Friday, February 16, 2018

Catatan di Usia 40 Tahun, Saya dan Proses Belajar.



Kalau dulu suka ngambek kalau ditanya umur, sekarang sudah woles. Beneran deh, katanya Usia 40 gak ada yang menanti-nanti layaknya usia 17 padahal life begins at 40, again katanya!


Sekarang usia saya 40 tahun 10 bulan. Alhamdulillah, Allah berikan demikian banyak kesempatan meski banyak sekali kekurangan diri dalam mewujudkan syukur atas karunia usia ini.

Meski banyak yang tidak selalu sesuai dengan bucket list, dalam artian beberapa mundur dari waktunya atau diganti dalam bentuk yang lainnya. Alhamdulillah ada banyak mimpi yang sudah Allah capaikan dan wujudkan buat saya. Ada yang cepat, lebih cepat, lama, dan ada juga masih ditundanya. Allah beri saya waktu  hingga hari ini sudah merupkan kasih sayang tak terhingga. 

Entahlah buat teman-teman yang lain yang sudah memasuki 40 tahunnya. Tapi saat ini, saya memandang pencapain sebagai sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Dulu pencapaian selalu saya kaitkan dengan eksistensi. Hmm sekarang mimpi dan pencapaian saat ini bukan lagi sesuatu yang ingin segera saya rengkuh.  Saya masih punya mimpi, saya masih banyak hal yang ingin dicapai, namun sekarang jauh lebih woles menyikapinya. 

Saya justru memiliki visi (baru) yang selama ini selalu terngiang-ngiang di alam pikir saya namun sering kali saya menyangkalnya. Namun bisikan itu sering datang di saat saya merasa tengah sendirian, bahkan di tengah keramaian. Bisikan tentang makna hidup. Hidup yang sudah dianugerahkan Allah pada saat selama 40 tahun ini.

40 tahun membuat saya merasa waktu saya semakin pendek. Entahlah...40 tahun (entah berapa jatah usia saya) namun dipastikan saya semakin dekat kepada kehidupan yang sesungguhnya. Lalu seperti disadarkan bahwa saya harus bergegas, bergegas menuju ampunan Allah. Bersegera!


A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on

Bisikan hati dan nurani untuk bergegas bukan baru datang di usia ini. Saya mendapatkan "peringatan" ini jauh sebelum itu, namun keberanian untuk kemudian sepakat dan meniatkan diri untuk mewujudkannya datang menjelang usia 40. Saya berusaha me-recall kembali kebiasan-kebiasaan baik masa lalu yang lama saya tinggalkan atau masih saya kerjakan namun ala kadarnya.

Memang ada keistimewaan penyebutan usia 40 tahun dalam Al Qur'an. Allah Ta’ala berfirman, “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf : 15).



Pernah suatu malam sambil menangis dan meraung di hadapan suami, saya menyatakan sesal yang mendalam karena selama hampir 10 tahun lebih belakangan, saya kehilangan rasa asyik khusyu'nya berdialog dengan Yang Maha Baik pada waktu-waktu terbaik, saya kehilangan semangat mengkomunikasikan deretan huruf, rangkaian ayat suci, pedoman hidup yang diwahyukanNya. 

Rasa lelah, kehabisan waktu, merasa cukup, sering menjadi "tameng" dan membuat saya merasa tak lagi merasakan nikmat dalam menjalani hal-hal baik untuk menjaga poros hati saya pada kebenaran dan kebaikan ilahiah. 

Saya merindu masa lalu, saat saya bukan siapa-siapa, saat saya hanya punya uang receh untuk esok hari, namun saya bisa begitu menikmati sepertiga malam di kamar kos yang sempit dan alunan ayat suci yang seperti tak mau berhenti kadang dengan deraian air mata kerinduan. 

Duh Tuhan apa yang terjadi dengan kehidupan saya 10 tahun belakangan. Anak-anak menyita waktu dan kekhusyukan saya? ah bukankan mereka rezeki tak ternilai yang diberiNya. Pekerjaan yang membuat saya menomorsekiankan komunikasi denganNya. Pencapaian dunia yang ternyata semu, semu senyatanya yang membuat riuh hidup dan menjauhkan diri dari ketenangan yang sesungguhnya.

Ternyata semuanya kembali pada diri saya, cara pikir saya, sikap tindak saya menyikapi semua yang Allah gariskan dalam hidup. Mungkin saya terlalu berlebihan pada satu sisi dan akhirnya tanpa sadar berada pada kondisi unbalance. Wajar kalau saya kemudian sering merasa oleng. Dalam beberapa tahun belakang rupanya Allah tengah mengingatkan saya. Ujian dan cobaan baik berbentuk kemudahan dan kesenangan dan di lain waktu berupa kesulitan dan kesusahan rupanya bentuk kasih sayang Allah ingin memanggil saya kembali kepada hakikat keberadaan saya di dunia. 

