Tuesday, January 30, 2018

Investasi Emas dalam Bentuk Logam Mulia, Pasti Untung?


Investasi dalam bentuk emas batangan atau Logam Mulia, pasti untung tuh? Benar gak sih? Tulisan ini isinya curhat pengalaman saya menabung (baca investasi) emas dalam bentuk logam mulia. Mindset awal saya ketika beberapa tahun lalu tertarik untuk menabung dalam bentuk emas dalam bentuk batangan atau logam mulia ini adalah bahwa menabung emas pasti untung. Saat itu juga memang tengah gencar-gencarnya beberapa lembaga perbankan dan lembaga keuangan non bank mempromosikan emas terutama logam mulia sebagai salah satu alternatif investasi.


Emas dikenal sebagai salah satu bentuk  investasi yang mampu memproteksi kekayaan khususnya jangka panjang.Emas juga terhitung aset yang likuid  karena dapat diuangkan dengan cara digadaikan untuk kebutuhan mendesak atau dijual kembali. Bandingkan dengan tanah atau rumah yang tentu bukan merupakan aset liquid meski merupakan bentuk investasi yang hampir selalu menguntungkan.

Emas dalam bentuk perhiasan selain saya tidak terlalu suka perhiasan juga dalam dugaan saya pasti jatuhnya tidak untung. Saat kita hendak membeli perhiasan pasti dikenai biaya pembuatan. Saat menjualnya dipastikan harganya jatuh atau selisih dari harga beli. Bahkan saat kita menjualnya di toko yang sama. Saya sama sekali tidak minat untuk memilih emas perhiasan sebagai bentuk tabungan.

Tahun 2015 saya kemudian mulai berusaha mewujudkan niatan saya. Tapi untuk membeli LM tentu dana yang harus disiapkan tidaklah sedikit. Sempat tertarik ikutan arisan LM saat diajak teman kantor. Sayangnya saat diajak waktunya kurang tepat. Lupa persisnya kenapa. Kalau gak salah karena saya menggantikan seseorang jadi saya juga harus membayarkan putaran yang sudah jalan dan saat itu dananya tidak mencukupi.

Sempat tertarik juga untuk mencicil LM lewat pegadaian. Jujur saat itu saya sedang mulai menguatkan niat menjauhkan diri dari riba. Mulai dari meminta suami menghentikan penggunaan kartu kredit, mencoba sedikit demi sedikit melunasi hutang dan cicilan lewat bank konvensional dan berusaha konsisten menggunakan bank hanya untuk keperluan transaksi bukan diniatkan untuk investasi terlebih lagi mengambil hutang atau cicilan baru. Akhirnya mencicil ke pegadaian saya coret dari daftar.

Singkat cerita, akhir di tahun 2015 akhir saya kemudian memutuskan membeli LM lewat program cicilan di sebuah bank syariah. Kalau saya tidak salah, akad pertama adalah murabahah. Jadi saya dibelikan emas LM oleh pihak bank dengan harga sekian dimana bank sudah mengambil keuntungan dari harga yang diberikan kepada saya. Bank menaikkan harga kepada saya karena saya membayarnya secara mencicil ke bank (murabahah). LM tersebut merupakan produksi PT Antam dan bersertifikat resmi.

Tentu proses ini juga membutuhkan semacam uang muka atau DP dari saya, saya lupa persisnya tapi sekitar 20% dari harga perolehan emas. Uang muka saya bayarkan di awal proses pembelian emas LM. Emas LM tidak langsung diserahkan ke saya. Ada proses serah terima yang sifatnya simbolis saja. Artinya saya melihat fisik emas LM yang bank belikan untuk saya serta surat dan sertifikatnya nomornya disesuaikan dengan yang tertera di perjanjian/akadnya. 

Nah akad selanjutnya adalah akad rahn atau gadai. Jadi emas LM tadi kemudian kembali disimpan oleh pihak bank dan akan diserahkan pada saya setelah saya melunasi cicilannya. Akad rahn semacam perjanjian gadai. Jadi emas yang saya beli tadi digadaikan ke pihak bank di mana terdapat dalamnya fee atau biaya gadai. Jadi setiap bulan saya mencicil untuk pelunasan pokok hutan dan fee gadainya dalam satu cicilan yang jumlahnya sama (flat). 

Waktu itu saya berfikir bahwa ini merupakan investasi jangka panjang sehingga saya mengambil tempo cicilan cukup lama yakni 5 tahun. Jangka waktu pembiayaannya memang minimal dua tahun dan maksimal lima tahun. Pelunasan dipercepat diperbolehkan setelah pembiayaan minimal berjalan satu tahun. 

