Tuesday, May 15, 2018

Kurang Pintar Vs Malas, Mengembangkan Growth Mindset



Perbincangan ringan dengan Ka Zaha di suatu pagi pada libur kejepit lalu rasanya sayang jika tidak di share lebih lanjut. Hmm dari status menjadi blogpost kenapa tidak? Terlebih bincang santai semacam ini ternyata ada juga ya acuan teori ilmiahnya yakni tentang Growth Mindset dan Fixed Mindset.




"Ibu mendingan pilih yang mana? kurang pintar atau malas?"

Ka Zaha dengan wajah polosnya yang selalu membuat saya gemes dan ingin menggigit hidungnya meluncurkan pertanyaan yang biasanya agak dilematis untuk dijawab. Dia sering bertanya dengan model pertanyaan seperti ini, menanyakan suatu preferensi yang kadang-kadang bukan sesuatu yang harus dipilih juga.

"emang kenapa nanya gitu kak?"
"enggak, aku mau tahu aja, menurut ibu gimana?"

Saya langsung teringat postingan Ario Muhammad yang kebetulan sehari sebelumnya saya baca di FB pagenya. Ario menceritakan tentang bagaimana pengalaman model belajar anakknya DeLiang yang ternyata secara ilmiah merujuk pada teori Growth Mindset dan Fixed Mindset. Ario kemudian menyebutkan bahwa istilah Growth Mindset dipakai untuk menjelaskan cara berpikir seseorang yang terus tumbuh dan berubah.

Seseorang dengan Growth Mindset mengganggap kemampuan yang dia miliki saat ini bisa berkembang sehingga bisa dilatih dan ditingkatkan. Sebaliknya, orang yang punya Fixed Mindset cenderung mengganggap dirinya memang punya kemampuan terbatas yang tidak bisa berubah sehingga mengganggap latihan terus mnerus tidak akan membantu meningkatkan kemampuannya.

Baca: Kapan Si Kecil Siap Masuk Sekolah

DeLiang dengan kelucuannya meyakinkan dirinya dan orang tuanya bahwa Ia memiliki Grwoth Mindset karena meskipun ada hambatan dan kelambatan dalam mencerna suatu materi pelajaran namun Ia dengan penuh semangat terus berusaha dan berlatih hingga akhirnya berhasil. "I keep practicing reading quran and badminton so I can read quran and can play badminton now." Ungkapnya antusias.

Dalam hal ini ada kemiripan dengan yang terjadi pada Ka Zaha. Ibarat mesin, si cantik ini juga layaknya diesel “lama panasnya”, namun jika sudah panas insyaAllah lebih mudah. Memang
membutuhkan “perjuangan dan kesabaran” lebih mendampinginya belajar. Dia memang tidak secepat kakak dan adiknya dalam mencerna materi tertentu. Butuh usaha lebih menghadapinya belajar Al Quran, math, english, atau science. Drama sering terjadi saat mengajarinya mengaji (Iqra) karena saya cukup keras dan tidak mau kompromi soal ini.

"Ibu susah..."
"Ibu aku gak bisa,..."
"Ibu aku kok diulang-ulang terus gak pindah-pindah halaman..."

Bahkan kadang ada drama pake tangisan

Sebaliknya saya kadang tersulut karena dia sering mengulang kesalahan-kesalahan kecil. Tapi tetap harus saya ingatkan sekecil apapun. Belakangan saya melihat seperti ada yang mudah hilang atau terlupa dari ingatannya. seperti mudah hilang fokus atau konsentrasi, sehingga butuh penekanan tentang hal tersebut.

Bahkan saat sekarang dia sudah masuk Al Quran, saya tetap harus kawal dia dengan ketat. Drama Qalqalah dan Hukum nun mati tanwan tanwin tanwun masih terus membayangi. Sampai saat inipun masih harus diingatkan karena keliru izhar dan ikhfa. Saya belum bisa melepaskannya membaca Al Quran sendiri tidak dalam pendampingan saya.

Namun satu hal...

Saya selalu menyemangatinya untuk tidak berhenti, untuk terus berlatih, untuk berusaha sedikit lebih dari kakak adiknya... Diapun menyadari, ia sedikit berbeda dengan keduanya.

“Aku gak bisa bu....” wajah memelasnya saat belajar sesuatu sering terbayang di kelopak mata saya.
“Iya kakak, sabar ya. Gak bisa, gak bisa, gak bisa, bisa, bisa, bisa, bisa!

Semua orang juga awalnya gak bisa tapi karena terus berlatih lama- lama bisa. Hanya saja ada yang butuh berlatih lebih banyak untuk sampai mereka bisa. Saya menanamkan padanya, dia pasti bisa asal dia berusaha dan tidak berhenti atau menyerah, sesulit apapun menurut dia.

Dan alhamdulillah so far dia mau berusaha, mau keep practicing meski ada naik turunnya. Dan usaha tidak mengingkari hasil.