Iya, Allah mengingatkan kembali bahwa penciptaan saya tidak lain untuk beribadah kepadaNya. untuk menjalani skenarioNya, untuk menuruti mauNya. Selama ini dengan arogan, saya merasa segala hal harus seperti maunya saya, inginnya saya, kehendak saya. Astaghfirullah.  

Long short story, usia 40 menjadi usia yang sangat bermakna buat saya bukan karena deretan pencapaian atau apapun yang sifat materiil. Usia 40 seperti lembaran hidup yang baru saya buka untuk menghidupkan kembali diri saya lama hilang. Semangat baru, niat baru, harapan baru untuk terus memperbaiki diri, lagi dan lagi di mata Allah. Kali ini saya memecut diri untuk bergegas melakukannya.

Menuliskan dan mendaftar kembali coreng moreng ibadah saya. Well, ibadah dalam arti luas tentunya. Ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Lalu mencoba memperbaikinya lagi pelan-pelan. Kualitas dan kuantitas. Menguatkan diri untuk konsisten menjalaninya. Satu hal yang pasti berusaha menjaga niat dan menyandarkan semuanya kembali pada Allah. 



Saya jauh lebih pasrah dan tawakkal menghadapi beragam ujian dan cobaan (kesenangan dan kesusahan). Iya, belajar menyikapi kemudahan dan kebahagiaan sekedarnya demikian pula menyikapi kesulitan dan kesedihan. Saya belajar sabar dan lebih tenang, sesuatu yang sangat kontradiktif dengan adanya saya yang sangat emosional (dalam semua bentuknya). Saya mencoba menerima semua yang sudah Allah takdirkan bahkan hal yang sederhana yang sering membuat saya mudah kesal, marah, dan kecewa. Saya hanya wajib berikhtiar lalu sisanya Allah yang urus akan seperti apa. 

Tidak mudah, itu pasti. Namun usia jua yang membuat saya memaksakan diri untuk terus dalam kondisi sadar. Hingga saat ini proses belajar masih terus berlanjut. Saya meyakini akan menjalani proses belajar ini terus hingga saya sampai pada titik akhir. Semoga Allah bersamai saya menjadi pembelajar yang ingin selalu memperbaiki diri, lagi dan lagi di mataNya.

A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on


Semoga Allah juga mampukan saya merengkuh anak dan suami saya, keluarga kecil saya untuk bersama-sama saya bergegas. Anak-anak harus sudah bergegas sejak dini. Mereka butuh pondasi yang kelak akan menjadi benteng dan tempat kembali saat riuhnya kehidupan mengalihkan hati mereka pada dunia secara berlebihan. Saya yang terlambat bergegas, semoga Allah cukupkan usia saya untuk benar-benar mencapai tujuan akhir saya, ampunan dan keridhoaan-Nya.


A post shared by OPhi Ziadah (@ophiziadah) on

Catatan saya yang tengah belajar di usia 40 tahun.

Moms punya catatan sendiri tentunya yaa. Yuuk sharing!

Boleh juga lihat catatan Mba Fiona Esmeralda tentang usia 40 tahun dan kesehatan di Website Emak2 Blogger yang merupakan post trigger dari #KEBloggingCollab dari Grup Butet Manurung. Simak juga catatan Mba Rina tentang usia 40 dan catatan Mba Wati yang telah melewatinya sekian tahun lalu.



7 comments :

  1. Semangaaat mbak ophiii, semogaa senantiasa diberikan sehat dan bahagia mbak, terus semangaat memperbaiki diri. Sungguh Allah Maha baik atas semua garis kehidupanyang telah dilukiskan, semoga bisa selalu istiqomah berjuang di jalan Allah. Aamiin. .

    Lama banget ndak mampir ke rumah mbak ophi :') nice sharing mbaak. .

    ReplyDelete
  2. Aamiin, Mbak. Semoga semua doa dan impian Mbak tercapai.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah selalu diberi kekuatan ya Mbak. Semoga semua berjalan mulus lancar dan selalu diberi kesehatan. Makasih postingannya ya. Aku jadi ikutan bersyukur dan semangat :)

    ReplyDelete
  4. Makasih udah mengingatkan, Mbak.
    Aku 43 dan iya, sejak masuk usia 40 biasa aja ditanya umur mah.Kadang nggak ditanya pun aku bilang (seperti ini :)). Maklum, kerja di bidang yang banyak remaja dan anak muda, jadi berkecenderungan lupa usia :)

    ReplyDelete
  5. Aaaa suka banget bacanya
    Terimakasih sudah berbagi mbak Ophi
    Menjadikan saya lebih siap menghadapi usia 40 yang sebentar lagi datang
    Semoga diberi kesehatan dan umur panjang untuk sampai kesana

    Bahagia selalu ya, mbak

    ReplyDelete
  6. amin mbaak :)
    semoga segala tujuan dan harapannya tercapai ^^

    ReplyDelete
  7. I feel u deh mbak merasa semuanya kini lebih disikapi secara bijak

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Back to Top