja mengusulkan adar air tejun di mana Raden Ranusentika menemukan pendok atau kerangka keris dinamai Cipendok, Curug Cipendok. Ci artinya air, Pendok artinya warangka atau kerangka keris.

Jadi, selain menemukan pendok, Raden Ranusentika juga bertemu Dewi Intan. Nama Sudem yang merupakan julukannya,  kabarnya berasal dari kata  ‘susu adem’ artinya payudaranya dingin karena sang dewi bukan manusia namun mahluk halus, dia tidak memiliki darah panas seperti manusia. 

Kembali ke kisah asmara, rupanya Raden Ranusentika dan Dewi Intan ini kemudian menjalin asmara. Mereka juga bekerja sama menyelesaikan pembukaan hutan.  Dewi Intan dipercaya oleh masyarakat setempat berwujud siluman kera. 

Dewi intanlah yang membantu ritual "babad alas" atau pembukaan hutan yang dilakukan Raden Ranusentika. Keduanya berpisah ketika Ranusentika, atas keberhasilan membabat hutan, diangkat menjadi Bupati Purbalingga oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dewi Intan kemudian diboyong ke Kadipaten Ajibarang dan menjadi garwa padmi (selir) dari Raden Ranusentika.

Terdapat situs peninggalan Raden Ranusentika yang dinamai  “watu kunci” artinya batu kunci  sedangkan Dewi Inten dinamai “watu gembok” atau batu gembok. Kunci membutuhkan gembok dan demikain pula sebaliknya. Situs ini tampaknya menjadi perlambang cinta dan hubungan asmara kduanya. Masyarakat percaya jika ada orang yang bisa mencapai situstersebut maka hubungan asmaranya akan abadi dan langgeng.


Hmm jadi siapa yang berminat sampai ke sutus "watu kunci"dan "watu gembok"? Yang paling penting saat mengunjungi Curug Cipendok, jaga kelestraiannya dan jangan merusak lingkungan kawasan yang sudah demikian asri ya? Cara yang paling mudah, jangan membuang sampah sembarangan di sekitar kawasan. Jika perlu bawa kembali sampah yang kita bawa. Okeh...jangan sampai kamu juga diambil para peri di sana ke dalam hutan yaa. 

" Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselengarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah".

Tulisan ini memenangi Juara I

Referensi:
Diolah dari berbagai Sumber antara lain:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Curug_Cipendok
  • http://regional.liputan6.com/read/2509654/curug-cipendok-dan-legenda-dewi-intan
  • https://wisata-curugcipendok.blogspot.co.id/2013/12/curug-cipendok-banyumas.html
  • http://www.lihat.co.id/wisata/curug-cipendok.html


21 comments :

  1. Saya belum pernah ke curug ini. Dari gambarnya sih, curug ini keren banget. Jadi pengen kesana. :) :D

    ReplyDelete
  2. Asmara di mana-mana memang selalu jadi legenda menarik.. cakep curugnya..

    ReplyDelete
  3. Curug cipendok salah satu wisata di tetangga desaku... curug ini memang keren... Saat santai bisa main ke tempat saya, ntar saya ajakin ke curug cipendok:-)

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, air terjunnya indah banget..
    kira-biaya perjalanan ke sana brapa ya mbak ?
    niatnya mau ke sana, tapi liat kondisi kantong dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. masuknya gak mahal kok mas... klo mau naik bis atau kendaraan umum jg gak susah paling ke dalamnya aja ya mungkin harus naik ojek atau booking angkot

      Delete
  5. bagus curug nya.
    uniknya negeri ini semua berlandas pada legenda

    ReplyDelete
    Replies
    1. selalu ada cerita dibalik setiap obyek wisata ya

      Delete
  6. bagus nie ceritanya
    curug cipendok memang istimewa

    ReplyDelete
  7. epik cipendok punya,, kliatanya seger banget kloa bisa cemplung di sana ni

    ReplyDelete
  8. Berarti ini tentang asmara dua dunia ya Mba? Hehe..menarik sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iyaa...serem2 gimana gitu yaa

      Delete
  9. Curug cipendok, segerr bangeeet liatnyaaa. Hijau asri yang menyejukkan. . 😊😊 cocok buat melepas penat dam sejenak menikmati indahnya alam. . 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget lucky, seru buat ngademin hati #Eh

      Delete
  10. kalau "pacaran" sama suami kesini seru kayaknya yaa biar kekinian hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... kayaknya mendingan gitu mba

      Delete
  11. Kisah asmara itu benar yah bisa dimana-mana, bisa di pantai, di pegunungan, di bukit, di curug, dan lainnya hehe..

    ReplyDelete
  12. Adem banget kayaknya.. jadi pengen nyebur aja mbak..

    ReplyDelete
  13. belum pernah ke sini. tempatnya adem sepertinya.
    wah kalau mitosnya begitu, berarti harus cari pasangan dulu nih.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top