Saya teringat saat selesai dari TK B dan harus segera masuk ke SD, kondisinya membuat saya agak cemas. Kakaknya saat TK B sudah bisa membaca dengan lancar. Buku-buku bacaan anak menjadi makanan sehari-hari. Ka Alinga memang cenderung penyuka baca buku. Sebaliknya bahkan menjelang masuk SD (karena sudah diterima), progres Ka Za dalam hal kemampuan membacanya  cukup lambat. Again, kesalahan saya adalah karena membandingkannya dengan kakaknya.

Satu sisi saya tidak ingin terlalu memaksanya karena memang bukanlah target anak TK untuk bisa Calistung. Di sisi lain, saya melihat bahwa kurikulum di SD seperti tidak menolerir mereka yang belum bisa atau lancar calistung. Buku-buku pelajaran Ka Al, materi pelajaran yang diterimanya saat kelas 1 SD lalu sangat berat jika tidak diimbangi dengan kemampuan membaca yang sudah lancar.

Baca Juga: Ulangan Pertama Ka Zaha

"Tidak masalah bu, nanti ada remedial dan ada pertemuan tambahan untuk anak-anak yang ketinggalan kemampuan membacanya." Baiklah saya sedikit lebih tenang mendengar solusi dari gurunya. Sayapun sudah mewanti-wanti Ka Zaha bahwa dia tidak perlu malu jika nanti harus ikut remedial atau sesi tambahan. Semua untuk membantunya lebih mudah belajar.

Hmm kemudian saya agak bingung ketika semester satu sudah berlalu dan tidak ada informasi remedial untuk Ka Zaha. Selama sesi harianpun tidak ada cerita Ka Zaha pulang telat untuk sesi tambahan.

Alhamdulillah rupanya saya terlalu mengkhawatirkan Zaha. ternyata di antara teman-teman lainnya kemampuan Zaha cukup baik. Hmm again saya menyesal karena selalu mem-bench mark dengan sang kakak.


Baca Juga: Meski Kakak Adik, Kami Berbeda Bu!

Saya sangat terharu saat melihat nilainya di mata pelajaran tertentu cukup bagus karena saya tidak menargetkan nilai padanya. Saya selalu bilang yang penting dia sudah berusaha. Yang penting dia sudah tahu tanggung jawabnya mempersiapkan diri menghadapi ulangan/ujian.

Dia seringkali bertanya dengan wajah polos namun cemas saat hendak ulangan/ujian.

“Ibu gak apa2 kan kalau nilaiku gak bagus?”

“Gak papa, yang penting Ka Zaha sudah berusaha, sudah belajar, bismillah aja. Hasilnya serahkan sama Allah”

Kadang saya malah takut sudah membebaninya tanpa sadar atau membuatnya terbebani.

Khusus untuk si cantik yang sangat helpful ini saya terus menanamkan “growth mindset” padanya.
Saya contohkan saat dia akhirnya bisa naik sepeda. Saat dia akhirnya selesai Iqra 6 dan bisa masuk Quran (yang menurut dia cukup lama dibandingkan kakak adiknya).

Setelah agak panjang menjelaskan padanya bahkan menyuplik dari postingan Ario tentang Growth and Fixed mindset tadi kemudian saya tutup dan tekankan padanya bahwa:

"Tidak pintar tidak mengapa karena dengan terus berlatih bisa jadi pintar."
"Tidak pintar, tidak pintar, pintar, pintar, pintar..."
"Tapi kalau malas, orang yang merasa pintarpun kalau malas bisa jadi tak pintar lagi.

"emang Ibu pernah gak pintar, terus sekarang pintar?"

Ibu dulu gak pintar ngeblog (cuma suka nulis) terus belajar, bertanya, mencoba, berusaha terus, sekarang lumayan deh meski masih jauh dari pintar sih.

Salam buat keluarga, semoga kita semua bisa mendidik diri dan anak-anak kita agar menjadi sosok dengan growth mindset.

Tulisan ini merupakan post respon dari Grup #KEBloggingCollab Butet Manurung terhadap tulisan Mak Merry Meirida di website KEB tentang melatih dan menyikapi anak kidal. Mak Merry merupakan pemilik Blog  http://www.meirida.my.id Ibu satu anak yang menyukai K-Drama.


4 comments :

  1. Aih suka baca tulisan ini
    Yang penting usaha, belajar, ala bisa karena biasa
    Makasi sharingnya mbak

    ReplyDelete
  2. Dek Zaha lucu juga pertanyaannya. Anakku yang nomer dua juga naiknya baca Iqro agak lama. Selalu diulang2. Tapi sekarang bacaan Quran nya malah lebih tartil dibanding kakaknya

    ReplyDelete
  3. aku selalu mengajarkan pada anak2 untuk berjuang sampai titik darah penghabisan, hasilnya jangan terlalu kau risaukan. Dan selalu ditekankan agar minset anak selalu optimis kalau dia pasti bisa

    ReplyDelete
  4. sama kayak anakku mba yang kadang suka pesimis aku ga bisa bun maka tugas kita ya mengubah mindsetnya ga bisa jadi bisa

    Kaka Zaha semoga sehat selalu yah 😁👍

    ReplyDelete

Terimakasih sudah silaturahim, silahkan meninggalkan jejak di sini. Comment yang masuk saya moderasi terlebih dahulu ya. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Back to Top