Memasuki tahun kedua saya mulai menghitung-hitung. Duuh kenapa ya kok baru berhitung. Ternyata jika diperhitungkan maka secara keseluruhan saya membeli emas LM tersebut dengan harga yang cukup tinggi meskipun memang diharapkan LM tersebut di tahun ke lima saat pembiayaan selesai nilainya cukup tinggi dan bisa menutupi biaya cicilan yang sudah saya keluarkan. Tapi saat membayar cicilan terasa juga beratnya. 

Saat ada rezeki di pertengahan tahun 2017 saya kemudian memutuskan untuk melunasi semua cicilannya. Saat itu hitungannya baru memasuki tahun kedua. Terus terang agak rugi juga karena saat dilihat meskipun cicilan yang saya bayarkan sama atau tetap jumlahnya setiap bulan  tetapi komposisi pembayaran antara pokok hutang (harga emas) dan biaya gadai (rahn) ternyata tidak sama. Sama seperti anuitas di bank konvensional. Pada awal-awal tahun, dari sejumlah cicilan yang saya bayar ternyata lebih besar porsi biaya gadainya dari pada pokok hutangnya. 

Meskipun saya hanya diminta melunasi sisa pokok hutang plus biaya gadai pada bulan yang bersangkutan tetapi karena proporsionalitasnya sesuai anuitas tadi maka selama dua tahun tersebut saya lebih banyak membayar biaya gadainya daripada pokok hutangnya sehingga jumlah pokok hutang saya masih cukup banyak. Hmm agak menyesal juga sih. Tapi ya sudah. 

Meski ditanya "apakah sudah yakin bu mau melunasi semuanya?" Justru saya makin yakin. Sudahlah dibayar saja kalau ada rezekinya. Saya memang masih berkomitmen dan  berusaha keras untuk mengakhiri hubungan dengan "hutang dan riba". Walaupun cicilan ini di lembaga perbankan syariah tapi tetap saja berhutang rasanya tidak enak. Kalau ada rezekinya, meskipun mungkin jatuhnya jadi rugi ya gak apa-apa. Bismillah lunasi saja, InsyaAllah ada rezeki Allah dari pintu yang lain.

Setelah pelunasan kemudian emas LM tersebut sah sepenuhnya menjadi milik saya dengan serifikat dan surat pembeliannya dari toko emas. Alhamdulillah lunas dan bisa punya emas LM. Sebagaimana tujuan awal saya dulu ingin memiliki LM adalah sebagai tabungan untuk menambah biaya pendidikan anak-anak kelak. Jadi memang semacam investasi jangka panjang. Sama sekali tidak terpikir untuk menjualnya dalam waktu dekat.

Namun jalannya hidup kita tidak bisa menduga ya. Ternyata di akhir 2017 awal 2018 ini saya ada kebutuhan yang harus diselesaikan. Naah tabungan sudah kosong, tinggallah pilih yang paling liquid ya emas LM tadi. Saya kemudian berniat menjualnya. Mulailah mencari-cari info penjualan LM.

Saya pikir pegadaian atau bank yang memiliki produk emas baik gadai maupun cicilan merupakan pilihan yang tepat. Well, setelah menghubungi pegadaian mereka gak terima emas selain dari pegadaian. Mereka menawarkan untuk menggadaikan LM tersebut dengan jangka waktu 3 bulan dengan bunga 1% perhari. Sayangnya mereka hanya menilai 90% saja dari harga jual emas di pasaran. Jadi misalnya harga 100 gram emas yang kisarannya 590.000/gram maka hanya dicover 49 juta saja untuk nilai gadainya.

Demikian juga dengan bank syariah tempat saya dulu menyicil LM. "Sayang bu kalau dijual, digadaikan saja." Mereka malah menawarkan gadai LM. Jadi misalkan dari LM senilai 100 gram dengan harga 548.000/gram (sekitar 85% dari harga pasar) maka saya hanya akan mendapat pinjaman gadainya sekitar 52 juta utk 100 gram plus biaya titip per 4 bulan sekitar 2 juta 200 ribuan.

Hmm rasanya dalam waktu 3-4 bulan mungkin kami belum punya waktu menebusnya. Akhirnya kami mencoba mencari informasi untuk penjualan LM di toko-toko emas yang memang menerima jual beli LM. Di beberapa toko ternyata harga jual versi pembeli atau harga beli toko justru lebih tinggi dibandingkan nilai gadai di lembaga keuangan tadi. Yang menarik antara LM dengan berat yang kecil dengan berat yang besar harga pergramnya juga berbeda. Selain itu di beberapa toko juga memperhitungkan tahun produksi emasnya. Harga produksi yang baru dan yang lama berbeda. Bahkan ada beberapa toko yang mensyaratkan tahun tertentu. Jadi misalnya dibawah 2007 mereka tidak terima dan seterusnya.

Harga beli dan harga jual pada waktu yang sama tentu saja berbeda. Mirip seperti jual beli valuta asing. Fluktuasi harga LM juga terhitung dinamis. Saya mengamati sekitar dua minggu. Ada saat harganya naik lalu turun kembali beberapa hari berikutnya lalu naik lagi perlahan. Kabarnya saat ini memang harga (jual) emas tengah turun. Sehingga dipastikan menjual saat ini kalaupun untung, tidak akan maksimal.

Kalau dibandingkan harga beli saya saat itu (berdasarkan kwitansi pembelian bank dari toko emas) dengan harga jual ke toko tahun ini memang ada selisih sekitar 50ribu/gram untuk LM dengan berat 100gram. Sayangnya saya waktu itu membelinya tidak cash dan tidak sejumlah harga pasaran. Karena saya membayar biaya rahn/gadai dan keuntungan bank dengan menalangi pembelian cicilan saya sehingga kalau dihitung rasanya tipis sekali keuntungannya. Hmm bisa jadi rugi.

Tampaknya kalau investasi LM untuk jangka panjang dan pembelian awal dengan cara cash bisa jadi akan ada keuntungan yang cukup lumayan. Hanya saja berdasarkan pengalaman saya ternyata jika masih dalam jangka satu atau dua tahun kemungkinan besar tidak ada keuntungan signifikan dan atau ada potensi rugi jika kita memilikinya dengan cara cicil.

Selain itu besaran atau berat LM juga mempengaruhi harga jual dan harga beli sehingga memang jika kita punya dana lebih sebaiknya membeli LM dengan ukuran yang lebih besar karena selisih harganya cukup besar.

Saya juga sempat ngobrol dengan beberapa teman yang main LM hehehe...main LM. Ada juga kasus jual cepat LM karena BU kayak saya gitu jatuhnya memang jadi rugi apalagi kalau jualnya ke toko emas biasa yang memang bukan spesialisasi LM.

Teman-teman punya pengalaman seputar investasi LM? Yuuk sharing...







15 comments :

  1. baru punya emas secuil doang x)
    hanya karena temen perlu uang jadi dia jual ke aku.

    jadi hitungannya ribet nggak sih investasi LM ini mak?
    aku kok lebih tertarik reksadana krn lebih cepat dicairkannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada plus minusnya ya LM dan reksadana, klo utk jangka panjan dan pembelian awal cash kayaknya pasti untungnya lumayan utk LM

      Delete
  2. Ternyata seribet itu yah punya tabungan LM. Aku lagi cari-cari informasi perihat tabungan LM. Tapi kalau tau seribet ini kayanya mendingan tabungan rencana biasa aja kali yah karena lebih pasti hitungan waktunya. Lagipula belum lagi harus simpen LM nya harus ditempat khusus. Katanya kalau sembarangan simpen dibrankas bisa mengurangi kadar LM itu sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah sy malah baru tahu klo cara menyimpan juga memperngaruhi kadar
      hmm ribet mungkin relatif ya mba kayaknya krn sy butuh uang cepat jd gitu deh, klo yg memang biat invest jangka panjang rasanya untungnya lumayan

      Delete
  3. waduh emas abtangan , pasti menguntungkan ya krn harga emas stabil , eh aku mah cuma punya mas suami

    ReplyDelete
  4. Saya kalo LM beli pas harga murah dan cash, mba. Niatan beli LM memang untuk simpanan. Jadi sampai saat ini belum dijual.
    Pengalamannya menarik dan agak ribet ya. Makasih mba utk sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba mungkin ribet krn aku BU
      klo buat invest jangka panjang kemungkinan untung lumayan

      Delete
  5. Saya gak punya investasi LM, Mbak. Jadi saya nyimak aja dulu

    ReplyDelete
  6. duh, LM itu paling menguntungkan Ophie. Mertua saya rajin ngumpulin emas sampe segede kaleng khong guan jaman dulu itu berapa biji .. akhirnya pas tua dia buat kontrakan deh, so pasti menguntungkan

    ReplyDelete
  7. Aduh ternyata rumit juga ya, lebih enak nabung duit. Itu bank syriah betulan, kok ada riba segala

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya gak bilang riba mas, di bank syariah akadnya kan beda... utk kasus sy akadnya murabahah dan rahn. mekanismenya memang spt itu

      Delete
  8. Makasi infonya mba. Aku pribadi sekarang lagi nyoba tabungan emas milik pegadaian yg kelihatannya enggak begitu ribet, tapi rupiah yg kita tabungkan nanti di konversi senilai emas gitu. Di akhir, kita pun bisa memilih untuk mengambilnya dalam bentuk emas atau cash.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini.

Back to Top